

Hujan gerimis menyapu TPU Karet Bivak bagai air mata langit yang enggan tumpah sepenuhnya. Dinginnya menusuk, bukan sekadar membasahi kulit, melainkan meresap jauh hingga ke tulang.
Zean Aditia berdiri kaku di depan dua nisan, satu tua dan satu baru, tubuhnya gemetar hebat. Bukan karena hawa dingin ibukota yang menusuk, melainkan karena gejolak kelaparan yang telah membakar perutnya sejak kemarin sore. Ia kosong. Segala daya telah sirna. Uang terakhir yang dimilikinya, sejumlah Rp 12.000 yang menyedihkan, telah ia korbankan hanya untuk setangkai melati layu yang kini teronggok sepi di atas makam ibunya.
SRI WAHYUNI 1968 – 2024
"Jangan menangis, Nak. Aku hanya pulang."
Di sebelahnya, nisan sang ayah terasa dingin, seolah memancarkan rasa bersalah yang tak termaafkan.
BAMBANG ADITIA 1965 – 2019
"Maafkan aku."
Lima tahun lalu. Lima tahun yang terasa seperti kutukan abadi. Ayahnya memilih jalur tragis, menggantung diri di garasi sunyi mereka setelah dituduh menilap dana proyek negara. Tidak ada penyelidikan yang adil. Tidak ada ruang untuk membela diri. Yang ada hanyalah gelombang fitnah keji yang melumat habis nama besar keluarga Aditia dalam satu malam. Kehormatan mereka musnah, terbakar menjadi abu yang tak bisa dipungut lagi.
Ibunya, seorang wanita yang hatinya terbuat dari baja murni, mencoba bertahan. Ia jual perhiasan terakhir, ia lepas perabotan, bahkan rumah kenangan mereka pun harus lenyap di tangan bank, semua hanya demi membayar lilitan utang yang sama sekali tak pernah ia ciptakan. Namun, tubuhnya hanyalah wadah rapuh. Diabetes, gagal ginjal, komplikasi jantung, semua penyakit itu datang sekaligus, bersekutu, menuntut Zean melihat penderitaan seorang ibu yang menanggung dosa suaminya.
Dan pagi tadi... di bangsal kelas tiga RS Fatmawati yang pengap, ia menarik napas terakhirnya. Tangan keriputnya masih menggenggam foto Zean saat wisuda SMA, satu-satunya puncak kebahagiaan yang tersisa dari sebuah keluarga yang hancur.
Kini, Zean sendirian. Ia adalah sebatang kara yang diusir dari dunia.
Tidak ada deretan pelayat yang menghibur. Tidak ada karangan bunga megah yang menunjukkan rasa hormat. Tidak ada lantunan takziah yang menenangkan jiwa. Hanya Zean, dan petugas makam yang terburu-buru menghilang, seolah takut ketularan sial. Dan hujan. Hujan yang terus menetes di wajahnya, dingin, namun tidak ada yang bisa mengalahkan dinginnya kenyataan bahwa ia harus menghadapi dunia sendirian.
Di saku jaket lusuhnya, selembar surat kampus terasa lembap. Bahkan kertas pun ikut basah oleh nasib sialnya.
KEPUTUSAN AKHIR – FAKULTAS EKONOMI
Yth. Zean Aditia,
Anda telah menyelesaikan seluruh mata kuliah dengan IPK 3.72 yang membanggakan.
Namun, tunggakan SPP sebesar Rp 18.750.000 belum dilunasi selama 16 bulan.
Tanpa pelunasan dalam 3 (tiga) hari ke depan, ijazah dan transkrip nilai Anda tidak akan diterbitkan.
Tanpa ijazah itu, Anda tidak dapat melamar pekerjaan formal di Indonesia, Anda akan menjadi seonggok daging tanpa harga.
Ini adalah pemberitahuan terakhir.
Tiga hari. Rp18.750.000. Ia bahkan tak punya uang sepeser pun untuk membayar ongkos angkutan pulang.
Kemarin, ia dilempar keluar dari toko buku, bukan karena ia mencuri atau berbuat salah, tetapi karena pemiliknya berbisik ngeri, "Nama keluargamu membawa sial." Minggu lalu, kontrakan reotnya dikosongkan secara paksa—pemiliknya berkata, "Kami tidak mau dikaitkan dengan keluarga koruptor." Bahkan bulan lalu, satu-satunya teman yang masih sudi menghubunginya hanya datang untuk meminjam uang dan menghilang ditelan bumi.
Zean tidak punya siapa-siapa. Tidak punya apa-apa. Ia hanya punya nama yang dinodai dan janji pada ibunya yang kini terkubur.
Ia menjatuhkan diri di tanah basah, punggungnya bersandar pada nisan sang ibu. Di tangannya, sebuah buku catatan kecil—hadiah ulang tahun ke-17 dari mendiang ayahnya. Di halaman terakhirnya, tulisan tangan ibunya yang goyah, ditulis seminggu sebelum ajal menjemput.
"Zean, jika Ibu pergi, jangan pernah menyerah. Ijazahmu adalah satu-satunya jalan keluar. Jual apapun. Pinjam pada siapa pun. Tapi jangan biarkan mereka mencuri masa depanmu juga."
Tapi bagaimana caranya, Bu? Ia menjerit dalam hati. Siapa yang sudi mengulurkan tangan pada anak seorang koruptor?
Ia menatap langit kelabu yang seolah ikut berduka. Di kepalanya, suara manajer toko buku masih berputar, menusuknya bak sembilu, "Kami butuh orang yang bisa dipercaya, Zean. Bukan anak pengkhianat yang mungkin mencuri uang kas."
Ia menunduk. Air mata akhirnya jatuh, bercampur dengan tetesan hujan yang tak henti-hentinya. Air mata itu bukan karena kesedihan semata, melainkan karena rasa malu yang tak tertahankan. Ia malu karena tidak bisa memberikan penguburan yang layak. Malu karena tidak punya uang untuk menahan rasa lapar. Malu karena bahkan kematian pun tidak cukup untuk membuat dunia memaafkan dosa-dosa yang bukan miliknya.
Ia menarik dompet lusuh dari saku. Di dalamnya, KTP sobek, Kartu ATM dengan saldo mutlak Rp 0, dan foto kecil keluarga mereka ayah, ibu, dan Zean muda yang tersenyum lebar di depan rumah lama, saat dunia masih terasa ramah.
Foto itu kini basah. Oleh hujan… dan oleh air matanya.
Ia memejamkan mata. Apa gunanya hidup, bisiknya, jika setiap hari adalah pertarungan melawan dunia yang sudah memutuskan kau kalah bahkan sebelum kau lahir?
Ia berdiri perlahan, tubuhnya seolah terbuat dari timah panas. Ia harus pergi. Malam ini, ia tidur di emper toko atau stasiun, mana pun yang tidak digusur oleh Satpol PP. Besok, ia akan coba jual laptop bekasnya, meski tahu itu upaya sia-sia. Siapa yang mau membeli besi rongsokan seharga Rp 500.000?
Dan bagaimana dengan Rp18.750.000 yang seolah menjulang seperti tembok raksasa yang tak mungkin didaki?
Mustahil.
Di gerbang pemakaman, ia berhenti. Menoleh ke belakang ke dua nisan yang kini mulai kabur, tertelan tirai hujan.
“Aku lelah, Bu,” bisiknya, suaranya serak dan pecah. “Aku tidak tahu lagi… bagaimana caranya bertahan. Aku hanya ingin menyerah.”
Ia memasukkan tangan ke saku celana. Telepon genggam murahnya bergetar, memecah keheningan yang menyayat.
Layar menyala. Nomor Tak Dikenal.
Dengan tangan gemetar, bukan hanya karena kedinginan atau kelaparan, tetapi karena rasa takut akan munculnya harapan palsu, ia mengangkat panggilan itu.
“Zean Aditia?” Suara perempuan di seberang sana. Dingin. Tajam. Seperti bilah pisau yang baru diasah, siap mengiris.
“Iya,” jawabnya pelan.
“Besok jam 8 pagi. Gedung Nexora Tower, lantai 47. Nadia Wijaya ingin bertemu.”
Sebelum ia sempat bertanya mengapa, sambungan itu diputus secara sepihak.
Zean menatap layar yang kini gelap. Refleksinya tampak samar di sana, wajah tampan yang kusut oleh duka yang mencekik, mata cokelat yang kosong, bibir yang retak karena dehidrasi.
Nadia Wijaya. Nama itu memukulnya keras. CEO Nexora Tech. Wanita yang lima tahun lalu mengambil alih, atau lebih tepatnya, menjarah aset terakhir keluarga Aditia dengan harga paling murah, tepat setelah ayahnya tewas.
Mengapa sekarang?
Ia tidak tahu. Ia tidak punya jawaban. Tetapi di tengah keputusasaan yang telah menggerogoti hingga ke dasar jiwanya, satu pikiran muncul, bukan harapan yang murni, melainkan pertanyaan yang lebih menakutkan dan penuh bahaya.
Apakah ini kesempatan terakhir untuk selamat… atau jebakan paling keji sebelum aku benar-benar hancur dan mati?
Di bawah guyuran hujan yang tak kunjung reda, Zean Aditia berjalan keluar dari pemakaman, seorang diri, tanpa uang, tanpa rumah, tanpa masa depan yang pasti.
Tetapi dengan satu beban baru yang kini menghimpit pundaknya, Tiga hari. Rp18.750.000. Dan seorang wanita berkuasa yang mungkin tahu kebenaran busuk di balik kematian ayahnya.
Jika ia gagal dalam pertemuan itu… maka ijazahnya akan mati. Dan bersamanya segala kemungkinan untuk sebuah kehidupan yang layak pun akan terkubur.