Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Mobil Tua dari Kakek Misterius

Mobil Tua dari Kakek Misterius

Saiyaara Dolunay | Bersambung
Jumlah kata
73.5K
Popular
4.0K
Subscribe
588
Novel / Mobil Tua dari Kakek Misterius
Mobil Tua dari Kakek Misterius

Mobil Tua dari Kakek Misterius

Saiyaara Dolunay| Bersambung
Jumlah Kata
73.5K
Popular
4.0K
Subscribe
588
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalMisteriUrbanKekuatan Super
Bayu Aji Gatra adalah anak yang cerdas, populer dan berada di keluarga yang terpandang. Namun segalanya runtuh setelah kecelakaan tragis yang ia alami bersama sang ayah. Ayahnya meninggal dunia, sementara Bayu mengalami kerusakan sebagian saraf pada otaknya. Hal itu membuat Bayu berubah menjadi pemuda yang kerap hilang fokus, sulit berinteraksi, bahkan sering disebut bodoh. Saat kemampuan otaknya meredup, nasib keluarganya ikut jatuh. Usaha bangkrut, harta nyaris habis, ibunya sakit-sakitan dan Bayu kesulitan untuk membayar biaya sekolah. Tak ingin menyerah, ia nekat membuka kembali bengkel ayahnya yang telah tertutup debu beberapa tahun lamanya. Impiannya membuka bengkel hanya untuk sekadar bertahan hidup bersama ibu dan melunasi tunggakan SPP. Hingga suatu sore, datang seorang kakek misterius menawarkan mobil tua ringsek dengan harga tak masuk akal murahnya. Meski tampak rongsok, sesuatu dalam hati Bayu memintanya untuk membeli mobil itu. Di bengkel kecil sederhana, ia mulai memperbaiki mobil secara perlahan. Namun semakin dalam ia mengutak-atiknya, Bayu semakin sadar bahwa mobil itu hidup. Seolah bernapas, bernyawa bahkan bisa mengajaknya berinteraksi. Dan sejak mobil itu hadir dalam hidupnya, keanehan dan keajaiban menjadi teman sejatinya.
Bab 1

"Bayu Aji Gatra," panggil Bu Salsa dengan suara lantang.

Tak ada jawaban terdengar, hanya denting kipas kelas berputar pelan, menggerakkan udara yang kering dan penuh tekanan.

"Bayu Aji Gatra!" panggilnya lagi, kali ini lebih jelas, dan jauh lebih keras.

Akan tetapi sama saja, tidak ada jawaban dari pemilik nama.

"Dasar lemot, dipanggil guru aja nggak denger!" seru salah satu murid, memancing tawa kecil yang cepat berubah menjadi bisik-bisik.

Suasana di kelas XII terlihat begitu riuh namun juga menegangkan, karena hari ini adalah pembagian hasil rapor pada semester pertama. Suara kertas-kertas rapor bergesekan pelan saat Bu Salsa membuka satu per satu map nilai, sementara murid-murid duduk dalam ketegangan yang dingin.

Dan memang, di bangku paling pojok, Bayu tampak seolah tak berada di sana. Sepuluh jarinya bergerak pelan, saling mengait lalu dilepas, mengulang lagi dan lagi. Ia melamun jauh, entah ke mana jalan pikirannya.

"BAYU AJI GATRA!" suara Bu Salsa akhirnya pecah, setengah teriak, setengah menahan sabar yang hampir habis.

Bayu menghentikan aktivitasnya bermain dengan sepuluh jari, tubuhnya seakan tersadarkan dari dunia lain. Ia mengerjap pelan, lalu berdiri ke depan langkahnya berat seperti membawa banyak beban.

Begitu sampai di depan, Bu Salsa menatapnya dengan wajah kaku.

"Nilai kamu sangat jelek, Bayu."

Nada bicaranya tajam, tapi lebih dari itu, seperti mengandung rasa malu yang tak bisa disembunyikan.

"Bahkan jauh berbeda dari teman-teman kamu. Ibu jujur, Ibu malu punya murid yang nilainya rapor-nya seperti ini."

Kelas langsung kembali hidup dengan gumaman. Ada yang mengangkat alis, ada yang cekikikan, ada yang memandang Bayu seperti makhluk asing yang tersesat di dunia yang tak membutuhkan dia.

