Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Retakan Abyss: Pemburuan Tanpa Henti

Retakan Abyss: Pemburuan Tanpa Henti

Yuennara Eclipta | Bersambung
Jumlah kata
82.4K
Popular
103
Subscribe
50
Novel / Retakan Abyss: Pemburuan Tanpa Henti
Retakan Abyss: Pemburuan Tanpa Henti

Retakan Abyss: Pemburuan Tanpa Henti

Yuennara Eclipta| Bersambung
Jumlah Kata
82.4K
Popular
103
Subscribe
50
Sinopsis
18+FantasiIsekaiPertualanganUrbanMonster
Nathan terjebak dalam bahaya yang tidak bisa dilihat mata biasa. Dalam satu kelengahan, ia terseret ke tempat asing dan berhadapan dengan monster yang bahkan tidak pernah ia bayangkan. Meski berhasil lolos dari cengkeraman maut, Nathan tahu semuanya belum berakhir. Setiap kejadian terasa seperti peringatan bahwa sesuatu terus memburunya.Kematian teman-temannya menghantamnya dengan rasa frustrasi yang tidak tertahankan. Ketakutan berubah menjadi kemarahan, dan kemarahan itu mendorong Nathan mengambil keputusan yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Alih-alih bersembunyi, ia memilih menyerang balik. Karena ia sadar, jika ia terus menunggu, maka giliran orang lain yang akan hilang selamanya.
1. Ilusi atau Kenyataan

Hai, namaku Nathaniel. Biasa dipanggil Nathan, tapi terkadang beberapa orang terdekat memanggilku Niel. Bisa dibilang aku adalah remaja biasa pada umumnya. Tinggi badan masih batas normal. Kalau soal ketampanan, bisa dibilang banyak yang memuji mata biruku indah.

Seharusnya semua itu sudah cukup membuatku jadi siswa populer di sekolah menengah. Sayangnya, kejadian aneh yang terjadi saat aku baru masuk sekolah membuat yang lain menjauh.

Saat itu aku disuruh mengambil bola di gudang, tapi tiba-tiba pintunya tertutup. Aku cukup tenang, berpikir jika Tomi sedang mengerjaiku.

“Ayolah, Tomi, ini tidak lucu!” Sengaja kutinggikan suaraku agar Tomi tahu aku kesal daripada takut.

Tidak ada jawaban. Aku maju dan mengetuk pintu. Mataku terbelalak—tidak terdengar suara ketukan. Aku menatap tangan dan pintu dengan perasaan aneh. Ini tidak wajar, kan?

“Halo, siapa yang di luar!” teriakku, tak bisa menyembunyikan rasa panik.

Tidak ada jawaban, lalu tiba-tiba pintu itu menghilang. Aku mengaduh kesakitan saat tanganku beradu dengan bebatuan. Mataku mengerjap-ngerjap untuk memastikan penglihatan, tapi dinding itu berubah jadi batuan dengan permukaan tak rata. Rasa sakitnya juga nyata.

Rasanya aku mendengar suara tetesan darah jatuh dari luka di tangan kananku. Bulu kuduk berdiri, merasakan bahaya yang mendekat. Aku berbalik dan mendapati tiga makhluk pendek berwarna hijau dengan pedang dan kapak berkarat berjalan mendekat.

“Hai, kostum kalian lumayan bagus,” sapaku, berusaha tenang.

Salah satu makhluk membuka mulut, memperlihatkan gigi lancip dengan bau busuk seperti sampah yang tidak dibuang berbulan-bulan. Mereka terlihat sungguhan, apalagi suara mereka begitu memilukan telinga.

Aku melangkah mundur, tapi dinding tak rata itu menahanku. Ini tidak adil. Jika ingin bertarung, harusnya aku diberi satu pedang.

Tidak, aku tidak boleh pasrah. Mataku memandang sekeliling. Gudang yang penuh barang telah berubah menjadi goa dengan cahaya minim.

Sekuat tenaga kutendang makhluk hijau di tengah hingga jatuh. Dua temannya tidak sempat menghindar dan ikut terjatuh. Kuambil kesempatan itu untuk kabur. Aku mengamati sekeliling mencari jalan keluar. Pasti ada titik portal yang bisa membawaku kembali ke sekolah.

Makhluk itu meskipun kecil, larinya cepat. Aku berteriak, berusaha mempercepat langkah, tapi geraman mereka semakin dekat.

Tiba-tiba kurasakan sayatan di punggungku. Aku terjatuh, berguling.

Loh, bukannya ini hanya bohongan, ya? Pikirku bingung.

Tanganku berusaha menyentuh punggung—basah. Sekuat tenaga membalikkan tubuh dan mengesot menjauh. Jujur saja, pandanganku mulai berkunang. Tiga makhluk itu seperti sedang berdebat, lalu salah satunya maju dan mengayunkan pedang ke arahku.

Aku menutup mata, pasrah. Bisa kurasakan tubuhku terdorong ke belakang dan rasa sakit benturan. Tapi alih-alih merasakan sayatan, aku malah mendengar suara tawa.

“Lihat, dia mengompol!” ledek Tomi.

Aku membuka mata dan menatap tajam ke arahnya. Aku berada di depan gudang, anak-anak yang lain mengelilingiku, termasuk Tomi. Goa beserta tiga goblin telah menghilang.

“Ini tidak lucu,” sungutku, menahan malu.

Tomi mengulurkan tangan dan menarikku berdiri. “Aku hanya bercanda, tapi aku tidak tahu kamu takut gelap, Nathan.”

