Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Nyai Danyang

Nyai Danyang

Topade Wisdom | Bersambung
Jumlah kata
29.3K
Popular
110
Subscribe
15
Novel / Nyai Danyang
Nyai Danyang

Nyai Danyang

Topade Wisdom| Bersambung
Jumlah Kata
29.3K
Popular
110
Subscribe
15
Sinopsis
FanficFanficSpiritualDunia GaibSupernatural
Di sepanjang pesisir Pantura yang berangin asin dan sarat mitos, hidup sebuah kepercayaan lama tentang sintren—tarian sakral yang bukan sekadar pertunjukan, melainkan jembatan antara dunia manusia dan alam gaib. Dari tanah itulah lahir legenda Nyai Danyang, sosok perempuan penjaga desa yang namanya hanya berani disebut dalam bisik doa dan upacara adat. Cerita bermula dari Siti Sulasi, gadis desa sederhana yang memiliki garis keturunan penari sintren. Sejak kecil, Siti Sulasi kerap mengalami mimpi-mimpi aneh tentang seorang perempuan berjubah putih dengan mata teduh namun menyimpan kesedihan mendalam. Tanpa ia sadari, darah Nyai Danyang mengalir dalam tubuhnya—darah yang menuntut pengabdian, bukan kemerdekaan. Ketika desa dilanda kekeringan, wabah, dan konflik akibat masuknya kepentingan modern yang merusak tatanan adat, para sesepuh memutuskan menghidupkan kembali ritual sintren yang telah lama ditinggalkan. Siti Sulasih, dipilih menjadi penari utama. Dalam setiap ritual pertunjukan, jiwanya kian terikat pada roh Nyai Danyang, membuka tabir masa lalu tentang cinta terlarang, pengkhianatan, dan sumpah pengorbanan yang menjadikan sang Nyai sebagai penunggu abadi Pantura. Di tengah pergulatan batin antara takdir dan keinginan untuk hidup bebas, Siti Sulasi harus memilih: melepaskan warisan leluhur dan membiarkan desa kehilangan penjaganya, atau menerima peran sebagai penerus Nyai Danyang, meski berarti mengorbankan masa depan dan cintanya sendiri. Nyai Danyang adalah novel yang merangkai mistik, budaya sintren, dan realitas masyarakat Pantura—sebuah kisah tentang perempuan, tradisi, dan harga yang harus dibayar demi menjaga keseimbangan antara dunia yang tampak dan yang tak kasatmata.
BAB SIJI

WAK SUTIAH DAN TANAH YANG MENGINGAT

Kampung Karang Genah selalu terbangun lebih awal daripada matahari.

Bukan karena orang-orangnya rajin, melainkan karena hidup menuntut demikian. Sebelum cahaya benar-benar naik dari balik pepohonan dan pematang sawah, tubuh-tubuh telah bergerak. Perempuan menata tampah berisi gaplek di halaman. Lelaki mengikat cangkul dan arit, berjalan ke ladang dengan langkah yang sudah dihafal bertahun-tahun.

Tanah di Karang Genah tidak pernah benar-benar ramah. Ia memberi hidup, tetapi menuntut tenaga. Retaknya panjang-panjang di musim kemarau, becek dan lengket di musim hujan. Orang-orang terbiasa membaca tanda-tandanya tanpa perlu berkata apa-apa.

Di ujung kampung, dekat pohon asam tua yang akarnya menjalar seperti tangan-tangan keriput, berdiri sebuah rumah bambu yang sudah nyaris menyatu dengan tanah. Di sanalah Wak Sutiah tinggal.

Tak ada yang tahu pasti berapa umurnya. Orang-orang hanya mengingat bahwa sejak mereka kecil, Wak Sutiah sudah sepuh. Rambutnya putih seluruhnya, kulitnya kering, tetapi langkahnya masih tegap. Ia jarang keluar rumah, dan jika keluar, selalu ada urusan yang tidak bisa dianggap ringan.

Wak Sutiah bukan orang terpelajar. Ia tidak bisa membaca huruf. Tetapi orang-orang Karang Genah tahu, ia membaca hal-hal yang tidak tertulis. Tanah, air, angin, dan mimpi—semuanya seperti berbicara padanya dengan bahasa yang hanya ia pahami.

