

"Dahulu kala, pada jaman gunung-gunung menjulang tinggi, hutan lebat nan asri dimana-mana. Saat hewan-hewan raksasa masih hidup, manusia hidup dengan tentram dan makmur."
"Hiduplah suku Hui, suku yang lebih masyhur dari suku-suku lain. Terkenal dengan anggotanya yang tangguh dan kuatnya tak main-main. Dengan tombaknya mereka memburu hewan, dengan pedangnya mereka menumpahkan darah manusia. Tak sampai disitu, dengan angkuhnya mereka berniat menguasai alam."
"Namun, tak ada yang menduga bahwa kecongkakan mereka akan menjadi malapetaka bagi seluruh daratan pada kala itu. Menjadi sebuah peringatan dari alam bagi siapapun yang menentang."
Tok tok
Terdengar ketukan pintu. Seseorang dari luar ruangan itu memanggil-manggil disela-sela suara ketukan.
Pemuda yang sedang duduk di tengah ruangan menoleh. Dia menutup lembaran kertas yang dia baca kemudian dia masukkan ke saku celananya.
Pemuda itu berdiri sambil menyisir rambut coklatnya dengan tangan. Dia menepuk-nepuk pelan jas yang dia kenakan.
"Ada apa, pak Restu?" tanya pemuda.
"Sudah waktunya, tuan Raka. Para ilmuwan akan melepaskan hewan itu dari situs penemuan sejarah." jawab orang itu dengan penuh hormat. Pakaian pelayan berwarna abu gelap membalut tubuhnya yang mulai membungkuk dimakan usia, tapi tatapannya masih tajam dan penuh pengabdian.
Raka mengangguk penuh antusias. Dia mulai berjalan melalui lorong-lorong yang diterangi cahaya kuning lampu, ditemani Pak Restu yang berjalan di sampingnya sebagai penunjuk jalan.
Lorong itu ramai oleh orang-orang berpakaian jas laboratorium dan rompi lapangan. Sebagian besar dari mereka membawa tablet digital, peta kuno, atau gulungan dokumen yang tampak rapuh.
Sesekali dia bertegur sapa dengan orang-orang di lorong, yang mana kebanyakan adalah mereka yang berusia lebih tua dibanding Raka.
"Sepertinya anda sudah tidak sabar untuk menyaksikan momen bersejarah ini, tuan Raka." ucap pak Restu sambil tersenyum takzim.
Raka menyeringai. Dia ketahuan.
Sepanjang perjalanan Raka tak dapat menahan senyuman lebar di mulutnya. Rasa antusiasnya meluap-luap seiring langkah mereka yang semakin mendekati lorong.
Bagaimana tidak?
Setahun terakhir, Suku Hui jadi bahan perbincangan dunia setelah reruntuhan aneh ditemukan di Antartika—penemuan awal yang mengejutkan banyak ilmuwan. Semua semakin heboh ketika bukti serupa kembali muncul di berbagai benua lain, seolah menandakan bahwa suku nomaden ini pernah menapakkan jejak di seluruh dunia.
Dan saat ini, Indonesia dikejutkan dengan kabar bahwa ditemukan peninggalan suku Hui yang lain. Para arkeolog dan ilmuwan terkenal negeri berbondong-bondong datang.
Apalagi penemuan ini sedikit berbeda. Jika yang lain berupa tempat tinggal, peralatan kuno. Di Indonesia sendiri yang ditemukan adalah sesosok makhluk besar yang terkunci di jeruji besi raksasa.
Tak berselang lama, mereka tiba di sebuah pintu lengkung raksasa yang terbuat dari logam tua berukir simbol tak dikenal. Dua penjaga membuka pintu itu perlahan, mempersilakan Raka masuk.
"Terima kasih, pak Restu." Raka tersenyum pada pelayan tua itu.
Pak Restu balas tersenyum lembut pada Raka. Dia sudah menyelesaikan tugasnya, mulai dari pintu itu sudah bukan wilayah yang boleh dia datangi sembarangan.
