Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Reinkarnasi Bos Mafia ke Masa Lalu

Reinkarnasi Bos Mafia ke Masa Lalu

Sin C | Bersambung
Jumlah kata
46.8K
Popular
128
Subscribe
31
Novel / Reinkarnasi Bos Mafia ke Masa Lalu
Reinkarnasi Bos Mafia ke Masa Lalu

Reinkarnasi Bos Mafia ke Masa Lalu

Sin C| Bersambung
Jumlah Kata
46.8K
Popular
128
Subscribe
31
Sinopsis
18+FantasiIsekaiReinkarnasiPertualanganMengubah Nasib
Ivan Volkov, "Sang Tangan Besi" dari dunia bawah tanah, adalah seorang bos mafia yang tak tersentuh, kejam, dan sangat berkuasa. Di puncak kejayaannya, tepat di ulang tahunnya yang ke-50, pengkhianatan paling pahit menerpanya. Andrei, putra tertuanya yang ia percayai, membalikkan pistol dan menembaknya di depan para loyalisnya, merebut takhta kekuasaan yang dibangun Ivan dengan darah dan keringat. Namun, kematian bukanlah akhir bagi Ivan. Dia terbangun bukan di akhirat, tetapi di dunia yang asing dan keras. Suara mesin kota digantikan oleh deru angin dan decit ranjang kayu reot. Jiwa dan ingatannya yang keras telah menyatu dengan tubuh Rion, seorang pemuda yang dianggap lemah, pengecut, dan hampir tidak berguna oleh desanya. Rion adalah mantan bangsawan yang jatuh miskin, kini ia tinggal di desa terpencil setelah menikah dan sering dihina oleh orang-orang. Tapi di dalam tubuh yang payah itu, kini bersemayam akal bulus seorang mafia dan kenangan pahit akan pengkhianatan. Ivan marah, bingung, tetapi cepat beradaptasi. Dia menyadari ini adalah kesempatan kedua, bukan untuk penebusan, tetapi untuk menguasai. Dengan menggunakan kecerdikannya yang tajam, pengetahuan taktis modern, dan kekejaman tanpa ampun yang ia kuasai, Ivan mulai mengubah nasib Rion. Dimulai dari hal kecil: menggunakan trik kotor untuk berburu, memanipulasi warga desa yang lebih kuat, hingga meracik obat sederhana untuk mendapatkan pengaruh. Langkah demi langkah, "Rion" yang baru mulai membangun reputasi. Dia yang lemah kini menjadi yang paling ditakuti. Dia yang dihina kini menjadi yang dihormati. Dia membangun klan, dia membangun sindikat. Dia merekrut pengikut setia (yang ia anggap sebagai 'tentara'), menguasai perdagangan sumber daya, dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya dengan strategi yang tidak terpikirkan oleh pikiran primitif di sekelilingnya.
bab 1

Cuitan burung terdengar samar, menusuk telinga yang masih berat. Ivan Volkov mengernyit. Napasnya kasar, dada naik turun seolah baru saja lolos dari pertarungan panjang. Kepalanya berdenyut, seperti habis dihantam botol vodka kaca. Perlahan, kelopak matanya terbuka.

Bukan lampu kristal ruang rapat.

Bukan langit-langit marmer kantornya.

Melainkan atap bambu kusam, berlubang, dengan cahaya mentari menembus celah-celahnya.

Ia mendapati dirinya terbaring di atas sebuah dipan kayu tua yang berdecit setiap kali tubuhnya bergeser. Kasar, dingin, dan penuh debu. Bau kayu lembap bercampur dengan tanah basah memenuhi rongga hidungnya.

Ivan mengerjapkan mata, mencoba memahami. Ruangan sempit itu tak lebih dari gubuk reot. Dindingnya terbuat dari bilah bambu yang disusun asal, angin mudah menyelinap lewat celah-celahnya. Di sudut ruangan, ada sebuah kendi tanah liat, pecah di bagian bibirnya. Tak ada satu pun yang ia kenali.

"…Di mana aku?" suaranya serak, seperti dipaksa keluar dari tenggorokan yang kering.

Kilasan terakhir yang ia ingat menyambar benaknya.

Senyum Andrei, putra sulungnya.

Lampu ruang pertemuan para petinggi anggota mafianya yang temaram.

Dentuman pistol yang menggelegar.

Rasa panas yang membakar dadanya.

Tubuhnya yang jatuh.

Kegelapan.

Ivan spontan meraba dadanya. Tapi yang ia temukan hanyalah kulit asing, lebih kurus, lebih lemah. Tubuh ini bukan tubuhnya. Ia mendapati tangan yang pucat, kurus, tanpa tato, tanpa bekas luka pertarungan.

"…Apa-apaan ini?" desisnya, penuh amarah yang bercampur kebingungan.

