

“Kok gini lagi, Tar? Kemarin kayaknya sudah di-breaf.”
Gentar mengusap wajahnya kasar, emosinya tertahan karna di depannya ini satu-satunya ladang uang yang ia miliki. Ia akan berperilaku sopan selagi Pak Sukron tak menyenggolnya, tak peduli seberapa stresnya dia tak tidur semalam.
Tangannya meraih satu map proposal yang penuh dengan coretan pulpen merah milik pak Sukron, memberi hormat sekadar dan keluar dari ruangan. Setelah duduk di kursi hitam miliknya, Guntur merenggangkan tangannya ke atas menyebarkan bau keteknya ke meja sebrang.
“Tar, Gentar, kayaknya di hidup Lo nggak ada yang bisa dipamerin ya?” celetuk Jono, rekan kerjanya di meja sebrang.
Gentar tersenyum tipis. “Pak Jono kan sudah berpengalaman, sudah punya anak juga ya? Pasti sudah ada yang dipamerin.” Tangannya mulai merevisi bagian proposal yang harus dibenahi tadi ketika rekannya itu tertawa dan mulai berbangga diri.
Sesudah map diletakkan di meja dalam ruangan pak Sukron, Guntur mengemas alat tulisnya dan wadah bekal yang isinya tinggal sendok besi. Melangkahkan kaki ke absen pulang dengan celotehan Jono yang tiap hari begitu-begitu saja.
Hidupnya bahkan tak ada spark yang membuatnya menonjol di antara banyak orang di komplek perumahannya ini, sepanjang Gentar membawa motor ia melamun bahkan sampai tak sadar melindas seekor kucing. Memarkirkan motor, lekas menyingkirkan kucing yang terlindas kakinya dan seperti akan mati itu ke selokan karna posisi sebelumnya ada di tengah jalan raya.
Sampainya di halaman rumah sudah terparkir dua mobil berwarna abu-abu dengan suara ramai seperti rumah yang Gentar tinggali seakan juga rumah yang mereka tinggali juga, sedangkan ayahnya yang sudah lanjut usia itu menyisir bunga dari kumis kucing sampai rontok satu persatu. Dengan frustasi, Guntur melmpar helm-nya sembarang arah dan segera menuntun ayahnya ke dalam rumah.
Terlihat pamannya yang paling bungsu berteriak ke pamannya yang nomor dua, membuat anak mereka jengah dan memilih bercengkrama dengan handphone mereka masing-masing.
“Mereka siapa? Lo siapa?” Celoteh Ayahnya sambil menunjuk hidung Gentar.
“Akhirnya muncul juga Lo, Tar!” Paman bungsunya---Wito merangkul bahunya sok akrab, Gentar mengenyahkan rangkulan itu. Ibarat suhu, suhu yang ia punya sekarang naik drastis, napasnya mulai tak beraturan lantas ia meraih vas langka milik almarhum neneknya dan ia lempar ke lantai.
Pecahannya terciprat ke berbagai arah bahkan mengenai kakinya dan kedua pamannya juga ayahnya. Mereka uring-uringan sambil menyeret anak-anak mereka keluar dari sini, melajukan mobil mereka pulang ke rumah masing-masing.
Menyisakan Gentar dan ayahnya dengan keadaan rumah yang berantakan.
Mengambil obat merah untuk luka luar, lantas mengoleskannya pada luka kaki ayahnya dari sekian banyak helai rambutnya rontok karna jambakan ayahnya ketika ia mencabut pecahan vas yang menancap.
“LO SIAPA SIH, AH! SOK IYE LO ANJING!” Ayah Gentar menekan pecahan yang menancap di kaki Gentar hingga membuatnya meringis kesakitan.
“AGGHH! STOP BANGSAT! SIAPA YANG MAU JADI ANAK LO! NGGAK PEDULI UDAH! GUA CAPEK!” Gentar mendorong ayahnya hingga menubruk meja dan masuk ke kamar dengan membanting pintunya.
Kedatangan saudara ayahnya kemari tak membuat dia bodoh dengan menyambut mereka baik-baik, mereka hanya membahas tentang rumah ini, rumah peninggalan sang nenek.
Merebahkan diri di kasur yang tak begitu empuk, mengatur napasnya kembali normal dan mulai memejamkan matanya. Setelah matanya menutup, perlahan napasnya mulai teratur.
---
Napasnya mulai sesak karna air masuk ke dalam hidungnya, Gentar membuka mata sambil meraih sesuatu yang bisa ia jadikan penolong dari arus yang begitu derasnya. Ia meloncat dengan luwesnya ke tepian.
“Ap- uhuk! Apa-apaan ini?” herannya setelah ia selamat dari arus yang muncul tiba-tiba, ataukah dia yang tiba-tiba muncul di sungai ini?
Pandangannya beredar ke sekitar, anehnya rumah-rumah di kompleknya membesar bahkan sungai di mana ia hampir tenggelam tadi seakan hanyalah selokan dari kompleknya. Tapi, tunggu dulu. Sejak kapan ada sungai di sini? Atau dia yang mengecil?
Pandangannya tertuju pada anak tetangganya yang berumur 4 tahun menjadi seperti sumo di hadapannya, ia yakin telah mengecil. Anak itu menyadari tatapannya segera berlari ke arahnya, Guntur yang panik mulai mundur namun ia merasakan dua kaki belakangnya terluka. Tapi tak apa masih ada dua kaki depan yang bisa diajak berlari.
Untung saja anak itu berlari seperti sedang slow motion jadi ia yang berbelok ke sebuah gang sempit dan sulit diakses orang seukuran itu, jadi mudah menghindarinya, bersembunyi setelahnya.
“Tunggu. ANJING! GUA PUNYA EMPAT KAKI!”
“Tapi kalo mimpi kok kaki beneran sakit sih yang belakang? Ini beneran gua jadi kucing? AGH! APASIH NGGAK JELAS ANJING!” Frustasi memandang dua kaki belakangnya yang seperti terlindas sesuatu, benar-benar tak berbentuk.
Tanpa sadar seekor anjing sudah menunggu di ujung gang, sepertinya mendengar beberapa teriakannya tadi. Sial!
Gentar berlari kembali keluar gang menuju gang baratnya, di depannya kebetulan ada semak belukar yang rimbun, sedangkan di belakang sana anjing itu masih mengejarnya sambil menggonggong. Kakinya yang kecil berusaha menyingkirkan ranting yang menghalangi calon persembunyiannya, berhasil. Ia memaksa dua kakinya yang tak berbentuk untuk masuk juga, semak ini kaku sehingga bisa kembali seperti semula, menutupinya dengan sempurna.
Anjing melewatkan tempatnya bersembunyi, lantas ia bisa bernapas lega. Ia lelah, ia benar-benar tak punya tenaga lagi untuk berpikir. Ingin sekali ia emosi karna frustasinya di ujung tanduk, merasakan sakit yang teramat sangat juga ia sekarang mulai merasa lapar.
“Udah gila, sih. Ini pasti mimpi kan? Yaudah tidur dulu, ntar juga tiba-tiba bangun di kasur lagi. Hm, ide bagus.” Matanya mulai terpejam.
Gatal! Ia merasa sangat gatal di seluruh tubuhnya, kakinya terasa seperti ada yang menggerogoti, perih dan serasa dilubangi. Bahkan bau busuk tercium di hidungnya yang sangatlah tajam, ia membuka mata dan kaget ternyata dua kaki belakangnya sudah hadir belatung.
Gentar merasa mual entah karna bau busuk di badannya sendiri ataukah karna asam lambungnya yang naik. Dengan rasa pusing yang parah dan mengabaikan belatung yang mulai masuk ke setiap lubang di tubuhnya, ia segera mencari makanan.
Di depan sana ada makanan sisa baru dibuang tetangganya, ia tak melewatkan kesempatan ini, naas ia dihadang tiga kucing telon.
“Please-lah, Gua laper banget ....” Sayangnya tiga kucing itu hanya mengeong garang seperti anjing tadi yang hanya menggonggong.
Padahal Gua lagi jadi kucing kayak mereka, tapi meskipun Gua jadi hewan ternyata kami nggak bisa ngerti bahasa masing-masing, batinnya.
Gentar ambruk, napasnya berhenti, pandangan terakhirnya adalah tiga kucing itu lanjut makan tanpa peduli dirinya.
---
Mata Gentar terbuka kembali, penglihatannya sebelah fokus dan sebelah lagi kabur.
“AGH! GUA NGGAK MAU JATUH!”