Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
WASIAT RAJA DEWA : Kebangkitan Sang Penggoda

WASIAT RAJA DEWA : Kebangkitan Sang Penggoda

Tii_Chan | Bersambung
Jumlah kata
90.4K
Popular
296
Subscribe
138
Novel / WASIAT RAJA DEWA : Kebangkitan Sang Penggoda
WASIAT RAJA DEWA : Kebangkitan Sang Penggoda

WASIAT RAJA DEWA : Kebangkitan Sang Penggoda

Tii_Chan| Bersambung
Jumlah Kata
90.4K
Popular
296
Subscribe
138
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalRajaHaremSupernatural
Hidup Bima Satria di pelosok desa telah mencapai titik nadir. Dihimpit hutang dan keputusasaan, ia mencabut lantai kamarnya, bukan mencari uang, melainkan sebuah jalan keluar. Ia menemukan Lukisan Antik Berpita Emas, warisan leluhur yang terasa panas dan memancarkan energi terlarang. Seketika, segalanya berubah. Energi Supernatural yang merasukinya tak hanya memberinya kecerdasan Dewa dan kemampuan bela diri Raja, tetapi juga aura sensual yang tak tertahankan. Bima kini memancarkan pesona primal, membuat setiap wanita yang menatapnya terjerat dalam hasrat yang menghancurkan nalar. Berbekal kekuatan baru ini, Bima hijrah ke Jakarta dan menembus universitas elite. Di sana, ia tidak hanya mencari ilmu, tetapi juga mengumpulkan Harem takdirnya: Karina: Putri Konglomerat yang dingin, tunduk pada dominasi Bima yang sensual. Kinanti: Ratu Kampus yang ceria, melihat Bima sebagai sumber hasrat dan kesenangan tak terbatas. Dewi: Mahasiswa Jenius yang obsesif, terobsesi untuk meneliti rahasia spiritual dan fisik Dewa dalam tubuh Bima. Laras: Anak Dekan yang polos, rapuh di hadapan daya tarik terlarang Bima. Lukisan Antik itu adalah kunci, dan Harem-nya adalah segel. Bima harus memimpin mereka dalam ritual intim, menyatukan kekuatan dan hasrat mereka untuk membuka Takhta Raja Dewa purba. Namun, di balik kenikmatan dan kekuasaan, Kelompok Bayangan mengintai, ingin mencuri aura Bima. Apakah Bima akan menggunakan hasratnya untuk menjadi Raja yang memimpin dunia, atau hanya tunduk pada nafsu yang mengikatnya?
Bab 1: Palu Godam Hasrat dan Warisan Terlarang

Bunyi bising mesin fotokopi tua yang menderu seakan-akan mengejek nasib Bima Satria. Dengan baju seragam kemeja lusuh dan tangan belepotan tinta toner, Bima berdiri di belakang konter kecil percetakan 'Media Jasa' yang terletak persis di seberang gedung rektorat. Matanya tertuju pada layar komputer di balik meja, yang menampilkan satu-satunya halaman web yang ia tunggu: pengumuman beasiswa penuh program Cendekia Nusantara.

Debar jantungnya berpacu seirama dengan detak jarum jam. Pukul sepuluh pagi. Pengumuman sudah harusnya dirilis.

Tiba-tiba, suara bernada tinggi yang kelewat percaya diri memecah keheningan toko.

“Mas! Fotokopi 100 lembar, yang ini ya! Yang cepat, saya mau langsung lapor ke Papa!”

Bima mendongak.

Di depannya berdiri Kenzo Adhitama, putra seorang pejabat daerah yang dikenal suka memamerkan kekayaannya. Kenzo, dengan polo shirt bermerek yang harganya setara dua bulan gaji Bima, melemparkan selembar kertas tebal ke meja. Kertas itu adalah surat penerimaan beasiswa Cendekia Nusantara.

Kenzo tersenyum miring, senyum yang selalu membuat Bima gatal ingin memukulnya. “Oh, Bima? Tumben, masih kerja di sini? Bukannya kamu juga ikut seleksi beasiswa yang ini?”

Bima menghela napas. “Iya, Kenzo. Saya ikut.”

“Kasihan. Padahal saya lihat kamu itu rajin banget, ya. Belajar sampai subuh. Tapi ya mau bagaimana? Beasiswa itu bukan cuma soal nilai, Bim. Ini soal privilege,” Kenzo menekankan kata terakhir, suaranya dipenuhi arogansi.