Ruangan itu luas dan megah, seperti ruang bawah tanah peradaban kuno yang terkubur selama ribuan tahun. Dinding-dindingnya terbuat dari batu kecoklatan yang kokoh dan dihiasi dengan ukiran huruf-huruf kuno di beberapa sudut. Langit-langit ruangan tinggi tertutup bebatuan coklat yang padat nan kokoh.
Di sisi timur ruangan, sebuah jeruji besi raksasa tertancap langsung ke dinding batu yang penuh ukiran huruf dan simbol kuno. Jerujinya tinggi dan tebal. Permukaan logamnya gelap, tua, namun tetap tampak kuat. Dan dari balik celah jeruji itu, samar-samar terlihat sosok besar mengerikan yang hanya bisa dilihat sebagian—bulu gelap, tubuh kekar, dan dua taring mencuat di antara bayangan.
Para peneliti dan arkeolog telah berkumpul di sekitar jeruji raksasa itu. Sebagian memegang catatan, sedangkan yang lain tampak berdiskusi.
Raka menoleh. Seorang pria paruh baya berdiri tak jauh darinya, mengenakan setelan pelayan hitam-putih yang rapi. Wajahnya dihiasi senyum ramah, namun asing.
Raka mengerutkan kening. Siapa?
Menangkap keraguan di wajah Raka, pria itu segera menundukkan kepala, tangan kanannya diletakkan di dada. “anda bisa memanggil saya Rahmat. Saya ditugaskan sebagai pemandu untuk Anda dan tamu-tamu VIP lainnya selama proses pembebasan berlangsung.”
Ia memberi isyarat hormat. “Mari, izinkan saya mengantar Anda ke tempat para VIP.”
Raka mengangguk singkat, meski pandangannya tak lepas dari deretan arkeolog dan peneliti yang sibuk di sekitar jeruji besi raksasa.
Pak Rahmat mulai melangkah, dan Raka mengikutinya tanpa banyak bicara. Mereka menuju ke sisi lain ruangan. Disana terlihat sekumpulan orang yang berpakaian kontras dengan suasana ruangan yang serba rusuh. Mereka memakai pakaian formal, beberapa memakai jas gelap, dengan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan mereka.
Raka langsung menangkap sosok yang dikenalnya di antara mereka. Seorang pria dengan postur tegap dan janggut tipis yang terawat, tengah fokus membaca sesuatu di ponselnya. Pak Irfan.
“Pak Irfan,” sapa Raka singkat sambil menghampiri.
Raka mengulurkan tangan kanan.
"Ah, halo Raka. Bagaimana kabarmu?" balas pak Irfan sambil menjabat tangan Raka.
"Baik, pak. Saya sudah tidak sabar menyaksikan salah satu momen bersejarah dalam hidup ini." jawab Raka sembari tersenyum lebar.
Pak Irfan tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Pak Rahmat berdehem, meminta perhatian para tamu VIP. Pak Rahmat berdiri di depan mereka dengan sedikit menunduk, lalu berkata dengan suara pelan namun jelas, “Mohon maaf mengganggu, Tuan-tuan sekalian. Izinkan saya memberikan informasi terkait jeruji besi dan makhluk di dalamnya."
"Tim arkeolog dan peneliti sudah menemukan cara untuk membuka jeruji besi raksasa itu. Mereka menemukan catatan terkait hal tersebut setelah menerjemahkan beberapa paragraf huruf kuno di dinding sebelah sana, " pak Rahmat menjulurkan tangannya dengan sopan, menunjuk ke salah satu sudut dinding yang paling padat dengan huruf-huruf kuno.
"Dan sebentar lagi, mereka akan memulai proses pembebasan makhluk -babi hutan itu."
"Pak Rahmat, saya penasaran dengan cara yang anda maksud. Bisakah anda memberitahu kami semua?" tanya salah seorang wanita dengan gaun merah.
Belum sempat pak Rahmat menjawab pertanyaan itu, suara teriakan-teriakan pendek terdengar di sekitar penjara raksasa.
Bukan teriakan panik tapi aba-aba dan koordinasi dari arkeolog dan peneliti. Mereka berpencar ke posisi masing-masing, mengatur alat, mencatat ulang konfigurasi, dan menyesuaikan pencahayaan.
