

Aku masih percaya Tuhan itu ada.
Aku hanya tidak lagi tahu bagaimana cara berbicara kepada-Nya.
Setiap pagi aku berdiri di depan cermin, memakai kemeja rapi, menggantungkan salib kecil di leher, lalu berangkat melayani jemaat. Orang-orang menyapaku dengan hormat. Mereka meminta didoakan. Mereka percaya doaku kuat dan berkuasa.
Mereka tidak pernah tahu, aku sudah lama tidak berdoa.
Bukan karena aku marah pada Tuhan.
Bukan karena aku kehilangan iman.
Aku hanya… lelah.
Kata-kata doa terasa asing di mulutku, seperti bahasa yang pernah kupelajari tapi kini lupa maknanya. Setiap kali aku mencoba berdoa, yang muncul justru keheningan—bukan keheningan yang damai, melainkan sunyi yang berat, menekan dada, sesak. Aku duduk lama, menunggu satu kalimat saja keluar, tapi yang tersisa hanya napas yang semakin pendek.
Aku masih ingat dulu doa itu mengalir begitu saja. Doa di sela-sela kesibukan, doa yang sederhana, doa yang jujur. Sekarang, setiap kata terasa palsu. Seolah aku sedang mengucapkan sesuatu yang tidak lagi kutinggali. Aku takut bukan pada diamnya Tuhan, tapi pada kekosongan di dalam diriku sendiri.
Ironisnya, semakin aku tak bisa berdoa, semakin banyak orang datang meminta doa. Mereka membawa sakit, kehilangan, dan harapan terakhir mereka. Aku mendengarkan dengan kepala tertunduk, tangan terkatup, mengucapkan kata-kata yang seharusnya kuimani—dan entah bagaimana, mereka merasa dikuatkan. Sedangkan aku sendiri, kosong.
Aku tetap berkhotbah tentang iman.
Tentang kesetiaan Tuhan.
Tentang harapan di tengah penderitaan.
Dan jemaat mengangguk, beberapa menangis, beberapa berkata,
“Terima kasih, Om Pendeta. Doa Om menguatkan kami.”
Aku tersenyum.
Aku mengangguk.
Aku pulang dengan langkah pelan.
Di kamar yang gelap, aku duduk sendiri, menatap langit-langit, dan bertanya dalam hati: sejak kapan aku lebih pandai berbicara tentang Tuhan kepada manusia, daripada berbicara kepada Tuhan tentang diriku sendiri?
Jika seorang pendeta tidak lagi bisa berdoa,
apakah ia masih pantas disebut hamba Tuhan? — atau hanya manusia lelah yang terlalu lama berpura-pura kuat?
Di situlah kisah ini dimulai.
Bukan tentang kehilangan Tuhan,
melainkan tentang kehilangan keberanian untuk jujur di hadapan-Nya.
**Bab 1
Doa yang Diminta Sesama**
Pagi itu gereja masih sepi.
Bangku-bangku kayu berderit pelan ketika aku duduk sendirian di barisan kedua. Udara lembap bercampur bau kayu tua dan sisa dupa minggu lalu. Jam dinding di atas mimbar berdetak terlalu keras, seolah mengingatkan bahwa waktu terus berjalan, sementara aku diam di tempat yang sama.
Tanganku terlipat. Bibirku tertutup.
Aku datang lebih awal dengan satu tujuan sederhana: berdoa.
Namun seperti pagi-pagi sebelumnya, tidak ada satu kata pun yang keluar.
Aku menunduk, bukan karena khusyuk, tapi karena lelah. Di kepalaku, doa-doa yang dulu mengalir lancar kini terasa seperti bahasa asing. Aku tahu semua rumusnya. Aku hafal pembukanya, penutupnya, bahkan intonasi yang tepat. Tapi entah sejak kapan, semua itu terasa kosong—seperti mengucapkan nama seseorang yang sudah lama tidak menjawab panggilan.
“Om…Om Pendeta…”
Suara itu datang dari belakang.
Aku menoleh dan melihat seorang perempuan paruh baya berdiri di ujung lorong. Wajahnya cemas, matanya sembap. Ia menggenggam tas kecil seolah itu satu-satunya pegangan hidupnya hari ini.
“Bisa doakan saya?” katanya lirih.
“Anak saya masuk ICU semalam.”
Kalimat itu menghantam dadaku lebih keras daripada seribu doa. Aku berdiri refleks, berjalan mendekat, dan mengangguk. Ini bukan permintaan asing. Aku sudah menerimanya ratusan kali. Dari jemaat, dari tetangga, dari orang asing yang tahu aku pendeta hanya dari caraku berbicara.
Aku mengajaknya duduk.
Ia menunduk, air matanya jatuh tanpa suara.
“Namanya siapa?” tanyaku.
Ia menyebutkan nama anaknya, lalu tanggal lahir, lalu riwayat sakitnya—detail demi detail, seolah dengan menceritakannya lengkap, Tuhan akan lebih mudah diyakinkan untuk menolong.
