
Jangan Bermain-main dengan Dokter Genius!
Mr. Black|Tamat
- Jumlah kata
- 871.2K
- Popular
- 196.9K
- Subscribe
- 5.8K
- Jumlah kata
- 871.2K
- Popular
- 196.9K
- Subscribe
- 5.8K
Sinopsis
Nathan tidak sengaja melihat kekasihnya berselingkuh dengan anak dari direktur rumah sakit. Nathan yang marah kepada kekasihnya, justru malah dipukuli. Siapa sangka dia malah mendapatkan keberuntungan, bisa-bisanya dia mendapatkan warisan ilmu medis! Dia bersumpah akan membalas dendam kepada sepasang kekasih menjijikkan itu!
Ulasan
20 ulasan
Tio
12/9/25 21:47
Nathan semakin keren dan semakin berani,itu yang gue suka.mc nya memang jangan lemah dan gak gampang tertindas
PILIHANAdera27
15/7/26 03:06
ceritanya keren bangettt. btw tolong bantu sub ceritaku 1. perawat magang ternyata siswa sekolah kejuruan keperawatan (gambarnya perawat baju putih background ada biru2) 2. The young forensic doctor pembongkar kasus pembunuhan 3. aku satu-satunya diantara mereka 4. misteri sumur Sindu 5. diary Siswa SMA Sang Pengendali Sihir
Bab 1
Malam itu, di rumah sakit megah kota Pandawa, yang dikenal sebagai pusat medis terbesar di kota itu, terlihat beberapa tim medis telah menyelesaikan operasi mereka.
Dokter Utama, seorang sosok yang disegani di rumah sakit itu, berjalan mendekati Nathan. Dengan wajah berseri-seri di balik maskernya yang kini dilepas, dia menepuk bahu Nathan dengan penuh semangat. "Dokter Nathan, pekerjaanmu sangat hebat! Saya yakin, kamu adalah dokter jenius generasi baru."
Dokter Utama terdiam sejenak, seolah menimbang kata-katanya, lalu melanjutkan perkataannya dengan nada yang lebih serius. "Bahkan pekerjaan kamu jauh lebih baik daripada Dokter Bervan yang hanya mengandalkan nama besar ayahnya dan hidup bersenang-senang."
Nathan tersenyum tipis, menundukkan kepala dengan rendah hati. "Terima kasih banyak, Dokter. Saya tidak sehebat itu. Saya hanya berusaha melakukan yang terbaik."
Di benak Nathan, pujian itu justru menimbulkan gejolak. Dia merasa tidak pantas dibandingkan dengan Bervan yang jauh lebih berpengalaman darinya. Dia tahu betul bahwa Bervan memiliki akses dan kesempatan yang lebih besar karena status ayahnya sebagai direktur rumah sakit.
Dia ingin diakui atas kemampuannya sendiri, bukan karena dibandingkan dengan orang lain. Dia bertekad untuk terus belajar dan meningkatkan diri agar suatu hari nanti, dia bisa berdiri sejajar dengan Bervan, bahkan mungkin melampauinya, tanpa harus mengandalkan perbandingan atau koneksi.
Beep...
Beep...
Beep...
Tiba-tiba ponsel Nathan bergetar. Sebuah pesan singkat dari Bervan.
[Nathan, bisakah kamu mampir ke kantorku sebentar? Ada beberapa berkas yang perlu kuambilkan.]
Nathan mengernyitkan dahi. Dia merasa ada yang aneh. Bervan jarang meminta bantuan langsung seperti ini, apalagi hanya untuk mengambil berkas.
Meskipun ragu, dia membalas pesan dari Bervan.
[Baik, Dokter Bervan.]
Nathan bergegas melangkah menuju kantor Bervan. Namun, saat dia mendekati pintu ruangan itu, dia menyadari bahwa pintunya sedikit terbuka.
Dan samar-samar, dari celah pintu itu, terdengar suara tawa genit bercampur desahan di dalam sana.
Nathan menjadi ragu untuk mengetuk pintu. Jelas sekali, Bervan sedang tidak sendiri. Suara tawa dan desahan itu semakin menjadi-jadi, membuatnya merasa tidak nyaman dan tidak pantas untuk mengganggu.
Nathan merasa canggung dan memutuskan untuk berbalik. Lebih baik dia pergi saja dan kembali nanti.
Namun, tepat saat dia memutar tumitnya, sebuah suara wanita melengking manja, "Ah, Bervan, ayo lebih cepat!"
Nathan membeku di tempatnya saat mendengar suara wanita itu. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Nathan sangat mengenali suara itu, suara yang selama bertahun-tahun selalu menjadi sumber semangatnya, suara yang pernah dia cintai dengan sepenuh hati.
'Tidak mungkin...' bisiknya dalam hati, matanya membelalak tak percaya.
Itu adalah suara Calista, mantan kekasihnya.
