Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pemuda Dari Dunia Lain: Takdir Sang Bangsawan

Pemuda Dari Dunia Lain: Takdir Sang Bangsawan

ALEENA MARS | Tamat
Jumlah kata
33.4K
Popular
100
Subscribe
8
Novel / Pemuda Dari Dunia Lain: Takdir Sang Bangsawan
Pemuda Dari Dunia Lain: Takdir Sang Bangsawan

Pemuda Dari Dunia Lain: Takdir Sang Bangsawan

ALEENA MARS| Tamat
Jumlah Kata
33.4K
Popular
100
Subscribe
8
Sinopsis
FantasiIsekaiSihirPewarisReinkarnasi
Raka, pegawai kantoran yang kelelahan dan kehilangan arah, tiba-tiba meninggal di tengah rutinitasnya. Namun kematian bukanlah akhir—ia terbangun sebagai bangsawan muda di dunia novel fantasi yang dulu hanya ia baca.   Dengan tubuh baru dan takdir yang belum tertulis, Raka harus menghadapi intrik istana, sihir kuno, dan pilihan yang bisa mengubah segalanya. Apakah ia hanya pion dalam cerita ... atau penentu akhir dari dunia ini?
Raka vs Rael

Langit Jakarta pagi itu kelabu, seperti biasa. Raka menatap layar laptopnya yang sudah menyala sejak pukul tujuh, meski matanya masih berat dan tubuhnya terasa seperti batu. Di mejanya, tumpukan laporan belum tersentuh, dan kopi dingin yang ia beli tadi pagi sudah kehilangan rasa. Kantor itu sunyi, hanya suara AC dan ketikan keyboard dari rekan-rekannya yang terdengar samar.

Ia menarik napas panjang. Sudah lima tahun ia bekerja di sini. Lima tahun bangun pagi, berdesakan di kereta, duduk di kursi yang sama, mengerjakan hal yang sama, dan pulang dengan kepala berat. Hidupnya seperti mesin. Tidak ada gairah, tidak ada tujuan. Hanya angka, deadline, dan evaluasi bulanan.

“Raka, laporan minggu lalu udah kamu kirim?” suara atasannya memecah lamunannya.

“Sudah, Pak,” jawabnya cepat, meski ia tak yakin jawabannya benar.

Atasannya mengangguk dan berlalu. Raka menatap jam di sudut layar 10.47. Masih terlalu pagi untuk berharap pulang. Ia membuka folder laporan, mencoba fokus, tapi huruf-huruf di layar mulai kabur. Kepalanya berdenyut. Ia menekan pelipisnya, mencoba menahan rasa pusing yang tiba-tiba datang.

Lalu semuanya gelap.

-

Ia terbangun dalam keheningan. Tidak ada suara AC. Tidak ada lampu neon. Tidak ada aroma kopi basi. Yang ada hanya langit biru yang luas, angin sejuk yang menyentuh kulitnya, dan suara dedaunan yang bergoyang pelan.

Raka duduk perlahan. Ia berada di tengah padang rumput yang luas, dengan pepohonan tinggi di kejauhan dan sebuah kastil menjulang di balik bukit. Kastil itu ... seperti yang pernah ia lihat di sampul novel fantasi yang dulu ia baca saat SMA.

“Apa ini ... mimpi?” gumamnya.

Ia melihat ke bawah. Pakaian kantornya sudah berganti. Kini ia mengenakan mantel panjang berwarna cokelat tua, rompi biru dengan sulaman emas, dan sabuk kulit yang kokoh di pinggangnya. Tangannya menyentuh wajahnya—lebih tirus, lebih tegas, dan ... lebih tampan?

Sebelum ia sempat mencerna semuanya, suara langkah mendekat dari balik semak. Seorang pria tua dengan jubah panjang dan tongkat kayu muncul, matanya tajam namun ramah.

“Tuanku, Anda akhirnya terbangun,” katanya sambil membungkuk hormat.

“Tuanku?” Raka mengernyit. “Maaf, saya rasa Anda salah orang.”

Pria tua itu tersenyum. “Anda adalah Lord Rael, pewaris keluarga bangsawan Eldharn. Anda jatuh dari kuda kemarin dan tak sadarkan diri. Kami semua khawatir.”

Raka terdiam. Lord Rael? Eldharn? Nama-nama itu terdengar familiar ... seperti karakter dalam novel The Kingdom of Eldharn yang dulu ia baca diam-diam di perpustakaan kampus.

“Tidak mungkin ...” bisiknya.

-

Kastil Eldharn berdiri megah di atas bukit, dikelilingi taman dan menara-menara batu yang menjulang. Raka berjalan perlahan di lorong-lorongnya, matanya menyapu lukisan-lukisan tua dan pelayan-pelayan yang membungkuk hormat setiap kali ia lewat. Semua terasa nyata. Terlalu nyata.

Di ruang utama, seorang wanita muda dengan gaun biru langit menunggunya. Rambutnya panjang dan keemasan, matanya tajam, namun lembut.

“Rael,” katanya pelan. “Kau kembali.”

Raka menelan ludah. “Siapa kau?”

Wanita itu tersenyum pahit. “Kau benar-benar lupa segalanya? Aku Lysandra. Tunanganmu.”

Raka membeku. Tunangan? Dunia ini bukan hanya fantasi ... ini adalah novel. Dan ia adalah tokoh utama.

-

Malam itu, Raka duduk di balkon kamarnya, menatap langit yang bertabur bintang. Di tangannya, sebuah buku tua terbuka, halaman-halamannya bersinar keemasan. Tulisan di dalamnya berubah-ubah, seolah menulis ulang takdirnya.

