

Aku tidak pernah pandai mengingat tanggal.
Hari, bulan, serta tahunpun selalu terasa kabur bagiku
seolah waktu tidak benar-benar berjalan lurus, melainkan berputar mengelilingi hal-hal yang ingin kulupakan.
Namun ada satu jenis kenangan yang tidak membutuhkan kalender untuk hidup.
Ia bertahan di sela napas, di balik kelopak mata yang tertutup, di antara detak jantung yang terlalu tenang untuk seseorang yang seharusnya masih muda.
Kenangan mengenai berbagai kejadian.
Aku berdiri di balkon tertinggi Akademi Kerajaan, tempat para siswa jarang datang kecuali untuk mencari udara segar atau kesunyian yang tidak bisa mereka temukan di aula-asrama. Batu marmer di bawah kakiku dingin, bahkan di sore hari.
Langit perlahan berubah warna ke emasan pucat menuju jingga, lalu biru kelam yang menelan sisa cahaya.
Di bawah sana, halaman akademi ramai oleh suara tawa, langkah kaki tergesa, dan obrolan yang terasa ringan.
Mereka semua terlihat hidup. Normal. Seolah dunia tidak pernah menuntut apa pun selain masa depan yang cerah dan mimpi-mimpi sederhana.
Aku menyesap minuman pahit dari botol kecil di tanganku.
Bau alkohol menusuk, cukup kuat untuk membuat orang-orang berpaling jika mereka tahu aku ada di sini.
Reputasi memang seperti itu sekali melekat, ia akan mengerjakan sisanya sendiri.
Padahal aku tidak mabuk.
Aku hanya berdiri diam, memandangi dunia yang terus bergerak tanpa menungguku.
Aku sering bertanya-tanya
"apakah hidup memang terasa seperti ini bagi semua orang?"
Ataukah hanya aku yang selalu berada di luar ritme, seperti nada sumbang dalam lagu yang seharusnya indah?
Mungkin aku ingin sedikit egois, Aku hanya ingin dicintai.
Namun tidak satu pun dari cinta itu berakhir dengan namaku di garis akhir.
Angin sore bertiup lebih kencang, membawa bersamanya suara tawa yang samar,
Juga tanpa izin potongan kenangan yang tidak kuminta.
“Rolan.”
“Apa kau benar-benar berniat membiarkan dirimu menjadi seperti ini?”
Judith.
Namanya selalu datang lebih dulu, bahkan ketika aku tidak memanggilnya.
Ia berdiri di ingatanku dengan postur tegak dan tatapan tajam. Rambut hitamnya terikat rapi, mata merah cerahnya menyala bukan karena kekuatan, melainkan emosi yang tidak pernah ia sembunyikan dariku.
Judith tidak pernah pandai berpura-pura. Ia marah ketika marah, tersenyum ketika bahagia, dan mencintaiku dengan cara yang tidak mengenal setengah-setengah.
Kami tumbuh bersama, bukan hanya sebagai anak bangsawan, tetapi sebagai dua anak yang sama-sama dibebani ekspektasi sejak terlalu dini. Dunia selalu mengawasi Judith menilainya,
menunggu ia bersinar sesuai harapan. Dan aku… aku adalah bayangan di sampingnya.
Dulu, aku tidak keberatan.
Karena di hadapannya, aku tidak perlu menjadi apa pun selain diriku sendiri.
Namun entah sejak kapan, jarak itu mulai muncul. Bukan jarak fisik melainkan jarak yang terbentuk ketika seseorang terus melangkah maju,
sementara yang lain memilih berhenti agar tidak terlihat terlalu mencolok.
“Aku tidak mengerti,”
katanya suatu malam, suaranya bergetar oleh emosi yang ia coba kendalikan.
“Kau dulu selalu berada di depan semua orang dan mereka mengakui itu. Tapi sekarang kau memilih tenggelam di lumpur ini minuman, wanita, uang. Untuk apa?”
Aku tidak menjawab.
Bukan karena aku tidak punya jawaban, melainkan karena jawaban itu tidak akan membuatnya bahagia.
Dan aku mencintainya terlalu tulus untuk membiarkan kebenaran menghancurkan hidupnya.
Pertunangan kami dibatalkan dengan alasan yang rapi, formal, dan dingin. “Perbedaan pandangan masa depan,” kata mereka. “Ketidakcocokan karakter” tulis dokumen resmi.
Namun yang tidak tertulis ialah tatapan Judith hari itu
bukan penuh kebencian, melainkan kekecewaan yang lebih menyakitkan.
Ia pergi bukan karena berhenti mencintaiku.
Ia pergi karena tidak sanggup mencintai
seseorang yang tampak menyerah pada hidupnya sendiri.
Aku memejamkan mata.
Dadaku terasa sesak, seperti ada sesuatu yang ingin keluar namun tidak menemukan jalan.
Aku ingat hari pertamaku di Akademi Kerajaan.
Banyak yang mengenal namaku, namun tidak dengan rasa hormat.
Mereka mengenalku sebagai bangsawan rusak, calon gagal, seseorang yang hanya diterima karena nama keluarga, bukan kemampuan. Aku tidak membantah. Aku tidak meluruskan. Diam adalah bentuk perlindungan paling aman.
Di tengah tatapan merendahkan dan bisikan sinis itu, ada satu orang yang duduk di bangku kosong di sampingku, seolah tempat itu memang disediakan untuknya.
“Aku Adeline.”
“Kau tidak keberatan, kan?”
Suaranya lembut, hampir ragu. Rambut putihnya jatuh hingga bahu, kontras dengan mata biru pekat yang memancarkan rasa ingin tahu polos bukan penilaian.
Aku mengangguk, lebih karena refleks daripada niat.
Sejak hari itu, Adeline selalu duduk di sampingku.
Ia tidak bertanya tentang reputasiku. Tidak menyinggung gosip.
Tidak menunjukkan ketakutan ataupun kekaguman. Ia hanya… ada. Dan entah bagaimana, kehadirannya terasa seperti sesuatu yang telah lama hilang dari hidupku.
“Kau tidak terlihat seperti yang mereka katakan,”
ujarnya suatu hari, sambil membaca buku di tangannya.
“Dan seperti apa yang mereka katakan?” tanyaku.
Ia tersenyum kecil. “Seorang bangsawan bejat mesum dan gila kekuasaan.”
Aku tertawa singkat
tawa tanpa humor. “Mungkin mereka benar.”
Adeline menutup bukunya.
“Kalau begitu, kenapa kau masih datang ke kelas setiap hari?”
Pertanyaan sederhana. Namun aku tidak bisa menjawabnya.
Ia ingin menjalani kehidupan biasa. Itu yang baru kuketahui kemudian.
Tidak ingin dikenal, tidak ingin diistimewakan. Ia menyembunyikan banyak hal, namun tidak pernah berbohong dalam sikapnya padaku.
Dan perlahan, tanpa kusadari, aku mulai menunggu hari-hari di mana aku bisa duduk di sampingnya, mendengar suaranya, melihat senyumnya yang jarang namun tulus.
Perasaan itu tumbuh diam-diam.
Tidak menuntut,
Tidak memaksa.
Namun takdir tidak pernah peduli pada hal-hal yang tumbuh perlahan.
Ketika kebenaran tentang dirinya mulai terkuak, jarak yang sama kembali muncul.
Kali ini bukan karena aku yang memilih menjauh, melainkan karena dunia memanggilnya kembali ke tempat yang seharusnya.
“Aku ingin tetap di sini,” katanya suatu malam. “Bukan sebagai siapa-siapa. Hanya… Adeline.”
Aku menatapnya lama, lalu menggeleng pelan.
“Jika kau melakukan itu, kau akan kehilangan lebih dari yang bisa kutanggung untukmu.”
Ia terdiam.
Kami tidak pernah mengucapkan kata perpisahan. Namun pagi berikutnya, bangku di sampingku kosong.
Langit kini benar-benar gelap.
Lampu-lampu akademi menyala, satu per satu, seperti bintang buatan yang berusaha meniru langit malam.
Aku menyandarkan punggung ke pagar balkon, menengadah, dan menghembuskan napas panjang.
Masih ada satu kenangan yang selalu datang terakhir.
Mungkin karena ia yang paling lama menungguku di masa lalu.
“Kau tahu, Rolan.”
“Aku tidak pernah berharap kau memilihku.”
Theoderith mengatakan itu sambil tertawa kecil, seolah pernyataannya bukan sesuatu yang penting.
Rambut merah cerahnya berkibar tertiup angin, mata emasnya tajam dan jujur
selalu seperti itu.
Ia adalah teman masa kecilku.
Putri tunggal keluarga merchant terbesar di kerajaan.
Dunia yang ia tinggali berbeda dari dunia
bangsawan dan akademi, namun kami sering bertemu di persimpangan kepentingan, di sela kerja sama, di ruang-ruang yang tidak pernah tercatat sejarah.
Theoderith tahu segalanya.
Tentang reputasiku yang palsu.
Tentang diriku yang tidak pernah mabuk.
Tentang tempat-tempat yang kusebut rumah kedua, yang dunia kira sebagai sarang keburukan, padahal sesungguhnya adalah perlindungan bagi mereka yang tidak punya tempat pulang.
Ia tidak pernah memintaku menjelaskan.
Dan mungkin karena itu, cintanya terasa paling menyakitkan
karena ia memilih pergi bukan karena salah paham, melainkan karena memahami terlalu banyak.
“Aku akan pergi,” katanya suatu hari, tanpa drama.
“Ke mana?” tanyaku, meski aku sudah tahu jawabannya.
“Ke jalan yang tidak bisa kau ikuti.”
Aku tidak menahannya.
Karena aku tahu, jika ia tetap tinggal, dunia akan menghancurkan keluarganya terlebih dAku menatap botol kosong di tanganku, lalu meletakkannya di lantai.
Aku tidak mabuk.
Tidak juga linglung.
Aku hanya lelah.
Dicintai oleh banyak orang, namun selalu dilepas demi takdir yang lebih besar.
Mungkin beginilah peranku sejak awal.
Menjadi titik awal cerita orang lain.
Bukan akhir bahagia siapa pun.
Jika suatu hari seseorang membaca kisah ini, mungkin mereka akan mengira aku lemah. Atau bodoh.
Atau pengecut karena tidak memperjuangkan cinta-cinta itu hingga akhir.
Namun hanya aku yang tahu
terkadang, mencintai berarti melepaskan lebih dulu.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah menjauh dari balkon.
Di balik dinding Akademi Kerajaan ini, hidupku akan terus berjalan.
Kelas, ujian, eksplorasi, maupun peran yang terus kumainkan di hadapan dunia.
Namun di dalam diriku, sesuatu telah berakhir sejak lama.
Dan mungkin… dari kehancuran itu, kisah ini benar-benar dimulai.