Tapi Bayu hanya berdiri, menunduk sedikit. Wajahnya kosong, tidak ada ekspresi yang bisa dibaca dari raut wajahnya.

"Bayu?" suara Bu Salsa terdengar sedikit bingung karena tidak ada reaksi.

"Kamu dengar kan apa yang Ibu bilang?"

Tak ada jawaban lagi dari Bayu, hanya saja wajahnya mulai menunduk dan menatap lantai keramik putih di bawah kakinya.

"Bayu?" ulang Bu Salsa, kini dengan nada campuran antara jengkel dan cemas.

Akhirnya Bayu mengangguk perlahan, tanpa ada kata. Seperti seseorang yang terlalu lelah untuk marah, bahkan terlalu lelah untuk hidup.

"Ya ampun Bayu, kamu ini kenapa bisa jadi aneh seperti ini sih?" desis Bu Salsa lirih, bukan hanya untuk didengar Bayu, tapi juga seluruh kelas.

Ia menurunkan pandangannya ke rapor, hendak menyerahkannya, namun suasana semakin ramai dan membuat Bu Salsa memukul berulang kali spidol ke papan tulis. 

"Sssttt, bisa diam dulu nggak? Kalau nggak diam nggak akan ibu bagi rapor ini."

Kelas kembali hening, tapi bukan hening yang menenangkan, terutama bagi Bayu yang saat ini tengah ditegur gurunya perihal buruknya nilai rapor.

Seorang siswi yang bernama Aruna, sosok yang ramah di kelas, mencoba mengangkat tangannya untuk berbicara sejenak, meskipun sudah diminta diam oleh Bu Salsa tetap saja Aruna nekat untuk bersuara.

"Bu, mungkin Bayu cuma lagi banyak pikiran?" ucapnya hati-hati. "Maksud saya, dia selalu sendirian, atau mungkin dia?"

"Eh, nggak usah dibela," potong suara dari bangku belakang, tajam seperti belati kecil. "Memang dia tuh aneh banget, anehnya kelewatan."

Seketika beberapa siswa tertawa, tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat udara makin tipis untuk Bayu bernapas.

"Aneh kaya alien," sambung yang lain, mencibir sambil meniru gerakan robot. "Zzztt, tolong saya, manusia bumi tidak mengerti saya, hahaha."

Tawa kembali pecah, tawa itu sangat renyah, namun Bayu hanya diam tak berkutik sama sekali.

"Serius deh," kata seorang cowok di barisan tengah sambil menggeleng, "kalau diajak ngomong juga kadang nggak jawab, kayak nggak waras."

"Sumpah," celetuk seorang siswi sambil menahan tawa, sebelum melanjutkan ucapannya.

"Aku pernah lihat dia ngomong sendirian di depan tembok. Kaya ngobrol sama bayangan."

"Atau sama buku," timpal satu lagi. "Kayak buku itu bisa jawab balik."

Pernyataan mereka menghadirkan gelak tawa yang lebih kejam. Aruna yang tadi mencoba membela hanya bisa terdiam, karena ia kalah telak dengan jumlah orang yang membully Bayu.

Sementara Bayu, matanya kosong. Tidak sedih, tidak marah, dan tidak sakit hati. Justru hanya ada ketenangan, ia sudah terlalu terbiasa menghadapi itu semua. Seperti sudah menyerah pada garis hidup yang menyakitkan.

Bu Salsa memijit pelipisnya. Raut wajahnya antara lelah dan frustasi.

"Bayu, kamu kenapa?" suaranya lebih pelan, lebih lembut, tapi tetap mengandung jarak. "Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu?"

Bayu mengangkat sedikit wajahnya. Matanya memandang kosong ke arah papan tulis, seolah sedang membaca sesuatu yang tak terlihat oleh manusia lain. Bibirnya bergerak, namun tak ada suara yang keluar.

Murid-murid mulai saling pandang. Ada yang geli, ada yang jijik, ada yang kasihan tapi memilih diam karena takut ikut dibully.

Bu Salsa kembali bicara, kali ini lebih seperti seorang ibu yang kehilangan arah saat saat menasihati anaknya.

"Kalau kamu begini terus, Ibu nggak tahu apa yang mau Ibu lakukan, kamu bahkan nggak cerita, nggak pernah membela diri, nggak pernah mencoba mengatakan apa yang kamu rasakan."

