

Hujan baru saja reda ketika Arven melangkah pulang dari bengkel pandai besi tempat ia bekerja. Sore itu langit kelabu menggantung rendah, seolah ikut menekan pundaknya yang sudah lama terasa berat oleh ejekan dan hinaan orang-orang desa. Jalan tanah masih basah, udara dingin menusuk, dan suara gemericik air dari atap rumah-rumah tua memecah kesunyian.
Arven menarik napas panjang.
Hari ini… sama seperti kemarin. Sama seperti setiap hari.
“Arven! Jangan lupa, wajahmu itu jangan terlalu dekat sama api! Bisa-bisa makin meleot!” seru salah satu anak muda desa tadi siang, disambut gelak tawa keras yang menusuk telinga.
Ia tak menjawab. Bahkan ketika punggungnya terasa panas oleh tatapan merendahkan, Arven hanya menunduk dan terus bekerja. Bukan karena ia sudah kebal—justru karena ia terlalu letih untuk membalas.
Sesampainya di rumahnya yang berada di tepi hutan, Arven melepaskan sepatu yang becek, masuk, dan menyalakan lampu minyak. Rumah itu kecil, sederhana, tapi selalu memberinya ketenangan. Di atas meja kayu tua, tergeletak sebuah kotak kayu panjang yang ia temukan pagi tadi di gudang peninggalan kakeknya. Kotak itu dilapisi debu tebal dan ukiran-ukiran yang tak bisa ia baca.
Arven mendekat, mengusap permukaannya.
Ada rasa aneh yang merayap di kulitnya saat menyentuh ukiran itu—dingin, seperti sentuhan logam yang sudah lama terpendam di dalam tanah.
“Kenapa kakek menyembunyikan ini?” gumamnya.
Ia membuka kotaknya. Di dalamnya tergeletak sebuah cermin kecil berbentuk lingkaran lonjong, dengan bingkai hitam mengkilap seperti terbuat dari batu obsidian. Ukiran naga dan tulisan kuno melingkari tepiannya, menebarkan aura yang… asing.
Cermin itu tak memantulkan cahaya. Bahkan ketika Arven mengangkatnya mendekati lampu minyak, permukaannya tetap gelap, seolah menyerap cahaya.
Alis Arven bertaut.
“Cermin macam apa ini?”
Saat ia menyentuh bagian belakang cermin, ukiran pada bingkai tiba-tiba berpendar samar—merah gelap, seperti bara api yang baru mulai menyala.
Arven tersentak mundur.
“Apa tadi—”
Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, permukaan cermin bergetar tipis seperti riak air, dan perlahan… menampilkan wajahnya.
Wajah yang sama.
Wajah yang selalu menjadi bahan ejekan.
Hidungnya yang sedikit bengkok, kulitnya gelap terbakar matahari, rambutnya kusut, dan tatapannya… lelah. Sangat lelah.
Arven menghela napas getir.
“Inikah yang mereka lihat? Tak heran…”
Tapi saat tatapannya kembali naik, ia tertegun.
Wajah di dalam cermin… berubah.
Sedikit.
Lalu banyak.
Lalu sepenuhnya berbeda.
Hidungnya perlahan melurus.
Garis rahangnya menajam.
Kulitnya menjadi halus dan bercahaya.
Mata yang tadinya redup kini tampak jernih dan penuh pesona.
Arven membeku. Itu… dirinya?
Bukan. Tidak mungkin.
Namun sosok itu—versi sempurna dirinya—menatap balik dari dalam cermin sambil tersenyum kecil… sebuah senyum yang tak pernah Arven lakukan.
“S-siapa kau?” bisik Arven.
Pantulan itu bergetar… lalu bergerak.
Tidak mengikuti gerakan Arven.
Itu bukan bayangan.
Itu makhluk lain di balik permukaan cermin.
“NAMA… MU…” suara berat dan bergema terdengar dari dalam bingkai cermin. Suara itu tak seperti suara manusia—seolah berasal dari dalam gua yang tak berdasar.
Arven mundur beberapa langkah, jantungnya berdegup tak karuan.
“Apa yang kau inginkan?!”
Cermin itu memancarkan cahaya merah pekat, menyilaukan. Udara di dalam rumah bergetar, tirai jendela berkibar seolah diterpa angin kencang, dan lantai berderit keras.
“NAMA… MU…” ulang suara itu, lebih kuat.
“A-Arven!” jawabnya spontan karena ketakutan.
Suara itu terdiam.
Lalu permukaan cermin kembali beriak seperti air yang dilempar batu.
Tiba-tiba, Arven merasakan sesuatu menarik wajahnya—bukan fisiknya, tapi… bentuk dirinya. Jiwanya. Seakan ada tangan tak terlihat yang membentuk ulang wajahnya dari dalam.
