

"Kehidupan seorang peramu tidak rumit. Yang rumit itu tetangga sekte sebelah."
— Sagara Dirgantara
---
Pagi itu, udara lembap menyelusup ke sela-sela dedaunan hutan kecil di pinggiran Sekte Candra Mukti. Kabut belum terangkat sempurna, dan burung-burung spiritual masih ogah-ogahan berkicau.
Sagara duduk selonjoran di depan pondok reyot yang bahkan enggan disebut rumah. Tangan kirinya memegang cobek batu, tangan kanannya menggenggam ulekan. Dalam posisi seperti sedang membuat sambal, ia justru sedang menumbuk sejenis akar spiritual bernama Rimpang Lupa Diri.
"Hmm, baunya masih agak mirip kaki tetua itu," gumamnya sambil mengernyit. "Tapi katanya, bisa bikin seseorang tidur tiga hari tiga malam tanpa mimpi. Cocok buat tetangga yang suka nyinyir."
Suara teriakan menggema dari arah gerbang sekte.
> "Sagara! Kau keparat rendahan! Keluar kau!"
Sagara menghela napas. "Baru juga aku naksir tidur siang."
Ia bangkit, mengambil kantong kain kecil berisi tiga pil hijau kehijauan, lalu menyampirkan tas kulit ke pundak. Dengan langkah seenaknya, ia melangkah menuju pusat sekte, di mana sudah berkumpul beberapa murid dengan wajah masam.
Yang paling depan, seperti biasa, adalah Wiratma, cucu Tetua Ketiga. Rambutnya disisir seperti sedang mau pesta, tapi matanya menyala seperti ingin membakar sawah.
"Jadi kau yang mencampur pil tenaga untukku kemarin?" bentak Wiratma.
Sagara mengangguk ringan. "Iya. Katanya kau mau cepat naik tingkat. Aku kasih Pil Daya Dorong Ganda. Harusnya dua kali lebih cepat."
"Bangsat! Aku malah... boker tiga hari berturut-turut! Tidak bisa kultivasi sama sekali!" Wiratma menggertakkan gigi, sementara para murid lain menahan tawa dengan sangat tidak berhasil.
Sagara mengangkat alis. "Lho, itu efek samping minor. Lagipula, isi perutmu terlalu kotor. Aku bantu detoksifikasi dulu. Kau harusnya berterima kasih."
"KAU—!"
Belum sempat Wiratma menghantam, seorang pria tua muncul dari balik kabut. Jubah birunya berkibar, dan tongkat kayu di tangannya bergemerincing oleh lonceng-lonceng kecil.
Tetua Ketiga.
Wajahnya muram seperti langit sebelum badai. "Sagara, kau menghina keluarga kami dengan pil-pil anehmu. Ini sudah kelewatan."
Sagara menunduk sedikit. "Maaf, Tetua. Tapi semua yang kupakai adalah bahan resmi milik sekte. Aku tidak melanggar aturan."
“Omong kosong!” Tetua Ketiga mengayunkan tongkatnya ke arah Sagara.
Brakk!
Tamparan energi spiritual menghantam dada Sagara dan membuatnya terpelanting ke tanah. Debu mengepul. Suara serangga pun ikut terdiam.
Para murid tercekat. Tapi Sagara hanya terkekeh pelan, duduk perlahan sambil mengusap debu dari bajunya.
"Aku lupa... di tempat ini, kebenaran ditentukan oleh siapa yang paling keras suara dan paling tinggi kultivasinya."
Tetua Ketiga mendesis. "Mulai hari ini, kau dilarang menggunakan ruang ramuan sekte!"
Sagara menatap tajam, tapi tetap santai. "Baiklah... Tapi jangan salahkan aku kalau kalian mulai kehabisan pil tidur atau eliksir penyembuh luka."
Ia berbalik, melangkah pergi.
Namun sebelum menghilang ke balik kabut, ia membuka kantong kecilnya dan melemparkan tiga butir pil ke arah Wiratma.
“Ambil ini. Pil Penetap Perut, versi terbaru. Kali ini, tidak akan membuatmu boker. Mungkin.”
