

bab 1. SERENADA
■■■■■■■■■■■■
Bima Satria, pria tampan yang mapan dan memiliki usaha sendiri hanya bisa menarik nafas panjang saat sang mama terdengar sedang berdebat dengan nenek dari pihak papanya.
"Ma.. Nada itu baru lulus SMA! dia masih bau kencur untuk dijadikan istri cucu mama!" protes sang mama dari Bima yang tidak terima dengan keputusan ibu mertuanya.
Sementara hal yang sama juga terjadi dirumah sang calon istri Bima Satria, yaitu Serenada. Ketegangan mewarnai percakapan antara Lestari, ibu dari Nada dan Dariman, kakak dari mendiang suami Lestari.
"Mas! Kamu tidak berhak memutuskan apa yang bukan menjadi tanggung jawab putriku!" seru Lestari marah.
"Tari..ini bukan keputusan Mas atau keluarga besar kami! tapi ini sudah menjadi keputusan leluhur sejak lama!" sahut Dariman, kakak mendiang suami Lestari, Marwan.
"Kalau saja dari keluarga atau keturunan leluhur kami memiliki anak perempuan lain selain anaknya Marwan, tidak mungkin kami akan memaksa Nada!" lanjut Dariman.
"Perjodogan tanpa ada pemikiran dan persetujuan dari keluarga! dan akhirnya putriku yang harus jadi korban." sungut Lestari marah.
"Bukan korban, Tari! Tidak ada yang dikorbankan disini! kami hanya meminta pengertian kamu saja!" sahut Dariman.
"Sudahlah Mas, jangan memaksa Tari! Aku juga kalau punya anak perempuan akan berkata sama seperti mbak Tari." ucap Suci, istri Dariman.
"Ini perjanjian antara dua leluhur yang bahkan sudah lama meninggal, dan baru kembali mencuat karena ibu kamu yang kembali mengungkitnya." lanjut Suci pada suaminya.
Dariman menatap istrinya dengan tatapan dilema. karena tentunya dia juga sependapat dengan sang istri. Namun sebagai anak tertua, Dariman harus bisa merayu Lestari untuk bersedia menikahkan Serenada dengan putra tunggal dari sahabat leluhur Dariman.
Serenada yang berada didalam pun mendengar semuanya dengan hati sedih. Baru juga dia lulus sekolah, dan juga baru putus dengan pacarnya yang sudah bersama selama 3 tahun, kini dia dihadapkan dengan perjodohan kolot orang jaman dulu.
■■■■■■
Di tempat lain, di jalan raya yang padat, telah terjadi kecelakaan hebat yang mengakibatkan seorang perempuan meninggal di tempat.
Dan perempuan itu adalah calon istri yang di jodohkan dengan Bima Satria!
Serenada nama perempuan itu. Dia tewas di tempat dengan luka parah di bagian kaki dan dadanya yang tergencet body mobil si penabrak yang langsung kabur.
Keluarga histeris mendengar peristiwa kecelakaan itu. Lestari, sang ibu pun histeris dan Amalia, sang nenek nyaris pingsan mendengar kabar itu.
"Tari! lakukan pernikahan itu sekarang, atau kita akan mendapat bencana karena kita tidak menunaikan amanat leluhur." ucap nenek Amalia, ibu mertua Lestari.
"Bu! Ibu sadar dengan apa yang barusan Ibu katakan? Nada sudah meninggal, Bu!" ucap Dariman, Paman Nada dengan suara keras.
"Dariman! jangan mengajari Ibu dengan kalimatmu! Nada belum menikah, dan hanya Bima yang bisa menjalankan perjanjian leluhur dengan perjodohan ini!" hardik Amalia pada Dariman, putra keduanya, adik dari Marwan, ayah Serenada yang sudah meninggal dunia lebih dulu.
"Bu! Sebenarnya, ada perjanjian apa leluhur kita sama leluhur keluarga Mas Bramantya?"
"Kamu tidak perlu tahu! Pokoknya sekarang juga kamu hubungi Bramantya dan katakan apa yang terjadi pada Nada!" sahut Amalia dengan suara tegas, tidak ada wajah duka sama sekali pada paras tua Amalia.
