Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Anak Yatim Piatu Menjadi Milyarder

Anak Yatim Piatu Menjadi Milyarder

nengalfiani | Bersambung
Jumlah kata
46.6K
Popular
338
Subscribe
96
Novel / Anak Yatim Piatu Menjadi Milyarder
Anak Yatim Piatu Menjadi Milyarder

Anak Yatim Piatu Menjadi Milyarder

nengalfiani| Bersambung
Jumlah Kata
46.6K
Popular
338
Subscribe
96
Sinopsis
18+PerkotaanAksiMafiaBalas DendamKonglomerat
Di sebuah Panti asuhan, seorang anak sedang meringkuk di tanah sambil memeluk tubuhnya sendiri, anak itu bernama Arga. Arga baru saja dihukum setelah kepala Panti mendapati Arga mencuri sepotong roti, roti yang akan dia bagi dengan temannya yang bernama Dirga. Arga dan Dirga sama-sama tidak memiliki orang tua, mereka bahkan tidak tahu sejak kapan mereka datang ke Panti itu, yang mereka tahu Panti itu adalah Neraka bagi mereka. Neraka yang nantinya akan membuat kehidupan mereka berubah, kehidupan yang tidak pernah Arga dan Dirga bayangkan sebelumnya.
Sepotong Roti.

Arga meringkuk sambil menahan rasa sakit di punggungnya, saat kepala Panti asuhan terus memukulnya menggunakan ikat pinggang.

Anak sekecil Arga harus membayar harga yang begitu mahal, hanya untuk sepotong roti yang dia ambil dari salah satu kamar penjaga Panti. Roti yang masih Arga pegang tadinya akan dia bagi dengan teman kecilnya bernama Dirga.

Beberapa jam sebelumnya. Arga terbangun karena mendengar suara rintihan, saat Arga membuka mata. Arga melihat Dirga tengah menangis sambil menatapnya.

"Ada apa? Apa kau sakit?" Tanya Arga sambil bangun dari tidurnya kemudian duduk disebelah Dirga. Tangan kecil Arga menyentuh dahi Dirga untuk memeriksa apakah Dirga mengalami demam atau tidak.

"Kau tidak demam." Ucap Arga setelah menyentuh dahi Dirga.

"La... Lapar. Aku lapar," rintih Dirga sambil meremas perutnya yang rata. Perut yang hanya terbungkus kulit.

"Bukannya aku sudah katakan padamu, untuk makan? Kenapa tadi kamu tidak makan?" tanya Arga kesal.

"Aku tidak suka tempe!" jawab Dirga dengan suara pelan karena lemas.

"Apakah kau pikir, karena kau tidak suka tempe ibu Rosa akan memberimu ayam goreng?" Arga bicara dengan nada tinggi.

Dirga hanya bisa menundukkan kepalanya sambil menggeleng pelan,"Tidak. Di sini kita tidak pernah punya pilihan." jawab Dirga putus asa.

"Jika kau tahu, kenapa kau masih keras kepala?"

Dirga tidak menjawab. Mungkin jika waktu bisa diputar, Dirga akan memakan habis makanannya meskipun hanya sepotong tempe goreng dan nasi putih.

"Aku lapar... Arga." Ungkap Dirga.

Arga tahu tidur dengan keadaan perut yang lapar pasti sangat sulit, ditambah mereka tidur hanya beralaskan tikar tipis yang anyamannya sudah banyak yang terlepas. Tapi Arga bisa apa? Karena peraturan di Panti asuhan itu anak-anak tidak boleh makan lebih dari satu kali. Karena jika mereka melanggar, kepala Panti dan juga pengawas tidak akan segan-segan untuk menghukum mereka. Seperti apa yang sedang Arga rasakan sekarang.

"Pencuri! Masih kecil kau sudah beljar jadi maling, Hah?" tanya kepala Panti sambil menendang punggung Arga.

Anehnya meskipun kesakitan, Arga masih memeluk erat roti di tangannya, sesekali Arga juga tersenyum kecil pada Dirga seolah berkata jika dia baik-baik saja.

"Jangan....Tolong berhenti! Kasihan Arga." mohon Dirga pada pengawas dan kepala Panti. Tapi tidak ada orang yang perduli dan mendengar permohonan Dirga.

Dirga terus menangis saat melihat pukulan dan tendangan menghantam tubuh Arga yang kecil. Sedangkan anak-anak Panti asuhan yang lain hanya bisa menutup mata dan telinga mereka karena takut.

"Sudah... Sudah! Anak ini bisa mati jika kita tidak berhenti." ucap pengawas Panti sambil menarik tangan kepala Panti yang terlihat belum puas memberikan pelajaran pada Arga.

"Cuih! Dasar Maling! Awas saja jika kau berani melakukannya lagi. Aku pastikan kau tidak akan pernah selamat." ucap kepala Panti sambil meninggalkan tubuh Arga yang terbaring dilantai.

Tubuh bocah sembilan tahun itu penuh memar dan luka sayatan akibat sabetan ikat pinggang. Tapi ajaibnya Arga bisa bangkit kemudian duduk.

"Terima ini!" ucap Arga sambil menyodorkan roti di tangannya, pada Dirga.

Dirga tidak mengambil roti itu, dia malah menatap Arga sambil berderai air mata.

"Sudah! Sudah aku bersihkan. Sekarang kau harus makan roti itu, karena aku susah untuk mendapatkannya," ucap Arga sambil meringis menahan rasa sakit di sudut bibirnya yang terluka.

"Maafkan aku, Arga!" ucap Dirga sambil memeluk Arga.

"Sudah-sudah! Aku tidak apa-apa, sekarang cepat habiskan rotinya sebelum penjaga kembali dan mengambil rotinya." perintah Arga.

"Kita makan sama-sama." Dirga membelah roti itu menjadi dua kemudian memberikan salah satunya pada Arga.

"Kau juga harus makan, Arga. Kita harus kuat agar bisa cepat keluar dari tempat ini." ucap Dirga.

"Terimakasih. Aku berjanji padamu, jika kita pasti keluar dari tempat ini." ucap Arga sambil menerima potongan roti dari tangan Dirga.

Setelah makan Dirga dan Arga berusaha untuk tidur. Arga yang kesakitan memilih berbaring membelakangi Dirga. Karena Arga tidak ingin Dirga melihat saat dia meringis kesakitan.

Keesokan paginya semua anak yang ada di Panti asuhan dibangunkan.

"Cepat bangun! Setelah itu pergi mandi, gunakan pakaian terbaik yang kalian punya. Karena akan ada keluarga kaya raya yang datang untuk mengadopsi salah satu dari kalian! Jadi, bersikaplah dengan baik agar mereka terkesan." ucap Ibu Rosa.

Arga yang mendengar kabar jika akan ada yang datang untuk mengadopsi salah satu dari mereka langsung menatap Dirga sambil tersenyum senang.

"Kau dengar Dirga? Sebenar lagi kita akan keluar dari tepat ini." ucap Arga penuh keyakinan.

"Kenapa kau hanya diam? Ayo, kita pergi mandi." ajak Arga sambil menarik tangan Dirga yang masih diam berdiri sambil menatapnya.

Arga yang bingung dengan sikap Dirga. langsung bertanya pada Dirga apa yang sebenarnya sedang Dirga pikirkan, hingga membuat Dirga diam seperti itu?

"Kau tidak dengar? Kepala Panti bilang, orang itu datang untuk mengadopsi salah satu dari kita. Itu tandanya jika Kau, atau Aku yang terpilih kita akan berpisah." ucap Dirga.

Arga yang tadinya ceria dan semangat langsung ikut terdiam.

"Aku tidak ingin berpisah denganmu, Arga! Kau sudah seperti Kakak untukku," ungkap Dirga.

"Jika orang itu memilih Ku, Aku akan kembali untuk menjemputmu, Dirga. Kau juga harus melakukannya, jika kau yang terpilih." pesan Arga pada Dirga.

"Janji?" tanya Dirga seraya mengulurkan jari kelingkingnya.

"Janji." jawab Arga sambil menautkan jari mereka sebagai simbol perjanjian yang mereka buat.

Setelah itu Arga dan Dirga ikut mandi bersama anak-anak yang lain. Mereka juga mengikuti perintah kepala Panti untuk menggunakan pakaian terbaik yang mereka punya, kemudian mereka berdiri berbaris didepan pintu masuk untuk menyambut tamu yang akan membawa salah satu dari mereka keluar dari tempat mengerikan itu.

"Liat! itu mereka." ucap salah satu anak sambil menujuk ke arah parkiran saat melihat mobil mewah berwarna hitam masuk ke sana.

"Waah...Mobilnya bagus, pasti mereka orang kaya." ucap salah satu anak yang lain.

"Jika aku yang dipilih, Aku akan meminta mereka membelikan ku, ayam goreng." celetuk salah satu anak yang sudah berkhayal akan hidup enak jika dia terpilih nanti.

Arga dan Dirga hanya bisa saling pandang sambil bergandengan tangan. Karena mereka berdua sudah berjanji. Jika salah satu dari mereka terpilih, makan dia akan kembali untuk membawa yang tidak terpilih untuk pergi dari tempat itu.

Dari dalam Panti, Arga, Dirga dan juga anak-anak yang lain bisa melihat jelas dua orang berpakaian rapih dan mewah turun dari mobil setelah sopir mereka memabukkan pintu. Tapi sebelum kedua orang itu masuk, tiba-tiba kepala Panti menarik tangan Arga.

Dirga langsung menoleh kebelakang setelah pegangan mereka terlepas.

Lanjut membaca
Lanjut membaca