

Malam di Bandung terasa lebih sejuk dari biasanya, bahkan di atas lantai 77 Gedung Merapi Sky, lantai paling atas yang diizinkan akses untuk staf keamanan. Angin berhembus melalui celah jendela kaca yang tidak tertutup rapat, membuat lampu darurat di koridor berdenyut-denyut seperti jantung yang lemah.
Reza bersandar di tembok, dada dia naik turun pelan sambil menatap jam dinding yang terpasang di ujung koridor, 00.47. Sebentar lagi shift malamnya selesai, hanya 13 menit lagi sampai dia bisa pulang, minum teh hangat yang dibuat ibunya, dan melupakan kesendirian yang selalu menyertai dia setelah kematian ayahnya lima tahun lalu.
“Re, cek lantai 78 ya? Alarmnya nyala tadi, tapi sistemnya ga ngasih detail apa-apa.” Suara Pak Joko dari ruang kontrol terdengar melalui walkie-talkie yang tergantung di pinggangnya. Suara Pak Joko sudah mulai ngantuk, seperti biasa pada shift malam.
Reza mengerutkan alis, matanya bergerak ke panel lift yang ada di sampingnya. Lantai 78? Dia bekerja di gedung ini sudah setahun, dari pagi sampai malam, dia teliti setiap sudut, setiap koridor, setiap lantai yang tercantum di peta.
Semua peta yang dia punya, baik yang ada di ruang kontrol maupun yang disimpan di ponselnya, hanya sampai lantai 77. Tidak ada catatan tentang lantai 78, tidak ada tombol di lift, tidak ada tanda apapun yang menyiratkan keberadaannya.
“Pak, apakah saya salah dengar? Lantai 78? Semua peta cuma sampai 77," tanya Reza merasa bingung.
“Ya iyalah, tapi alarmnya bener-bener nyala, Re. Sudah saya cek dua kali. Cuma kamu yang ada di dekat area itu, tolong cek aja deh. Kalau gak ada apa-apa, matiin aja alarmnya. Nanti saya kasih gaji tambahan ya, biar kamu tidak rugi,” jawab pak, Joko, suaranya sedikit kesal karena terganggu tidurnya.
Reza menghela napas panjang, memegang stik keamanan yang tergantung di pinggangnya dengan erat. Dia tidak suka hal-hal yang tidak jelas, selama bekerja di sini, dia sudah pernah temui banyak hal aneh. Suara bisikan di koridor yang sepi, bayangan yang hilang ketika dia menatap, tapi ini yang paling aneh.
Dia menekan tombol lift untuk lantai 77 (karena itu yang satu-satunya opsi yang ada), dan lift pun bergerak perlahan ke atas. Saat pintu lift terbuka, dia disambut oleh koridor yang sepi, hanya disinari oleh lampu sorot yang panjang, membuat bayangan yang panjang dan menakutkan di dinding.
Dia berjalan perlahan menuju ujung koridor, mata dia memindai setiap sudut. Di sana, dia melihat sesuatu yang dia tidak pernah lihat sebelumnya. Pintu kecil yang tertutup rapat, dengan pintu kayu yang sudah lapuk dan warna hitam yang memudar. Di atas pintu, ada tulisan tebal dengan cat putih yang sudah pudar, “RAHASIA! TIDAK BOLEH MASUK”. Tidak ada kunci di pegangan pintu, tidak ada tanda apapun yang menjelaskan apa yang ada di dalamnya.
Reza berdiri di depan pintu itu selama beberapa detik, jempolnya terasa gatal ingin menyentuh pegangan. Dia tahu dia seharusnya kembali ke ruang kontrol, memberitahu Pak Joko bahwa pintu itu terkunci dan tidak bisa dibuka.
Akan tetapi, rasa ingin tahu yang kuat membuatnya melangkah lebih dekat. Dia menyentuh pegangan dan tanpa dia sentuh dengan keras, pintu itu perlahan terbuka, mengeluarkan cahaya kebiruan yang aneh dan udara yang dingin sampai ke tulang. Ada bau bunga melati yang terlalu wangi, bau yang dia kenal, bau yang selalu ada di kamar ayahnya ketika dia masih kecil.
Hatinya berdebar kencang, tapi langkahnya sudah masuk ke dalam. Di dalamnya, tidak ada ruangan yang luas, hanya tangga sempit yang naik ke atas, dengan tangga yang terbuat dari besi yang berkarat. Cahaya kebiruan itu datang dari atas, menyinari setiap anak tangga.
Reza naik satu demi satu, kaki dia sedikit gemetar karena ketakutan dan rasa ingin tahu. Setiap langkahnya membuat suara berdentang di ruangan sempit itu, seperti bunyi lonceng yang terlewatkan.