Rasa panas menjalar di pipi, rahang, tulang hidung. Ia berteriak, jatuh berlutut, memegang wajahnya yang seperti terbakar tapi tidak terbakar.
“BERI… AKU… KEINGINANMU…” suara itu berbisik, merayap ke telinganya.
“A-apa—apa maksudmu?”
“BERI AKU ALASAN… UNTUK MERUBAH TAKDIRMU…”
Arven menatap cermin itu dengan napas terengah.
Keinginan…?
Alasan…?
Lalu semuanya meledak dalam pikirannya—tatapan merendahkan, hinaan, perlakuan tidak adil, impian kecil yang selalu ia kubur karena wajahnya.
Arven menggertakkan gigi.
“Aku… ingin kesempatan hidup yang layak. Aku ingin… berhenti direndahkan. Aku ingin… wajah yang tidak membuatku malu setiap kali menatap pantulan air.”
Cermin itu bergetar keras.
Lalu—hening.
Permukaannya kembali tenang, gelap… dan menampilkan wajah yang baru.
Wajah Arven—versi paling tampan, paling sempurna, paling memukau yang pernah ia lihat.
Arven perlahan menyentuh pipinya.
Ia tak percaya.
Tulangnya—berbeda.
Kulitnya—halus.
Wajahnya—bukan lagi wajah seorang buruh desa, melainkan bangsawan muda.
Suara dalam cermin berbisik pelan:
“BAYARANNYA AKAN KUAMBIL… KETIKA WAKTUNYA TIBA…”
Arven tersentak, namun sebelum ia bisa bertanya, cahaya merah itu padam. Cermin kembali gelap. Rumah menjadi sunyi.
Arven berdiri perlahan, masih menggenggam cermin itu.
Ia tahu satu hal:
Hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Di luar, di balik pepohonan, sepasang mata kuno berwarna keperakan membuka perlahan… memandangi rumah Arven dari kegelapan.
“Pilihan yang menarik…” bisik suara asing dari hutan.
“Permainan pun dimulai.”
Pagi itu, sinar matahari menembus celah-celah jendela rumah kecil Arven, memantulkan kilau keemasan yang hangat. Namun bagi Arven, dunia terasa asing—terlalu terang, terlalu hening, terlalu… berbeda. Ia baru terbangun setelah malam yang kacau, dan pikirannya masih dipenuhi suara dalam cermin yang menuntut bayaran entah kapan.
Arven bangkit perlahan dari tempat tidur, masih terengah.
Rasanya seperti mimpi—atau mimpi buruk—yang terlalu nyata.
Ia menatap tangannya, lalu meraba wajahnya.
Pipi itu… lebih tirus dan halus. Rahang itu… tegas. Kulit itu… seperti bukan miliknya.
“Aku… benar-benar berubah,” gumamnya, suara bergetar di antara kagum dan takut.
Ia berlari ke ember air yang biasanya ia gunakan untuk mencuci muka. Airnya memantulkan bayangan samar, tapi cukup jelas untuk membuat Arven membeku.
Itu dia.
Atau—seseorang yang menyerupai dia dalam versi yang jauh lebih baik.
Bukan wajah yang selalu ditertawakan.
Bukan wajah yang sering membuatnya menunduk.
Bukan wajah masa lalunya.
“Ini gila…” Arven menyentuh pipinya lagi, memastikan ia tak sedang mimpi.
Namun euforia itu hanya bertahan sesaat karena sesuatu mengetuk pintu rumahnya.
Tok. Tok. Tok.
Arven terkejut.
Jarang sekali ada yang datang pagi-pagi, apalagi ke rumahnya yang jauh dari pusat desa.
“Arven! Kau di dalam?! Ini aku, Tulan!”
Tulan—teman masa kecilnya, satu dari sedikit orang yang peduli padanya. Namun bahkan Tulan pun sering tak berdaya menghadapi perlakuan orang-orang desa pada Arven.
Arven menoleh panik ke cermin kecil di dinding.
Wajah barunya terpampang jelas.
Jika Tulan melihat perubahan ini… apa yang akan ia pikirkan?
Tok! Tok! Tok!
“Arven! Aku mau berangkat ke bengkel! Kau sakit? Kenapa tak muncul pagi ini?”
Arven mengambil napas panjang.
Ia tak bisa bersembunyi. Tidak selamanya. Wajahnya telah berubah, tak mungkin kembali seperti sebelumnya.
Ia membuka pintu.
Tulan, pria kekar dengan wajah polos dan rambut cokelat kusut, langsung menyunggingkan senyum lebar—yang kemudian membeku.
Ia memandang Arven dari atas ke bawah, matanya melebar seakan melihat hantu.
“A-Arven…? Kau… siapa?” Tulan mundur setengah langkah, tangan menggenggam gagang pintu seolah siap kabur.
Arven tersentak.
“Aku ini! Arven!”
