

Angin pagi yang terasa sejuk mulai menyemangatkan orang banyak untuk mengantri di toko roti yang baru dibuka pada Minggu ini.
Pembukaan toko roti tersebut dimeriahkan oleh diskon besar-besaran dan roti gratis yang cukup banyak tersedia di depan toko.Para karyawan yang baru saja bekerja pada hari pertama pun mulai kewalahan akibat pelanggan yang berebutan untuk mendapatkan ruang mengantri.Ada yang rela duduk dibawah lantai akibat lamanya mengantri untuk mendapatkan sebungkus roti yang baru siap dipanggang.
Aroma perpaduan mentega dengan bahan lainnya mulai tercium di segala arah,dari ujung jalan sana hingga ujung jalan lainnya.Tampak di depan toko,pria muda mengenakan kemeja biru langit dipadukan celana kain sedang membagikan roti gratis kepada para pelanggan yang menunggu.
Memancarkan kharisma yang semakin terlihat jelas karena menyapa seluruh pelanggan yang sedang mengantri,mungkin siapapun yang melihat sedikit menghangat karena roti gratis diberi oleh pria tampan.Ghailan tersenyum ramah dikala kalangan ibu-ibu memujinya berlebihan.
"aduh mas ganteng sendirian aja bagiinnya, anak gadis saya itu loh di rumah nganggur" ujar ibu ibu dengan tutur bahasa jawa yang khas.
Ibu-ibu yang lain datang menyambut , "eh eh eh enak aja, anak gadis saya dong pekerja keras! cocok ini buat mas nya yang pengusaha sukses" balas ibu satunya lagi tak kalah semangat.
Pria itu hanya tertawa kecil,tak terlalu menanggapi dan hanya bersikap sopan.
"silahkan dinikmati rotinya ya bu.." jawabnya lembut dengan senyum yang merekah,menampilkan lesung pipi yang sangat terlihat di mata mana saja yang terfokus olehnya.
"ya ampun.. ganteng banget ya" puji ibu-ibu masih menatap berbinar ke arah Ghailan.
Ghailan lanjut berjalan memberikan roti kepada para pelanggan yang masih mengantri—lebih tepatnya ia sengaja turun ke jalanan untuk membagikan roti gratis yang baru saja rilis di tokonya,tak terlalu banyak namun bisa membuat para pelanggan sedikit tenang ketika menunggu antrian.
Asiknya membagi roti kepada para pelanggan,sesekali berbincang hangat kepada salah satunya,Ghailan dikejutkan oleh sentuhan tiba-tiba dari seorang anak kecil yang menyengir memeluk kaki jenjangnya.
"om Ghailan!" seru anak kecil itu yang mendongak melihat dirinya.Tangannya sibuk memegang erat permen lollipop yang sudah terbuka dari bungkusan.
Ghailan sontak kaget,reflek menoleh ke bawah dan kembali mengukir senyum dikala ia tahu siapa yang sedang menempel di kakinya , "ehh! ada Zhialla" sapanya.
Zhialla turun dari kaki Ghailan,merentangkan tangannya ke hadapan pria itu minta digendong, " om, up!" serunya semangat.
Ghailan pun sangat bersedia menggendong gadis itu, ia turunkan tubuhnya sedikit lalu mengangkat gadis itu dengan satu tangannya—yang satunya sedang sibuk dengan beberapa bungkus roti yang belum dibagikan tuntas.
"alaa sama siapa kesini,hmm??" tanya Ghailan sedikit merapatkan giginya karena geram dengan pipi gembul gadis kecil itu.
Zhialla asik menjilati permen lollipopnya , "alaa kesini sama bunda sama ayah ,eum... —itu mereka!" jawab Zhialla menunjuk ke arah depan yang sebelumnya bergumam kecil ,sudah terdapat kakak kandung dan abang iparnya sedang tersenyum menatap Ghailan.
"lan,apa kabar?" sapa Arunika,kakak kandung Ghailan.
Ghailan mengangguk, "eh kak, baik.Baik banget malah. mba sama mas Rajana apa kabar? kok ga ngabarin Ghailan mau kesini?." tanya Ghailan bingung.Ya,biasanya kakak nya ini suka sekali mengabari Ghailan ketika sedang berkunjung ke kotanya,Arunika menjadi yang paling heboh jika sudah berangkat nantinya,apalagi dirinya akan sedikit bawel jika Ghailan tak menjawab cepat pesan dan telepon darinya.
"mba sama mas baik kok,kebetulan mas Rajana ada urusan di sini makanya pas mama bilang kalo kamu Grand Opening toko,mba sama mas singgah dulu" jelas Arunika yang diberi anggukan oleh Ghailan.
"yaudah,mba sama mas duduk aja dulu di dalam,aku mau bagiin roti dulu sama pelanggan" suruh Ghailan tanpa menurunkan Zhialla dari gendongannya,memang rencananya ingin membawa gadis kecil itu berkeliling sambil menyapa para pelanggan.
Arunika yang mendengar itu menggeleng ribut, "eh! gausah lah.. mba ikut sama kamu aja bagi-bagiin roti,kasian kamu udah daritadi kan bagiin bungkusan sebanyak ini" tolak Arunika melihat ke arah totebag yang di pegang oleh Ghailan berisi banyaknya roti yang belum di bagi.