Aku mendengarkan.
Dan di saat yang sama, sesuatu di dalam diriku berteriak: Tuhan, aku tidak tahu harus berkata apa.
Aku menutup mata.
Tanganku terangkat, diletakkan perlahan di bahunya. Semua orang mengira inilah momen ketika seorang pendeta terhubung dengan langit. Padahal bagiku, ini momen paling sunyi.
“Ya Tuhan…”
Suaraku keluar. Lirih. Bergetar.
Aku berhenti.
Kata-kata berikutnya tidak datang. Yang ada hanya keheningan panjang yang canggung. Aku bisa merasakan napas perempuan itu tertahan, menunggu. Menaruh harap pada setiap detik yang berlalu.
Aku melanjutkan, tapi bukan dengan kalimat indah.
Bukan dengan ayat.
Bukan dengan janji.
“Engkau tahu…”
Itu saja. Aku mengulangnya beberapa kali.
Engkau tahu. Engkau tahu. Engkau tahu. Engkau tahu ya Tuhan. Kataku lirih
Aku tidak tahu apakah itu doa atau pengakuan ketidakmampuanku sendiri.
Ketika aku mengakhiri doa singkat itu, perempuan itu mengusap wajahnya. Ia tersenyum tipis.
“Terima kasih, Om,” katanya.
“Saya merasa lebih tenang.”
Aku membalas senyumnya.
Tapi di dalam, aku runtuh. Di dalam pertahananku rapuh.
Bagaimana mungkin seseorang yang tidak bisa berdoa justru diminta untuk mendoakan? Bagaimana mungkin aku, yang setiap pagi bergulat dengan keheningan Tuhan, dianggap sebagai penghubung antara langit dan bumi?
Perempuan itu pergi. Gereja kembali sepi.
Aku duduk lagi di bangku yang sama. Kali ini lebih dalam menunduk. Aku tidak marah pada Tuhan. Aku juga tidak kecewa. Yang ada hanya satu pertanyaan yang terus berputar pelan, seperti gema di ruang kosong:
Sejak kapan aku berhenti berdoa, tapi terus berpura-pura mampu?
Aku teringat pertama kali aku memutuskan menjadi pendeta. Bukan karena ingin dihormati. Bukan karena ingin memimpin. Tapi karena suatu hari, di masa mudaku, aku merasa Tuhan begitu dekat—terlalu dekat untuk diabaikan.
Kini, jarak itu terasa jauh.
Bukan karena Tuhan pergi, tapi karena aku tidak tahu lagi bagaimana menyebut nama-Nya tanpa rasa bersalah.
Pintu gereja terbuka.
Sinar matahari pagi masuk, memotong ruang dengan garis cahaya tipis. Debu-debu kecil menari di udara, terlihat jelas hanya karena cahaya itu hadir.
Aku menatapnya lama.
Mungkin doa tidak selalu berupa kata.
Mungkin iman tidak selalu terasa kuat. Mungkin kaki ini saja yang masih mau menopang.
Dan mungkin—hanya mungkin—Tuhan tidak menunggu aku fasih berbicara, tapi jujur mengakui diamku.
Aku menarik napas panjang.
Belum ada doa.
Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak kabur dari keheningan itu.
Dan di sanalah pergumulanku dimulai. Pergumulan untuk menyadari ada hal yang hilang dalam hidupku.
Pergumulan itu tidak datang seperti badai.
Ia hadir pelan, hampir tak terdengar, seperti suara retakan kecil di dinding rumah tua. Tidak merobohkan, tapi cukup untuk membuatku sadar: ada sesuatu yang tidak lagi utuh. Bukan imanku yang runtuh, tapi keberanianku untuk mengakuinya.
Aku mulai mengingat hal-hal sederhana yang dulu kulakukan tanpa beban. Duduk diam tanpa merasa bersalah. Menatap langit tanpa harus memberi makna rohani. Menyebut nama Tuhan tanpa tuntutan untuk segera menjelaskan-Nya kepada orang lain seolah-olah yang kutahu lebih banyak dari orang lain di sekitarku. Entah sejak kapan semua itu berubah menjadi kewajiban, bukan perjumpaan.
Mungkin yang hilang bukan Tuhan.
Mungkin yang menjauh adalah diriku sendiri—tersesat di antara peran, harapan orang lain, dan citra pendeta yang harus selalu siap, selalu kuat, selalu tahu jawabannya. Aku terlalu sibuk menjadi penopang bagi banyak orang, sampai lupa menanyakan apakah kakiku sendiri masih sanggup berdiri.
Aku menutup mata sekali lagi.
Keheningan itu tetap ada, tidak pergi. Tapi kali ini aku tidak merasa sendirian di dalamnya. Untuk pertama kalinya, aku mengizinkan diriku rapuh tanpa segera menutupinya dengan doa. Dan di titik itulah aku mulai mengerti: barangkali perjalanan ini bukan tentang menemukan kembali kata-kata doa, melainkan tentang keberanian untuk berjalan jujur—meski tanpa kata, meski tertatih.