Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Giok Naga Sakti Warisan Tabib Dewa

Giok Naga Sakti Warisan Tabib Dewa

Less22 | Bersambung
Jumlah kata
42.0K
Popular
673
Subscribe
147
Novel / Giok Naga Sakti Warisan Tabib Dewa
Giok Naga Sakti Warisan Tabib Dewa

Giok Naga Sakti Warisan Tabib Dewa

Less22| Bersambung
Jumlah Kata
42.0K
Popular
673
Subscribe
147
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalNagaDokter GeniusKarya Kompetisi
Aldan, seorang pria berusia 20 tahun harus mengalami penderitaan setelah mengetahui jika selama ini paman dan bibinya yang baik padanya, ternyata telah mengambil rumah mendiang orang tuanya, lalu dijual ke mafia. Di saat itulah ia berjuang untuk melepaskan diri. Tapi siapa sangka jika ia mendapat sebuah batu Giok saat melawan para penjahat itu. Seketika, ia mendapat kekuatan yang besar dan akhirnya bisa mengalahkan semua para mafia itu. Kekuatan yang ia dapatkan, bukan hanya menjadi kuat, tapi juga menjadi seorang tabib yang di bimbing langsung oleh roh tabib dewa ribuan tahun dari batu Giok itu. Yang penasaran dengan kisah dan perjalanannya, yuk simak ceritanya.
1

"Ku berikan Giok Naga Sakti ini padamu, dan jadilah penguasa Dunia." -Tabib Dewa

********

Byurrrrr!

Seember Air dingin membasahi tubuh Aldan dan membuat ia terbangun, rasa dingin itu merayap di sekujur tubuhnya.

"Bangun! bangun! Bangun!" teriak seorang pria bertubuh kekar di depannya memegang sebuah ember hitam yang telah mengguyur tubuhnya itu.

Aldan mengerjapkan matanya karena ia bangun secara paksa, Aldan menatap pria itu dengan tatapan yang masih kebingungan.

Wajahnya pucat, tubuhnya lemas karena 3 hari ia di sekap dan selama 3 hari itu, ia hanya makan makanan basi.

Aldan ingat, jika 3 hari yang lalu, paman dan bibinya, demi menguasai rumah peninggalan ayahnya, mereka dengan jahatnya menjualnya kepada mafia yang melakukan perdagangan manusia untuk di jadikan budak.

Pria itu melihat Aldan menatapnya, ia menjadi kesal lalu melempar ember itu ke kepala Alda dengan kasar. "Hey! Apa kau tatap-tatap aku! Aku bilang bangun ya bangun! Sebentar lagi Bos datang membawa kalian untuk di jual ke luar negeri!" bentak pria itu dengan suara menggelegar membuat Aldan merinding dan penuh ketakutan.

Aldan berusaha untuk bangun, tapi ia kesulitan karena kaki dan tangannya terikat dengan kuat, saat ia mencoba untuk bangun, tubuhnya terjatuh karena goyah, tubuhnya lemas tak ada tenaga.

"Cih! Kau benar-benar membuat ku kesal!" teriak pria itu menendang perut Aldan dengan kuat membuat ia terpental.

Bruk!

"Uughhh!" Tubuhnya ambruk ke dalam sebuah gubuk di tepi hutan, Aldan menahan rasa sakit itu, karena ia tak berdaya untuk membalas pria itu.

Bukan hanya dirinya di sana, ada 4 orang lainnya, satu perempuan berusia 30 tahun, remaja laki-laki 17 tahun, seorang nenek-nenek mungkin umurnya telah mencoba 70 tahun, dan bahkan mereka tidak melepaskan seorang bayi kecil berusia 9 bulan.

"Apa lagi yang kamu tunggu! Cepat keluar!" teriak pria itu menarik Aldan dengan kuat untuk keluar dari gubuk tersebut.

Saat keluar, ia melihat seorang pria yang tubuhnya lebih besar dari pria yang menyeretnya, sedang memukul seorang nenek, entah apa salah nenek itu.

Bak! Buk!

Duak!

Nenek itu terkulai lemas dan terguling, seolah-olah pasrah dengan hidupnya saat ini, bibirnya pecah dan matanya bengkak.

Melihat itu, mata Aldan membulat, ia sangat marah. "Hentikan itu! Jangan pukul nenek itu lagi!" teriak Aldan dengan nada yang lemah dan nafas yang tersengal-sengal. "Kau boleh memukul ku, tapi jangan pukul nenek itu lagi!" teriak Aldan lagi.