“Ya, ngomong-ngomong tadi siapa yang menjadi goblin?”

Sontak pertanyaanku membuat semua orang berhenti tertawa dan saling pandang.

“Aku tidak akan marah,” ujarku, berharap mereka akan mengatakannya.

Tapi Tomi hanya memainkan kunci gudang. “Apa kamu baik-baik saja, Nathan?”

“Ya,” jawabku sambil memutar bola mata. “Hanya saja salah satu dari tiga goblin itu melukaiku. Tolong kasih tahu siapa orangnya, Tomi.”

“Tapi ..., mana luka itu?” tanya Tomi ragu.

“Astaga, Tom ....” Aku kehilangan kata-kata begitu tanganku meraba bagian punggung.

Kering. Tidak ada robekan. Tapi bagaimana bisa? Padahal rasa sakit itu nyata. Jemariku tadi juga luka. Aku membolak-balikkan kedua tangan. Luka-lukanya hilang.

“Tidak ada goblin, aku hanya mengurungmu barusan,” aku Tomi.

Aku terdiam. Tadi itu bukan mimpi, kan?

Tomi menyentuh bahuku. “Maaf jika aku berlebihan. Tapi bau ompolmu itu sangat mengganggu, Nathan.”

Aku menunduk, mendapati celanaku basah. Tidak tahu lagi mana yang lebih menakutkan: tiga goblin dengan pedang tajam, atau teman-teman dengan mulut mencibir.

“Kalau kamu mau meminjam ....”

Kuabaikan Tomi dan berlari menuju WC. Di depan cermin terlihat wajahku tercoreng debu. Aku memutar keran, membasuh tangan dan muka. Lalu membalikkan badan—hanya sedikit kotor, tanpa darah atau robekan.

Wajahku langsung memerah. Sisa hari itu kuputuskan untuk mengurung diri di salah satu bilik WC. Setelah membilas celana agar tidak pesing, aku berpikir apa yang sebenarnya terjadi.

Aku melihat, mendengar, dan merasakan sakit. Jelas hal itu tidak bisa disebut mimpi. Tapi dari mana asalnya goblin itu? Kalau mereka bohong, itu tidak mungkin. Wajah mereka terlihat bingung.

Aku mengacak rambut frustrasi. Ayolah, tidak mungkin ini hanya khayalanku belaka. Tapi sejujurnya sisi logikaku meragukan diri sendiri.

Begitu bel pulang berbunyi, aku berdiri dan menunggu sampai senyap. Aku mengendap-endap keluar dan mengamati koridor yang kosong.

“Sumpah, kamu tidak cocok jadi detektif, Kawan.” Tomi tiba-tiba muncul dan mengagetkanku.

“Bagaimana kamu tahu aku ada di sini?” tanyaku ketus.

Tomi mengangkat bahu. “Hanya mencari tempat yang relatif aman.”

“Sudah puas mengerjaiku?” tanyaku, berjalan mendahului Tomi.

Tomi berjalan santai di belakangku. “Aku kan sudah bilang itu hanya bercanda. David kesal karena kamu berhasil merebut perhatian banyak perempuan, dan aku pikir itu tidak berlebihan.”

“Kamu ini sebenarnya teman David atau aku?” tanyaku sambil melepas sepatu indoor dan menukarnya dengan sepatu outdoor.

Tomi melakukan hal yang sama. “Ayolah, jangan seperti anak perempuan. Kita semua teman.”

Kami berjalan meninggalkan ruang sepatu menuju parkiran. Menuntun sepeda masing-masing, meninggalkan sekolah.

“Nathan, bisa kamu ceritakan apa yang terjadi di gudang itu? Kamu di dalam berteriak cukup keras,” tanya Tomi penasaran.

“Tidak ada,” jawabku kesal.

“Tapi tadi kamu menanyakan siapa yang menjadi goblin. Goblin yang kamu maksud itu makhluk pendek berwarna hijau, kan?” tanya Tomi lagi, tidak menyerah.

“Bukan, aku hanya mengigau.” Bisa kurasakan wajahku memanas.

“Ya, kupikir juga begitu. Goblin itu kan tidak nyata. Jangan tersinggung, oke?”

Aku menghentikan sepeda dan berbalik menatap Tomi. Dia juga berhenti dengan gugup.

“Nathan, aku hanya khawatir,” ujar Tomi.

“Berhenti ....” Mulutku kembali tertutup saat melihat sosok itu di kejauhan. Bocah lelaki yang tidak berubah sepanjang ingatanku.

Tomi melakukan hal yang sama. “Apa yang kamu lihat, Nathan?”

Sejenak aku terdiam, sempat terpikir untuk mengatakan. Tapi urung, sadar jika tidak ada yang mempercayaiku. “Tidak ada. Aku pulang duluan.”

Aku kembali mengayuh sepeda dengan kencang. Tomi tidak menyusulku, dan itu bagus. Begitu sampai di rumah, kubiarkan sepeda tergeletak di halaman dan berlari menuju kamar.

“Niel, langsung mandi!” teriak Mama.

Aku masuk ke kamar dan mengunci pintu. Lalu membuka lemari dan memeriksa kolong ranjang. Untunglah tidak ada siapa-siapa. Aku berdiri di depan jendela dan mengamati sekeliling. Syukurlah, sosok itu tidak mengikuti.

Akhirnya aku bisa menarik napas lega dan berbaring di ranjang. Kalau masalah goblin itu disebut mimpi, apa kejadian barusan itu juga mimpi? Bisakah orang mati menampakkan dirinya dan melambaikan tangan?

Lanjut membaca
Lanjut membaca