Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
SI MISKIN : Jadi Bos Mafia Karena Sistem

SI MISKIN : Jadi Bos Mafia Karena Sistem

Mochamad Fachri | Bersambung
Jumlah kata
69.2K
Popular
590
Subscribe
102
Novel / SI MISKIN : Jadi Bos Mafia Karena Sistem
SI MISKIN : Jadi Bos Mafia Karena Sistem

SI MISKIN : Jadi Bos Mafia Karena Sistem

Mochamad Fachri| Bersambung
Jumlah Kata
69.2K
Popular
590
Subscribe
102
Sinopsis
18+FantasiSci-FiSistemMiliarderMafia
18+ Seorang pemulung yang terhina tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem yang membawanya ke dunia yang sangat baru baginya sistem yang perlahan merubah dirinya secara bertahap. Kekayaan dan kekuasaan di milikinya. Akibat rasa ingin membalas dendam terhadap paman nya, dia menjadi Mafia paling berkuasa di negaranya. Dia juga memiliki seorang pendamping wanita yang cerdas yang datang secara tiba-tiba bersamaan dengan sistem yang dia miliki, dan semua itu tidak akan bisa mudah di laluinya. banyak monster mutasi, setelah dia berhasil mencapai puncak kejayaan dan membuat sebuah serum kekuatan. Membuat nya harus mencari cara untuk melawan mereka, ia harus menghadapi, dunia mafia, mutant, politik bisnis, dan kejahatan negara kepada rakyatnya, lalu bagaimana cara dia bisa melalui itu semua?
Sebuah Awal

“Woi! Si miskin mau lewat” ucap seorang pemuda yang memakai kemeja putih, sambil menertawakan Arya yang hendak melewati Jordi dan teman-teman nya.

Arya pun hanya terdiam sambil berjalan melewati Jordi dan teman-temannya.

Tapi...

Pletak! 

Sebuah botol minuman kaleng terlempar ke arah kepala Arya. Sontak hal itu membuat teman-teman Jordi menertawakan Arya. Tapi dia hanya bisa diam tanpa perlawanan.

“Tuh ambil, bukan nya lo butuh?” ucap Jordi sambil menatap jijik ke arah Arya.

Arya pun memungut botol kaleng yang di lempar Jordi barusan.

“Seandainya, Ayah masih ada. Mungkin...  Aku tidak akan seperti ini” batin Arya sambil berjalan pergi tanpa mempedulikan Jordi dan teman²nya.

Hal itu membuat Jordi sedikit geram, dan membuatnya hendak mengejar Arya.  Tapi langkahnya tertahan ketika dia melihat ada seorang warga yang lewat.

“Sial!  Awas aja lo,” gumam Jordi.

Singkat waktu,  Arya sudah sampai di depan rumahnya. Kemudian ia menyimpan karung yang berisi botol² plastik yang dia bawa.

“Huft! Lumayan nih dapet banyak,” desis Arya sambil berjalan ke arah pintu rumah.

Belum sempat dia membuka pintu,  sang paman yaitu Mariot, adik dari mendiang Ayah nya datang.

“Arya!” ucapnya setengah berteriak. Hingga membuat Arya lekas menoleh dan menghampiri Mariot.

“I—iya paman kenapa?” tanya Arya sambil menundukan kepalanya.

Mariot menatap tajam ke arah Arya sambil menyilangkan kedua tangannya.

“Heh! Mana hutang Ayah mu?” tanya Mariot dengan nada sinis.

Arya mendongak lalu kembali menunduk.

“Maaf paman,  Arya belum punya uang” jawabnya dengan lirih.

Sontak mendengar hal itu Mariot sang paman geram,  karena berulang kali Arya mengucapkan hal itu kepadanya. Lalu, Mariot mencengkram kaos lusuh yang Arya gunakan, hingga Arya kesulitan bernapas karena merasa tercekik.

“Heh!  Mau sampe kapan kamu nggak ada uang?!” bentak Mariot kepada keponakannya itu sambil mendorong tubuh Arya hingga dia terhempas ke atas tanah.

Arya tersentak kaget saat terhempas ke atas lantai hingga dia batuk.

“Uhuk! Uhuk!”

Arya mencoba bangkit. Namun...

Krakk!! 

Kaki Mariot menginjak tangan Arya sebelum dia beranjak pergi. Namun, Arya menahan rasa sakit nya sambil memegang jemarinya yang sengaja di injak oleh sang paman.

Arya terdiam menahan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuh nya itu.

Mariot menatap sinis sebelum dia pergi.

“Cih!  Kasian sekali kamu. Katanya jagoan,  pintar di sekolah, tapi kok malah jadi pemulung!” cibirnya sambil menyeringai puas melihat penderitaan keponakan nya itu.

Kemudian Mariot berlalu pergi setelah mengejek dan merendahkan keponakan nya sendiri.

Arya hanya menatap ke arah punggung sang paman dengan mata yang sudah berair menahan rasa sakit dan amarah.

“Lihat saja,  suatu hari akan ku balas!” gumam Arya sambil bangkit dan masuk ke dalam rumah sederhana peninggalan sang Ayah.

***

Esok paginya Arya bersiap untuk pergi memulung seperti biasa, dia menatap bakul nasi yang hanya tersisa untuk sekali makan saja,  itu pun hampir basi karena nasi sisa kemarin.

“Duh, udah mau habis ini. Aku harus beli beras lagi,” ujarnya bermonolog sambil bersiap membawa karung yang biasa dia bawa.

Arya hanya meneguk segelas teh,  tanpa sarapan apapun. Hal itu sudah menjadi biasa baginya, setelah teh habis ia lalu segera beranjak pergi setelah mengunci pintu rumah.

Saat di perjalanan,  Arya menyisir semua tempat sampah untuk mencari botol² plastik bekas. Ketika dia sedang memilah,  tak sengaja Arya menemukan sebuah kotak hitam misterius berukiran huruf kuno di setiap sudut kotak nya.

“Benda apa ini? ” gumam Arya.

Tapi... saat Arya menyentuh kotak hitam itu, benda itu bergetar halus, hal itu membuat Arya sedikit terlonjak kaget.

“Apa itu?” ujarnya sambil memperhatikan kotak hitam di tangannya itu.

“Lebih baik aku membukanya di rumah saja,” lanjut Arya sambil memasukan kotak itu ke dalam tas kecil nya.

Arya pun kembali menyusuri jalanan di komplek tempat biasa dia menyisir tempat² sampah hanya untuk menemukan botol² plastik.  Terkadang ia juga mendapatkan bingkisan dari beberapa pemilik rumah, karena Arya selalu membantu pemilik rumah untuk membersihkan halaman nya dari sampah.

Tapi... Ketika dia sampai di sebuah rumah mewah dengan pagar hitam yang cukup tinggi,  dia di sambut tatapan tak suka dari pria yang tak lain adalah sepupunya, Jordi.

“Widih,  rajin amat lo?  Mau ambilin sampah yak? Tuh banyak bersihin sana,” ucap Jordi dengan nada yang mengejek.

Arya tak menggubrisnya, dia hanya fokus memilah sampah sekaligus membersihkan halaman rumah sepupunya itu.

Jordi adalah anak dari Mariot,  paman dari Arya.  Meskipun begitu, Arya tak pernah di anggap keluarga oleh paman nya. Bahkan tak jarang Arya selalu menjadi bahan cemoohan keluarga besar dari Ayahnya itu.

“Woi! Lo denger nggak sih?” lanjut Jordi karena Arya sama sekali tak menggubrisnya.

Arya menatap Jordi sekilas lalu kembali fokus membereskan sampah yang berserakan,  yang memang sengaja Jordi lakukan untuk menjahili sepupunya itu.

Karena Jordi akan berangkat kuliah, dia segera masuk ke dalam mobil mewahnya dan membiarkan Arya melakukan aktivitasnya seperti biasa.

“Semoga saja, aku bisa membalas semua perbuatan kalian kepada keluargaku dulu,” batin Arya sambil menatap kepergian Jordi dengan mobil mewahnya.

Tanpa disadari Arya,  kotak hitam yang berada di tasnya itu bersinar kebiruan samar.  Seperti merespon ucapan Arya tadi.

***

Siang harinya, Arya duduk di sebuah pohon beringin besar untuk sejenak beristirahat karena panas terik matahari membuatnya sedikit kelelahan.

“Seandainya, Ayah dan Ibu masih ada. Mungkin aku tidak akan pernah seperti ini,” ucap Arya lirih sambil mengingat kenangan bersama kedua orangtuanya.

Tanpa disadari,  Arya perlahan terlelap hingga dia tertidur.

Di bawah alam sadarnya Arya terbangun di sebuah padang rumput yang luas, ia memperhatikan keadaan sekitarnya. Hanya ada suara air sungai yang mengalir dan suara angin yang menerpa dedaunan.

“Dimana aku?”

Arya bangkit secara perlahan kemudian dia menyusuri area tersebut. Namun... tiba-tiba saja seseorang menepuk bahu nya perlahan,  hingga membuat Arya sedikit terkejut dan langsung menoleh ke arah belakang.

“Siapa kamu?” tanya Arya sambil memperhatikan gadis berambut hitam legam berpakaian ketat berbahan latex itu.

Gadis di hadapan Arya mengangkat kedua sudut bibirnya,  mata birunya seakan menghipnotis Arya dan membuatnya terdiam.

“Perkenalkan, namaku Alexa tuan... aku adalah pendampingmu, dan mulai hari ini. Kehidupan mu akan berubah, semua orang yang dulu menghina dan mencemooh mu akan membuka matanya,” jelas Alexa gadis bermata biru itu.

Gleg!

“Berubah? Maksudmu apa?” tanya Arya dengan keheranannya.“Arrgh! Aku pasti hanya bermimpi di siang bolong,” lanjut Arya sambil mengusap kasar wajahnya.

Sontak hal itu membuat Alexa terkekeh dan tersenyum.

“Ini bukan mimpi tuan, aku adalah pendampingmu.  Kotak yang kau temui itu... adalah tempat dimana aku di segel. Karena tuan tak sengaja menyentuhnya, itu membuat segel kotak itu terbuka, karena ini sudah di takdirkan.”

Ucapan itu membuat Arya seketika terdiam membeku.'Takdir apa ini?' Batin Arya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca