
Rahasia Tante Clarissa
SoMatcha|Tamat
- Jumlah kata
- 670.0K
- Popular
- 215.1K
- Subscribe
- 11.9K
- Jumlah kata
- 670.0K
- Popular
- 215.1K
- Subscribe
- 11.9K
Sinopsis
Aditya Pratama, anak magang bagian sales yang masih pegang teguh nurani, tiba-tiba kebawa ke permainan kotor dunia korporat. Demi bisa jadi karyawan tetap, dia diminta hal gila: tidur sama klien elite, Clarissa Tanuwijaya, lalu merekamnya. Belum sempat mikir panjang, hatinya udah dihantam keras, Ratna, pacar yang udah empat tahun nemenin dia, malah milih ninggalin demi Ferry, cowok tajir. Kejepit antara harga diri yang diinjak-injak dan ancaman karier yang bisa hancur, Aditya akhirnya mutusin buat cabut. Tapi takdir nggak berhenti di situ. Satu pertemuan aneh di vila mewah ngubah segalanya. Clarissa yang kelihatan dingin dari luar tapi ternyata kosong di dalam, simpan sebuah “penyakit” misterius dan cuma warisan ilmu pengobatan keluarga Aditya yang bisa membacanya. Tanpa sadar, langkah itu bikin Aditya kebuka pintu ke permainan maut… permainan yang nggak bakal bisa dia hentikan.
Ulasan
19 ulasan
Fithriah Arrahman
8/7/26 08:47
Permisi, izin promosi buku aku, Kak Thor...🙏 Judulnya, DIKHIANATI TUNANGAN, BANGKIT MENJADI MILIARDER DENGAN SISTEM RAHASIA Kisah seorang pria yang dikhianati oleh tunangannya, lalu bangkit dari keterpurukan setelah memperoleh sistem rahasia yang mengubah hidupnya. Makasih... 🙏
Aennbordeau
7/7/26 08:06
Aku izin promosi novel ku ya kak. Judulnya : Impossible Menceritakan sebuah anak sebatang kara.. dijamin seru guys
Bab 1
Larut malam di kamar hotel yang sunyi, hanya terdengar sayup-sayup deru lalu lintas kota dari balik jendela tinggi yang tertutup rapat. Cahaya lampu gantung kristal di langit-langit memantul lembut pada dinding krem dengan ukiran halus, menciptakan nuansa hangat namun elegan.
Udara kamar terasa hangat oleh aroma lembut lilin aromaterapi yang menyala di meja kecil, menebarkan wangi vanila yang menenangkan. Semua detail kemewahan itu begitu jelas, namun semua itu tak Aditya hiraukan, pikirannya berkecamuk pada rasa bersalah dan penyesalan yang teramat besar.
Di hadapannya, senyuman seorang perempuan tampak begitu puas, tangannya menyimpan pulpen dan mendorong selembar kertas dengan halus. "Ah, satu lagi, ini bonus buat kamu," ujarnya sambil menyimpan setumpuk uang yang membuat Aditya merasa terhina.
Aditya hanya bisa menghela nafas panjang dan berjalan ke arah meja, fokus menatap selembar kertas yang tergeletak di sana, lembar kontrak kerja yang berhasil di tandatangani, hanya itu yang Aditya butuhkan. Tanpa menghiraukan setumpuk uang, Aditya menatap perempuan itu sekali lagi. "Terima kasih Nona Vanessa, saya hanya akan mengambil lembar kontraknya."
Vanessa yang mendengar itu langsung berdecak dan menggelengkan kepalanya pelan, senyumnya luntur dalam seketika melihat tingkah Aditya yang kembali kaku.
"Saya permisi Nona," ucap Aditya sedikit membungkuk dan berjalan keluar dari kamar hotel.
Selama di perjalanan, Aditya hanya bisa menggenggam erat map yang berisikan kontrak kerja. Pikirannya kembali di hantam rasa bersalah dan amarah.
Tanpa terasa Aditya sudah sampai di rumah kontrakannya, membuka pelan pintu kamar dan mendapatkan sang kekasih, Ratna Luwih, sudah terlelap. Menatap tubuh perempuan yang ia sayangi itu, rasa bersalah lagi-lagi muncul. Rasanya sesak, bagaimana caranya besok harus menghadapi Ratna? Berpura-pura seakan tidak terjadi apapun padahal sudah mengkhianati kekasihnya itu?
Mereka berdua sama-sama bekerja sebagai intern di sebuah perusahaan farmasi besar, NaturaMed Pharma Group. Aditya bekerja sebagai Sales sedangkan Ratna bekerja di bagian customer service.
Dikarenakan kesibukan masing-masing, waktu mereka untuk bertemu sangatlah terbatas. Rencana awalnya Aditya ingin mengajak Ratna untuk keluar, menghabiskan malam walaupun hanya berjalan-jalan dengan berbagi cerita yang sudah lama tidak mereka lakukan, diakhiri dengan makan malam di restoran favorit mereka agar bisa menghangatkan kembali hubungan ini.
Namun semua rencana itu gagal! Atasannya, Hendra, memintanya untuk menemani seorang klien wanita bernama Vanessa Anggara. Awalnya mereka memang bertiga, namun Hendra pergi lebih awal dan menyisakan Aditya dengan Vanessa, hanya berdua, larut dalam percakapan dan minum bersama lalu berakhir di Hotel.
***
Keesokan harinya, Aditya mengetuk pelan pintu kantor Hendra, ia menyerahkan sebuah map yang akan membuat atasannya itu bersorak gembira. Dan benar saja, Hendra bersorak pelan dan menatap Aditya dengan mata berbinar.
"Keren kamu Dit, ngomong apa aja ke perempuan itu sampe mau tanda tangan?" Tanya Hendra kagum.
Kening Aditya berkerut samar, hanya senyum kaku sedikit canggung yang Aditya bisa tunjukan. "Bapak tau sendiri kan, dia nggak tertarik sama obrolan kita. Atau Bapak masukin sesuatu ke minuman—"
Belum sempat Aditya menyelesaikan ucapannya, Hendra menutup mulutnya lalu tertawa. "Wah, ternyata sampe ke tahap itu ya? Nggak mungkin lah saya pake cara curang buat ngejebak kamu Dit, lagian klien kaya itu emang suka liar dan suka merayu, jadi wajar aja kalo kamu tergoda."
Mendengar itu, rasa muak seketika memenuhi hatinya. Tidak semudah itu dia akan tergoda dan mengkhianati Ratna, Aditya yakin jika semalam minumannya sudah di campurkan sesuatu yang berhasil membuat akal sehatnya terganggu.
Tiba-tiba saja Hendra bergumam pelan dan menatap serius ke arah Aditya. "Karena kinerja kamu bagus, saya bakalan angkat kamu jadi karyawan tetap." Sorot mata yang licik itu membuat Aditya sedikit tak percaya dengan ucapan Hendra. "Asal kamu bisa menundukkan target kita berikutnya, dia cantik dan pastinya kaya, namanya Clarissa Tanuwijaya, kamu tau kan dia siapa?"
Tawaran yang cukup menggoda, Clarissa adalah Klien besar di perusahaan ini. Tugasnya pun tidak akan serumit seperti malam kemarin bukan? hanya menjaga hubungan baik agar Clarissa terus membeli produk mereka.
—
Setelah keluar dari kantor Hendra, Aditya larut dalam pekerjaannya yang menumpuk. Ketika hendak membalas pesan dari klien, sebuah notifikasi membuat Aditya mengingat sesuatu. "Yah, lupa bawa charger," gumamnya saat melihat baterai ponsel yang sudah melemah. Pandangan Aditya tertuju pada jam ponsel yang sudah menunjukkan jam makan siang.
Tanpa pikir panjang, Aditya pun bergegas untuk pulang ke rumah kontrakannya yang tak jauh dari kantor dan sekalian membeli makan siang diperjalanan.
Sesampainya di rumah, ia mengerutkan keningnya bingung. Mengapa Ratna masih ada di rumah? Keanehan bertambah besar saat masuk ke dalam kamar dalam keadaan sangat dingin, AC disetel pada suhu 16 derajat padahal Ratna biasanya sangat hemat.
Perasaannya semakin tak menentu saat suara terdengar dari arah kamar mandi, nalurinya berteriak ada yang tidak beres. Dengan amarah yang memuncak ia langsung bergegas ke arah kamar mandi. "Ratna!" Teriakan Aditya disertai ketukan pintu yang tak sabaran berhasil membuat Ratna keluar dari dalam kamar mandi dengan penampilan yang membuat Aditya terkejut. "Kamu ngapain pake baju kayak gini? Kamu bawa siapa?" tanya Aditya marah saat Ratna terlihat mengenakan pakaian tipis berwarna hitam dan menghalangi pintu masuk kamar mandi seakan menyembunyikan sesuatu.
"Aku lagi sama Pak Ferry," jawab Ratna terdengar cukup tenang. Tak lama wajah pria itu muncul, rasanya tak asing. Sepertinya pria itu yang beberapa kali terlihat mendampingi Clarissa saat membeli kosmetik, namun tidak tahu ada hubungan apa di antara mereka sebenernya.
Belum selesai mencerna semuanya, ucapan Ratna bagaikan tamparan yang sangat kencang bagi Aditya. "Dit aku capek sama hubungan ini, kamu belum jadi karyawan tetap dan tabungan pun enggak ada, mustahil kita bisa beli rumah di kota besar ini." Ratna berusaha tenang menjelaskan semuanya, mereka tinggal di kota Sundara dan tidak mungkin seperti ini terus dengan status sebagai karyawan kontrak. Sedangkan Ferry setiawan, orang yang memiliki koneksi kuat dan bisa membantunya pindah ke kantor pusar dengan status karyawan tetap.
Ferry tersenyum licik, dia senang menantang seseorang yang berada jauh di bawahnya. "Kamu bisa liat sendirikan? Perempuan secantik Ratna sayang kalau diajak susah. Aku mampu kasih Ratna baju mahal ini, tambah cantik bukan?"
Amarah Aditya meledak seketika, empat tahun cintanya hanya berakhir dalam kesia-siaan. Tanpa sepatah kata pun, Aditya langsung melayangkan pukulan yang sangat kencang pada pria itu.
"Adit cukup!" Teriak Ratna mulai panik, ia mencoba untuk melerai, namun hal itu digunakan Ferry untuk mengambil sebuah kursi dan menghantamkannya ke kepada Aditya hingga berdarah. "Aaaa!" Teriakan Ratna semakin kencang, benar-benar terkejut dengan perkelahian di hadapannya.
Merasa tak cukup, Ferry tersenyum penuh kemenangan sambil menahan darah yang juga muncul di sudut bibirnya akibat pukulan Aditya. "Inget ini baik-baik ya, aku dan Ratna udah main di ranjang itu," ucap Ferry diiringi tawa, membayangkan Aditya yang pastinya sudi untuk tidur di kamarnya sendiri. "Satu lagi. Ibuku klien besar di perusahaan kalian, cukup satu komplain, kamu itu bisa di pecat," lanjut Ferry dengan sombong.
Saat itu Aditya tersadar akan sesuatu, apakah Clarisaa adalah ibu yang dia maksud?
"Udah cukup!" Ratna memohon agar Ferry mau menunggunya di luar kamar, sedangkan Ratna langsung bergegas menuju lemari dan mengeluarkan sebuah tas dan mengisinya dengan beberapa pakaian.
"Kamu mau kemana? Tinggal sama dia?" tanya Aditya.
Ratna mengangguk sambil mengenakan blazer tebal yang menutupi bagian tubuhnya hingga lutut. Tanpa meninggalkan ucapan sedikitpun Ratna pergi begitu saja membawa tas itu keluar kamar.
Anehnya, Aditya justru merasa tenang. Ia hanya bisa menghela napas dan menyadari betapa kejamnya takdir mempermainkan hidupnya dengan ironi sebesar ini.
***
Daftar bab
644 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
644 bab








