

Lampu pesta menari di langit-langit ballrome hotel bintang lima itu. Musik EDM menghentak dan memecah udara malam Jakarta yang sudah penuh riuh.
Puluhan remaja SMA elite berdesakkan di lantai dansa. Sebagian menjerit-jerit kesenangan dan sebagian lagi sibuk membuat konten di Instagram Story.
Di sudut ruangan ada Satria Sastrabaya yang sedang bersandar di dinding dengan ekspresi bosan. Kemeja putihnya setengah terbuka dan dasi hitam tergantung asal di leher.
“Pesta apa sih ini, kayak balapan siapa yang paling norak,” gumamnya lalu mengaduk minuman bersoda yang sudah kehilangan gas.
Tak jauh dari situ, Arya Pramoedya baru saja tiba. Ia datang dengan jaket kulit dan gaya cuek khas anak orang kaya Jakarta Selatan.
Begitu melangkah masuk, beberapa teman langsung menyapanya.
“Bro! Akhirnya nongol juga lo!”
“Yaelah… gue kejebak macet. Lagian ini bukan acara penting banget juga, kan?”
Arya tersenyum sekilas. Tapi begitu matanya menangkap sosok Satria di seberang ruangan, senyum itu langsung menghilang.
Dua detik pandangan mereka bertemu, udara di sekitar seketika langsung terasa menegang.
Mereka tak bicara, tapi semua orang tahu kalau dua anak paling berisik di sekolah itu tidak pernah akur.
Sejak lomba debat nasional tahun lalu, hubungan keduanya rusak total.
Saat itu mereka dipaksa kerja sama sebagai tim perwakilan sekolah. Tapi karena ego masing-masing, perlombaan tersebut berakhir memalukan.
Arya dengan gaya perfeksionisnya dan Satria dengan lidah tajam dan semangat politikus muda yang tak mau kalah.
Akibatnya bukan kemenangan yang didapat.
“Wah, lihat siapa yang datang,” suara Satria menggema di tengah musik. Ia meneguk minumannya pelan lalu menatap sinis. “Pangeran debat yang katanya jago, tapi nggak bisa bedain argumen sama arogansi.”
Arya memutar bola mata jengah. “Lucu banget, ya. Masih dendam karena lo malu waktu disuruh ngomong soal logika dasar?”
“Gue malu karena partner gue ngomong doang kayak influencer, tapi nol soal isi argumen.”
“Dan lo mikir lo lebih baik?” Arya mendekat, nada suaranya menajam kemudian. “Lo cuma bisa ngomel kayak bapak lo di TV, sok pintar tapi kosong.”
Orang-orang di sekitar mereka mulai menengang. Beberapa teman keduanya mulai mundur pelan-pelan.
Musik memang masih bergema, tapi semua mata kini tertuju pada dua orang tersebut.
Satria mengepalkan tangan. “Jaga mulut lo, ya!”
“Kenapa? Takut? Nanti trending di Twitter ‘anak politisi ngamuk di pesta’?” Arya menantang dengan senyum sinis.
Satria langsung mendorong bahu Arya dengan keras hingga gelas minuman jatuh dan pecah di lantai. Membuat hentakan musik berhenti mendadak.
Seorang panitia pesta panik berlari seraya berusaha menengahi. “Eh, eh, jangan ribut di sini! Malu!”
Tapi keduanya sudah kadung naik tensi. Satria langsung menarik kerah baju Arya dan dalam sekejap mereka bergulat di lantai dansa.
Teriakan terdengar di mana-mana. Beberapa remaja merekam dan sebagian ada yang menjerit bahkan bersorak menyemangati jagoan mereka masing-masing.
Hingga tiba-tiba pintu utama dibuka keras-keras.
“POLISI! SEMUA DIAM DI TEMPAT!”
Lampu pesta yang semula remang-remang, langsung menyala terang.
Beberapa petugas masuk sambil berteriak menyuruh semua orang berjongkok. Dan dalam hitungan detik, suasana berubah jadi kacau.
Beberapa remaja mencoba kabur lewat pintu belakang, tapi gagal dan akhirnya ditangkap.
Arya dan Satria yang masih saling bergulat sontak terhenti. Mereka saling pandang saat napas keduanya masing tersengal-tersengal.
Belum sempat kedunya bertanya, sebuah rangkulan dari tubuh tinggi kekar sudah mendorong mereka.