Ia mulai mengerti. Ia telah mati di dunia lama. Tapi entah bagaimana, ia dilahirkan kembali di dunia novel yang dulu hanya ia baca. Dunia yang penuh sihir, intrik, dan rahasia.

Dan ia bukan lagi pegawai kantoran yang lelah. Ia adalah bangsawan muda dengan masa depan yang belum tertulis.

Tapi, satu pertanyaan masih menggantung di benaknya …

Apakah ia bisa mengubah jalan cerita ... atau justru terjebak di dalamnya?

-

Raka berdiri di depan cermin besar berbingkai emas di kamarnya. Wajah yang menatap balik padanya bukanlah wajah yang ia kenal. Wajah itu lebih tegas, lebih tampan, dengan sorot mata yang tajam dan tubuh yang tegap. Tapi, di balik semua itu, ia merasa asing. Ia bukan Rael. Ia adalah Raka—pegawai kantoran yang mati karena kelelahan.

“Tuanku, sarapan telah disiapkan di ruang makan,” kata seorang pelayan muda sambil membungkuk sopan.

Raka mengangguk pelan. Ia masih belum terbiasa dengan panggilan itu. “Terima kasih,” jawabnya, mencoba terdengar tenang.

Lorong kastil dipenuhi lukisan-lukisan tua dan aroma kayu yang hangat. Di ruang makan, meja panjang telah dipenuhi hidangan yang tampak seperti potongan dari lukisan Renaissance: roti panggang, buah-buahan segar, daging asap, dan teh herbal yang mengepul.

Di ujung meja, duduk seorang pria paruh baya dengan jubah biru tua dan mata tajam. Ia menatap Raka dengan penuh harap.

“Rael,” katanya, “kau tampak lebih ... hidup hari ini.”

Raka duduk perlahan. “Saya ... masih mencoba mengingat semuanya.”

Pria itu tersenyum tipis. “Kau tak perlu terburu-buru. Yang penting, kau kembali. Keluarga Eldharn tak bisa kehilangan pewarisnya.”

Pewaris. Kata itu bergema di kepala Raka. Ia bukan pewaris. Ia bahkan tak punya warisan di dunia lamanya.

Setelah sarapan, Raka berjalan ke taman kastil. Udara pagi segar, dan dedaunan bergoyang pelan diterpa angin. Di tengah taman, berdiri Lysandra, tunangannya—setidaknya menurut dunia ini.

Kali ini ia mengenakan gaun hijau zamrud, rambutnya terurai, dan matanya menatap Raka dengan campuran rasa rindu dan curiga.

“Kau benar-benar berbeda,” katanya pelan.

Raka menelan ludah. “Aku ... bukan Rael.”

Lysandra mengangkat alis. “Apa maksudmu?”

“Aku ... bukan pria yang kau kenal. Aku berasal dari dunia lain. Aku bukan bangsawan. Aku bukan siapa-siapa.”

Lysandra terdiam. Angin berhembus pelan di antara mereka.

“Kalau begitu,” katanya akhirnya, “mungkin dunia ini memberimu kesempatan kedua. Untuk menjadi seseorang.”

-

Malam harinya, Raka kembali membuka buku tua yang ia temukan di kamarnya. Halaman-halamannya bersinar keemasan, dan tulisan di dalamnya berubah setiap kali ia menyentuhnya. Seolah buku itu menulis ulang takdirnya.

Ia membaca satu kalimat yang muncul di halaman kosong:

"Takdir tidak memilih siapa yang layak. Ia hanya memberi jalan bagi mereka yang berani melangkah."

Raka menutup buku itu perlahan. Ia tidak tahu mengapa ia dipilih, atau bagaimana ia bisa berada di sini. Tapi, satu hal pasti: dunia ini memberinya peran baru. Dan ia harus memainkannya—entah sebagai pahlawan, pion, atau pengkhianat.

-

Raka duduk di perpustakaan kastil, dikelilingi rak-rak tinggi berisi buku tua berdebu. Ia membuka satu per satu halaman, mencari petunjuk tentang siapa sebenarnya Rael Eldharn—nama yang kini melekat padanya. Tapi semakin ia membaca, semakin ia merasa asing.

Rael adalah bangsawan muda yang dikenal cerdas, ambisius, dan ... kejam. Ia pernah memimpin pasukan kecil untuk menumpas pemberontak di perbatasan. Ia punya reputasi sebagai pewaris yang tak segan menghukum pelayan yang salah bicara. Semua itu bertolak belakang dengan dirinya.

“Aku bukan dia,” gumam Raka. “Tapi, semua orang di sini menganggap aku adalah dia.”

Langkah pelan terdengar dari lorong. Lysandra muncul, membawa secarik surat.

“Ini kutemukan di ruang kerja Rael,” katanya. “Ditulis dengan tangan sendiri.”

Raka membaca surat itu. Isinya singkat, tapi mengganggu:

"Jika aku gagal dalam ritual itu, maka biarkan dunia ini memilih penggantiku. Seseorang yang lebih ... layak."

Raka menatap Lysandra. “Ritual?”

Ia mengangguk pelan. “Rael mencoba membuka gerbang waktu. Ia ingin mengubah masa lalu. Tapi sesuatu terjadi. Ia menghilang ... dan kau muncul.”

Kini ia tahu satu hal:

Jika dunia ini memilihnya sebagai pengganti Rael, maka ia harus menemukan alasan di balik semua ini. Dan mungkin ... menulis ulang takdir yang pernah ditinggalkan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca