

"Sial! Ke mana bocah itu menghilang?"
"Dia pasti masih di sekitar sini. Dia harus ditemukan, Bos akan sangat marah kalau sampai lolos."
Raga bersembunyi di balik pohon. Dia menunggu suara-suara itu menjauh. Dia diam dengan tubuh gemetaran sampai keheningan kembali menelan hutan kecil ini. Raga menangis tanpa suara, mencengkeram erat lututnya.
Tiba-tiba tangannya menyentuh sesuatu yang dingin dan keras di antara lumpur dan akar pohon. Dia meraba-raba benda itu. Sebuah benda melingkar. Raga mengeluarkannya.
Sebuah gelang perunggu tebal.
Gelang itu kusam, tertutup tanah dan lumpur, tetapi terasa berat dan padat. Permukaannya diukir dengan simbol-simbol aneh, mirip mata rantai tak berujung dan bentuk geometris yang rumit. Perlahan Raga merasakan getaran halus dari gelang itu, dinginnya menjalar menembus kulit.
Raga mencengkeram gelang itu erat-erat. Entah mengapa, dia merasa sedikit lebih aman. Seolah ada pelindung tak kasatmata yang melingkupinya. Dengan cepat dia menyelipkan gelang itu ke pergelangan tangannya yang kurus. Ukurannya terasa pas, seolah gelang itu memang dirancang untuknya.
Dengan luka di sekujur tubuh dan gelang perunggu sebagai satu-satunya harta, Raga memutuskan untuk pergi dari neraka yang bernama Panti Rumah Cinta Hati. Dia bersumpah untuk bertahan hidup dan membalas dendam pada siapa pun yang membuatnya menderita. Terutama Patrick Kusno, pemilik yayasan yang kejam.
"Raga! Cepat sedikit!"
Suara bariton Jagat yang tegas dan sedikit terburu-buru menyentak Raga dari lamunannya. Seketika, kilas balik yang selalu menghantuinya itu lenyap, digantikan oleh hiruk pikuk jalanan ibukota di pagi hari.
"Ya, Bos," jawab Raga, cepat-cepat menutup lipatan koran yang dia baca.
Raga, yang kini berusia dua puluh tujuh tahun, tampak berbeda jauh dari bocah kurus yang kabur dari panti. Tubuhnya tinggi dan tegap, hasil dari latihan fisik rutin yang dia jalani agar bisa bertahan hidup di jalanan. Wajah tegas dan mata tajamnya menyembunyikan masa lalunya yang gelap.
Raga saat ini bekerja sebagai sopir pribadi sekaligus asisten Jagat Manggala, seorang pengacara idealis dan pemilik Kantor Hukum Cakrawala Keadilan.
"Kita ke Dinas Sosial Pusat, Pak?" tanya Raga.
"Benar. Ada peninjauan berkas izin baru untuk Yayasan Permata Bangsa. Kasus sensitif," ujar Jagat. "Aku ingin kamu tunggu di lobi, dan jangan ke mana-mana."
Raga mengangguk, namun di dalam hati dia menahan gemuruh. Yayasan Permata Bangsa adalah yayasan yang menaungi panti asuhan Rumah Cinta Hati.
Selama perjalanan, tangan Raga tanpa sadar memegang pergelangan kirinya. Di sana, melingkar rapi gelang perunggu yang dia temukan di malam dia melarikan diri. Gelang itu tidak pernah dia lepas.
Setibanya di gedung Dinas Sosial yang megah, Raga memarkir mobil.
"Aku akan naik sekarang. Tunggu di sini, Raga. Paling lama dua jam," titah Jagat.
“Baik,” sahut Raga patuh.
Raga duduk di kursi tunggu di lobi. Dia mencoba menyibukkan diri dengan ponsel, tetapi pikirannya kembali melayang ke masa lalu.
Lima belas menit berlalu. Tiba-tiba, Raga merasakan hawa dingin merayap di punggungnya. Jantungnya mulai berdetak tak beraturan.
Dia mengangkat wajah, mengedarkan pandangan.
Di pintu masuk, dikawal dua pria berbadan besar berjas hitam, berdiri sosok yang menghantui mimpi buruk Raga selama dua dekade. Patrick Kusno.
Wajahnya tidak banyak berubah, hanya saja terlihat jauh lebih kaya dan berkuasa. Dia dikelilingi para pejabat, senyumnya, yang penuh kepalsuan, terpampang lebar.
Raga membeku. Trauma masa lalu menyerang seperti sengatan listrik. Dia menarik turun topinya sedikit ke depan dan menunduk, berharap tidak terlihat.
Namun, saat berjalan melewati area tunggu, Patrick menangkap gesture aneh Raga. Dia juga menangkap kilatan gelap dari pergelangan tangan Raga yang tidak tertutup sempurna oleh lengan kemeja.
Senyum Patrick memudar sejenak. Matanya melebar sedikit, tetapi segera ditutupi dengan senyum ramah yang berlebihan.
Patrick menghentikan langkah, dan dengan sikap seorang dermawan sejati, berjalan mendekati Raga. Dia memberi isyarat halus pada dua pengawalnya, yang segera berdiri di posisi strategis.
"Siang, Mas," sapa Patrick dengan suara yang hangat dan bersahabat. "Maaf, boleh saya mengganggu sebentar?"
Raga harus memaksakan dirinya untuk menelan ludah. Dia mengangkat wajahnya, menatap Patrick dengan tatapan hati-hati. "Ya, Pak?"
Patrick tersenyum, matanya terpaku pada gelang perunggu di pergelangan tangan Raga. "Gelang yang bagus," ucapnya dengan suara ringan, tetapi Raga merasakan ketegangan berbahaya yang luar biasa.
"Itu terlihat antik. Saya kebetulan seorang kolektor benda kuno. Apakah itu memiliki nilai sejarah?" tanya Patrick ramah.
Raga menggenggam pergelangan tangannya. "Iya, Pak. Ini ... ini warisan dari orang tua."
Patrick tersenyum misterius. Dia menepuk bahu Raga dengan lembut, sentuhan yang terasa seperti intimidasi.
"Baiklah, saya harus segera pergi.” Patrick merapikan jasnya, kemudian berbisik pelan, hanya untuk didengar Raga. “Jaga baik-baik gelang itu. Benda itu sangat berharga."
Patrick kemudian berjalan menjauh, kembali ke rombongannya, dengan senyum lebar seolah tidak ada yang terjadi.
--
Jagat baru selesai empat jam kemudian, bukan dua jam. Raga mengemudi tanpa banyak bicara.
“Antar saya ke rumah Ayah. Mobilnya kamu antarkan ke apartemen saja,” titah Jagat.
Raga hanya mengangguk singkat. Setelah mengantar Jagat ke rumah orang tuanya, Raga segera memutar ke arah apartemen di pinggiran kota.
Tiba-tiba, sebuah motor trail hitam tanpa lampu depan memotong jalannya dari tikungan. Raga menginjak rem mendadak. Lalu, muncul dua motor lainnya.
Enam orang bertubuh besar dan bertopeng turun dari motor. Mereka berpakaian serba hitam, bergerak cepat, dan terorganisir.
Raga segera mengunci pintu mobil, tetapi dia terlambat.
Salah satu pria berotot menghantamkan kunci Inggris besar ke kaca samping mobil Raga. Kaca itu retak, lalu pecah berkeping-keping.
"Keluar! Sekarang!" teriak pria itu, suaranya teredam oleh masker.
Raga tahu, melawan di dalam mobil adalah bunuh diri. Dia membuka pintu, segera keluar, dan mengambil kuda-kuda bertarung.
"Siapa kalian? Kenapa kalian menyerangku?” bentak Raga.
"Nggak usah banyak bacot! Serahkan gelang itu!”
Raga tersentak sesaat. Kenapa mereka mengincar gelang tua miliknya? Dari mana mereka tahu tentang gelang ini?