“Kalian berdua ikut saya!”
***
Beberapa jam kemudian, di kantor Polisi Metro Jakarta Selatan. Bau kopi dingin dan asap rokok mengambang di ruangan.
Di balik meja di sebuah ruangan khusus, seorang Komisaris menatap dua remaja itu dengan ekspresi campuran lelah dan jengkel.
“Dua anak orang kaya berantem di pesta narkoba. Hebat kalian,” katanya pelan. “Nama kalian sudah mirip headline kecil di grup wartawan.”
Satria menunduk seraya menatap meja. Arya malah menyilangkan tangan, mencoba terlihat santai meski jelas-jelas ia juga gugup.
“Kami nggak ikut-ikutan, Pak,” kata Arya cepat. “Kami cuma–”
“–berantem.” Satria memotong dengan ekspresi dingin. “Bukan nyentuh narkoba.”
Komisaris mengangguk malas. “Masalahnya, kalian ada di tempat kejadian. Beberapa teman kalian positif. Jadi, sampai orangtua kalian datang, kalian tetap di sini.”
Arya melirik Satria dengan kesal. “Bagus banget kan. Gara-gara lo, gue ikut kena getah.”
Satria mendengus. “Lo yang mulai duluan.”
“Lo yang nyenggol duluan.”
“Lo yang manas-manasin.”
“Lo yang–”
“SUDAH!” bentak sang komisaris. “Kalian pikir ini panggung debat sekolah?!”
Hening seketika menguasai. Hanya suara deru AC di ruangan yang kini terdengar berdengung.
Tak lama kemudian, dua sosok dewasa masuk hampir bersamaan. Seno Pramoedya dan Abi Sastrabaya.
Begitu melihat satu sama lain, ekspresi mereka langsung berubah tegang. Udara di ruangan seolah ikut memanas. Mirip dengan anak-anak mereka, hanya versi lebih tua dan lebih berbahaya.
Seno mendekat ke meja komisaris dan berkata, “Saya papanya Arya.”
Abi juga menyahut dengan nada suara yang lebih datar. “Dan saya ayahnya Satria. Anak saya nggak mungkin terlibat hal begini.”
“Anak Anda? Justru anak Anda yang bikin ribut!” potong Seno.
Abi tertawa pendek. “Oh tentu, karena anak Anda selalu suci dan benar?”
Arya dan Satria saling tatap, sama-sama bingung dan sedikit terkejut melihat ayah mereka saling menyindir tanpa basa-basi.
Komisaris menatap semua orang yang ada di ruangan bergantian lalu menghela napas panjang.
“Saya rasa saya nggak perlu tahu sejarah permusuhan keluarga kalian. Yang jelas, kedua anak ini diamankan karena berada di lokasi. Tapi karena tidak ditemukan bukti langsung, mereka bisa kami pulangkan dengan catatan wajib lapor.”
***
Beberapa jam setelah urusan surat dan tanda tangan perjanjian disetujui, di luar kantor polisi, udara dingin malam terasa menusuk.
Dua mobil mewah terparkir berdampingan dalam kondisi mesin yang mati.
Seno menatap Arya dengan wajah marah yang ditahan. “Kamu sadar nggak, kamu hampir bikin nama keluarga kita hancur?”
Arya mencoba menjelaskan, tapi suara ayahnya memotong cepat. “Udah cukup. Besok kita bicara di rumah.”
Beberapa meter dari mereka, Abi juga sedang menatap Satria dengan wajah yang sama murkanya.
“Kamu pikir politik itu mainan, hah? Kalau masalah ini sampai bocor ke media, habis karier Ayah!”
Satria berusaha membuka mulut. “Tapi, Yah, aku nggak–”
“DIAM!”
Kata itu meluncur seperti cambuk.
Seno melirik sekilas ke arah Abi hingga tatapan mereka bertemu, dan dalam sepersekian detik, ketegangan masa lalu kembali hidup.
“Masih sama aja,” gumam Seno. “Gaya bicara anakmu, semua persis kayak kamu dulu.”
Abi menatap dingin. “Dan kamu masih suka menyalahkan orang lain atas kesalahanmu sendiri bukan?”
Dua mobil itu akhirnya sama-sama melaju meninggalkan halaman kantor polisi, tapi arah mereka berlawanan.