Sampai di atas tangga, dia melihat ruangan yang luas dan terasa tidak wajar di dalam gedung pencakar langit. Lantai terbuat dari kaca bening yang memantulkan cahaya bintang di langit malam, dan di dinding ada jendela kaca yang melihat ke seluruh kota Bandung.
Dia bisa melihat lampu neon yang menyala di jalan Asia Afrika, gunung Tangkuban Perahu yang gelap di kejauhan, dan gedung-gedung lain yang lebih kecil. Namun, yang paling menakutkan adalah di tengah ruangan, dinding transparan yang memisahkan dua sisi, setinggi langit.
Di sisi kiri dinding itu, cahaya terang seperti matahari pagi menyala, dengan bunyi musik yang lemah dan menyenangkan. Di sisi kanan, gelap seperti malam tanpa bulan, dengan suara jeritan dan tangisan yang terasa jauh. Dan di tengah dinding transparan itu ada celah kecil. Seperti kaca yang pecah, hanya sebesar telapak tangan.
Dari celah itu, keluar bayangan hitam yang membesar perlahan. Reza mengencangkan pegangan stik keamanannya, mata dia tidak berkedip sama sekali. Bayangan itu berubah bentuk dengan cepat, mula-mula seperti ular, lalu seperti burung, sampai akhirnya berubah menjadi seekor singa dengan bulu hitam seperti arang, sayap lebar yang membentang lebih dari dua meter, dan mata yang menyala seperti bara api.
“Wah! Astaga… apa ini?!” Reza terkejut, tengkuknya kaku, napasnya terhenti sejenak sebelum keluar dengan teriakan kecil yang tercekik di tenggorokan. Singa itu menatap Reza dengan pandangan yang kejam, mengeluarkan bunyi geraman yang terdengar seperti ledakan petir. Lalu, dengan kecepatan yang luar biasa, lebih cepat dari apa yang bisa dilihat mata manusia, dia melesat melewati Reza dan lari menuju tangga yang Reza tadi lewati.
Reza terkejut, otak dia baru saja menyadari apa yang terjadi. Dia segera mengejar, kaki dia melangkah cepat ke bawah tangga. Namun, saat dia sampai di pintu kecil tadi, singa itu sudah hilang. Koridor lantai 77 kembali sepi dan sunyi, hanya ada angin yang menyengir melalui jendela dan lampu darurat yang masih berdenyut-denyut.
Dia segera membuka walkie-talkie, jari dia gemetar saat menekan tombol. “Pak Joko! Ada makhluk aneh yang keluar dari ruangan rahasia! Dia lari ke arah lift! Tolong cek sistem lift!”
“Re, kamu ngomong apa? Liftnya gak ada yang bergerak loh. Semua angka diam. Kamu mabuk ya? Atau terlalu lelah?” Pak Joko menjawab, suaranya sekarang agak kesal karena terus-terusan terganggu.
Reza melihat panel lift, semua angka memang diam, tidak ada tanda bahwa lift bergerak. Namun, dia yakin, apa yang dia lihat itu nyata. Bulu kuduknya masih berdiri, tubuhnya masih dingin, dan bau melati itu masih terasa di hidungnya. Dia kembali ke ruangan rahasia di atas tangga, hatinya berdebar semakin kencang.
Saat dia masuk, dia melihat celah di dinding transparan itu semakin membesar, sekarang sudah sebesar kepala manusia. Cahaya kebiruannya makin terang, dan dia bisa mendengar suara bisikan yang tidak jelas dari kedua sisi, suara yang meminta tolong, suara yang mengancam, suara yang menangis. Dia mendekat dinding itu, tangan dia ingin menyentuh celah yang membesar.
Tiba-tiba, lehernya terasa gatal. Dia menyentuh lehernya, dan menemukan sesuatu yang dia kenal dengan baik. Kalung batu biru yang dulu dipakai ayahnya, yang hilang saat ayahnya meninggal lima tahun lalu. Kalung itu tiba-tiba ada di lehernya, tanpa dia sadari, dan terasa hangat seperti baru saja dipakai.
Saat batu kalung menyentuh dinding transparan, muncul cahaya terang yang membuat Reza menutup mata. Ketika dia membuka mata lagi, dia melihat sesuatu yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Di luar jendela gedung, ada ratusan makhluk gaib yang terbang dan berjalan di atas jalan raya Bandung.
Malaikat dengan sayap putih yang pucat dan mata yang kosong, iblis dengan ekor panjang dan gigi yang runcing, dan makhluk lain yang bentuknya tidak jelas, beberapa seperti binatang, beberapa seperti manusia, tapi semuanya tidak wajar.