Kemudian ingatan Raga berputar pada Patrick Kusno yang tampak tertarik pada gelangnya ini.
Raga tidak membuang waktu, segera bersiap. Dia bergerak cepat, menghindari serangan pertama dan melayangkan tinju keras ke rahang penyerang terdekat. Pria itu terhuyung.
Namun, kekuatan Raga tidak sebanding dengan enam orang yang menyerangnya.
Satu menendang perut Raga, membuatnya terbatuk. Yang lainnya memegang tongkat besi dan mengayunkannya dengan kejam ke arah kepala Raga.
BUGH!
Raga mengangkat lengannya untuk menangkis, tetapi pukulan itu terlalu kuat. Tongkat besi itu menghantam lengan kirinya dengan kekuatan brutal. Rasa sakit yang tajam menyengat dari pergelangan hingga bahu.
Raga jatuh berlutut, terdesak. Darah mengalir dari luka robek di lengannya, hampir tidak bisa bernapas.
Dua penyerang mendekat, Raga mencoba berdiri, tetapi tubuhnya gemetar karena kesakitan. Inilah akhirnya. Dia akan mati di tangan orang-orang Patrick Kusno. Kematian yang tertunda selama dua puluh tahun.
‘Tidak! Aku tidak mau mati sekarang!’
Raga mencengkeram erat pergelangan tangan kirinya yang terluka. Gelang perunggu yang melingkar di sana terasa dingin, berlawanan dengan hawa tubuhnya yang panas.
Tiba-tiba, dia merasakan denyutan luar biasa. Gelang itu, yang selama dua puluh tahun hanya berupa benda mati, kini terasa panas membakar. Ukiran aneh di permukaannya mulai bersinar, memancarkan cahaya kuning keemasan yang redup dan bergetar.
Gelang itu berdenyut, seperti jantung yang baru berdetak.
Energi liar, asing, dan sangat kuat menyembur dari gelang itu, mengalir ke seluruh tubuh Raga. Sensasi kesakitan Raga menghilang, digantikan oleh kekuatan yang tidak dia kenali, tetapi mematikan.
Saat satu penyerang mendekat, Raga tiba-tiba merasakan tangannya bergerak sendiri. Dia mengangkat tangan kirinya ke atas. Dari Gelang Perunggu, tiba-tiba muncul untaian cahaya tebal berwarna kuning keemasan yang melingkar, memanjang dan bergerak seperti cambuk.
CRACK!
Cahaya cambuk kuning keemasan itu menyambar pria di depannya. Pria itu menjerit, tubuhnya terlempar menghantam dinding beton di belakangnya, lalu jatuh ke tanah, tak bergerak.
Penyerang lainnya membeku karena terkejut. Raga kini terlihat kuat dengan mata berkilat, dan gelang di pergelangannya bersinar terang.
Raga merasakan energinya ditarik habis-habisan. Dia tidak bisa mengendalikan diri yang dikuasai oleh kekuatan asing. Kekuatan Gelang Perunggu ini terlalu besar untuknya.
Dia melihat untaian cahaya kuning keemasan itu bergerak lagi, mengarah pada sisa penyerangnya.
Tiba-tiba, kepala Raga berdenyut hebat, seolah otaknya akan meledak. Kekuatan yang meluap-luap itu terlalu berat bagi tubuhnya. Dia merasakan tubuhnya dipaksa untuk bertahan hidup, tetapi jiwanya tidak mampu menampung energi yang begitu besar.
Gelang itu mengeluarkan kilatan terakhir yang sangat menyilaukan.
Raga melihat dua penyerang lain tersambar cahaya itu, tubuh mereka gemetar sebelum ambruk ke tanah.
Lalu, pandangan Raga berputar, dunianya menjadi gelap gulita. Dia tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Dia ambruk dan pingsan dengan Gelang Perunggu yang kini meredup di pergelangannya, seolah baru saja menyelesaikan tugasnya.