Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
AWAKENER

AWAKENER

YERSYA | Bersambung
Jumlah kata
64.0K
Popular
100
Subscribe
13
Novel / AWAKENER
AWAKENER

AWAKENER

YERSYA| Bersambung
Jumlah Kata
64.0K
Popular
100
Subscribe
13
Sinopsis
PerkotaanAksiMisteriKekuatan SuperSupernatural
Di dunia yang tampak normal, ada dua eksistensi yang berjalan berdampingan—namun tak pernah benar-benar bersentuhan. Manusia biasa hidup dalam rutinitas mereka, tanpa tahu bahwa di antara mereka ada keberadaan lain: Awakener—manusia super yang terbangun dengan kekuatan di luar nalar, hidup tersembunyi, dan menjaga jarak demi keseimbangan dunia. Arya adalah salah satunya. Seorang awakener yang memilih menyembunyikan jati dirinya, ingin hidup tenang, sederhana, dan normal—seperti manusia pada umumnya. Ia duduk di bangku sekolah, tertawa bersama teman sekelas, dan berpura-pura tak lebih dari remaja biasa. Sampai suatu hari, Luna—teman sekelasnya—berada dalam bahaya. Bahaya yang seharusnya tidak ada di dunia manusia biasa. Tanpa rencana. Tanpa waktu berpikir. Arya melanggar prinsip yang selama ini ia pegang: jangan ikut campur. Ia menolong Luna. Dan dengan itu, membuka tabir rahasia yang seharusnya tetap tersembunyi. Luna sendiri bukan sekadar manusia biasa. Tanpa ia sadari, darah awakener mengalir di dalam dirinya—kekuatan yang tertidur, menunggu saatnya terbangun. Pertemuan mereka bukan kebetulan, dan bantuan Arya mungkin menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar… atau jauh lebih berbahaya. Di antara rahasia, identitas yang terancam terbongkar, dan dunia yang perlahan menunjukkan sisi gelapnya, hubungan apa yang akan terjalin di antara mereka? Apakah mereka akan saling melindungi—atau justru terseret ke dalam konflik yang mengubah segalanya? AWAKENER adalah kisah tentang dua dunia dalam satu realitas, tentang kekuatan yang disembunyikan, dan tentang pilihan: tetap hidup normal… atau bangkit menghadapi takdir.
BAB 1 — Aluna Sena

Dunia ini memang aneh.

Saat kau merasa hidupmu berjalan biasa saja—tanpa drama, tanpa kejutan tak perlu—saat kau dengan sengaja menyusun rutinitas damai demi menjauh dari masalah, justru di situlah hidup mulai tertawa pelan.

Seolah-olah ketenangan hanyalah ilusi.

Dan keinginan untuk hidup normal adalah hal paling naif yang bisa kau miliki.

Malam itu aku pulang sekolah sendirian.

Langit gelap membentang luas di atas kota, dihiasi bintang-bintang yang hampir tenggelam oleh cahaya lampu jalan. Deretan tiang lampu berdiri rapi di sisi aspal, memancarkan warna kekuningan yang membuat bayanganku memanjang dan tampak asing di permukaan jalan.

Suasananya sunyi.

Terlalu sunyi.

Tak ada suara kendaraan. Tak ada percakapan manusia. Hanya langkah kakiku sendiri yang terdengar berulang, pelan, konstan—seperti metronom yang mengukur jarak menuju rumah.

Aku hampir mencapai persimpangan ketika sesuatu menarik perhatianku.

Sebuah gang kecil di sisi jalan.

Gelap. Sempit. Tidak menarik.

Dan di sana—berdiri seseorang yang sangat kukenal.

Aluna Sena.

Teman sekelasku.

Aku berhenti.

Awalnya hanya karena penasaran. Kenapa dia ada di tempat seperti itu sendirian, malam-malam begini? Dia bukan tipe yang berkeliaran tanpa alasan. Rambut panjangnya terurai rapi di punggung, seragam sekolahnya masih dikenakan meski dasinya sudah dilonggarkan.

Dia tampak… normal.

Sampai aku melihat apa yang ada di tangannya.

Sebuah kantong darah.

Tubuhku membeku.

Tanpa suara. Tanpa gerakan.

Aku hanya bisa menatap saat ia mengangkat kantong itu ke bibirnya dan meminum isinya perlahan. Cairan merah gelap itu bergerak turun, dan aku bisa melihat tenggorokannya menelan.

Otakku menolak memahami apa yang kulihat.

Ini tidak masuk akal.

Gang itu memang gelap, tapi cahaya bulan jatuh tepat ke arahnya, cukup untuk memperlihatkan wajahnya dengan jelas. Dan ketika ia sedikit menoleh—

Matanya menyala merah.

Bukan pantulan cahaya.

Bukan ilusi.

Merah terang. Tajam. Dingin.