Pria di samping itu tersenyum sinis. "Heh! Kau sekarat begini, masih memikirkan orang lain? Sungguh perasaan yang mengharukan."

"Aku bilang lepaskan! Lepaskan nenek itu!" teriak Aldan memarahi mereka meskipun ia tahu, ia kapan saja bisa mati di pukul oleh mereka, tapi nyawa nenek yang tua renta itu lebih kasihan.

Pria itu sangat marah karena Aldan berani memarahinya. Ia melempar Aldan ke tanah dan menginjak kepala Aldan. "Lemah seperti ini, berani sekali kau melawan ku? Kau tidak sadar sekarang kau di mana?!" kata pria itu dengan geram.

Aldan yang berada di bawah sepatu pria itu merasakan sakit luar biasa di kupingnya karena gesekan kasar telapak sepatu kulit ke telingannya.

"Kalian semua Biadap! Tak punya perasaan, hati kalian terbuat dari iblis! Bahkan nenek yang sudah tua! Kalian siksa! Bagaimana kalau posisi kalian seperti dia, sudah tua dan di siksa! Bagaimana perasaan kalian!" teriak Aldan tetap ingin mempertahankan kewarasannya.

Pria itu tertawa. "Ha ha ha ha! Heh bocah tengil! Hidup kami sudah di jamin, dan kami sudah punya masa depan saat kami tua nanti, kau tidak perlu khawatir itu," ejek mereka merasa senang dengan penderitaan Aldan saat ini.

"Kalau begitu! Aku sumpahin kalian mati! Mati mengenaskan! Mati karena ledakannya kapal yang dasyat! Mati tenggelam di laut, di cabik-cabik ikan paus, bahkan mayat kalian saja tidak ada! di makan oleh ikan paus! dan jiwa kalian di makan oleh iblis!" pekik Aldan memaki mereka secara bertubi-tubi.

Mendengar makian dari Aldan, wajah pria itu langsung merah padam, api kemarahan bergejolak di dadanya, ia mencengkam tubuh Aldan dengan kuat, membuat Alda kesakitan.

"Dasar bocah kurang ajar! Berani sekali kau menyumpahi ku!" teriak Pria itu sangat geram. Ia menghempas tubuh Alda ke tanah dengan kuat.

Brukk!

Tubuh Aldan terhempas dengan kasar ke tanah keras dan bahkan meninggalkan bekasnya, membuat ibu yang berusia 30 tahun dan remaja laki-laki itu menangis karena ketakutan.

Teman pria yang memukul nenek itu tertawa melihat pria itu memukul Aldan dengan sadis, tapi saat mendegar ibu dan remaja itu menangis karena ketakutan, membuat ia jadi kesal.

"Hey! Hentikan tangisan kalian jika tidak mau seperti dia!" teriak pria yang berbadan kekar itu membuat spotan mereka terdiam.

Aldan berusaha melawan dengan mencoba melayangkan tangannya ke arah pria itu, tapi pria itu malah menendang wajahnya dengan kuat membuat ia tersungkur, darah keluar dari hidungnya dan sudut bibirnya bercecer di tanah, tapi tidak membuat ia menyerah dan berhenti.

Pria itu menginjak punggung Aldan dengan kuat membuat Aldan tak bisa bergerak. "Tubuh kecilmu ini kuat juga ya? Aku sampai kewalahan melawanmu!" kata pria itu.

Aldan melihat sebuah batu di depannya itu, ia berniat mengambil batu itu untuk melemparkan ke arah pria di atas punggungnya itu.

Aldan bersusah payah mengambil batu tersebut dengan kedua tangannya yang terikat untuk melempar ke arah pria tersebut, tapi bukannya melayang, batu itu lengket di tangannya yang berdarah karena ia sempat menyeka darah di hidungnya tadi.

"Eh, apa yang terjadi?" tanya kebingungan.

Tiba-tiba saja batu itu mengalirkan aliran hangat di tubuhnya, membuat ada sebuah energi kehidupan murni ke sekujur tubuhnya.

"Ada apa ini?" tanyanya lagi membuat pria yang menginjak punggung juga ikut kebingungan karena Aldan terdiam kebingungan.

Ada semacam kekuatan baru dan sengatan listrik, yang membuat ia yang tadinya lemah tak berdaya, di isi dengan kekuatan. Matanya juga ada semacam kilatan cahaya, lalu hilang seketika, tapi dari kilatan cahaya itu, ia bisa melihat ada aura gelap yang menyelimuti kedua pria itu.