Dariman yang sedang berduka hanya bisa memegang dadanya dan menarik nafas panjang. sedangkan istrinya, Suci menatap benci pada ibu mertuanya sambil tangannya merangkul pundak Lestari, ibu Nada.
Dariman pun terpaksa menghubungi Bramantya dan mengatakan apa yang sedang terjadi, dan juga keinginan ibunya. Dan setelah selesai berbicara, Dariman bersama Suci dan Lestari bergegas ke rumah sakit dimana jenasah Nada berada.
■■■■■■
Dan dirumah Bramantya..
"Astaghfirullahhaladzim..! Ya Allah! Bagaimana aku harus mengatakan ini pada putraku?! " ucap Bramantya tergugu dan terlihat dalam kebingungan.
"Suruh saja mama kamu yang mengatakan pada Bima. Aku tidak mau ikut campur, Pa! ingat, Serenada memangi putri sahabat kita! Dia satu-satunya putri Marwan! Tapi dia sudah mati. Apa kita tega menikahkan yang sudah mati dengan putra kita?" sahut istri Bramantya dengan suara keras.
"Sini ! biar mama sendiri yang akan mengatakan pada Bima! Tidak usah sok paling bener dengan kau mengatakan semua itu!" sentak Matilda pada menantunya.
"Ma! Bima itu cucu kandung mama loo!! Kenapa mama tega sama cucu mama sendiri! " seru Dahlia, sang menantu tanpa takut dimarahin mertuanya.
"Dengar, Dahliai!! Kamu memang menantuku, tapi kamu tidak berhak melawan aku!! Apa kau siap kalau Bramantya menceraikan kamu?!! " ancam Matilda pada menantunya.
"Ma!! Kenapa merembet kesana kalimat Mama?! Aku tidak akan pernah menceraikan Dahlia walaupun Mama meminta dan memaksa aku!" balas Bramantya tak kalah keras.
"Silahkan Mama hubungi Bima, dan katakan sendiri apa mau Mama! Aku tidak mau terseret dalam alur drama yang Mama buat! Cucu kandung malah mau dinikahkan dengan mayat, sedang masih hidup saja, Bima menolak keras!" lanjut Bramantya.
"Kau pikir Mama tidak bisa memaksa Bima?! kalian lihat saja, jangan panggil Mama, kalau hal kecil macam ini tidak bisa terselesaikan." sahut Matilda ketus dan merampas ponsel Bramantya, lalu mencari nama Bima Satria dari daftar kontak.
panggilan tersambung dan langsung terjawab. Dan entah menggunakan jurus apa, Matilda tanpa kesulitan bisa membujuk Bima.
■■■■■■
Dan sekarang, di rumah Amalia...
peti jenasah Serenada sudah berada di ruang tamu rumah Amalia.
Semua anak cucu Amalia datang dan heran namun juga miris dengan nasib Serenada.
"Cepat ! lakukan ijab qobulnya ?! " ucap Matilda yang kini duduk berdampingan dengan Amalia dan saling menggenggam tangan.
"Dariman, kamu menjadi wali nikah Serenada, ayo cepat lakukan!" perintah Amalia.
Dariman menunduk tidak tega. bahkan berkali-kali dia menarik nafas panjang.
Dan akhirnya proses ijab pun selesai dilaksanakan. namun pada saat tangan Bima menggenggam tangan dingin Serenada, dia seperti melihat kilasan yang terjadi sebelum Serenada kecelakaan.
Bima memejamkan matanya, dan bayangan itu nampak sangat jelas dimatanya. Sungguh sangat aneh.
"Astaghfirullahhaladzim..apa yang aku lihat ini ? dan kenapa aku bisa melihat dan membaca apa yang baru saja dialami oleh Serenada?" gumam Bima dalam hati.
Dan apa yang dilihat Bima, membuat ada satu tekad didalam hatinya untuk mengungkapkan, tapi tidak sekarang !
apasih yang dilihat Bima?
tunggu jawabannya besok yaaa
■■■■■■■■■■■■
hai..aku penulis baru disini. Dan cerita yang aku tulis ini asli dari ide aku sebagai pengarang dan hanya ada di Maxnovel.
hempas plagiat !!