“Itu mustahil… Arven wajahnya… kau tahu sendiri!” Tulan menatapnya penuh curiga, lalu mendekat perlahan. “Kau… kembarannya? Atau kau penyihir? Atau—”
“Tulan! Ini aku!” Arven mengangkat kedua tangan, putus asa. “Aku menemukan sesuatu. Cermin kuno. Itu… mengubah wajahku.”
Tulan memejamkan mata sejenak, mengusap wajahnya.
“Kau… serius?”
Arven mengangguk dengan wajah tegang.
“Ya. Aku juga tidak paham bagaimana…”
Tulan akhirnya menatap Arven sekali lagi, meneliti setiap detail wajahnya.
“Demi dewa-dewi… kau tampan sekali.”
Arven terbatuk, kikuk.
“Aku… tidak mencari pujian. Aku takut, Tulan. Cermin itu… berbicara.”
Tulan menegang.
“Berbicara?! Dengan suara seram?”
“Kau tahu?” Arven memandangnya heran.
“Arven, aku tinggal di desa ini sama seumur hidup denganmu. Semua benda kuno di sekitar hutan selalu punya masalah. Kalau tidak mengutuk orang, ya memakan jiwa. Kalau tidak memakan jiwa, ya membuat orang kesurupan.” Tulan menyapu wajahnya. “Dan kau… kau membuka kotak di gudang kakekmu?! Apa kau tak belajar dari cerita orang tua?!”
Arven merinding.
Tulan benar. Desa ini memang menyimpan banyak kisah tentang artefak berbahaya.
Tulan menatapnya serius.
“Arven… kita harus melapor ke Tetua! Mereka harus tahu kau memegang benda berbahaya!”
Arven langsung menggeleng kuat-kuat.
“Tidak. Tidak sekarang.”
“Arven—”
“Jika para Tetua tahu, mereka akan mengambil cermin itu. Mereka akan mengurungku, atau menuduhku bermain sihir terlarang.”
Tulan terdiam.
Ia tahu ucapan itu ada benarnya.
Lalu Tulan mendekat, menatap wajah Arven yang baru itu.
“Kau sadar kan… kalau semua orang melihatmu seperti ini, hidupmu akan berubah total.”
Arven menunduk.
Itulah yang ia takutkan—dan ia inginkan—dalam satu waktu.
“Aku… ingin mencobanya, Tulan. Setidaknya sekali. Mungkin… mungkin ini adalah kesempatan hidupku.”
Tulan menghela napas berat.
“Baiklah. Aku ikut. Tapi kalau ada tanda-tanda aneh lagi dari cermin itu… kau harus buang atau kita hancurkan bersama.”
Arven mengangguk, walau dalam hati ia tak yakin cermin itu bisa dihancurkan.
Kedatangan Arven di bengkel pandai besi membuat seluruh desa terdiam.
Suara tukul berhenti. kicau burung terputus.
Semua mata menatap pada satu titik—Arven, dengan wajah tampan yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.
“A-apa… itu Arven?” salah satu wanita berbisik.
“Tidak mungkin… dia itu cuma buruh desa. Mana mungkin berubah jadi begitu?”
“Penyihir mungkin…”
“Tidak, lihat caranya berjalan. Itu memang Arven… tapi seperti… Arven versi bangsawan.”
Arven menelan ludah.
Tulan di sampingnya membungkuk-bungkuk menghindari tatapan orang.
Di antara kerumunan, muncul seseorang yang Arven paling malas lihat: Garren, pemuda sombong yang selalu menginjak-injak kepercayaannya. Garren memicingkan mata, mengitari Arven.
“Heh… siapa kau? Kok mirip Arven, tapi jauh lebih… manusiawi.”
Arven mengepal tangan.
“Namaku masih Arven.”
Garren mengangkat alis.
“Oh? Kau pikir aku bodoh?”
Ia menarik kerah baju Arven. “Di mana Arven yang jelek itu? Kau menculik dia?”
Tulan melangkah maju, siap melindungi Arven, tapi Arven mengangkat tangannya.
Ia menatap Garren dengan mata baru yang tajam.
Lebih tajam dari sebelumnya.
“Lepaskan.”
Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar tegas.
Berwibawa.
Garren tertegun.
Entah karena aura Arven yang berubah atau karena tatapan menusuk itu… ia melepaskan genggamannya.
Namun sebelum Arven sempat bergerak lagi, tiba-tiba angin dingin menyapu desa.
Begitu dingin hingga api di bengkel bergetar.
Arven merasakan sesuatu… memanggilnya.
Dari arah hutan. dari tempat rumahnya berada.
Dan dari balik bayangan pepohonan, seseorang—atau sesuatu—sedang memperhatikannya.
Petualangan Arven baru saja dimulai, namun ternyata… ia bukan satu-satunya yang tahu tentang perubahan wajahnya.
Dan bukan hanya desa yang akan datang mencarinya.