Aldan terkejut, apakah sekarang ia bisa melihat benda-benda aneh sekarang. "Apa... Apa yang terjadi pada ku sekarang?" tanya Aldan membuka matanya lebar-lebar. "Aku... aku punya kekuatan...?"

"Riko, habisi saja dia sekarang! Buat saja dia sampai pingsan, kalau bos tanya bilang saja dia ingin melarikan diri!" kata temannya itu.

Pria yang di panggil Riko itu tersenyum jahat, saat pria itu ingin menarik kepalanya, Aldan dengan seluruh tenaganya menarik kedua tangannya dengan kuat untuk memutuskan tali yang teriak di tangannya itu.

"Aaaaaaaaaaaaaaaa!" teriak Aldan dengan keras seolah-olah hingga sampai ke penjuru dunia, bahkan burung-burung bertengger di dahan pohon berterbangan ke udara, pohon-pohon bergoyang seperti ada angin yang menerpanya.

Tali itu terpelepas dan seperti terpotong-potong. Dengan bantuan kedua tangannya dan batu itu masih menempel di tangannya yang secara terus menerus mengalir energi hingga tubuhnya terasa kuat.

Aldan berdiri membuat pria yang menginjak punggungnya itu terjatuh.

Dengan tatapan tajam dan penuh dengan amarah, ia menarik tangan pria itu dengan kuat lalu memutarnya hingga terjerembab ke tanah dengan kuat.

Bruk!

"Akhhhhh!" pria itu kesakitan yang luar biasa di punggunggnya, ia menatap Aldan yang menatapnya denga tak biasa itu.

"Kau... kau... dari mana kekuatan mu berasal?" tanya pria itu sedikit gugup dan bercampur rasa sakit.

Aldan berjalan ke arah pria yang terduduk itu dengan nafas yang memburu, tatapan setajam elang dan langkah kaki yang mantap, ia mengepal tangannya dengan kuat lalu men mengangkat tangannya dan menunju wajah Riko dengan kasar.

Buk!

Satu pukulan itu membuat, rahang Riko bergeser. Aldan menginjak perut Riko dengan kuat hingga darah muncrat dari mulut Riko.

"Uhuk! Uhuk!" Riko terbatuk-batuk sambil memegang perutnya yang terasa sakit.

"Semua rasa sakit di saat kau menyiksa ku selama 3 hari ini, akan ku kembalikan berkali-kali lipat!" teriak Aldan dengan amarah yang tak terkendalikan.

Ia menarik tangan Riko lagi dan menyentaknya dengan kuat, dan ingin mematahkannya.

Tapi tiba-tiba saja bahunya di pegang oleh teman Riko, pria tinggi itu menatapnya dengan amarah, Aldan menoleh ke arah pria yang ada di belakangnya, ada kilatan cahaya yang melintas di matanya, membuat ia seolah-olah haus darah.

"Kau berani sekali memukul Riko, kalau begitu rasakan ini!" teriak pria itu mengangkat tubuh Aldan dan menghempas tubuhnya ke tanah.

Bruk!

Aldan bukannya kesakitan, ia kembali berdiri tegap menatap pria di depannya itu dengan tatapan tajam yang seperti ingin menusuk jantungnya.

"Ku bunuh kau! Ku bunuh!" teriak pria itu dengan tubuh bergetar karena amarah.

Aldan berlari ke arah pria itu dengan langkah cepat sambil berteriak. "Aaaaaaaaa! Ku balas kau!"

Aldan menendang pria itu dengan kasar, lalu menarik tangannya dan memutar kebelakang dan menghempas kebelakang, pria itu kembali berdiri dan melawan Aldan, tapi dengan cekatan Aldan menghindarinya lalu menangkap tangannya dan menendang perut pria itu dengan Laut, seolah-olah Aldan tidak memberikan ruang pria itu melawan

Riko langsung melarikan diri dengan langkah kaki yang terseok-seok karena menahan rasa sakit, dan ia pun menelpon bosnya "Bos cepat datang! Ada seseorang sedang mengamuk, kami tidak bisa melawannya!" kata Riko panik dan menjauh dirinya.

"Ya, kami sebentar lagi akan sampai," kata bosnya itu sudah setengah perjalanan menuju gubuk di hutan itu.

Riko melihat Aldan, bagaimana ia membabi buta melawan temannya itu seperti orang kesurupan, jika bukan karena temannya yang menghentikannya tadi, mungkin tangannya sudah tak utuh lagi, tapi ia juga tidak bisa membantu temannya, karena kekuatan Aldan sangat besar, entah kekuatan dari mana datangnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca