

Sore itu langit Medan tampak kusam, awan menggantung rendah seolah ikut menekan pundak para buruh yang baru saja menuntaskan kerja berat mereka. Di gudang sembako milik Apek Akang, seribu karung beras masing-masing seberat tiga puluh kilo akhirnya habis dilangsir. Debu beras menempel di rambut, wajah, dan pakaian Noval. Kaosnya basah oleh keringat, punggungnya nyeri, tangannya gemetar menahan lelah. Sudah berjam jam ia berdiri di bawah truk, memanggul karung demi karung tanpa jeda panjang, hanya sesekali meneguk air dari botol plastik kusam.
Sistem kerja hari itu sederhana tapi menyiksa. Satu orang di atas truk bertugas menggeser karung, dua orang di bawah melangsir ke dalam gudang. Noval salah satunya. Bang Tigor, kepala SPSI yang merasa dirinya paling berkuasa, tak ikut memanggul. Ia hanya mondar-mandir, teriak sana-sini, sesekali menghisap rokok sambil menghitung karung dengan wajah puas. Upah sudah disepakati: seribu rupiah per karung. Seribu karung berarti sejuta rupiah. Uang besar bagi kuli pikul, apalagi dibagi berempat.
Setelah semua selesai, mereka berkumpul di warung Buk Jeje yang berada tak jauh dari gudang. Bangku kayu tua berderit saat diduduki. Teh manis panas disajikan dalam gelas buram. Bang Tigor mengeluarkan amplop cokelat dari tas selempangnya. Dengan gaya santai tapi sorot mata tajam, ia mulai membagi uang.
“Ini bagian kau, Val,” kata Bang Tigor sambil menyodorkan beberapa lembar uang kusut.
Noval menghitung cepat. Seratus dua puluh lima ribu rupiah. Dadanya langsung berdesir.
“Bang… ini kok segini? Duitnya kan sejuta. Kita empat orang. Harusnya dua ratus lima puluh ribu seorang,” ucap Noval pelan tapi jelas, berusaha sopan meski jantungnya berdegup kencang.
Bang Tigor tertawa kecil, tawa yang lebih mirip ejekan. “Kau pikir gampang ngatur kerjaan ini? Kalian kerjanya kecepatan, Val. Aku harusnya bisa nego sama Apek Akang per karung seribu lima ratus. Harusnya kita dapat tiga ratus tujuh puluh lima ribu seorang.”
Noval mengernyit, tak paham ke mana arah pembicaraan itu. “Kalau gitu… kenapa bagian aku dipotong, Bang?”
Wajah Bang Tigor berubah. Senyumnya menghilang, diganti tatapan keras. “Aku rugi. Targetku tiga ratus lima puluh ribu. Karena negoanku gagal, kerugianku kupotong dari kau. Seratus dua puluh lima ribu.”
Noval berdiri setengah bangkit. “Ya nggak bisa gitu, Bang. Lagian kalau rugi, masak kerugian abang semua dipotong ke aku? Kita sama-sama kerja.”
Suasana warung mendadak senyap. Bang Tigor menghentakkan gelas ke meja. “Terus sama siapa mau kau potong? Sama apek Akang? Atau sama Pak Wali Kota sekalian?” suaranya meninggi, sengaja menarik perhatian.
Orang-orang di warung menoleh, lalu pura-pura sibuk. Tak ada yang berani membela. Noval menelan ludah. Ancaman itu jelas: melawan Bang Tigor sama saja cari mati. Ia menunduk, tangan mengepal, amarah bercampur takut mengaduk dadanya.
“Sudah, Bang,” ucapnya lirih. Ia mengambil uang itu, memasukkannya ke saku celana yang sudah robek di pinggir. Tanpa berkata lagi, Noval melangkah pergi, meninggalkan warung Buk Jeje dengan langkah gontai, menerima nasib sebagai kuli yang tak punya kuasa atas keringatnya sendiri.
---
Dengan langkah tertatih, Noval meninggalkan kawasan gudang sembako. Uang seratus dua puluh lima ribu di saku celananya terasa lebih berat daripada karung beras yang baru saja ia panggul seharian. Bukan karena nilainya, melainkan karena rasa terhina yang menyertainya. Jalanan Medan sore itu ramai oleh kendaraan yang saling berebut ruang, klakson bersahutan, dan debu beterbangan. Noval berjalan menyusuri trotoar sempit, pikirannya kosong, tubuhnya pegal, dan perutnya perih menahan lapar.
Di sebuah persimpangan kecil dekat deretan ruko, seorang wanita muda berjalan tergesa sambil menempelkan ponsel di telinganya. Mungkin sedang menelepon, mungkin juga sedang marah. Tanpa sadar, ponsel itu terjatuh saat ia mengantonginya. Noval yang berada tak jauh di belakangnya refleks berhenti. Ia memungut ponsel itu—sebuah ponsel pintar mahal yang layarnya masih menyala—lalu berlari kecil mendekati wanita tersebut.
“Mbak… Mbak, ini HP-nya jatuh,” ujar Noval sambil mengulurkan tangan.
Wanita itu berbalik. Bukannya tersenyum atau berterima kasih, wajahnya justru menegang. Matanya meneliti Noval dari ujung rambut sampai ujung kaki: kaos kusam, celana belel, sandal jepit tipis, tubuh kurus penuh debu beras. Ekspresinya berubah menjadi curiga.
“HP-ku kok bisa ada sama kamu?” tanyanya ketus. “Kamu maling, ya?”
Noval terkejut. “Bukan, Mbak. Tadi jatuh. Saya lihat sendiri—”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimat, wanita itu mundur selangkah dan berteriak keras, “Mas! Tolong! Ada jambret HP!”
Teriakan itu seperti percikan api di tengah jerami kering. Beberapa tukang ojek yang sedang nongkrong di pangkalan seberang jalan langsung berdiri. Orang-orang sekitar menoleh. Dalam hitungan detik, Noval dikepung. Ia mencoba menyerahkan ponsel itu, menjelaskan bahwa ia hanya menolong, tapi tak satu pun mau mendengar.
“Sudah ketangkap masih ngelak!” teriak seseorang.
Pukulan pertama mendarat di pipinya. Lalu satu, dua, tiga pukulan lain menyusul. Noval terjatuh. Tendangan mengenai rusuknya, punggungnya, kakinya. Suara umpatan bercampur dengan rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuh. Ponsel itu terlempar entah ke mana. Dunia Noval berputar, pandangannya gelap-terang, tapi ia tak melawan. Ia hanya melindungi kepala, menahan perih sambil berharap semua segera berhenti.
Tak lama kemudian, sirene polisi terdengar. Orang-orang bubar. Noval diseret ke pos polisi dengan tubuh lebam dan langkah pincang. Di sana, ia duduk terdiam, menunggu dengan kepala tertunduk, seperti pesakitan yang sudah divonis bersalah bahkan sebelum diperiksa.
Menjelang magrib, Bang Junet, kepala lingkungan kontrakan tempat Noval tinggal, datang menjemput, menjaminkan Noval. Wajahnya datar, suaranya berat. Sepanjang jalan menuju kos, tak banyak kata terucap. Setiba di halaman kontrakan, Bang Junet berhenti dan menatap Noval tajam.
“Val, hidup kau memang susah. Tapi jangan sampai kau punya pikiran mencuri,” katanya.
Noval ingin menjelaskan. Dadanya sesak. “Bang, saya nolong… HP itu jatuh—”
“Sudah,” potong Bang Junet. “Jangan banyak alasan. Ke depan jangan dibuat lagi. Malu lingkungan kita.”
Tanpa menunggu jawaban, Bang Junet berbalik pergi. Noval berdiri terpaku. Kata-kata itu lebih menyakitkan daripada pukulan tadi. Ia masuk ke kamarnya dengan tubuh gemetar, membawa luka di badan dan luka yang lebih dalam di hatinya—luka karena tak pernah dipercaya, hanya karena ia miskin.
---
Noval menutup pintu kamarnya pelan, seolah takut bunyi engsel yang berdecit bisa memancing hinaan baru. Kamar itu sempit, hanya berisi kasur tipis di lantai, kipas angin kecil yang berderit, dan sebuah rak kayu reyot. Ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Rasa sakit langsung menjalar dari tulang rusuk ke seluruh badan. Setiap tarikan napas terasa perih, bekas pukulan sore tadi masih berdenyut. Pandangannya menatap langit-langit kusam, pikirannya melayang, bertanya dalam diam: salahnya apa sampai hidup terus memperlakukannya seperti ini?
Belum lama ia terpejam, suara ribut terdengar dari samping rumah kontrakan. Teriakan perempuan, langkah kaki tergesa, dan suara orang-orang memanggil-manggil nama seseorang. Noval bangkit dengan susah payah dan membuka pintu. Di rumah panggung sebelah, Buk Susi tampak meringis kesakitan. Perutnya besar, wajahnya pucat, keringat bercucuran. Ia akan melahirkan. Beberapa tetangga sudah berkumpul, panik dan bingung harus berbuat apa.
Tanpa pikir panjang, Noval ikut mendekat. Meski tubuhnya masih sakit, nalurinya mendorong untuk membantu. Ia menawarkan diri mengangkat ember air, memanggil dukun beranak, apa saja yang bisa ia lakukan. Namun ketika ia mendekat ke Buk Susi, wanita itu menoleh dengan wajah kesal.
“Eh, kau jangan dekat-dekat,” katanya ketus sambil menahan perutnya. “Sana kau! Aku nggak mau anak aku jelek kayak kau!”
Ucapan itu seperti tamparan. Beberapa orang terdiam, lalu tawa kecil terdengar, cepat ditahan tapi cukup jelas untuk melukai. Wajah Noval memucat. Bibirnya bergetar, tapi tak ada kata keluar. Ia mundur selangkah, lalu berbalik pergi dengan kepala tertunduk. Setiap langkah terasa berat, seolah kakinya diikat rasa malu dan sakit hati.
Namun Noval tak langsung masuk ke rumah kontrakanya. Meski diusir dan dihina, hatinya masih dipenuhi kekhawatiran. Ia berdiri di samping rumah panggung itu, di balik kerumunan, menunggu dalam diam. Suara erangan Buk Susi bercampur doa dan instruksi dukun beranak. Malam mulai turun. Lampu-lampu rumah menyala temaram. Waktu terasa berjalan lambat sampai akhirnya terdengar tangisan bayi memecah udara.
Noval menghembuskan napas lega. “Alhamdulillah,” gumamnya pelan, meski tak ada yang mendengar. Saat hendak kembali ke rumah, matanya menangkap sesuatu di dekat tiang rumah panggung Buk Susi. Sepasang anting tergeletak di sana, terselip di tongkat kayu penyangga rumah. Batu jamrudnya berwarna hijau pekat, berkilau aneh meski hanya terkena cahaya lampu minyak. Seolah memanggil.
Rasa penasaran mengalahkan lelah dan takut. Noval meraih anting itu. Saat jemarinya menyentuh batu hijau tersebut, hawa dingin menjalar ke lengannya. Seketika matanya tertuju ke kolong rumah. Di sana, di antara bayangan gelap, tertunduk sesosok makhluk berwujud samar. Tubuhnya merah, matanya merah menyala, lidahnya menjulur panjang, menjilat darah persalinan yang menetes ke tanah dengan rakus.
Napas Noval tercekat. Jantungnya hampir copot. Tanpa berpikir, ia berlari sekuat tenaga kembali ke kamarnya, menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat. Anting itu masih tergenggam di tangannya. Di balik ketakutannya, ia tak tahu bahwa sejak saat itu, takdirnya telah berubah—dan makhluk di kolong rumah panggung itu telah menandainya.