

Di rumah keluarga William kedatangan calon menantu dari cucunya. Seorang pria yang berpakaian begitu rapi denganpakaiannya yang cukup mewah. Dimulai dari jas cokelat yang dikenakannya berikut sepatu hitam mengkilap, serta jam tangan mewah yang terpampang di lengan kirinya.
"Begitu seharusnya penampilan seorang calon menantu saat datang ke rumah mertuanya. Ethan itu sudah tampan, berprestasi, dan dia juga sangat kaya, tapi kamu sudah menjadi suami anak saya tetap saja tidak berguna." Seorang wanita angkat bicara sambil melirik pada menantu tertuanya.
Merasa dibanggakan, si calon menantu tersenyum sinis ke arah pria yang dibicarakan. Pria berbaju lusuh itu melirik ayah mertuanya yang tersenyum girang berjalan cepat menghampiri tamunya.
"Kamu sudah datang, apa kabar keluarga Gabriel di sana?" tanya pria tersebut.
"Semua sangat baik, bisnis perusahaan kami sangat meningkat pesat akhir-akhir ini."
"Keluarga Gabriel memang sangat luar biasa dalam berbisnis, saya berharap di kemudian hari kita bisa menjadi rekan berbisnis."
"Liam, suguhkan minuman dan makanan untuk calon menantu saya. Jangan hanya diam di sana seperti patung!" perintahnya dengan tegas.
Liam pria berusia 29 tahun sebagai cucu menantu tertua di keluarga William segera membalikkan badan menuju area dapur. Ia meletakkan alat pel yang sejak tadi pegang olehnya. Semua urusan kebersihan rumah adalah tugasnya, sebagai seorang suami ia tidak menjadi kepala rumah tangga melainkan hanya seorang pembantu tanpa gaji untuk menggantikan ibunya yang dahulu berprofesi tersebut di rumah itu.
Sebagai seorang anak pembantu, ia selalu dimanjakan oleh Tuan William, ayah dari mertuanya. Kebaikan yang selalu ditonjolkan oleh Liam mampu meluluhkan hati pria tua itu sehingga menikahkan cucu pertamanya dengan Liam.
Awalnya, kedua orang tua perempuan itu menentang keras. Namun, saat Tuan William memberikan ancaman berupa pengusiran dan pemutusan anggota keluarga tentu mereka menjadi setuju karena tidak mau menjadi gelandangan di luar sana. Mereka terpaksa menyetujui, walaupun dalam paksaan. Namun, setelah pria tua itu tiada, mereka menjadi membabi buta mempekerjakan Liam seenaknya karena dianggap sebagai beban keluarga karena Liam tidak punya pekerjaan.
"Adik ipar, saya mau minta tolong. Kamu adalah anak dari orang kaya di negera ini, mungkin kamu bisa memberikan saya sedikit pinjaman uang."
"Untuk apa?" tanya pemuda itu, penasaran.
"Adik saya mau ujian kelulusan, saya butuh sekitar lima belas juta buat biayanya, mungkin kamu bisa membantu saya. Saya janji suatu saat akan menggantinya."
"Kau bisa mencari pekerjaan, jangan hanya minta pinjaman." Ibu mertuanya menyela percakapan mereka.
Sekolahnya lulusan sarjana, tetapi di jaman sekarang tetap saja membuatnya sulit untuk mendapatkan pekerjaan walaupun di area kota sebesar itu.
Liam tidak menggubris ucapannya, ia malah kembali berbicara dengan pria itu. "Tolong, bantulah saya kali ini saja. Saya benar-benar butuh, kalau saya nggak bisa mendapatkan uang itu adik saya nggak akan bisa ikut ujian kelulusan, dia harus menunggu tahun depan."
"Liam, kau keterlaluan. Di depan calon menantu saya, kau sangat berani mau pinjam uang."
"Saya membutuhkan uang itu, Bu. Saya butuh cepat, tolonglah adik ipar ini demi adik saya."
Pemuda itu tersenyum sinis. "Aku tak begitu dekat denganmu, tapi ternyata kamu cukup lancang berani sekali pinjam uang."
"Dasar tidak tahu malu," cibir Ibu mertuanya.
"Apa salahku, Bu? Aku hanya ingin meminjam uang mungkin adik ipar punya."
"Memalukan kau Liam! Harusnya kau cari pekerjaan saja jangan malah pinjam sama dia, sungguh tidak tahu diri!" tegas ayah mertuanya.