---
Langit perlahan cerah. Tapi bagi Sagara, pagi itu hanyalah pengingat bahwa dunia ini tidak memberi ruang bagi mereka yang berbeda.
Tapi itu tak masalah.
Ia tidak butuh pangkat. Tidak butuh pengakuan. Yang ia butuhkan hanyalah waktu, bahan-bahan langka, dan ruang sunyi untuk meramu keabadian.
Dan jika dunia menolak ramuan itu?
Maka biarlah dunia itu sendiri yang direbus dalam kualinya.
---
Setelah insiden pagi itu, Sagara kembali ke pondok kecilnya di lereng belakang gunung sekte. Tempat itu bahkan tidak tercatat dalam peta resmi sekte, dan kemungkinan besar juga tidak masuk dalam patroli spiritual penjaga sekte. Sangat ideal bagi orang yang ingin menghilang dari keributan—atau dari utang-utang lama yang belum terbayar.
Pondok itu berdinding bambu, atap rumbia, dan meja kayunya sudah miring ke satu sisi karena kaki-kakinya diganjal dengan botol eliksir bekas. Di sudut ruangan, terdapat tungku pembakaran yang nyaris permanen menyala, dan rak-rak berisi botol, akar kering, hingga seonggok benda aneh menyerupai telinga kelinci raksasa yang dia sebut “Bunga Malam-Malam”.
Sagara duduk, membuka salah satu botol kecil berisi serbuk jamur abu, lalu menaburkannya ke dalam kuali.
Puff!
Asap ungu tipis mengepul, menyebarkan aroma yang samar-samar mirip antara kapur barus dan bau mulut naga. Sagara menyeringai.
“Kalau ini berhasil... Pil Lupa Diri Tingkat Dua. Bisa membuat orang melupakan satu hari penuh. Cocok buat para murid yang nilainya jelek saat ujian duel.”
Tiba-tiba, seekor burung surat spiritual meluncur dari jendela dan mendarat tepat di atas kepalanya. Dengan kesal, Sagara mencoleknya dan mengambil surat yang dibawanya.
Sebuah gulungan kuning keemasan dengan cap resmi sekte. Tulisan di atasnya sangat rapi.
> Kepada Murid Tak Tetap Sagara Dirgantara,
Dengan ini diumumkan bahwa Anda secara resmi ditempatkan dalam daftar pemantauan sekte untuk pelanggaran etika peramuan, potensi penipuan internal, dan kemungkinan—ditekankan: kemungkinan—penggunaan bahan ilegal dalam ramuan resmi sekte.
Anda dilarang menggunakan:
1. Ruang peramu sekte.
2. Bahan milik sekte.
3. Murid sekte sebagai kelinci percobaan.
Anda dianjurkan untuk tidak membuat pil apapun yang menyebabkan efek berikut:
Kentut berseri
Tertidur sambil berdiri
Tertawa tanpa sebab
Tiba-tiba jatuh cinta pada benda mati
Surat itu ditutup dengan satu kalimat:
> “Kami mengawasi Anda, Sagara.”
— Komite Disiplin Sekte Candra Mukti
Sagara menatap surat itu lama, lalu melemparkannya ke api.
“Lagi-lagi surat kutukan. Sudah yang keempat minggu ini.”
Ia menghela napas dan berdiri, lalu membuka sebuah peti kayu besar di pojok ruangan. Di dalamnya, berjajar rapi bahan-bahan langka yang tak mungkin dimiliki murid biasa: Darah Kupu-Kupu Emas, Manik Telur Dewa Bekicot, hingga Serbuk Nafas Ikan Terbang.
Semua didapat dari barter, jual beli gelap, atau menukar resep rahasia dengan orang-orang aneh yang sering keluar masuk pasar hitam.
Sagara bukan hanya peramu biasa. Ia adalah peramu di luar sistem. Bebas, aneh, dan tanpa batas aturan. Namun justru karena itu, ia juga sendirian.
“Aku hanya ingin membuat satu pil yang sempurna,” gumamnya. “Satu pil... yang bisa menyembuhkan segalanya. Tubuh. Jiwa. Dunia.”
Namun untuk itu, ia butuh bahan terakhir. Sesuatu yang bahkan dalam catatan kuno disebut "Inti Duka Suci"—sejenis energi spiritual dari penderitaan yang tak pernah terobati.
