Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Diary Tahun 1925

Diary Tahun 1925

auLia S | Bersambung
Jumlah kata
33.6K
Popular
100
Subscribe
3
Novel / Diary Tahun 1925
Diary Tahun 1925

Diary Tahun 1925

auLia S| Bersambung
Jumlah Kata
33.6K
Popular
100
Subscribe
3
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalMisteriSupernaturalTime Travel
Ketika sebuah buku harian kosong mulai menuliskan dirinya sendiri, Noah menyadari bahwa tidak semua yang diam… benar-benar tak bernyawa. Noah, seorang pemuda penjaga warnet, menemukan sebuah diary tua di toko buku bekas yang seharusnya tutup. Halaman-halamannya kosong, hingga suatu malam, tulisan muncul dengan sendirinya. Diary itu berasal dari tahun 1925. Di balik tinta hitam yang merembet perlahan, ada nama Anastasya, seorang wanita yang telah meninggal seratus tahun lalu. Ia hanya bisa dilihat dan didengar oleh Noah. Dan ia hanya muncul saat Noah benar-benar sendirian. Semakin Noah membaca, semakin kabur batas antara masa lalu dan masa kini. Dan semakin sulit baginya untuk memastikan… apakah Anastasya ingin dikenang atau dibebaskan.
Bab 1- Toko Buku

Pasar loak dipenuhi riuh suara pedagang dan pembeli hiruk pikuk khas yang tak pernah benar-benar tenang. Bau sayuran segar bercampur dengan aroma besi tua dan debu, menguar di antara jalan setapak yang sempit.

Seorang pria berjalan hati-hati di tengah para

pedagang yang mengemper di kanan-kiri jalan. Dandanannya sederhana dan rapi ciri khas mahasiswa. Kemeja tipis menyelimuti kaus putih polos, sementara kacamata bertengger tenang di wajahnya.

Namanya Noah.

Langkahnya terarah menuju sebuah toko buku lama di ujung pasar. Dari kejauhan, tumpukan buku-buku lusuh tampak tertata rapi, seolah menantang waktu yang berusaha menggerogotinya.

“Hei, Noah! Hari ini ibumu tidak beli buncis?” teriak seorang penjual sayur.

Noah menoleh sambil sedikit meninggikan suara, berusaha mengalahkan kebisingan pasar.

“Tidak, Pak. Hari ini kami mau makan di luar. Erika ulang tahun.”

“Hoh? Adikmu ulang tahun hari ini?”

“Iya, Pak. Saya mau ke toko buku itu. Mau belikan buku buat Erika.”

Noah sendiri tak yakin apakah ucapannya terdengar jelas. Penjual itu memang dikenal memiliki gangguan pendengaran. Sang bapak hanya mengangguk pelan, entah benar-benar mengerti atau sekadar bersikap sopan.

Noah kembali melangkah.

Toko buku itu sepi. Terlalu sepi, bahkan jika dibandingkan dengan toko-toko lain di pasar. Aura sunyi menggantung di udara, membuat langkah Noah melambat tanpa sadar. Begitu ia masuk, aroma debu khas buku tua langsung menyergap inderanya.

“Permisi, Pak. Saya mau cari buku bacaan anak-anak. Umur sembilan tahun.”

Seorang pria tua duduk di balik meja kayu. Wajahnya tenggelam dalam bayangan rak buku. Ia tak menyahut.

Noah mendekat dengan hati-hati. Bahu pria itu naik turun pelan napasnya teratur.

Tidur? pikir Noah.

Tak ingin mengganggu, Noah membiarkan penjaga itu dan mulai menyusuri lorong demi lorong toko, membiarkan jemarinya menyentuh punggung buku-buku lama yang berderet diam.

Ia tidak tahu, satu di antaranya sedang menunggunya.

Noah melihat sebuah papan arah kecil bertuliskan Bacaan Anak-anak. Ia mengikuti penunjuk itu, menyusuri lorong sempit di antara rak-rak kayu yang hampir lapuk.

Sebagian besar buku di sana tampak tak terurus. Sampulnya sobek, sudut halamannya terlipat, beberapa bahkan kehilangan jilidan. Mungkin karena penjaganya hanya seorang bapak tua tak banyak yang benar-benar memperhatikan kondisi buku-buku di toko ini.

Noah memilah satu per satu buku yang masih layak dijadikan hadiah.

Ada rasa miris menyelinap di dadanya. Ia belum mampu membelikan sesuatu yang benar-benar pantas untuk ulang tahun adiknya. Gaji kecilnya sebagai pegawai di warnet harus dibagi untuk kue ulang tahun, makan di luar bersama ibu dan Erika, dan sekarang… buku ini.

Namun ia tetap berusaha memilih yang terbaik.

Hampir setengah jam Noah berkutat di tumpukan buku yang menggunung. Dongeng klasik itu kesukaan Erika. Tapi tak satu pun terasa cukup pantas.