Ghailan menggeleng sambil tersenyum, "gapapa lah mba,lagian aku juga baru buka toko.Belum ada apa-apanya ini,energi aku juga masih banyak" ujar Ghailan.
"udah gapapa,hitung-hitung aku dapet pahala karena bantu kamu", Arunika langsung mengambil beberapa bungkusan roti dari dalam tote bag itu,membagikan beberapa bungkusan kepada suaminya yang sudah berjalan membagikan kepada para pelanggan.Yang awalnya Ghailan kekeh menolak akhirnya pasrah dan ikut berbahagia karena suasana terasa lebih menyenangkan ketimbang dirinya membagi seorang diri.
Pembagian roti itu berlangsung sampai matahari terik sudah semakin naik ke atas permukaan,mereka pun sudah memasuki dalam toko ketika peluh keringat membasahi tubuh.Tak ada percakapan yang berat di antara ketiga insan yang sedang bercanda tawa,paling hanya tingkah laku polos Zhialla yang menjadi perbincangan mereka dan urusan bisnis Rajana ketika berada di kota Bandung.
"jadi,gimana kehidupan kamu selama di Bandung?" tanya Rajana membuka mulut setelah meneguk coffe latte yang disajikan oleh Ghailan.
Ghailan bergumam kecil, "baik-baik aja sih mas,aku ngabisin waktu buat kuliah disini sampe S2,selebihnya aku sibuk ngurus semua pembangunan toko roti aku" jelasnya tak begitu terpikirkan memori dirinya pertama kali datang ke kota tersebut,rencana disini memang untuk memulai karir.
Rajana mengangguk mengerti,dirinya perhatikan raut wajah Ghailan yang tampak tenang dan santai dalam memulai karir menjadi pengusaha,walaupun ia tahu begitu banyak pengorbanan yang ia jalani setelah jadi seperti ini.Walaupun ia penasaran dengan jalan sukses nya Ghailan meniti karir namun, jawaban Ghailan barusan sudah menggambarkan bahwa dirinya sudah lelah dalam membangun usaha ini,kelihatan dari cara dirinya tersenyum sampai kembali terduduk santai di dalam toko yang ia bangun.
Seketika Rajana terpikir bahwa setiap usaha tak akan mengkhianati hasil.
******
Keadaan toko Ghailan kini berangsur sunyi,para pelanggan yang berdesakan kini digantikan dengan karyawan yang membereskan ruangan itu.Roti di etalase juga sudah sedikit demi sedikit mulai habis karena banyaknya pelanggan yang membeli.
Tampak salah satu karyawan sedang memasuki roti ke dalam bungkusan untuk seorang pekerja yang baru selesai bekerja sore ini, "terimakasih sudah membeli,silahkan datang kembali ya pak" ucap ramah karyawan toko roti tersebut.
Ia tarik nafas lega ketika menyelesaikan pembelian terakhir sekaligus pelanggan terakhir untuk hari ini.Malam yang terasa tenang pun dihiasi ketenangan juga di toko roti Ghailan yang baru buka beberapa jam yang lalu.Karyawan itu mendudukkan dirinya di kursi kayu di depan mesin kasir,sibuk menghitung jumlah uang yang telah didapatkan di toko tersebut.
Para pekerja lainnya yang sudah selesai membereskan dalam toko diizinkan pulang oleh Ghailan,hanya menyisakan satu karyawan yang tadi melayani pelanggan terakhirnya.
Cklek!, pintu dapur terbuka,menampilkan Ghailan yang baru saja siap memeriksa bagian dapur sebelum ia menutup toko tersebut.
"Kevin,pelanggan udah habis?" ucap Ghailan menutup pintu dapur,mengeringkan tangannya menggunakan tisu ketika selesai mencuci tangan.
Karyawan itu menoleh dan langsung berdiri sambil tersenyum kecil kepada Ghailan, "sudah pak,tadi pelanggan yang terakhir.Rotinya juga tinggal satu" jawab Kevin sopan.
Ghailan mengangguk paham sambil memperhatikan suasana toko lebih lanjut, "yaudah kamu boleh pulang ya,roti sisa itu kamu bawa pulang aja.Sayang juga kalo dibuang" ucap Ghailan memberi izin.
"wahh.. terimakasih banyak ya pak" ,Kevin yang sudah diberi anggukan oleh Ghailan pun mengambil sebuah roti yang masih terpampang jelas di etalase.Ia ambil dengan mata berbinar seolah-olah sangat berharap roti itu akan jatuh ke tangannya.Setelah mengambil,ia pun mengemas perlengkapannya dan izin pulang kepada Ghailan yang masih setia duduk sambil bermain ponsel di depan toko.
"saya izin pulang dulu ya pak,terimakasih untuk hari ini" ,Kevin menunduk sopan.
Ghailan tersentak,langsung menoleh ke arah Kevij yang tersenyum ramah seperti melayani pelanggan tadi, "ah,ya! saya juga berterimakasih ya karena bisa bantu saya ngelayanin pelanggan" jawabnya.
"sama-sama pak" , Kevin pun pergi meninggalkan Ghailan yang terakhir menepuk lembut pundaknya,tak dapat dipungkiri bahwa Kevin juga ikut terpesona karena senyuman manis Ghailan,rasanya lesung pipi pria kekar itu semakin membuat yang melihat ingin terus meminta lebih.
Bahkan seorang Kevin saja masih terbayang!
*******