

“Dasar cupu!”
Seseorang baru saja menyenggol lengan Beni hingga membuat tubuhnya sedikit terhuyung. Dia segera membenarkan kacamatanya yang bergeser lalu melihat ke arah tiga mahasiswa yang kini menertawainya. Tiga mahasiswa itu adalah Rendi, Bagas dan Martin.
Sudah biasa bagi Beni diperlakukan semena-mena oleh tiga mahasiswa itu. Mereka berada di jurusan yang sama dan satu kelas. Namun, nasib Beni dan ketiga mahasiswa itu bagaikan langit dan bumi.
Beni, mahasiswa semester dua yang mengandalkan beasiswa karena miskin, berpenampilan cupu, tidak percaya diri dan pemalu. Meskipun begitu, Beni cukup pintar di kelasnya.
Sementara Rendi, Bagas dan Martin adalah mahasiswa populer yang disukai banyak orang—terutama para gadis. Berpenampilan menarik dan berasal dari keluarga kaya, memakai aksesoris mahal, percaya diri dan arogan. Mereka menggunakan ketenaran dan kekuasaan untuk menindas yang lain—terutama Beni yang sering diminta untuk memberikan contekan atau mengerjakan sesuatu.
Beni hanya diam, menatap Martin yang berjalan menghampirinya. Dia ingin menghindar—seandainya bisa. Sayangnya, jika itu dia lakukan, ulah ketiga laki-laki itu semakin menggila.
“Kacamatamu sudah buram, Ben. Harusnya kamu ganti lah. Kacamata buluk masih dipakai.”
Martin mengejek lalu mengambil kacamata Beni tanpa permisi. Kacamata itu diangkatnya tinggi-tinggi agar Beni tak bisa mengambil.
“Kembalikan, Martin. Aku nggak bisa melihat dengan jelas tanpa kacamata,” ucap Beni tanpa perlawanan karena semua terlihat buram.
“Ambil sendiri kalau bisa.” Martin tertawa dan diikuti oleh yang lain. Bukan hanya Randi dan Bagas, tapi juga mahasiswa lain yang kebetulan di sekitar sana.
Beni hanya diam di tempat. Dia tidak mungkin melakukan itu. Semakin dia membela diri, semakin Martin akan menginjak harga dirinya. Apalagi saat ini, penglihatannya kabur. Dia hanya perlu membiarkan Martin puas dan bosan. Setelah ini, mungkin kacamatanya akan dibuang karena tidak ada reaksi darinya.
“Apaan sih kamu diam terus! Nggak asik! Coba rebut kek,” protes Martin.
“Aku nggak bisa melihatnya Martin,” jawab Beni.
“Memangnya kamu buta?” tanya Bagas.
Beni hanya diam saat hinaan dan tawa keras tertuju padanya. Dia bertahan di kampus karena permintaan mendiang kakeknya. Dia sudah berjanji pada sang kakek, akan menyelesaikan kuliah, mencari pekerjaan dan memperbaiki hidup.
Randi berjalan menghampiri Martin. “Jangan kekanakan Martin. Dia butuh kacamatanya.”
Rendi mengambil kacamata itu dari tangan Martin lalu berjalan pelan menuju ke arah Beni. “Kamu ingin kacamata ini?”
Beni menganggukkan kepala. “Tolong berikan kacamataku, Rendi. Aku nggak bisa lihat dengan jelas tanpa itu.”
Beni tak yakin kalau Rendi akan membantunya. Tapi, apa salahnya meminta daripada dia tidak bisa melihat dengan jelas. Rendi bukanlah laki-laki baik. Justru, seringkali yang menindas lebih parah.
Selama ini, Beni lebih banyak mengalah dan tak melawan. Dia tak cukup punya power untuk melakukan itu. Dia hanyalah mahasiswa miskin yang bergantung pada beasiswa sekolah—Dimana salah satu donatur yang memberikan beasiswa adalah perusahaan milik keluarga Rendi.
“Baiklah, aku akan mengembalikan kacamata ini. Berikan tanganmu,” ucap Rendi.
Beni mengulurkan kedua tangannya yang disatukan ke depan. Dia bisa melihat Rendi berdiri di depannya, namun tidak jelas. Semuanya terlihat buram.
Prak
Terdengar suara benda jatuh yang dibarengi dengan tawa lebar. Rendi baru saja menjatuhkan kacamata Beni. Kini, benda iru berserakan. Ada bagian yang rusak dan terpisah.
“Ambil tuh kacamata di dekat kakimu. Jangan lupa, besok beli yang baru, biar matamu bisa melihat dengan jelas,” ucap Rendi kemudian tertawa.
“Kalau punya uang sih,” sahut Bagas.
Setelah mengatakan itu, Rendi, Bagas dan Martin pergi. Beni tak lagi mendengar suara tawa. Dia menunduk lalu mengambil kacamatanya yang patah bagian samping. Satu penyangga terlepas dari tempatnya.
“Patahannya dimana? Aku nggak bisa lihat dengan jelas.”
Sebelum Beni berhasil menemukan kacamatanya, seseorang mengambil lebih dulu. “Aku akan memperbaikinya sebentar. Sepertinya perlu di kasih lakban.”
Deg
Suara yang sering terdengar di kelas. Suara lembut dan menenangkan milik Sarah. Beni terdiam di tempatnya. Dia tak b8cara apapun setelah mendengar derap kaki menjauh. Sarah sepertinya sedang mengambil lakban untuk kacamatanya. Beni hanya melihat samar-samar punggung wanita itu menjauh.
Sejak semester satu, Sarah menjadi pusat perhatian karena baik, ramah dan parasnya yang cantik. Wanita itu sering membantunya. Senyum manisnya membuat orang lain merasa nyaman---termasuk Beni.
Sayang, Sarah sudah memiliki pacar. Rendi dan Sarah berpacaran sejak semester satu. Beni tak tahu pasti seperti apa hubungan mereka, tapi beberapa dia memergoki Sarah menangis setelah bicara dengan Randi. Namun, Sarah tak banyak bicara pada teman sekelas mengenai hubungannya dengan Rendi semua terlihat baik-baik saja.
“Ini sudah selesai. Bisa kamu pakai. Maaf ya hanya bisa dikasih lakban. Setidaknya bisa dipakai sementara,” ucap Sarah.
Beni menerima kacamata itu kemudian memakainya. Dia bisa melihat dengan jelas wajah Sarah. Wanita itu tersenyum manis padanya.
“Makasih, Sarah.”
“Sama-sama. Aku pergi dulu ya. Kamu hati-hati di jalan,” ucap Sarah.
Beni menganggukkan kepala. Dia membalas senyum Sarah. Hanya itu yang bisa dia lakukan. Dia sangat jarang bicara pada wanita itu. Jika Rendi tau, maka tamatlah riwayatnya.
Beni menggelengkan kepala. Dia membenarkan posisi kacamatanya lalu berjalan keluar dari kampus. Sepedah tua miliknya terparkir menyandar pohon. Setiap hari dia menggunakannya untuk berangkat dan pulang kuliah.
Perjalanan sampai rumah sekitar dua puluh menit menggunakan sepedah. Dia memarkirnya di teras rumah tua peninggalan kakeknya. Rumah kecil kuno beralaskan ubin dengan dinding yang kusam dan retak. Rumah yang tak layak huni, namun tak ada tempat berteduh lainnya.
Beni berganti baju, masak lauk untuk makan dan beristirahat sebentar di kamarnya sebelum makan dan belajar. Ya, Beni giat belajar agar kuliahnya berjalan lancar, beasiswa tidak terputus, lulus lebih cepat dan mencari pekerjaan.
“Oh iya, aku belum membersihkan lemari kakek setelah kepergiannya.” Beni beranjak dari kasur lalu berjalan menuju ke lemari milik kakeknya. Dia membuka pintu lemari kayu jati tua yang sedikit berdebu itu.
Dia melihat baju kakeknya masih rapi terlipat di sana. Tangannya mengusap dengan lembut kain-kain itu. Rasanya, sang kakek masih berada di rumah ini mengawasinya setiap hari.
Saat melihat ke lemari dibagian paling atas, Beni menemukan kotak tua berwarna biru yang sudah memudar warnanya. Dia penasaran dengan isi kotak itu. Kakeknya tidak memberitahu ada benda itu di lemari.
Beni duduk di kursi. Dia membuka kotak itu dan melihat isinya. Sebuah ponsel jadul dengan layar kecil dan tombol keyboard. Ponsel itu dalam keadaan mati.
“Kenapa kakek meninggalkan ponsel jadul ini? Apa ini untukku?” Beni melihat ponsel itu bagian depan, belakang, atas dan bawah. Tidak ada yang istimewa. Hanya ponsel jadul yang tak ternilai harganya saat ini.
“Aku coba nyalakan saja. Siapa tau masih bisa.”
Beni memencet tombol power dan ponsel itu menyala. Dia jadi penasaran dan menunggu. Beberapa saat, akhirnya ponsel bisa digunakan. Dia mengecek isinya dan tidak ada apapun. Ponsel itu hanya bisa digunakan untuk mengirim pesan dan menelepon. Tidak ada riwayat pesan atau telepon. Ponsel itu benar-benar kosong.
“Baiklah. Untuk apa kakek meninggalkan ponsel ini? Dijual saja nggak bakalan laku,” ucap Beni sambil mengamati benda itu.
“Aku akan menyimpannya kembali saja.” Beni hendak memasukkan ponsel itu di dalam kotak, namun tiba-tiba terdengar suara dari benda itu
Sebuah pesan masuk dari nomor asing.
Beni langsung membuka pesan itu dan membacanya.
Hai Beni