Tidak manusiawi.

Waktu terasa berhenti.

Cahaya bulan menyentuh rambutnya, membingkai wajah yang terlalu indah untuk adegan seperti ini. Kulitnya pucat, bersih, seperti porselen. Jika ini lukisan, orang mungkin akan menyebutnya mahakarya.

Namun ini bukan lukisan.

Ini nyata.

Dan kemudian ekspresinya berubah.

Panik.

Matanya membesar. Jemarinya gemetar. Kantong darah di tangannya tertekan sedikit lebih kuat.

Tatapan kami bertemu.

Dan dalam satu detik yang terasa seperti selamanya, aku tahu satu hal dengan sangat jelas.

Aku seharusnya tidak ada di sini.

Jangan panik.

Abaikan.

Anggap saja tidak melihat apa pun.

Itu satu-satunya hal rasional yang bisa kupikirkan.

Aku memalingkan wajah, menatap lurus ke depan, lalu mulai berjalan lagi. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.

Jantungku berdetak begitu keras hingga rasanya bisa terdengar keluar dari dadaku.

Begitu merasa cukup jauh—

Aku berlari.

Sekencang-kencangnya.

Napas tersengal. Kaki terasa berat. Pikiranku hanya mengulang satu kalimat yang sama seperti mantra.

Aku tidak melihat apa pun.

Aku tidak melihat apa pun.

Aku tidak melihat apa pun.

Dia pasti mengira aku tidak melihatnya. Gelap, kan? Pasti begitu.

Aku terus meyakinkan diriku sendiri hingga tiba di rumah, mengunci pintu, dan menyandarkan tubuh ke dinding. Napasku masih tidak stabil saat aku akhirnya memejamkan mata.

Selesai.

Itu hanya kejadian aneh.

Aku bisa melupakannya.

Setidaknya… itulah yang kupikirkan.

Sampai keesokan harinya.

“Hey, Arya. Bisa bicara sebentar?”

Suara itu lembut.

Terlalu lembut.

Sebuah tepukan di mejaku membuatku tersentak. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat jantungku melompat.

Aku mendongak.

Aluna Sena berdiri tepat di sampingku.

Wajahnya tenang. Bahkan tersenyum tipis. Namun matanya menatap lurus ke arahku—tajam, fokus, seolah sedang membaca sesuatu yang tertulis di wajahku.

Seketika ruang kelas terasa menyempit.

“Sekarang?” tanyaku, berusaha terdengar normal.

“Iya.”

Jawabannya singkat.

Teman-teman sekelas tampak tak curiga. Bagi mereka, ini mungkin hanya percakapan biasa.

Bagiku?

Ini adalah vonis.

Sialan.

Kesialan macam apa yang membuatku melihat hal itu… dan sekarang berdiri di hadapanku, meminta bicara seolah tidak terjadi apa-apa?

Dan entah kenapa, aku punya firasat buruk.

Hidupku yang “normal” mungkin sudah resmi berakhir sejak malam itu.

Dan aku baru saja menyadarinya.

***

Aluna Sena.

Atau Luna, seperti kebanyakan orang memanggilnya.

Seorang gadis yang hampir mustahil untuk tidak diperhatikan. Ke mana pun dia pergi, selalu ada tatapan yang mengikutinya. Rambut hitam legamnya panjang dan terawat, jatuh alami setiap kali angin berhembus pelan. Matanya hitam gelap, tenang di permukaan, tapi jika diperhatikan lebih lama, seolah menyimpan sesuatu yang tidak ingin dibagi pada siapa pun.

Dia pintar. Nilainya selalu berada di papan atas. Di lapangan olahraga, gerakannya ringan dan presisi. Di kelas seni, hasil karyanya selalu mencuri pujian. Luna adalah tipe murid yang membuat orang lain tanpa sadar membandingkan diri mereka dengannya.

Dan sekarang, gadis sempurna itu sedang menyeretku ke halaman belakang sekolah.

Tangannya mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat. Tidak menyakitkan, tapi jelas tidak berniat melepaskan. Langkahnya cepat, seolah takut ada orang lain yang melihat kami.

“Oi! Kenapa kau membawaku ke sini?” protesku sambil berusaha melepaskan diri. “Aku mau ke kantin. Kalau terlambat, jam istirahat keburu habis.”

Nada suaraku sengaja kutinggikan. Sedikit menggertak, berharap dia terkejut dan melepas genggamannya.

Sia-sia.

Luna berhenti mendadak. Ia berbalik menghadapku, rambutnya sedikit berantakan tertiup angin. Dadanya naik turun, napasnya tidak teratur.

“Kau melihatnya, kan?”

Suaranya bergetar. Rahangnya mengeras, matanya menatap lurus ke arahku tanpa berkedip.

