

Jakarta membara. Bukan karena matahari atau sengketa politik, melainkan karena aspal yang memanggang dan deru klakson yang tak henti-henti menusuk telinga.
Raka Permadi, dengan jaket ojek online yang sudah usang dan helm yang terasa dua kali lipat lebih berat dari biasanya, merayap di antara rimba baja ibu kota.
Wajahnya yang muda seharusnya masih memancarkan semangat, namun yang terlihat hanya guratan kelelahan, seperti peta jalanan yang berliku dan tak berujung. Setiap orderan, setiap tarikan gas, terasa seperti beban yang menekan pundaknya, namun juga janji yang harus ia tepati—janji pada seorang adik yang sedang berjuang melawan waktu di ranjang rumah sakit.
Ia baru saja menerima orderan mengantar makan siang ke sebuah gedung perkantoran di Sudirman. Jaraknya lumayan, macetnya parah, dan perutnya bergemuruh protes.
Helmnya yang sudah akrab dengan kepala itu—atau lebih tepatnya, kopiah pemberian almarhum ayahnya yang selalu ia pakai di balik helm, entah kenapa terasa pas dan memberinya sedikit ketenangan—kini terasa seperti benda asing. Ada desiran aneh yang mengalir, bukan dari mesin motornya, melainkan dari dalam dadanya.
Motor bebek butut di depannya oleng sedikit. Pengendaranya, seorang bapak paruh baya yang terburu-buru, seperti kebanyakan orang Jakarta, meliuk-liuk mencari celah. Tiba-tiba, sebuah kilau tipis, nyaris tak terlihat oleh mata telanjang, menarik perhatian Raka.
Sebuah benang emas. Tidak, bukan benang, tapi lebih seperti urat energi yang berpendar samar di sisi ban motor itu. Urutannya tampak rapuh, nyaris putus, bergetar hebat seiring dengan putaran ban.
Raka mengerutkan kening. Apa-apaan itu? Ia mengucek matanya, tetapi benang itu masih di sana, kini berkedip-kedip, mengirimkan sinyal bahaya yang gamblang, seolah menjerit: putus.
Insting, sebuah dorongan tiba-tiba yang asing dan kuat, merasuk ke dalam dirinya. Otaknya belum memproses, tetapi tangannya sudah menarik gas.
Jangan sampai putus, pikirnya, sebuah bisikan yang bukan miliknya.
Tanpa pikir panjang, tanpa mempertimbangkan risiko dirinya, Raka memutar setang motornya dengan cepat, memotong jalur motor bebek di depannya. Sebuah manuver yang gila, berbahaya, dan melanggar segala aturan lalu lintas yang entah bagaimana masih ada di kota ini.
Motor bebek itu terpaksa mengerem mendadak, hampir menabrak motor Raka. Derit ban dan jeritan klakson lain langsung memenuhi udara. Lalu lintas di belakang mereka mendadak kacau.
“Woiii! Buta ya Mas?!” teriak pengendara motor bebek itu, wajahnya merah padam. Ia mengacungkan jari ke arah Raka, emosinya memuncak. Ban motornya, tepat di bagian benang emas yang tadi berkedip, menyentuh aspal dengan keras, hampir meletus. Sebuah fragmen kecil dari karet ban terlepas, menghantam aspal dan mental jauh.
Raka tidak menjawab. Ia hanya menatap ban motor itu, yang kini tampak utuh kembali, tanpa kilauan aneh. Desiran tadi mereda. Digantikan oleh sensasi hampa, seolah ia baru saja melompat dari ketinggian dan berhasil mendarat, tetapi jantungnya masih berdebar kencang.
Ia tahu, jika ia tidak memotong jalur, ban itu pasti sudah meletus. Dan di kecepatan itu, di tengah kemacetan padat seperti ini, kecelakaan beruntun tak terhindarkan. Mungkin ada yang luka parah, atau lebih buruk.
“Dengar tidak saya bicara, Mas? Kamu itu kenapa sih? Mau mati?!” suara pengendara motor itu meninggi, menarik perhatian beberapa pasang mata yang baru saja berhasil menghindari tabrakan akibat ulah Raka.
Mereka semua menatapnya seolah ia adalah biang kerok tunggal dari segala masalah lalu lintas Jakarta.
