
Papa Miliarder Kembali Ke Masa Lalu
Tepi Danau|Tamat
- Jumlah kata
- 630.8K
- Popular
- 94.9K
- Subscribe
- 2.9K
- Jumlah kata
- 630.8K
- Popular
- 94.9K
- Subscribe
- 2.9K
Sinopsis
[Reinkarnasi + Penyesalan Pria Brengsek + Sayang Istri + Mendadak Kaya] Jerome meninggal dengan penyesalan besar terhadap istri anaknya. Siapa sangka dia justru kembali lagi ke masa-masa istri dan anaknya akan mengalami kecelakaan. Jerome berusaha menyelamatkan mereka berdua untuk mengubur penyesalannya. Serangkai kejadian yang terjadi di kehidupan yang lalu mulai terungkap. Ternyata dia suka judi di kehidupan sebelumnya karena ada yang sengaja memancingnya. Ternyata dia adalah tuan muda besar di ibukota. Kehidupan kaya yang seharusnya menjadi miliknya malah diubah dan berakhir hidup di desa. Jerome yang bereinkarnasi tidak hanya ingin mengambil kembali hartanya, tapi dia juga mau berdiri di atas puncak dunia, merebut kembali nama dan kekayaan dari ingatan kehidupan sebelumnya, yang membuat dirinya disegani banyak orang!
Ulasan
12 ulasan
Haerul Anwar
11/9/25 02:23
jangan berhenti dong ceritanya, saya nungguin lanjutannya, ceritanya sangat menarik...,dan bikin penasaran...
PILIHANKlan_Qing
8/4/26 11:44
Izin promosi ya Thor. Judulnya: Petarung Bulan Sabit Ayo ikuti Petualangan Adhy Sangaji menjadi Penguasa Agung.
Bab 1 Akhir Yang Baru
Sewajarnya manusia, waktu dimana hidupnya akan berakhir, maka ia akan memilih dikelilingi oleh keluarga dan orang-orang dekatnya.
Tapi tidak demikian dengan Jerome Adavar. Saat kehidupannya hampir mencapai titik, matanya yang sayu dan kabur, hanya menangkap wajah dari orang-orang yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya.
Mereka semua menunduk, tampak sedih. Beberapa menatap mesin detak jantung yang berdenyut konstan—tapi lemah. Yang lain berdiri di dekat ranjangnya, sambil mengusap tangannya yang berkeriput dan rapuh.
Orang-orang itu sedang menunggu, dan yang ditunggu akhirnya datang. Ia langsung menjalankan tugasnya tanpa berbasa-basi. Pengacara tua tampak membuka amplop besar berwarna coklat, dan mengeluarkan isinya, tumpukan kertas yang berisi wasiat Jerome.
Adalah Jerome sendiri yang meminta surat wasiat itu dibacakan sesaat sebelum dirinya mencapai titik.
“Januari 2016. Pembacaan wasiat Jerome Adavar—Kota Gemintang.” Pengacara itu menyebut detail waktu dan klien untuk bahan rekaman video dan laporan bukti. Setelahnya ia baru membacakan isinya.
"Pada hari ini, saya—Jerome Adavar—yang bertandatangan di bawah, akan merinci hak pewarisan.” Pengacara itu mulai membacakan dalam suara serak yang berat.
“Semua yang tertera di dalam surat ini saya buat kalam keadaan sehat jasmani dan rohani, serta tanpa paksaan dari pihak mana pun. Dengan penuh kesadaran dan pertimbangan matang.”
Jerome menarik napas yang sulit, ingin mendengar lebih jelas, tapi suara itu seolah semakin jauh.
“Wasiat pertama. Setelah meninggal nanti jenazah saya akan disumbangkan kepada organisasi sosial yang telah…"
BRAK!
Belum sampai menyebut yayasannya, pintu kamar rawat Jerome menjeblak terbuka.
Sontak, suasana khidmat dan sedih tadi berubah tegang. Mereka semua menatap sosok yang muncul—Sander. Pria yang hampir sebaya Jerome itu tampak murka.
"Dasar licik! Bahkan sampai mati pun kamu main di belakangku, Jerome!" Tanpa peduli keadaan Jerome yang lemah, Sander tetap membentak.
Sander melangkah cepat mendekati ranjang. Nafasnya memburu, tangan mengepal. Matanya perlahan terlihat semakin merah—karena air mata.
Jerome perlahan tersenyum tipis. "Kamu datang juga, Sander. Akhirnya, aku yang menang."
"Menang? Menang apa?! Kamu akan mati!” bentak Sander.
“Tapi aku yang akan bertemu dengan Elisa terlebih dulu.” Jerome tetap tersenyum. Itulah arti kemenangan untuknya. Bisa mati dan menemui Elisa Ferdian—berharap bisa melanjutkan jalinan cinta yang terputus oleh maut di surga nanti.
“Tidak bisa! Aku tidak akan mengakui kemenangan ini!” Sander masih membentak sementara nafasnya semakin terengah.
“Masih tidak terima rupanya.” Jerome melanjutkan senyumnya—penuh pemakluman atas sikap permusuhan itu.
Hubungan mereka memang seperti itu. Seumur hidup mereka terus bersaing—bahkan untuk mendapatkan Elisa mereka terus bersaing. Soal ajal pun mereka tidak mau kalah dan tetap bersaing.
“Kamu tidak boleh menemui Elisa terlebih dulu! Tidak setelah kamu mencurinya dariku!” Sander mencengkram kaki ranjang yang terbuat dari besi itu dengan sangat kuat sampai buku-buku jarinya terlihat memutih.
Jerome mengerjap pelan. Suaranya serak—dan nafasnya semakin sulit. "Aku tidak mencuri apa pun. Aku dipilih oleh Elisa, karena itu aku juga menang darimu. Aku terus menang sampai sekarang.”
Sander tertawa getir. "Itukah yang kamu sebut kemenangan? Kamu membiarkan Elisa mati, Jerome. Kamu tidak membuatnya bahagia!”
Nafas Jerome yang sudah sulit, terasa semakin mencekik. Kata-kata Sander itu mengingatkannya pada penyesalan terbesar yang telah ia simpan seumur hidup.
“Elisa akan lebih bahagia bersamaku! Kalaupun kita mengulang kehidupan ini, kamu tidak akan pernah menjadi tandinganku!”
Jerome tidak bisa lagi tersenyum. Air mata yang dikiranya sudah kering ternyata masih bisa menggenang. Wajah Jerome memanas, warna merah hadir seiring kenangan. Seluruh ingatan sepanjang hidupnya silih berganti muncul.
Kehidupannya sangat kontras. Masa kecilnya diisi kemiskin, penuh kerja keras—termasuk memanggul bata demi sesuap nasi. Sampai akhirnya ia mencicipi hidup sebagai konglomerat—sampai bisa memiliki jet pribadi dan berkeliling dunia.
Sangat berwarna, tapi di balik itu, luka-luka tersembunyi membayang. Bayangan terakhir yang muncul dalam kenangannya adalah Elisa... dan Kalya. Istri dan anaknya.
Bayangan bagaimana jenazah Elisa memeluk Kalya yang sudah kaku. Dalam keadaan tidak bernyawa pun Elisa tidak ingin melepaskan Kayla. Seolah belum cukup buruk, Jerome setelah itu baru mengetahui kalau di perut Elisa, janin tidak berdosa ikut tewas.
“Maafkan Aku.. Elisa…” Jerome merintih, sementara air matanya terus mengalir sampai membasahi bantal. “Maafkan aku yang bodoh ini… Aku… maaf… Seandainya bisa… aku akan mengulang waktu… dan melindungimu.”
Telinga Jerome menangkap bentakan Sander, tapi otaknya sudah tidak lagi mampu mencerna kata.
“Aku tidak akan menjadi bodoh lagi… Aku akan menjadi lebih baik untukmu, Elisa.”
Dalam hembusan napas terakhirnya, Jerome masih membawa penyesalan itu.
***
1984
Jerome tersentak bangun dengan napas terengah—lalu meraba tubuhnya dengan heran. Ia seharusnya terlalu lemah untuk duduk, tapi mudah saja baginya untuk bangun tadi. Belum lagi kenyataan ia memakai baju lusuh yang longgar—bukan lagi pakaian rumah sakit.
“Apa ini?” Jerome dengan kebingungan menatap sekitar.
Di sekelilingnya, rumah reyot berdinding papan menyambut. Bau kayu lapuk dan tanah basah menyengat.
