

"Mada, sebaiknya kita putus saja!"
DUMM!!!
Mada Nirwana berdiri mematung karena terkejut.
Di hadapannya, seorang gadis cantik dan seksi bernama Deviana Putri, berdiri bersama seorang pria muda tampan dengan outfit mewah.
Pria muda itu adalah Tristan Wijaya, anak seorang dekan fakultas kedokteran Universitas Medis Nusantara.
"A-aku tidak salah dengar 'kan? Kau …. Kau minta putus denganku?" Mada tidak percaya. "Memangnya aku salah apa?"
"Kau itu anak yatim piatu miskin yang tak punya masa depan… dan yang paling memalukan adalah kamu impoten. Jika aku sampai menikah denganmu, bukankah itu berarti aku menghancurkan masa depanku sendiri?"
Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada, berkata dengan ekspresi jijik.
"Mada, jangan salah paham ya. Aku bersamamu selama ini hanya karena aku butuh uangmu. Kau pikir aku menikmati waktu bersamamu? Tidak! Setiap detik bersamamu itu membosankan dan menjijikkan. Sekarang aku bebas… dan pacarku yang baru seribu kali lebih berharga darimu. Kau tidak pantas dibandingkan dengannya!"
Jadi selama ini Devi hanya menginginkan uangnya?
Mada tidak menyangka bahwa cinta mereka hanya cinta sepihak. Dia menatap ke arah pria bernama Tristan, yang kini menjadi pacar barunya Devi.
Mada hampir mengamuk, namun dia tak berani gegabah. Bagaimanapun juga Tristan adalah anak orang terpandang di universitas, ayahnya menjabat sebagai dekan fakultas kedokteran.
Saat itu, Tristan tersenyum mengejek ke arah Mada.
"Lupakan Devi. Dia itu terlalu berharga untuk orang sepertimu. Kalau aku jadi kau, aku akan merelakannya pergi dan membiarkan dia hidup bahagia dengan pria lain. Bukan terikat dengan laki-laki miskin yang 'itunya' tak berguna sepertimu."
Mada menggenggam tangannya, dia berkata dengan nada bergetar. "Kau …."
"Mada, sudahlah! Minggir sana! Aku mau jalan-jalan bersama Tristan." Devi menggandeng tangan Tristan. Sepasang kekasih itu pun berjalan pergi dengan sangat mesra.
Mada menatap Devi yang telah memutuskan hubungannya dan pergi bersama pria lain.
Entah mengapa Mada masih berharap pada gadis itu. "Devi, aku berjanji akan berubah dan bekerja keras mencari uang untuk membahagiakanmu. Aku juga akan mengumpulkan uang untuk menyembuhkan penyakitku. Setelah menikah nanti, kau akan hidup senang denganku."
Namun, Devi mendecih. "Jangan bermimpi, Mada. Lupakan saja hubungan kita! Anggap kita tidak pernah memiliki hubungan apapun!"
Sosok Devi telah menghilang pergi bersama Tristan.
Mada turun dari gedung kampus lantai empat dengan wajah sedih, dia juga merasa tidak berdaya. Dia berbelok menuju kamar mandi untuk membasahi wajahnya yang sembab.
Dengan air dingin, dia membasuh wajahnya.
Saat itu, terdengar bunyi keran yang deras dan pintu sedikit terbuka. Mada segera mendorong pintu untuk menutup keran.
Namun …..
Mada terkejut saat menatap ada seorang gadis yang sedang berada di dalam sana.
Untuk sesaat, Mada saling menatap dengan gadis itu.
Tanpa sengaja tatapan Mada tertuju ke arah sepasang buah semangka super di dada gadis itu ….
"Aaa …. Kurang ajar! Kau mengintipku mandi, ya?"
Gadis cantik yang berada di dalam sana ternyata sedang mandi.
"Apa yang kau lakukan? Cepat pergi!" Gadis itu segera menutupi tubuhnya dengan handuk.