Dan satu-satunya tempat yang mungkin menyimpannya...
Adalah Lembah Hitam.
Tempat terlarang. Tempat di mana murid biasa akan menghilang, dan tetua pun enggan menoleh.
Tapi bagi Sagara?
Itulah tempat yang sangat menggoda.
---
Malam menyelimuti pondok reyot itu, tapi tungku milik Sagara masih menyala. Cahaya merah kekuningan menari di dinding bambu, menciptakan bayangan yang tampak seperti monster kecil sedang bersidang.
Sagara menatap ke dalam kuali.
Ramuan yang ia godok berdenyut pelan—bukan menggelegak, tapi berdenyut, seperti jantung yang menunggu waktu. Warnanya ungu kebiruan, dengan gelembung sesekali meletus dan menyisakan bau mirip sarapan kodok tua yang dibakar setengah matang.
“Kalau aku tambahkan Nafas Ikan Terbang sekarang, hasilnya bisa... meledak. Atau menyanyi.” Ia memiringkan kepala. “Dua-duanya terdengar menarik.”
Tepat saat ia hendak meneteskan cairan itu, terdengar ketukan di pintu pondoknya.
Tok. Tok. Tok.
Tidak keras. Tapi teratur. Dan—anehnya—sopan.
Sagara menyipitkan mata. Tidak ada orang waras yang datang ke tempat ini malam-malam, kecuali dua jenis makhluk: utusan maut atau murid baru yang salah jalan.
Ia membuka pintu perlahan, tangan kirinya sudah menggenggam botol kecil berisi Asap Pemutih Kesadaran—senjata andalan jika tamunya mulai banyak tanya.
Di ambang pintu berdiri seorang pria tua.
Rambutnya putih keperakan, jubah hitam berlapis kain jala, dan tongkat dari tulang rusa dengan ukiran naga buta di ujungnya. Matanya tersembunyi di balik kacamata asap tipis yang bahkan tidak jelas sisi depannya.
Orang itu menatap Sagara tanpa bicara. Lalu mengangkat teko kecil dari dalam kantongnya dan menyerahkannya.
“Teko?” Sagara mengerutkan kening.
“Bukan sembarang teko,” jawab si tua dengan suara yang seperti batu diseret di atas batu. “Ini penyimpan pesan. Untukmu.”
Teko itu bergetar pelan. Dari lubangnya, keluar asap biru yang menggumpal, lalu membentuk wajah kabur seseorang yang entah manusia entah siluman.
> “Sagara Dirgantara. Kami tahu kau mencari ‘Inti Duka Suci’. Kami tahu pula bahwa kau bukan satu-satunya. Jika kau ingin bertahan hidup lebih lama dari pagi esok, berhentilah mencarinya.”
Asap itu lenyap.
Pria tua itu mengangguk pelan, lalu berbalik dan menghilang begitu saja ke dalam kabut, seperti kabut itu adalah bagian dari tubuhnya.
Sagara mematung beberapa saat. Lalu menatap teko itu. Kemudian mengangkat bahu, menuang isinya ke cangkir, mencium aroma teh yang entah dari zaman dinasti mana, dan meminumnya.
“Rasanya seperti... ancaman.”
Ia duduk kembali di dekat tungkunya, lalu membuka gulungan kertas kusam dari balik rak kayu. Di dalamnya tergambar peta kuno Lembah Hitam—dengan tanda silang besar di tengah, di atas sebuah tulisan memudar:
> “Di sinilah dunia melupakan dirinya sendiri.”
Sagara menghela napas. “Kalau begitu... sudah waktunya aku ikut lupa.”
Ia berdiri, mengambil tas tuanya, memasukkan beberapa pil, botol, dan satu pasang sandal besi yang katanya pernah dipakai raksasa pemalas dari era kuno.
Malam itu, tanpa pamit, tanpa harapan, dan tanpa jimat perlindungan standar sekte, Sagara Dirgantara melangkah menuju Lembah Hitam.
Karena di dunia para kultivator, hanya dua hal yang tidak bisa dibeli dengan kekuatan:
> Pil sempurna. Dan alasan untuk tetap waras.