“Ini rumahku?” Jerome tentu saja masih ingat bentuk rumahnya yang lalu. Rumah terlalu Sederhana itu terletak di Desa Permai—rumah sebelum ia menjadi mampu.
Perlahan Jerome bangkit, sambil mencubit pahanya. Mengetes sedang bermimpi. Tapi rasanya sakit, dan saat tangannya meraba dinding, kulitnya bisa merasakan dingin. Semua nyata.
“Tapi… Bagaimana bisa?” Jerome kebingungan, dan kembali menatap sekitar untuk mencari jawaban.
Tapi matanya terpaku pada kalender sobek yang tergantung di dinding—menunjukkan tanggal 6 Juli 1984. Jantung dan nafas Jerome seolah terhenti karena ia mengenali tanggal itu.
Seumur hidup dia tidak pernah melupakan tanggal kematian Elisa dan juga Kayla—beserta anaknya yang masih di dalam kandungan.
“Elisa!” Jerome berseru penuh keputusasaan.”Elisa!”
Sambil terus meneriakkan nama itu, Jerome berlari keluar. Ia tidak peduli dengan kemustahilan—atau kemungkinan kalau apa yang dialaminya ini tidak nyata, Jerome akan menyelamatkannya. Seandainya hanya godaan setan pun, Jerome dengan rela menjalaninya asalkan bisa menyelamatkan anak dan istrinya.
Sampai di luar rumah, Jerome disambut oleh tanah berlumpur. Hujan sudah tidak lagi turun, tapi jejak lebatnya masih terlihat karena tidak ada tanah yang bisa diinjak dengan aman.
Setiap langkah yang diambil Jerome, membawa tanah liat menebal di kakinya. Tapi halangan itu tidak dipedulikan—ia terus berlari. Bahkan saat berulang kali terjatuh terguling karena tanah yang licin, Jerome seketika bangkit lagi dan berlari.
Ada darah mengucur dari lutut dan tangannya yang terluka akibat terbentur batu, dan tersangkut kayu, tapi semua luka itu tidak bisa dibandingkan dengan rasa sakit yang ia tanggung seumur hidup akibat kehilangan keluarganya.
Satu-satunya kehendak yang tersisa dalam otaknya adalah menyelamatkan Elisa. Kesempatan menghapus semua jejak buruk yang telah ia lakukan di kehidupan sebelum ini.
Di waktu yang lalu Jerome mengingat bagaimana sebelum hari ini ia menghabiskan semua uangnya di meja judi. Itu adalah awal dari petaka.
Setelah uang itu habis, seharusnya Jerome mencari ganti—karena tidak seharusnya yang membiarkan anak dan istrinya kelaparan. Tapi karena mengantuk dan malas, Jerome memilih untuk marah pada Elisa yang membangunkannya.
Keputusan yang sangat bodoh, karena saat itu Elisa sebenarnya hanya ingin menyuruhnya memetik sayur di kebun agar bisa dijual.
"Brengsek... aku brengsek..." Jerome menampar pipinya sendiri, karena bayangan bagaimana Elisa berlari keluar rumah sambil menangis kembali terlihat sangat nyata.
Lalu rasa penyesalan seolah menjadi bahan bakar yang membuat kakinya melaju lebih cepat. Tujuannya adalah ladang, karena di sanalah Elisa dan Kayla yang baru berusia 2 tahun berada.
Menurut ingatannya, karena penolakan Jerome, Elisa yang akhirnya pergi ke ladang untuk memetik sayur. Padahal ladang menjadi sangat berbahaya akibat tanah yang licin.
Kayla yang belum mengerti tentang hati-hati malah bermain di lereng tebing dan akhirnya terpeleset. Elisa bisa menangkap tangannya, tapi tidak bisa menarik Kayla untuk menyelamatkan.
Saat penduduk desa datang untuk membantu, mereka melihat bagaimana Elisa berjuang keras untuk menarik Kayla tapi pada akhirnya tidak mampu lagi. Elisa menolak melepaskan Kayla dan akhirnya ikut terjatuh.
Alur yang mengerikan, dan Jerome saat ini akan sekuat tenaga berusaha untuk mengubahnya.
Daftar bab
525 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
525 bab