"Kakak Liam benar-benar miskin, sampai minta-minta uang sama pacarku." Adik ipar perempuannya angkat bicara.
"Tenang saja sayang, aku sangat berbaik hati untuk Kakak ipar satu ini. Tapi aku hanya bingung, sekelas pekerjaan paling rendah di perusahaanku sepertinya tidak cocok buat Kak Liam. Sebaiknya Kakak cari profesi yang setaradengan skil Kakak," jelas kekasihnya dengan raut wajahnya yang sombong.
Liam hanya diam menatap orang-orang yang merendahkan harga dirinya. Calon menantu kedua ayah dan ibu mertuanya tengah membicarakan soal bisnisnya yang sangat meningkat pesat. Mereka yang cinta akan harta, tentu saja sangat kagum dengan apa yang telah dicapai olehnya.
Keluarga William benar-benar tidak menyangka anak gadis keduanya sangat beruntung, akan dipersunting oleh keluarga Gabriel yang memiliki kekayaan di atas keluarga William.
"Lihat Kak Evelyn, betapa beruntungnya aku bisa punya pacar seperti Ethan Gabriel, dia adalah lelaki yang punya masa depan, apa suamimu bisa seperti dia? Sayang sekali nasibmu sungguh malang, harus menikah dengan pria miskin."
Evelyn William adalah istri dari Liam itu angkat bicara untuk membela nama baik suaminya. "Bagaimanpun juga dia adalah Kakak iparmu, jaga bicaramu."
"Kak, sudahlah jangan terlalu berlebih-lebihan. Kau sepertinya memang sudah jatuh cinta sama dia, hidupmu pasti akan sengsara sama orang miskin. Sebelum terlambat kau bisa mencari pria yang setidaknya punya pekerjaan jangan seperti dia yang hanya pengangguran."
"Adikmu benar, Evelyn. Cari yang setara," timpal ayahnya.
Namun, Evelyn memilih untuk pergi membawa suaminya.
"Evelyn, apa yang mereka katakan itu benar. Kau bisa mencari pria lain agar kau dihargai di rumah ini, karena aku kau juga ikut direndahkan oleh keluargamu sendiri."
"Berhenti membahas ini, tenangkan dirimu sendiri jangan berusaha untuk membuatku tenang."
Liam diam menatap manik mata gadis cantik itu. "Aku pergi dulu."
Evelyn hanya menatapnya sekilas, sedangkan di area ruang lain calon ayah mertuanya sangat terburu-buru untuk membuat dua keluarga itu semakin kuat. Mereka sebenarnya tidak menginginkan menantu melainkan ingin memperkuat kerja sama saja.
Pemuda itu benar-benar merasa muak dengan permintaan mereka yang terlalu cepat. Ia tidak suka dengan itu karena sebenarnya pemuda itu mempunyai tujuan lain. Saat bersamaan, Liam lewat ke area tersebut yang membuat mereka mengalihkan perhatian padanya.
"Baguslah, sana cari uang untuk keluargamu itu, jangan cuma pengen uang seenak." Ayah mertuanya angkat bicara, tetapi tidak membuat Liam mengindahkannya.
Gedung demi gedung Liam datangi, bahkan kafe-kafe kecil maupun besar juga didatanginya. Lebih dari sepuluh tempat ia datangi, menawarkan diri barangkali ada yang membutuhkan tenaganya.
Namun, tidak ada seorang pun yang berbaik hati padanya. Pria itu hampir putus asa, tetapi harus kuat demi adiknya supaya bisa ikut ujian. Netra Liam membola saat seseorang menyentuh bahunya dari belakang.
"Apakah ini benar Tuan Liam?" tanya seorang pria paruh baya dengan binar di matanya.
"Ya, saya Liam, apa ada yang bisa saya bantu?"
"Tuan, jika benar ini anda. Kenapa anda mencari pekerjaan?"
"Saya membutuhkan uang," jawabnya jujur.
"Tuan, anda tidak perlu lagi mencari pekerjaan. Terimalah kartu ini, anda berhak mendapatkannya." Pria itu berkata sambil memberikan black card.
Liam terkejut, apa maksud pria itu? Itu adalah kartu kredit milik orang kaya, sedangkan dirinya hanyalah seorang pengangguran bagaimana mungkin bisa mendapatkannya. Ini seperti sedang bermimpi.