Kilasan kenangan masa lalu menyerbu benaknya. Dia masih ingat jelas bagaimana mereka berjuang bersama saat masa percobaan di rumah sakit, saling menguatkan di tengah tekanan dan jadwal yang melelahkan. Calista selalu ada untuknya, memberikan semangat dan dukungan tanpa henti. Mereka berjanji akan selalu bersama, saling mendukung dalam meraih mimpi. Tak disangka, wanita yang pernah berbagi mimpi dan perjuangan dengannya itu, kini berada di pelukan Bervan.
"Baiklah, jika itu maumu!" seru Bervan dengan penuh semangat. Lalu dia mengikuti permintaan Calista untuk mempercepat gerakannya. Membuat desahan mereka semakin terdengar keras, memenuhi ruangan tersebut, dan menghancurkan hati Nathan berkeping-keping.
Calista, dengan suara yang masih terdengar manja namun kini terselip nada perhitungan, bertanya kepada Bervan, "Lalu, apa yang akan aku dapatkan dari semua ini, Bervan?"
Bukannya menjawab dengan lembut, Bervan justru menyeringai sinis. "Kamu ini hanya barang bekas yang sudah dipakai Nathan, masih berani mengajukan permintaan?"
Mendengar hinaan itu, Calista malah tertawa kecil, seolah tidak terpengaruh sedikit pun. Lalu dengan nada menggoda, dia menjawab, "Kau salah. Aku masih perawan. Aku hanya melakukannya dengan kamu."
Calista sengaja bertingkah genit dan manja. Dia tahu, hanya dengan cara ini dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Meskipun harus merendahkan harga dirinya.
Bervan terdiam sejenak, tatapan meremehkannya menyapu Calista dari atas hingga bawah. Dia tampak mempertimbangkan sesuatu, senyuman liciknya semakin lebar. "Baiklah, Calista. Kalau begitu, aku akan membantumu. Aku bahkan akan meminta ayahku untuk menaikkan statusmu menjadi pegawai tetap di rumah sakit ini. Ayahku adalah direktur rumah sakit. Hanya dengan satu jentikkan jari saja, sangat mudah bagi ayahku untuk menjadikan kamu pegawai tetap."
Mata Calista berbinar mendengar tawaran itu. Ayah Bervan adalah direktur rumah sakit, orang yang sangat berpengaruh. Jika dia bisa mendapatkan dukungan dari Bervan, karirnya akan melesat dengan cepat. Mendengar itu, Calista semakin berusaha keras untuk memuaskan Bervan, rela melakukan apa saja demi mencapai tujuannya.
Calista membalikkan posisi, agar dia yang mendominasi. Bergerak liar diatas Bervan, dia ingin memuaskan Bervan. "Aku jamin, kali ini aku akan semakin puas!" serunya.
Bervan semakin puas dengan gerakan Calista yang memanjakannya. Kemudian dengan nada meremehkan, dia bertanya, "Calista, menurutmu siapa yang lebih baik? Aku atau Nathan?"
Tanpa ragu, Calista menjawab dengan nada yang dibuat-buat penuh kekaguman, "Tentu saja kamu, Bervan! Nathan tidak ada apa-apanya dibandingkan dirimu. Dia hanya beruntung karena pintar dalam hal bedah, tapi tanpa koneksi dan dukungan ayahmu, dia tidak akan berarti apa-apa. Kau jauh lebih cerdas, lebih berpengalaman, dan lebih berkarisma. Kau adalah dokter terbaik yang pernah kutemui!"
Calista tanpa ampun menjelekkan Nathan, berusaha membuatnya terlihat tidak berharga demi mendapatkan hati dan dukungan Bervan. "Lagian pria sehebat kamu tidak pantas dibandingkan dengan Nathan. Dia itu hanya cowok miskin. Aku menyesal pernah berpacaran dengannya. Dia benar-benar sampah, tidak pantas menjadi dokter."
Kata-kata itu seperti cambuk yang menghantam Nathan. Dia merasa harga dirinya diinjak-injak, tidak hanya oleh Calista, tapi juga oleh Bervan yang mendengarkan dengan penuh kepuasan. Dia tidak tahan lagi mendengar semua hinaan itu.
Nathan yang sedari tadi berdiri di balik pintu dengan hati hancur dan amarah yang membara, tidak tahan lagi. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat, berusaha menahan emosinya yang meluap-luap. Lalu dengan langkah berat, dia membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.
Klik...
Saat mendengar suara pintu terbuka, Calista terkejut melihat Nathan berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat pasi. Dia sangat terlihat panik dan berusaha menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut yang ada di ranjang, namun sia-sia. "Nathan! Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya dengan nada gugup yang kentara.
Bukannya merasa bersalah, Bervan justru tertawa sinis. Dia menarik Calista lebih dekat ke arahnya, seolah ingin memamerkannya di depan Nathan. Lalu dengan nada mengejek yang menusuk, dia berkata, "Oh, Nathan, kau datang di saat yang tepat. Aku memang sengaja memanggilmu ke sini hanya untuk menghinamu."
Daftar bab
853 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
853 bab








