

Cuitan burung terdengar samar, menusuk telinga yang masih berat. Ivan Volkov mengernyit. Napasnya kasar, dada naik turun seolah baru saja lolos dari pertarungan panjang. Kepalanya berdenyut, seperti habis dihantam botol vodka kaca. Perlahan, kelopak matanya terbuka.
Bukan lampu kristal ruang rapat.
Bukan langit-langit marmer kantornya.
Melainkan atap bambu kusam, berlubang, dengan cahaya mentari menembus celah-celahnya.
Ia mendapati dirinya terbaring di atas sebuah dipan kayu tua yang berdecit setiap kali tubuhnya bergeser. Kasar, dingin, dan penuh debu. Bau kayu lembap bercampur dengan tanah basah memenuhi rongga hidungnya.
Ivan mengerjapkan mata, mencoba memahami. Ruangan sempit itu tak lebih dari gubuk reot. Dindingnya terbuat dari bilah bambu yang disusun asal, angin mudah menyelinap lewat celah-celahnya. Di sudut ruangan, ada sebuah kendi tanah liat, pecah di bagian bibirnya. Tak ada satu pun yang ia kenali.
"…Di mana aku?" suaranya serak, seperti dipaksa keluar dari tenggorokan yang kering.
Kilasan terakhir yang ia ingat menyambar benaknya.
Senyum Andrei, putra sulungnya.
Lampu ruang pertemuan para petinggi anggota mafianya yang temaram.
Dentuman pistol yang menggelegar.
Rasa panas yang membakar dadanya.
Tubuhnya yang jatuh.
Kegelapan.
Ivan spontan meraba dadanya. Tapi yang ia temukan hanyalah kulit asing, lebih kurus, lebih lemah. Tubuh ini bukan tubuhnya. Ia mendapati tangan yang pucat, kurus, tanpa tato, tanpa bekas luka pertarungan.
"…Apa-apaan ini?" desisnya, penuh amarah yang bercampur kebingungan.
Tiba-tiba, pintu kayu rapuh itu berderit. Seorang wanita muda masuk membawa kendi berisi air. Rambutnya cokelat gelap, sederhana diikat ke belakang. Wajahnya lembut, ada garis letih, tapi juga ketulusan yang jarang Ivan temui bahkan dari istrinya dulu. Tatapannya terkejut saat melihat Ivan terbangun.
"Rion!? kamu sudah sadar?" suaranya lirih, seolah takut suaminya tak akan mengenalinya.
Ivan terdiam. Nama itu asing. Rion?
Tapi sebelum ia sempat menjawab, ingatan yang bukan miliknya mulai menyeruak ke dalam kepalanya, bagaikan gelombang lumpur yang memaksa masuk. Potongan kehidupan seseorang: seorang pemuda lemah, anak bangsawan yang jatuh miskin, dipermalukan oleh desanya, diremehkan, bahkan dipukul tanpa perlawanan. Seorang pecundang.
Dan wanita ini, istrinya. Satu-satunya yang tetap tinggal meski harus kehilangan segalanya.
Ivan terdiam lama. Gigi gerahamnya terkatup. Rasa marah membuncah, bukan hanya marah pada pengkhianatan Andrei, tapi juga pada nasib memalukan tubuh yang kini ia tempati.
Namun di balik amarah, ada sesuatu yang lain. Sebuah api kecil. Kesempatan.
Senyum tipis, dingin, penuh perhitungan, muncul di bibirnya.
Jika dunia memberinya tubuh baru, maka dunia juga menyuiapkan papan catur baru.
"Aku… sadar," katanya akhirnya, dengan suara pelan tapi tajam. Mata tajam seorang bos mafia menatap lurus ke arah wanita itu.
Tangan wanita itu, meski lusuh karena kerja keras, terasa hangat saat menyentuh jemari Ivan. Sentuhan yang begitu asing baginya, bukan kelembutan para wanita malam yang penuh kepalsuan, bukan pula genggaman rekan mafia yang dingin dan penuh siasat.
Matanya berkaca-kaca, air bening menggantung di pelupuknya sebelum jatuh membasahi pipi pucat.
“Suamiku… ini sebuah keajaiban. Aku… aku sangat takut kehilanganmu.”
Suaranya bergetar, lirih namun tulus. Ia buru-buru menyeka air matanya dengan punggung tangan yang kasar, lalu memaksa sebuah senyum kecil.
“Aku akan buatkan bubur. Tunggu ya.”
Ia bangkit, menundukkan tubuhnya sedikit seakan takut tubuh rapuh Ivan kembali jatuh sakit, lalu melangkah keluar dari gubuk.
Keheningan menyeruak.
Ivan terdiam, menatap langit-langit bambu yang reyot. Namun, dalam diam itu, rasa sakit luar biasa menghantam kepalanya.
“Argh…” Ia memegangi pelipis.
Gelombang ingatan menyerbu, deras, menyakitkan, dan tak terbendung.
Nama itu. Rion.
Tubuh ini dulunya milik seorang pemuda lemah, sakit-sakitan, yang kini sudah mati. Dan ia, Ivan Volkov “Sang Tangan Besi” telah menggantikan jasadnya.
Gambar-gambar kabur menyelinap masuk:
Seorang bangsawan muda yang dipaksa menikah dengan putri keluarga berpengaruh, untuk menyematkan keluarganya.
Pernikahan yang dingin, tanpa cinta, hanya transaksi.
Namun, harta keluarga yang tersisa pun dilahap habis oleh mertua tamaknya, menyisakan Rion sebagai cangkang kosong, bangsawan tanpa tanah, tanpa martabat.
Ironisnya, wanita itu justru memilih tetap tinggal.
Ia rela menanggalkan gaun kebangsawanan, tinggal di gubuk hina ini, hidup miskin bersama suami yang bahkan tak pernah mencintainya.
Ivan meremas tangannya, kuat, hingga buku-buku jarinya memutih.
Ia bisa merasakan dengan jelas kebencian Rion pada wanita itu, sebuah emosi busuk yang masih tersisa dalam tubuh ini.
Namun Ivan bukan Rion.
Tatapannya dingin, penuh perhitungan. Ia menggeram pelan.
“Rion, dia istri yang baik. Tidak pantas kau benci.”
Kata-kata itu keluar lebih seperti perintah pada arwah yang tubuhnya kini ia tempati. Sebuah vonis dari bos mafia yang sudah kenyang pengkhianatan dan darah.
Wanita itu mungkin bukan cintanya. Tapi kesetiaannya, adalah aset.
Dan Ivan Volkov tak pernah menyia-nyiakan aset yang berharga.