Raka melepas helmnya sebentar, menampakkan rambutnya yang lepek dan keringat yang mengalir di pelipis. Kopiah hitam yang ia pakai, entah mengapa, terasa hangat di kepalanya. Ia menatap wajah marah pengendara itu. “Maaf, Pak. Saya tadi... Saya lihat bapak mau jatuh.” Suaranya serak, beralasan sekenanya. Ia sendiri tidak yakin dengan apa yang baru saja ia katakan. Bagaimana ia bisa melihat ‘jatuh’ secara spesifik?
“Jatuh? Jatuh dari mana? Ini motor saya baru diservis! Jangan ngawur, Mas! Kamu itu yang mau menjatuhkan saya!” balas pengendara itu, nada suaranya penuh amarah. “Tanggung jawab kamu, kalau saya kenapa-kenapa!”
“Tidak kenapa-kenapa kan, Pak? Buktinya Bapak masih berdiri di sini, motor Bapak juga tidak apa-apa,” Raka mencoba mempertahankan dirinya, meskipun ia tahu argumennya terdengar lemah.
Ia merasa frustrasi. Pada dirinya sendiri, pada pengendara ini, pada kemacetan ini, pada hidup yang seolah tak pernah memberinya istirahat.
Seorang bapak-bapak di motor sebelahnya ikut menyahut. “Sudah, Mas, jangan ribut. Tadi memang hampir itu, ban motor bapak itu kayaknya sudah tipis. Untung nggak meletus.”
Pengendara motor bebek itu langsung menoleh ke arah bapak-bapak itu. “Apa Bapak bilang? Ban saya tipis? Mana ada! Jangan ikut campur, Bapak!”
Raka memanfaatkan celah perdebatan itu. Ia buru-buru memakai helmnya lagi. “Maaf, Pak. Saya buru-buru. Ada orderan.”
“Heh! Jangan kabur kamu!” seru pengendara itu, tetapi Raka sudah menarik gas. Ia meliuk di antara mobil dan motor yang masih belum pulih dari kekacauan tadi. Ia bisa merasakan tatapan marah pengendara itu di punggungnya.
Saat ia berhasil keluar dari kemacetan dan melaju di jalan yang sedikit lebih lengang, sebuah cahaya keemasan tiba-tiba berpendar di sudut pandang matanya. Bukan di jalan, bukan di motor lain, melainkan... entah di mana. Hanya sekejap, seperti kilatan lensa kamera, ia melihat angka “+10” muncul dan lenyap begitu saja, melayang di udara.
Raka mengerem motornya lagi, kali ini bukan karena macet, melainkan karena syok. Ia menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada apa-apa. Hanya gedung-gedung tinggi yang menjulang, awan polusi yang pekat, dan keramaian kota yang tak peduli.
“Apa-apaan itu?” gumamnya, suaranya tercekat. Jantungnya berdebar, kali ini bukan karena adrenalin. Lebih pada kebingungan murni, sebuah sensasi yang mengganggu, asing, dan menakutkan. "+10"? Kredit apa? Poin apa? Sebuah iklan yang salah tayang di lensa matanya? Mustahil.
Ia menekan pelipisnya, merasakan hangatnya kopiah di bawah helmnya. Apakah ini semua karena ia terlalu lelah? Kurang tidur? Atau otaknya memang sudah mulai rusak karena stres menumpuk? Ia menghela napas panjang, mencoba menyingkirkan sensasi aneh itu. Otaknya yang realistis menolak untuk memproses apa pun yang tidak masuk akal.
Ini bukan waktunya untuk memikirkan hal-hal aneh. Reni. Adiknya. Itu yang terpenting. Orderan harus diantar. Uang harus terkumpul. Rumah sakit butuh pembayaran. Ginjal Reni butuh keajaiban.
Ia menarik gas lagi, laju motornya kini lebih pelan, pikirannya dipenuhi tanda tanya. Benang emas. Kilatan +10. Kopiah ayahnya. Semuanya terasa absurd, namun begitu nyata.
Ia tidak mengerti. Sama sekali tidak mengerti. Tetapi satu hal yang ia tahu: hidupnya yang sudah rumit ini, baru saja menjadi lebih aneh. Dan ia punya firasat yang tidak menyenangkan, bahwa ini baru permulaan dari segala keanehan.
***