Bayu memejamkan mata pelan, wajahnya tenang, menggambarkan sosok orang yang suka memikul beban berat sendirian.

Tiba-tiba, terdengar suara aneh di dalam kelas yang dapat didengar dengan jelas.

Perut Bayu berbunyi. Suaranya pelan, tapi di ruang yang sangat hening itu, semua bisa mendengarnya. Sebagian murid menutup mulut menahan tawa. Sebagian lagi langsung terkekeh.

"Dia lapar?" bisik seseorang.

"Kasihan banget sih, kayak nggak makan," ujar yang lain sambil terkikik.

"Apa jangan-jangan dia ngobrol sama tembok karena temboknya punya makanan?" satu lagi bersuara sinis, disambut tawa pecah.

Tak ingin membuat keadaan semakin ricuh, Bu Salsa meminta para murid untuk diam. Bu Salsa kembali memeriksa beberapa catatan tentang Bayu, dan matanya membulat sempurna.

"Ehm, Bayu. Kamu nggak bisa bawa rapor ini pulang, ya? Soalnya..." ucap Bu Salsa yang kemudian berhenti.

Untuk kali ini suara Bu Salsa lebih rendah dari sebelumnya, seperti ada sesuatu yang dijaga.

Dan untuk pertama kalinya juga Bayu menjadi lebih fokus dan menjawab Bu Salsa.

"Kenapa, Bu?" tanya Bayu dengan raut wajah yang penasaran.

Bu Salsa mengedip pelan, raut wajahnya memadat antara kaget, bingung, dan sedikit lega. Sebab murid yang sedari tadi diajak bicara itu hanya diam dan membisu terus-menerus.

"Eh, Bayu jadi kamu bisa jawab?" ucapnya perlahan, masih terdengar tak percaya. "Syukurlah, kamu bisa dengar Ibu? Kamu fokus? Kok tadi diam saja? Ada apa?"

Nada suaranya bukan lagi marah. Tidak juga sepenuhnya lembut, yang pasti Bu Salsa ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada muridnya tersebut.

Bayu tidak langsung menjawab, begitu suara Bu Salsa berhenti, begitu harapan itu kembali ada. Ia justru kembali diam, menarik dirinya mundur ke balik dinding yang tak bisa dilihat siapa pun. Wajahnya turun lagi, pandangan jatuh pada lantai keramik dan bersikap seperti semula.

Kelas kembali hidup oleh suara murid lain, tapi tidak karena kagum atau memuji Bayu yang telah bersuara, melainkan kembali melakukan penghinaan.

"Ya ampun, balik lagi jadi jadi alien," bisik seorang siswa.

"Aneh banget dia sumpah," timpal yang lain pelan.

Bu Salsa mengembuskan napas panjang, seperti sudah lelah mengajak Bayu bicara.

"Sudahlah," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada siapa pun. "Ibu tidak mau lagi mengintrogasi sifat dan sikapmu itu, mungkin saja sudah menjadi karakter favoritmu."

Ia menarik map rapor Bayu lebih dekat, membuka halaman catatan keuangan sekolah. Saat matanya turun ke daftar angka dan kolom, sorotnya langsung berubah. Alangkah terkejutnya Bu Salsa, lalu perlahan wajahnya dipenuhi sesuatu yang sulit didefinisikan karena banyak ekspresi yang menjadi satu.

Kelas mendadak kembali diam tanpa perintah. Bukan karena hormat, melainkan ekspresi wajah Bu Salsa yang menunjukkan rasa kecewa atau mungkin sedikit sedih.

Bu Salsa mengangkat wajahnya lagi, menatap Bayu dengan hati-hati.

"Bayu…," suaranya kini pelan dan datar, seperti sedang mengumumkan kabar yang tidak ingin dia ucapkan.

"Kamu mau tahu kan, kenapa kamu nggak bisa bawa rapor ini pulang?"

Beberapa siswa langsung saling sikut, alis terangkat, seolah kalimat itu baru saja membuka pintu gosip yang sudah menunggu lama.

Bayu mengangkat kepalanya pelan, sedikit lebih cepat dari sebelumnya, tanda kecil bahwa kata-kata itu menyentuhnya. "Iya, Bu, kenapa?" tanya Bayu dengan nada penasaran yang tulus.

Lanjut membaca
Lanjut membaca