Pagi itu, Wak Sutiah duduk bersila di serambi rumahnya. Di depannya terletak selendang putih kusam, kembang tujuh rupa, dan segenggam beras kuning. Tidak ada doa yang keras. Tidak ada gerak yang tergesa. Segalanya dilakukan seperti kebiasaan lama yang tidak perlu diingat-ingat lagi.

Angin yang semula berembus dari arah ladang tiba-tiba berhenti.

Ayam-ayam yang biasanya ribut, mendadak diam. Daun pohon asam menggantung tanpa gerak, seolah menahan napas.

Wak Sutiah membuka matanya perlahan.

Ia tidak terkejut.

Hal seperti itu bukan pertama kali ia alami.

“Sudah dekat,” gumamnya pelan, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri.

“Yang diminta sudah tiba waktunya.”

Dalam benaknya muncul bayangan seorang anak perempuan.

Namanya Siti Sulasi.

Anak itu belum genap sepuluh tahun. Tubuhnya kecil, kulitnya cokelat kusam oleh matahari, rambutnya sering dibiarkan terikat seadanya. Tidak ada yang istimewa dari wajahnya. Namun orang-orang kampung sering berkata, Siti Sulasi membawa rasa tenang ke mana pun ia pergi. Anak-anak lain mudah ribut, mudah bertengkar. Siti Sulasi lebih sering diam.

Ia adalah anak tunggal Naswa dan Mak Karpiah.

Naswa bekerja sebagai buruh tani. Setiap pagi ia berangkat sebelum matahari tinggi, mencangkul sawah orang, menanam jagung, atau membersihkan ladang singkong. Tangannya kasar, bahunya lebar, dan wajahnya selalu tampak lelah. Ia bukan orang yang gemar memikirkan perkara adat atau kepercayaan lama. Baginya, yang penting perut terisi dan hari bisa dilewati tanpa masalah.

Mak Karpiah berbeda. Ia tumbuh dengan cerita-cerita lama yang disampaikan berbisik oleh perempuan-perempuan sepuh. Ia tahu arti sintren. Ia tahu apa yang sering tidak diucapkan terang-terangan. Itulah sebabnya, setiap kali memandang anaknya, dadanya kerap terasa berat tanpa sebab yang jelas.

Ketika Wak Sutiah melangkah keluar rumah di siang hari, Kampung Karang Genah seperti tahu ada sesuatu yang tidak biasa.

Perempuan-perempuan berhenti membalik gaplek. Lelaki menoleh dari kejauhan. Tidak ada yang menyapa. Tidak ada yang bertanya. Wak Sutiah berjalan pelan, menyusuri jalan tanah yang sudah ia hafal dengan baik.

Ia berhenti di depan rumah Naswa.

Pintu bambu diketuk tiga kali. Tidak keras, tetapi cukup untuk membuat Mak Karpiah merasa lututnya melemas. Ia membuka pintu dengan tangan gemetar.

“Silakan masuk, Wak,” katanya pelan.

Wak Sutiah masuk tanpa basa-basi. Matanya langsung tertuju pada Siti Sulasi yang berdiri di sudut rumah. Anak itu menatap balik, tanpa takut, tanpa senyum. Seolah ia sudah menunggu.

Tatapan mereka bertemu.

Wak Sutiah mengangguk kecil.

“Anakmu sudah waktunya,” katanya tenang.

“Yang menjaga tanah ini sudah memilih.”

Mak Karpiah terduduk.

Naswa yang sejak tadi berdiri di belakangnya, mengepalkan tangan.

“Kalau kami tidak mau?” tanya Naswa, suaranya berat.

Wak Sutiah menoleh perlahan.

“Tidak ada yang memaksa,” katanya.

“Hanya akibat yang akan tetap berjalan.”

Ia berdiri, melangkah ke pintu.

“Satu minggu,” katanya sebelum pergi.

“Siapkan hati. Yang dipinjam bukan rumahnya. Anaknya.”

Wak Sutiah pergi tanpa menoleh.

Di dalam rumah, tidak ada tangis yang keras. Hanya napas yang terasa pendek. Siti Sulasi berdiri di tempatnya, belum mengerti apa yang baru saja ditentukan orang-orang dewasa atas dirinya.

Di luar, tanah Karang Genah tetap diam.

Namun bagi Wak Sutiah, tanah itu telah berbicara.

Dan seperti semua yang telah lama ia pelajari,

tanah tidak pernah salah mengingat.

Lanjut membaca
Lanjut membaca