

Dio argantara melangkah mendekati meja resepsionis sambil membawa sebuah kantong kertas yang berisi kopi di tangan nya.
'Maaf, saya mau mengantar kan kopi pesanan Pak Denis. Kemana saya harus membawa nya?" Tanya Dio
Resepsionis itu memandangi Dio dengan tatapan jijik, lalu ia berkata "Ayo, ikut aku!"
Dio adalah seorang driver taksi online, hari ini ia mendapat orderan yang sedikit aneh, yaitu mengantar kan minuman dengan bayaran yang cukup tinggi, 400 ribu rupiah, dan tentu Dio langsung menerima nya.
Dio mengikuti langkah resepsionis itu sampai tiba di depan sebuah pintu. Samar samar Dio mendengar suara erangan seorang wanita dari dalam ruangan itu
Dio coba mempertegas pendengaran nya, dan suara itu terdengar sangat akrab bagi nya. Suara itu sangat mirip dengan,,, dengan suara istrinya?
Dio coba tidak mempercayai apa yang di dengar nya. Dia pasti salah dengar, batin Dio
"Akhhh,,, Denis jangan lakukan itu!"
"Ayolah sayang, biarkan aku mencium mu, pasti suami mu yang tidak berguna itu tidak pernah mencium mu, bukan?"
Mendengar percakapan di balik pintu itu, Dio tertegun sejenak, demikian juga dengan resepsionis itu. Resepsionis itu juga tidak menyangka kalau akan mendengar hal semacam itu, Jika ia tahu pasti nya ia tidak akan membawa laki laki itu kesini.
Dio seolah tersadar, tiba tiba dia mengetuk pintu dengan keras dan berteriak
"Buka pintu,! Buka pintu nya sekarang!"
Resepsionis itu panik "Hei apa yang kau lakukan?!"
Sesaat kemudian pintu terbuka dengan suara keras dan tampak seorang pria asing di hadapan Dio. Dan yang menarik perhatian Dio adalah bekas lipstik di wajah pria itu
Spontan Dio membuang kantong kertas di tangan nya itu lalu mendorong pria itu dengan keras hingga pria itu terdorong ke dalam ruangan
Dio menyusul masuk ke dalam ruangan itu, dan dilihat nya seorang wanita dengan kulit halus dan tubuh seksi, wanita itu mengenakan stoking sutra hitam, wanita itu terlihat sedang mengancingkan kemeja nya dengan tergesa gesa.
"Winda.!" Ruang Dio dengan marah
Ternyata dugaan dio benar, wanita itu adalah istri nya. Dio menatap tajam ke arah Winda liandra
"Winda, kita sudah menikah selama tiga tahun, dan selama itu aku bekerja dari pagi sampai malam dan aku masih harus mengurus keluarga mu saat aku pulang malam. Selama tiga tahun ini aku selalu berusaha menjadi suami yang baik untuk mu, walupun selama kita menikah tak pernah sekali pun kau izinkan aku menyetuh tubuh mu. Walaupun begitu, aku tidak pernah berfikir buruk tentang mu. Aku mengatakan pada diri ku sendiri bahwa kamu hanya lah wanita berprinsip. Tapi sekarang, apa apaan ini?! Kamu tega melakukan ini pada ku? Apa salah ku?!"
"Honey,,, apa yang kamu lakukan di sini?" Ucap winda saat ia selesai mengancingkan kemeja nya, menutup belahan dada yang terbuka.
Denis lalu dengan bangga berkata "kamu selalu bilang kalau suami mu adalah pecundang, maka nya aku penasaran dan sengaja mengundang nya kesini untuk melihat seberapa pecundang nya dia"
Winda tersadar dari rasa panik nya dan kembali tenang. Lagi pula dia memang merasa kalau suami nya itu benar benar seorang pecundang. Bahkan uang yang di gunakan untuk membeli mobil Dio adalah uang diri nya. Jadi apa hak yang di miliki Dio untuk menuduh diri nya?
Winda berdiri di antara Denis dan Dio. Ia lalu mengangkat kepala nya dan berkata dengan angkuh.
"Jaga bicara mu Dio! Aku tidak berselingkuh dari mu atau dengan siapa pun. Tuan Denis dan aku hanya sedang bicara soal bisnis"
Dio menggertak kan gigi "Apa membicarakan soal bisnis butuh kontak fisik sampai meninggalkan bekas lipstik di pipi nya"
Berdiri di depan pintu, resepsionis itu
Mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dia menatap Dio dengan gemetar lalu mencibir
"Seperti nya kamu harus bercermin. Kamu hanya lah seorang driver taksi online, bagiamana bisa kamu membandingkan diri mu dengan tuan Denis, seorang CEO perusahaan dengan nilai pasar triliunan rupiah.? Bahkan jika kamu mengemudi selama seratus tahun, kamu tak akan bisa mempunyai uang sebanyak tuan Denis"
Mendengar kata kata resepsionis itu, Denis semakin arogan. Dia merangkul bahu Winda, mengambil segelas wine di atas meja dan menyerahkan nya pada Winda.
Winda tampak ragu, tapi kemudian ia menerima gelas itu, mendentingkan gelas dengan nya dan kedua nya meminum wine itu bersama.
Dio menatap kedua nya, dia berfikir kalau mereka adalah orang paling tak tahu malu yang pernah ia temui
Dio mengepal kan tangan nya begitu erat sampai kuku nya hampir menembus daging telapak tangan nya. Pada saat itu hanya ada amarah di hati nya.
Melihat reaksi Dio, resepsionis itu mengangkat alis dan berkata "kenapa, kamu ingin berkelahi?" Kemudian dia berteriak "Satpam,,!!"
Winda menatap suami nya dengan kepala mengangkat tinggi "Dio, sebaik nya kamu cepat pergi, apa kamu mau di pukuli ?!"
Dio melirik satpam yang ada di sekeliling yang tampak memegang tongkat di tangan mereka
Perlahan Dio melonggar kan kepalan tangan nya "Winda, kamu akan menyesali ini suatu hari nanti"
Dio berbalik lalu berjalan keluar dari kantor Denis
Winda menatap punggung Dio yang menjauh pergi tapi ia tidak berkata apa apa
Dio keluar dari gedung kantor itu dan masuk ke dalam mobil nya
Pada saat itu handphone nya berdering. Begitu menjawab panggilan telepon nya itu, suara kepala pelayan, Rudi. Terdengar di ujung telepon
"Tuan, tugas tiga tahun anda di keluarga Andara sudah selesai. Dan hadiah untuk anda adalah sebuah villa di resor cloudwin. Dan mulai hari ini larangan anda juga sudah di cabut"
Rudi berhenti dan kemudian melanjut kan "Tugas pelatihan anda selanjutnya adalah mengelola bisnis. Papi anda sudah membeli king group dan menunjuk anda sebagai CEO"
"Baik lah!" Sahut dio
"Bagaimana hubungan anda dengan istri anda? Apakah tuan akan mengadakan pesta pernikahan yang megah untuk nya dengan identitas asli anda sekarang?" Tanya Rudi
Wajah Dio kembali muram "Tidak, dia tidak pantas mendapat kan nya.!"
Dio menutup telepon nya, ia lalu menginjak pedal gas dengan kuat. Lalu Mobil itu melaju dengan cepat
Dio berkendara di jalanan kota dengan bebas seolah ia ingin melupakan semua perlakuan buruk yang telah di derita nya selama tiga tahun terakhir ini
Sebagai tuan muda dari keluarga dirgantara, Dio sudah menerima berbagai macam pelatihan sejak kecil untuk mengembang kan kemampuan nya dalam segala bidang
Dio mulai belajar ilmu beladiri saat usia nya baru delapan tahun. Ke sekolah musik saat berusia tiga belas tahun.dan menyelesaikan kursus sekolah bisnis selama empat tahun pada usia delapan belas tahun