Pak Rahmat tersenyum pada para tamu VIP kemudian berkata, "Mari saya antar ke tempat yang disediakan untuk para VIP menonton."
"Hmm... Pak, saya ingin melihat prosesnya lebih dekat. Tidak usah diantarkan ke area VIP." ucap Raka. Dia sangat menantikan momen ini, bagaimana mungkin dia melewatkan melihat dari jarak sedekat mungkin.
"Area VIP juga sudah diatur agar bisa melihat dengan lebih nyaman tuan. Ini juga demi keselamatan tuan." pak Rahmat berusaha membujuk.
"Tidak apa-apa, pak. Kami lebih suka melihat momen bersejarah ini lebih dekat, meskipun harus terkena debu." ujar pak Irfan di sebelah Raka. Dia mengedipkan mata yang dibalas seringai oleh Raka.
"Eh, itu baiklah. Saya akan menuruti permintaan tuan dan nyonya sekalian." ucap pak Rahmat yang sedikit gelagapan.
Setelah itu, Raka, Pak Irfan, dan para VIP berjas rapi dan bergaun mewah lainnya perlahan melangkah maju ke garis batas yang diperbolehkan. Mereka berdiri lebih dekat sekarang, hanya beberapa meter dari jeruji raksasa itu, ingin menyaksikan langsung saat sejarah terkuak di depan mata.
Pak Rahmat mencondongkan tubuh sedikit ke para tamu VIP. Suaranya keras tapi dengan semua hiruk pikuk perkataannya terdengar sedikit samar.
"Menurut naskah yang kami dapatkan dari dinding sisi barat, jika kita menekan ukiran-ukiran itu dengan urutan yang tepat… maka jeruji akan terbuka. Dan kita bisa mengamankan makhluk yang ada di dalam sana. Itu… babi hutan raksasa. Belum ada catatan makhluk sejenis di manapun."
Raka menahan napas. Matanya menatap tak berkedip.
Arkeolog mulai bergerak mengikuti arahan. Jari-jarinya menyentuh gambar burung api—tekanan pertama. Lalu ular berkepala dua, kijang bertanduk bengkok, dan terakhir, babi hutan bertaring panjang.
Dan di balik jeruji itu, makhluk itu tampak utuh—besar, mengerikan, dan… tidak bergerak.
Babi hutan raksasa itu terkulai di tanah batu, tubuh kekarnya ditutupi bulu-bulu gelap, dan dua taring besarnya mencuat dari mulut yang tertutup. Nafasnya tak terdengar. Seolah-olah ia memang hanya peninggalan mati dari masa silam.
Sorak-sorai pun pecah. Para peneliti berseru gembira, beberapa bahkan menepuk bahu satu sama lain dengan penuh kemenangan.
Begitu pun para tamu VIP, mereka tersenyum lebar. Beberapa sudah sibuk dengan kamera hp nya.
Namun… itu tak bertahan lama.
Entah sejak kapan, terdengar suara halus—seperti batu bergeser, atau daging yang mengembang.
Dan perlahan… mata makhluk itu terbuka.
Merah pekat seperti bara yang baru ditiup.
Mata itu menatap liar, menunjukkan rasa haus darah yang terpendam lama.
Babi hutan raksasa itu menarik napas berat, dadanya mengembang seperti gunung hidup yang baru bangkit dari tidur panjang. Suaranya dalam, berat, dan kasar.
Lalu—makhluk itu bangkit.
Semua suara berubah jadi teriakan panik dan langkah mundur. Sorak sorai berubah jadi kepanikan. Peneliti dan arkeolog saling dorong, mencoba menjauh. Para tamu VIP pun mulai tegang, beberapa mundur, lainnya berdiri kaku seperti patung.
Raka menatap makhluk itu tak berkedip. Tubuhnya dingin. Tangannya gemetar pelan.
Dan untuk pertama kalinya, dia sadar—ini bukan sekadar momen bersejarah.
Ini mungkin awal dari bencana.