

"Kok sudah jam segini?!!!" ucap kenan. Ia kemudian berlari ke kamar mandi dengan tergesa-gesa.
"Sial... gara-gara sisi, gue terlambat masuk ini, apalagi hari pertama setelah libur panjang kelulusan," keluh Kenan.
Kenan maheswara, salah satu guru lulusan pendidikan di mata pelajaran matematika, beruntung dia bisa diterima tak lama setelah kelulusan.
Ia berlari tergesa-gesa, bersiap-siap menuju sekolah di mana dia memulai mengajarnya, apalagi kabarnya dia akan langsung memegang kelas IPA sebagai wali kelasnya.
Kenan pun tanpa sarapan bergegas menuju sekolah itu, lalu mengendarai motornya dengan menggunakan jaket kesayangannya, yang selama ini menemani dia dalam membantu perekonomiannya.
Kenan terus melajukan kendaraannya dengan menerobos di antara kemacetan, tiba-tiba saat dia berhenti di lampu merah, seorang siswi perempuan menghentikan Kenan lalu menaiki motornya.
Kenan hendak berbicara namun siswi yang tidak di kenalnya menyerobot terlebih dahulu. "Mas belok kiri, nanti aku arahin ya, tolong cepat!" seru siswa tersebut.
"Hey... Saya bukan ojeg, bisakah kamu turun? saya sedang tergesa-gesa," protes Kenan dengan melirik siswi itu.
"Duh kamu itu ojol ko ribet banget sih, kalau harus pesan lewat aplikasi lama mas, aku udah telat ini, biar aku bayar deh lebih dari biaya aplikasi," bujuk siswi itu. Ia menarik jaket yang dikenakan Kenan untuk merayunya.
Kenan mengerutkan keningnya heran saat mendengar kata 'ojol', Kenan langsung melirik jaket yang dia gunakan.
"Ya ampun pantas saja, dia naik begitu saja lah aku pake jaket ojol." Batin Kenan, dan Kenan pun menghela nafasnya kasar, sudah terlambat dan harus membawa penumpang yang cukup rese menurutnya.
Kenan pun melaju sesuai arahan siswi itu dengan kecepatan yang bisa dikatakan lumayan cepat, Kenan tidak berpikir banyak tentang masalah ini, yang penting dia bisa cepat mengantarkan anak ini dan dia bisa sampai di sekolah dengan tepat waktu.
Apalagi saat Kenan melihat jalur siswi ini sesuai dengan sekolah yang hendak dia tuju. Kenan tersenyum, berharap sekolah anak ini tidak jauh dari sekolah tempatnya mengajar.
Kenan fokus mengendarai motor itu, namun siapa sangka ada yang menyebrang membuat Ken mengerem motornya itu sekuatnya. Hingga tubuh siswi itu terpental dan memeluk Ken, namun siapa sangka, wanita itu mengeluh.
"Mas yang benar dong kalau bonceng!, sakit keningku kena helmmu mas," gerutu siswi itu.
"Jangan banyak protes yang penting kamu saya antar," bentak kenan. Ia menambah kecepatan motor itu, meluapkan semua emosinya.
"Pelan Mas, saya masih muda, saya tidak ingin mati sekarang," teriak siswi itu sambil memegang jaket Kenan.
"Berisik!, sudah saya bilang saya bukan ojol!" seru Kenan penuh penekanan.
"Ish sudah tahu ojol masih saja ga ngaku, ga butuh duit kali ini orang," gerutu siswi itu pelan namun masih terdengar oleh Ken.
"Masih jauh ga? yang jelas dong di mana sih sekolah kamu itu, jangan-jangan kamu mau Mabal ya," Curiga Ken tiba-tiba terpikirkan tentang anak ini bolos sekolah karena sejak tadi anak ini sama sekali tidak menyebutkan nama sekolahnya.
"Itu mulut asem banget ya mas, tuh bentar lagi sampai," timpal siswi itu sudah tak tahan ingin segera turun dari motor ini.
Kenan merasa lega karena akhirnya dia pun akan segera tiba, dia berniat menurunkan anak itu di sekolahnya, dan akan membiarkan siswi itu memikirkan masalah keterlambatannya untuk menuju sekolahnya.
"Sumpah ya kalau ga terburu-buru, malas saya naik motor ini, sudah butut, mulutnya itu asem banget pula." batin siswi itu menggidigkan bahunya.
"Sudah-sudah di sini mas," pinta siswi itu, Ia menepuk pundak Ken berulang-ulang.
Kenan pun akhirnya memberhentikan lajunya, dan menunggu siswi itu turun. Ken tersenyum penuh kemenangan.
Untung ini anak turun di sini, pas bangetlah dengan niatan mau nurunin dia di daerah sini. Batin Kenan bersyukur.
"Ini bawa!" seru siswi itu dengan memaksa menaruhnya di lengan Kenan.
"Hey saya sudah bilang, saya bukan ojeg," tolak Kenan dengan hendak mengembalikan uang itu.
"Sudahlah mas jangan tolak rezeki, pamali kata orang tua," ucap siswi itu dia berlalu dari hadapan Kenan.
Ya siswi itu menuju pintu belakang sekolahnya agar cepat dan tidak tertutup oleh pak satpam tegas yang selalu ribut dengan siswi itu, yang mana siswi itu selalu berlangganan telat.
Sedangkan Kenan melajukan kembali kendaraannya, dan sesampainya di depan gerbang.
Kenan bersyukur karena dia masih bisa memasuki sekolah itu, karena beberapa menit sekolah akan segera mengadakan acara upacara seperti biasanya, dan gerbang sekolah itu pun akan segera di tutup.
Kenan pun membuka helmnya dan menyelipkan jaketnya ke dalam helm itu kemudian menyimpannya ke dalam jok motor.
Kenan melangkahkan kakinya dengan penuh wibawa dan berkharisma, membuat para siswa melirik ke arahnya lalu saling berbisik.
Kenan tidak heran kala mereka membisikkan dirinya, karena mungkin dia adalah guru baru di sekolah ini.
***
Sedangkan di sisi lain, siswi tadi telah memasuki kelasnya, dan bertemu dengan sahabatnya.
"Vel tahu ga Lo, ternyata ada guru baru ganteng banget," puji Disa dengan mata berbinar-binar.
"Ish Lo ya, kebiasaan lihat yang bening langsung aja jelalatan tuh mata," timpal Evelyn Quinn yashica dengan tangan mengusap muka disa.
Tak lama bel berbunyi tanda upacara akan di mulai, para siswa siswi Pun memasuki lapangan, dan mulai berbaris rapi.
"Vel ..., lihat tuh di depan, itu guru baru kita, ganteng kan?" tunjuk Disa dengan dagunya karena kini tangan mereka harus rapi berada di samping.
Evelyn melirik ke arah di mana yang ditujukan Disa, dan dia pun mengangkat bahunya cuek.
Namun hatinya merasakan sesuatu seperti telah bertemu atau mengenal pria itu. Tapi Evelyn pun tidak tahu dan tidak mau ambil pusing hanya untuk memikirkan hal itu.
"Ish Lo mah ga asik," timpal Disa cemberut namun pandangannya kembali ke arah depan dan menatap pria itu.
Setelah upacara selesai, kepala sekolah berbicara, "Kepada seluruh murid yang saya cintai, mungkin kalian sudah tahu jika guru kesayangan kalian, Pak ahmad, telah meninggal dunia seminggu yang lalu, dan kita semua akan mendoakan beliau dengan kepala di tundukkan, berdoa di mulai,"
Setelah beberapa menit kemudian, kepala sekolah yang bernama Erwin itu kembali berbicara. "Berdoa selesai, meski beliau sudah tiada kenangannya akan selalu ada dalam hati kita, dan sekolah ini akan selalu mengenang jasa-jasanya,"
"Setelah beliau tiada, sekolah ini telah kehilangan guru terbaik seperti dia dan jelas sekolah tetap membutuhkan guru matematika, oleh sebab itulah saya telah mencari pengganti beliau, dan apa yang telah kalian lihat di depan ini, pastinya kalian melihat seorang pria asing bukan?, ya dia adalah guru matematika kalian yang baru,"
Pria itu maju ke depan. "Perkenalkan beliau bernama Kenan Maheswara, lulusan baru di bidang pendidikan matematika, saya harap kalian bisa bekerja sama baik dalam belajar bersamanya. Jangan kecewakan guru baru ini dengan sikap kalian, kalian paham?" pesan Erwin kepada para siswa-siswinya yang berada di lapangan itu.
Dengan kompak seluruh siswa-siswi itu berteriak, "Paham!!"
Tak lama setelah Pak Erwin berbicara, upacara itu pun selesai, seluruh siswa-siswi bubar dan menuju kelasnya masing-masing.
"Sial, dia lagi dia lagi... " Batin Kenan. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan gadis aneh yang membuatnya hampir terlambat.
Entah kutukan atau apa, semoga Kenan bisa menamatkan profesinya untuk mengajar disini.
Bersambung ...