“Soal koneksi. Saya, tanpa belajar pun, dapat. Karena Papa telepon sedikit, tahu sendiri, lah.”

Darah Bima mendidih. Ia tahu, Kenzo, si anak manja yang hanya bisa menjawab dua dari lima soal esai final, telah mencuri haknya. Bahkan Bima sempat mendengar Kenzo diam-diam menelepon ayahnya, meminta beasiswa itu dijamin, hanya demi ‘validasi diri’ dan menunjukkan keunggulan atas teman-temannya. Sementara Bima, yang esainya dianggap ‘paling visioner’ oleh panelis, kini harus melihat notifikasi penolakan yang terpampang di layar.

’Maaf, saudara Bima Satria. Anda Dinyatakan TIDAK LULUS Seleksi Tahap Akhir.’

“Sudahlah, Bim. Fokus saja dengan fotokopian saya. Oh, ya, ini lot-nya sudah saya tulis di sini. Jangan sampai salah, nanti Papa marah.” Kenzo melambaikan kunci mobil sport-nya dengan santai.

“Tunggu sebentar, Kenzo,” suara Bima terdengar datar, tetapi penuh tekanan. Ia meraih kertas yang diserahkan Kenzo, melirik sekilas soal esai yang menjadi penentu kelulusan. “Soal nomor tiga, menurutmu apa definisi dari ‘Keseimbangan Daya dan Sentralisasi Kekuasaan’?”

Kenzo mendadak gugup. “Eh ... itu ... semacam menjaga agar semuanya stabil, lah. Kamu ini kenapa sih, tiba-tiba tanya begitu?”

Bima menyeringai dingin. “Itu definisi dangkal anak SD, Kenzo. Jawaban yang benar seharusnya merujuk pada pemisahan dan kontrol antar-lembaga kekuasaan untuk mencegah tirani otoriter. Jawaban yang aku tulis di esai itu. Jawaban yang seharusnya meluluskanku.”

“Diam kamu! Cuma tukang fotokopi saja belagu!” Kenzo hampir berteriak.

“Tukang fotokopi ini jauh lebih layak daripada anak pejabat pengecut sepertimu. Tapi tenang saja, kali ini kamu menang. Ambillah fotokopianmu.

Dan nikmati kursi beasiswa yang seharusnya menjadi hak orang lain,” ucap Bima sambil melempar hasil fotokopian yang sudah selesai.

Kenzo pergi dengan wajah merah padam, tetapi dengan senyum kemenangan yang menjijikkan. Bima hanya bisa menggeram, memukul mesin fotokopi dengan tinjunya, menciptakan penyok kecil.

Bima bergegas pulang. Namun, pemandangan yang menyambutnya bukan keheningan rumah tua di kaki Gunung Merbabu, melainkan kekacauan yang mengerikan.

Dua pria bertubuh besar berjaket kulit, Penagih Utang dari Bank Harta Sejati, berdiri di halaman depan. Mereka sedang menarik paksa Eyang Ratih dan Eyang Kakung keluar dari rumah, sementara beberapa perabotan kayu jati dilempar keluar dan dibiarkan berserakan di tanah.

“Bayar utang almarhum Bapakmu, atau rumah ini kami sita detik ini juga! Kami sudah sabar setahun, jangan coba-coba menunda lagi!” bentak salah satu penagih.

Eyang Kakung batuk-batuk, sementara Eyang Ratih memohon dengan air mata.

“Jangan! Kami mohon! Besok! Besok kami bayar! Cucu saya sedang mengusahakan!”

“Tidak ada besok! Keluar!”

Melihat kakek-neneknya diperlakukan seperti itu, semua amarah Bima memuncak. Amarah atas penolakan beasiswa, amarah atas ketidakadilan, amarah atas kemiskinan yang menjerat keluarganya.

“Lepaskan mereka!” raung Bima, menerjang ke depan. Ia mendorong penagih yang paling dekat hingga terhuyung, tetapi kekuatan dua lawan satu terlalu besar.

Para penagih itu balas mendorong Bima dengan kasar. Tubuh Bima terpelanting ke tumpukan barang-barang yang baru saja dilempar keluar, termasuk sebuah lemari arsip kayu jati besar.

“Kau ingin jadi pahlawan, hah? Bayar dulu hutangmu!” Penagih itu menendang lemari yang berserakan, dan secara tak sengaja, sebuah bingkai lukisan antik yang terselip di balik tumpukan koran lusuh terlempar dari lemari.

Lukisan itu jatuh tepat di depan Bima.