“Kau melihatnya, kan?” ulangnya, kali ini lebih keras. Terlalu keras untuk sekadar pertanyaan.

Aku memiringkan kepala sedikit, memasang ekspresi bingung yang paling polos yang bisa kubuat. “Melihat apa?”

“Jangan berpura-pura.” Nada suaranya meninggi. “Kau pasti melihatnya.”

“Makanya aku tanya,” balasku santai. “Apa?”

Dia menggertakkan giginya. Wajahnya jelas menahan emosi. “Kau melihatku di gang tadi malam, kan?”

“Hah?” Aku mendengus pelan. “Apa yang kau bicarakan? Memangnya kenapa kau ada di gang malam-malam?” Aku berhenti sejenak, lalu menyunggingkan seringai kecil. “Jangan-jangan… kau melakukan hal aneh tadi malam?”

Wajah Luna langsung memucat.

“Bukan!” teriaknya. Suaranya memekakkan telinga, terlalu panik untuk seseorang yang tidak merasa bersalah.

“Kalau begitu apa?” tanyaku.

Dia terdiam.

Bibirnya sedikit terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, lalu mengendur lagi. Jelas terlihat dia kebingungan, terjebak di antara ingin mengakui sesuatu dan takut membuka semuanya.

Dalam hati, aku tersenyum.

Sepertinya keberuntungan masih berpihak padaku.

Jika dia bertanya apakah aku melihatnya meminum darah, itu berarti dia sendiri yang membuka rahasianya. Tapi jika dia terus menuduh tanpa mengatakan apa pun, dia juga tidak akan mendapatkan apa-apa dariku.

Aku menatapnya yang masih terlihat gelisah. Aku bisa saja mengakhiri percakapan ini dan pergi. Tapi aku tahu, jika kubiarkan menggantung, dia akan terus mencariku. Mengamatiku. Mencurigai setiap gerakku.

Aku menarik napas dalam.

Baiklah. Aku harus menyelesaikannya sekarang.

“Dengar,” kataku akhirnya, berusaha terdengar santai. “Aku tidak tahu apa yang kau lakukan di gang tadi malam. Dan aku tahu kau juga tidak percaya padaku.” Aku berhenti sebentar, memastikan dia mendengarkan. “Tapi anggap saja, misalnya, kau benar-benar melakukan sesuatu yang buruk dan tidak boleh diketahui orang lain. Dan misalnya juga, aku benar-benar melihatnya.”

Aku menatap matanya. “Bagaimana mungkin aku bisa membeberkannya ke orang lain tanpa bukti?”

“Kau pasti merekamnya!” tuduhnya cepat.

Aku menghela napas panjang.

Tanpa banyak bicara, aku mengeluarkan ponsel dari saku dan menyerahkannya padanya. Luna langsung meraihnya, jarinya bergerak cepat membuka galeri, folder video, bahkan aplikasi yang jarang dipakai. Wajahnya sangat serius, seolah mencari sesuatu yang bisa menjatuhkanku.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan canggung.

“Lihat?” kataku akhirnya. “Tidak ada apa-apa, kan?”

Aku mengambil kembali ponselku.

“Kau bisa saja memindahkannya ke laptop, komputer, atau flashdisk,” katanya lirih, tapi masih penuh curiga.

Aku mendecak kesal.

“Aku ini siswa miskin,” ujarku tanpa basa-basi. “Aku bahkan tidak punya keluarga. Sekolah saja numpang hidup dari beasiswa. Menurutmu aku punya laptop atau barang mahal lainnya?” Aku mengangkat ponselku sedikit. “Ini pun aku dapat karena bantuan sekolah.”

Nada suaraku terdengar lebih tajam dari yang kurencanakan.

Luna membeku.

Tangannya refleks meremas ujung seragamnya. Bahunya sedikit turun, seolah beban besar baru saja menimpanya. “Ma-maaf…” katanya pelan. Kata itu terdengar tulus, lolos begitu saja dari bibirnya.

Aku terdiam sejenak, lalu membalikkan badan.

“Kalau sudah selesai, aku pergi,” ujarku singkat.

Aku mulai berjalan menjauh. Di belakangku, Luna terlihat ingin mengatakan sesuatu. Bibirnya bergerak, tapi tak ada suara yang keluar. Entah apa yang menahannya.

Langkahku terus menjauh, hingga aku yakin dia sudah tidak bisa melihatku lagi.

Barulah aku berhenti.

Aku membungkuk sedikit, menghela napas panjang yang kutahan sejak tadi.

“Huuuh…”

Rasa lega mengalir perlahan.

“Sial,” gumamku sambil tersenyum tipis. “Tadi itu hampir saja.”

Aku melangkah pergi dengan perasaan menang, yakin bahwa kesialan ini sudah berhasil kuhindari. Setidaknya, untuk sekarang.

Lanjut membaca
Lanjut membaca