Tiba-tiba, pintu kayu rapuh itu berderit. Seorang wanita muda masuk membawa kendi berisi air. Rambutnya cokelat gelap, sederhana diikat ke belakang. Wajahnya lembut, ada garis letih, tapi juga ketulusan yang jarang Ivan temui bahkan dari istrinya dulu. Tatapannya terkejut saat melihat Ivan terbangun.

"Rion!? kamu sudah sadar?" suaranya lirih, seolah takut suaminya tak akan mengenalinya.

Ivan terdiam. Nama itu asing. Rion?

Tapi sebelum ia sempat menjawab, ingatan yang bukan miliknya mulai menyeruak ke dalam kepalanya, bagaikan gelombang lumpur yang memaksa masuk. Potongan kehidupan seseorang: seorang pemuda lemah, anak bangsawan yang jatuh miskin, dipermalukan oleh desanya, diremehkan, bahkan dipukul tanpa perlawanan. Seorang pecundang.

Dan wanita ini, istrinya. Satu-satunya yang tetap tinggal meski harus kehilangan segalanya.

Ivan terdiam lama. Gigi gerahamnya terkatup. Rasa marah membuncah, bukan hanya marah pada pengkhianatan Andrei, tapi juga pada nasib memalukan tubuh yang kini ia tempati.

Namun di balik amarah, ada sesuatu yang lain. Sebuah api kecil. Kesempatan.

Senyum tipis, dingin, penuh perhitungan, muncul di bibirnya.

Jika dunia memberinya tubuh baru, maka dunia juga menyuiapkan papan catur baru.

"Aku… sadar," katanya akhirnya, dengan suara pelan tapi tajam. Mata tajam seorang bos mafia menatap lurus ke arah wanita itu.

Tangan wanita itu, meski lusuh karena kerja keras, terasa hangat saat menyentuh jemari Ivan. Sentuhan yang begitu asing baginya, bukan kelembutan para wanita malam yang penuh kepalsuan, bukan pula genggaman rekan mafia yang dingin dan penuh siasat.

Matanya berkaca-kaca, air bening menggantung di pelupuknya sebelum jatuh membasahi pipi pucat.

“Suamiku… ini sebuah keajaiban. Aku… aku sangat takut kehilanganmu.”

Suaranya bergetar, lirih namun tulus. Ia buru-buru menyeka air matanya dengan punggung tangan yang kasar, lalu memaksa sebuah senyum kecil.

“Aku akan buatkan bubur. Tunggu ya.”

Ia bangkit, menundukkan tubuhnya sedikit seakan takut tubuh rapuh Ivan kembali jatuh sakit, lalu melangkah keluar dari gubuk.

Keheningan menyeruak.

Ivan terdiam, menatap langit-langit bambu yang reyot. Namun, dalam diam itu, rasa sakit luar biasa menghantam kepalanya.

“Argh…” Ia memegangi pelipis.

Gelombang ingatan menyerbu, deras, menyakitkan, dan tak terbendung.

Nama itu. Rion.

Tubuh ini dulunya milik seorang pemuda lemah, sakit-sakitan, yang kini sudah mati. Dan ia, Ivan Volkov “Sang Tangan Besi” telah menggantikan jasadnya.

Gambar-gambar kabur menyelinap masuk:

Seorang bangsawan muda yang dipaksa menikah dengan putri keluarga berpengaruh, untuk menyematkan keluarganya.

Pernikahan yang dingin, tanpa cinta, hanya transaksi.

Namun, harta keluarga yang tersisa pun dilahap habis oleh mertua tamaknya, menyisakan Rion sebagai cangkang kosong, bangsawan tanpa tanah, tanpa martabat.

Ironisnya, wanita itu justru memilih tetap tinggal.

Ia rela menanggalkan gaun kebangsawanan, tinggal di gubuk hina ini, hidup miskin bersama suami yang bahkan tak pernah mencintainya.

Ivan meremas tangannya, kuat, hingga buku-buku jarinya memutih.

Ia bisa merasakan dengan jelas kebencian Rion pada wanita itu, sebuah emosi busuk yang masih tersisa dalam tubuh ini.

Namun Ivan bukan Rion.

Tatapannya dingin, penuh perhitungan. Ia menggeram pelan.

“Rion, dia istri yang baik. Tidak pantas kau benci.”

Kata-kata itu keluar lebih seperti perintah pada arwah yang tubuhnya kini ia tempati. Sebuah vonis dari bos mafia yang sudah kenyang pengkhianatan dan darah.

Wanita itu mungkin bukan cintanya. Tapi kesetiaannya, adalah aset.

Dan Ivan Volkov tak pernah menyia-nyiakan aset yang berharga.

Lanjut membaca
Lanjut membaca