Di tengah pertarungan dan teriakan Eyang Ratih, perhatian Bima teralih pada bingkai yang terbuka.

Itu adalah sebuah lukisan kuno. Lukisan seorang pria perkasa dengan mahkota tanduk emas, duduk di singgasana batu, di kelilingi oleh lima wanita cantik yang berpose memuja. Sebuah pita emas melilit di bagian bawah bingkai, bertuliskan aksara kuno yang aneh.

Tanpa sengaja, ujung jari Bima menyentuh pita emas tersebut.

Wush.

Sensasi yang luar biasa menyerang. Itu adalah sensasi panas energi primal yang bergetar hebat. Sebuah arus energi dingin dan memabukkan menyergap Bima, merambat cepat dari ujung jari, melalui lengannya, dan langsung menuju pusat kesadarannya.

Semua menjadi sunyi, kecuali dentuman jantungnya. Dalam sepersekian detik, Bima merasakan peningkatan kekuatan fisik yang gila, fokus mental yang tajam—ia bisa menganalisis situasi ini, merencanakan setiap gerakan.

Kemudian, gelombang kedua menghantam, lebih dalam, lebih primal.

Energi itu tidak hanya meningkatkan kecerdasan, tetapi juga menyalakan tungku hasrat yang liar. Ia merasakan setiap ototnya memancarkan kekuatan, dan yang paling mencolok: Libido-nya melonjak tak tertahankan, sebuah sensualitas yang mendidih.

Sebuah aura tak terlukiskan, aura feromon supernatural yang kuat, mulai memancar samar dari kulitnya, menebalkan udara di sekitarnya.

Penagih utang yang hendak menarik kerah Bima tiba-tiba terhenti, terpaku. Mata mereka membelalak melihat perubahan aura Bima yang mendadak. Ada sesuatu yang salah, sesuatu yang sangat, sangat dominan.

Bima bangkit. Ia tidak lagi melihat Penagih Utang sebagai ancaman, melainkan sebagai bidak catur yang harus ia singkirkan.

“Kalian sudah cukup bermain-main,” ucap Bima, suaranya terdengar lebih dalam, seperti guntur yang terpendam. “Kalian akan pergi sekarang. Dan kalian akan kembali besok pagi, dengan membawa surat perjanjian yang membatalkan semua utang ini.”

Tatapan mata Bima, yang kini bersinar dengan bara api yang sama dengan sosok di lukisan, mengunci mereka. Aroma rempah-rempah eksotis dan dominasi menyelimuti kedua penagih itu.

Salah satu penagih, yang tadinya garang, tiba-tiba berkeringat dingin, wajahnya pucat pasi, seperti bertemu dengan predator puncak. “Ba ... baik! Kami pergi! Kami akan kembali besok!”

Mereka berdua terhuyung-huyung, melarikan diri tanpa berani menoleh ke belakang, meninggalkan Eyang Ratih dan Eyang Kakung yang terpana.

Bima menatap lukisan itu, yang kini ia genggam erat. Ia menyeringai.

“Ini warisan yang sebenarnya,” bisiknya.

Ia tahu, energi ini adalah kunci. Kunci untuk menghancurkan semua batasan yang selama ini mengekangnya. Bukan hanya masalah tagihan, tapi masalah kekuasaan, kekayaan, dan pembalasan.

Sensualitas yang mendidih di dalam dirinya kini terbingkai oleh kecerdasan dan karisma yang meluap-luap.

Bima menatap ke arah matahari terbenam.

Alsutra. Pusat kekuasaan, pusat hasrat, pusat dari segala ambisi. Kota yang tadinya ia takuti, kini ia pandang sebagai medan pertempuran yang harus ia taklukkan.

Ia meraih ponselnya, membuka pesan untuk Eyang Ratih: “Eyang, jangan khawatir. Semua akan beres. Bima akan ke Alsutra. Bima janji, akan bawa semua yang Eyang butuhkan, dan lebih dari itu.”

Ia menatap lukisan itu, yang kini terbungkus di balik jaketnya. Aura feromonnya bergetar, menjanjikan ketundukan dan kenikmatan.

“Alsutra ... aku datang untuk menguasai segalanya,” bisiknya, suaranya sudah berubah menjadi bisikan seorang raja.

“Dan yang paling penting, aku akan mengambil kembali apa yang menjadi hakku.”

Hasrat di matanya tak terbendung. Hasrat untuk kekayaan, kekuasaan, dan sensualitas yang ditawarkan oleh takdir supernatural ini, baru saja dimulai.

Lanjut membaca
Lanjut membaca