Mada tersadar, dia segera keluar dari kamar mandi itu dan menuju ke arah keran air. Dia segera membasahi wajahnya dengan air lagi.
Beberapa detik kemudian, gadis itu keluar dari kamar mandi dan menghampiri Mada dengan ekspresi marah.
Mada menatap gadis itu, dia terlihat sangat marah. Saat dia menyadari siapa identitas gadis itu, seketika Mada menjadi sangat ketakutan.
Tidak salah lagi dia adalah Citra Wibisono, Dewi Kampus yang diagungkan oleh banyak orang.
"Kak, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak memiliki niat untuk mengintipmu, aku juga tidak sengaja. Kumohon ampuni aku."
Mada benar-benar ketakutan. Bagaimana tidak? Identitas gadis itu di kampus tidak main-main.
Citra adalah gadis yang sangat jenius. Meski baru berusia 20 tahun, dia sudah menjadi seorang mahasiswa S3 fakultas kedokteran.
Citra menyilangkan kedua tangannya di depan dada super m0ntok sebesar buah semangka. "Apa? Kau tidak sengaja mengintipku? Lalu apa yang kau lakukan disini?"
"Aku hanya ingin mencuci wajah dan tidak sengaja mendengar keran terbuka, lalu aku berniat untuk menutupnya. Lagi pula, pintu kamar mandi tidak ditutup." Mada berusaha menjelaskan agar tidak terjadi kesalah pahaman.
"Tapi, apa yang Kak Citra lakukan disini?"
Setahu Mada, ini adalah kamar mandi mahasiswa. Sementara kamar mandi mahasiswi berada di sebelah.
Citra menunjuk ke arah sebuah tulisan. Mada yang menyadarinya menjadi terkejut 'Toilet Mahasiswi', hari ini dia benar-benar sangat sial.
"Kak, aku minta maaf."
"Benar-benar kurang ajar. Aku telah rugi besar, dan kau hanya meminta maaf." Citra tampak kesal.
Sebagai seorang gadis yang belum menikah dan masih per4wan, itu adalah hal yang sangat memalukan untuk terjadi, dan dia juga mengalami kerugian yang sangat besar atas kecerobohan Mada.
"Jangan beritahu siapapun atas kejadian ini. Jika sampai bocor, aku akan memotong kelaminmu!" Ancam Citra, kemudian gadis itu berjalan pergi dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku almamaternya.
Citra baru saja melakukan kegiatan praktek di laboratorium. Setelah selesai, dia merasa kelelahan dan segera membersihkan diri di kamar mandi universitas.
Hari ini dia ada janjian, dia dia terburu dan lupa mengunci pintu. Namun, dia terkejut tiba-tiba Mada, mahasiswa semester 5 fakultas kedokteran masuk ke dalam kamar mandinya.
Benar-benar nakal dan kurang ajar. Jika bukan karena demi reputasi yang akan mempermalukannya, Citra sudah melaporkan perbuatan Mada.
Mada menaiki sepedanya meninggalkan area parkir dengan perasaan sedih. Hari ini dia benar-benar apes.
Waktu telah menunjukan pukul tiga sore, Mada bergegas mengayuh sepedanya menuju klinik kesehatan tempat dia bekerja setiap hari.
Sampai di depan klinik, tiba-tiba seorang pria berbadan gemuk sudah berada di ambang pintu.
Pria gemuk itu menjatuhkan amplop berisi sisa gaji Mada bulan ini. "Ini sisa gajimu setelah dipotong angsuran terakhirmu."
Mada hampir terlonjak. "Aku dipecat? Apa salahku?"
"Kau bertanya apa salahmu? Lihat sekarang jam berapa? Kau sebelumnya juga sering terlambat, bahkan tidak masuk tanpa ijin." Pria gemuk itu berkata dengan marah.
"Kami sebelumnya menoleransi karana kau seorang mahasiswa yang mungkin kelelahan setelah kuliah seharian, sehingga tidak masuk kerja. Tetapi, kau menggunakan waktu tidak bekerja hanya untuk pergi bersama seorang gadis!"
Mada menunduk penuh penyesalan. Memang benar, selama bertahun-tahun dia bekerja di klinik, dia beberapa kali tidak masuk tanpa izin untuk pergi bersama Devi.
"Pak, tolong kasihani aku. Jika kau memecatku, bagaimana aku bisa bertahan hidup nantinya?" Mada benar-benar memohon.
"Aku tidak peduli, itu salahmu!"
Mada meninggalkan klinik kesehatan tempat dia bekerja hampir 7 tahun, dia mulai kerja di klinik sejak SMP, itupun karena pemilik klinik kasihan dengan Mada. Tetapi pemilik klinik sudah tidak ada dan digantikan oleh pewarisnya.
Dia membuka amplop yang berisikan uang 800 ribu. Hari ini adalah hari gajian dan hari terakhir dia menerima gaji.
Meskipun hanya digaji tiap bulan sebesar 1,2 juta, dengan UMR sebesar 3 juta, Mada tetap bersyukur.
800 ribu adalah gaji tiap bulan yang dia terima selama tiga tahun belakang. Tiga tahun yang lalu, pacarnya yang bernama Devi meminta hadiah ulang tahun. Mada pun meminjam uang di tempat dia bekerja, dengan cicilan sepertiga gajinya dipotong selama tiga tahun lamanya.
Mada menggunakan uang itu untuk membelikan gadget keluaran terbaru untuk hadiah ulang tahun Devi. Dengan gaji sisa sebesar 800 ribu, setengahnya dia berikan untuk uang jajan Devi, sementara sisanya untuk membiayai hidup Mada selama sebulan penuh. Selain bekerja di klinik, dia juga menerima jasa mengerjakan tugas kuliah dari teman-temannya.
Kehidupan Mada benar-benar kurang beruntung, namun dia tidak pernah menyerah. Mada selalu memegang prinsip 'Mau bagaimana lagi, jalani saja hidup ini."
Dia bisa berkuliah di fakultas kedokteran diantara anak-anak orang kaya, karena mendapatkan beasiswa. Mada adalah anak yang cerdas dan rajin.
Mada hanyalah anak yang terlahir dari keluarga tidak mampu, mereka tinggal di kontrakan. Sejak lahir, dia hanya hidup sebatang kara dengan ibunya di kontrakan kecil, ibunya bekerja di pabrik untuk menghidupinya.
Namun saat Mada berusia 10 tahun, ibunya mengidap penyakit langka dan membutuhkan biaya yang banyak. Tetapi karena keterbatasan mereka, ibunya memilih bekerja demi bertahan hidup, sampai akhirnya wanita itu tidak ada.
Arum Kuning - seorang wanita muda dan cantik pemilik kontrakan akhirnya merawat Mada. Saat Mada memasuki usia 13 tahun, tepatnya saat dia SMP, Mada mulai bekerja serabutan sepulang sekolah. Meskipun pemilik kontrakan melarang, namun Mada tetap bekerja demi bisa hidup mandiri.
Mada menyesap sepuntung rokok dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. Dia memarkirkan sepedanya, lalu duduk di tepi sungai untuk menghirup udara segar di sore hari.
Tiba-tiba, sebuah mobil Jeep berhenti tidak jauh dari sepedanya. Sekelompok pria keluar dan berjalan ke arah Mada.
"Apakah kau yang bernama Mada?"
Mada menatap ke arah sekelompok pria yang memakai pakaian preman, dia sama sekali tidak mengenal siapa mereka. "Benar, aku Mada. Siapa kalian?"
Tanpa bicara lagi, sekelompok pria itu segera mengepung dan menangkapnya. Salah seorang dari mereka yang membawa tongkat besi, langsung melayangkan pukulan berkali kali ke arah kem4luan Mada.
Mada menjerit kesakitan.
"Apa-apaan ini!"
"Kumohon pada kalian, tolong hentikan!!!"