Lampu temaram di lorong itu membuat waktu seolah melambat. Udara terasa semakin dingin, dan sunyi menelan suara langkahnya sendiri.

Sampai sebuah suara memecah keheningan.

“Buku seperti apa yang kamu cari?”

Noah tersentak.

Di ujung lorong, berdiri sosok penjaga toko. Tubuhnya membelakangi cahaya, menjadikannya hanya siluet hitam yang tinggi dan diam. Jantung Noah berdegup keras. Ia refleks mundur dan menjatuhkan tumpukan buku yang tadi ia susun dengan rapi.

Buku-buku itu berjatuhan, suaranya bergema di lorong sempit.

Penjaga itu melangkah mendekat. Semakin dekat, Noah semakin salah tingkah. Saat ia berusaha jongkok, beberapa buku kembali terlepas dari genggamannya.

Tanpa banyak bicara, pria tua itu mengambil sebuah buku dari rak terdekat. Sebuah buku bacaan anak-anak yang masih terbungkus plastik bening. Ia menyodorkannya pada Noah.

“Ini,” ucapnya singkat. Dingin. “Buku yang kamu cari.”

Noah menerima buku itu dengan tangan sedikit gemetar.

“T-terima kasih,” katanya terbata.

Sambil membereskan buku-buku yang terjatuh, Noah melirik hadiah di tangannya.

Dongeng klasik. Terbitan tahun 1993.

Aneh. Buku itu masih tampak baru, plastiknya utuh, kertasnya bersih namun tetap menyisakan kesan jadul yang kuat, seolah disimpan terlalu lama untuk waktu yang seharusnya.

Noah mengernyit.

Apa dia mendengar yang ku sebut tadi?

Dan bukankah tadi… bapak itu sedang tidur?

Noah mengikuti penjaga itu menuju meja tempat ia tertidur tadi. Rupanya, meja kayu usang itu berfungsi sebagai kasir. Pria tua itu membuka sebuah buku besar, buku catatan harga dan membolak-balik halamannya perlahan.

Jarinyanya berhenti di satu baris.

“Ini harganya. Sepuluh ribu,” ucapnya datar. “Tunai saja.”

Noah merogoh kantong celananya. Murah juga, pikirnya. Sekilas terlintas keinginan untuk membeli beberapa buku lagi, namun ia mengurungkan niat itu.

Matanya tertuju pada gulungan kertas kado di sudut meja. Ia mengambilnya dan meletakkannya di samping buku dongeng.

“Sama kertas kado ini, Pak.”

“Dua belas ribu. Tunai saja,” sambung pria itu, tetap tanpa ekspresi.

Noah mengeluarkan uang dua puluh ribu.

Tangannya sempat ragu, lalu ia menyodorkannya.

“Kembaliannya tidak usah, Pak,” ucapnya, berusaha tersenyum.

Tatapan penjaga toko mengeras.

“Kamu pikir toko saya mau bangkrut?” katanya dingin.

Noah tersentak. “B-bukan begitu, Pak,” katanya cepat, merasa telah menyinggung sesuatu yang seharusnya tidak ia sentuh. “Anggap saja tambahan. Saya… saya beruntung dapat buku yang masih bagus.”

Beberapa detik hening berlalu.

“Kamu suka buku klasik?” tanya pria itu tiba-tiba.

Noah mengangguk cepat.

Penjaga itu menunduk ke bawah meja. Terdengar bunyi beberapa benda digeser, kayu beradu pelan. Ia seperti sedang mencari sesuatu atau memastikan sesuatu benar-benar ada.

Tak lama kemudian, ia bangkit sambil membawa sebuah buku tebal.

Halaman-halamannya menguning. Sampulnya bergaya lama, bukan desain dari zaman ini. Lusuh, dengan sudut-sudut yang terkelupas oleh usia.

“Ini,” katanya singkat. “Bawa saja. Sebagai lebihan dari uangmu.”

Noah menerima buku itu dengan ragu. Ia membuka halaman pertamanya.

Kosong.

Ia membalik halaman berikutnya. Juga kosong. Begitu seterusnya.

“Ini… buku apa, Pak?” tanya Noah.

Pria tua itu mengangkat bahu. “Saya juga tidak tahu. Buku itu tiba-tiba ada di meja saya pagi ini. Mungkin kemarin ada yang menjualnya, tapi saya lupa.”

Ia meraih plastik bening dan mulai membungkus buku dongeng, kertas kado, dan buku tebal itu tanpa ragu, seolah barang itu memang bukan miliknya sejak awal.

“Saya tidak butuh,” katanya sambil menutup plastik. “Bawa pulang saja.”

Noah menelan ludah.

“Terima kasih, Pak.”

Ia melangkah mundur, lalu berbalik dan keluar dari toko buku itu, tanpa tahu bahwa barang yang ia bawa tidak seharusnya berpindah tangan begitu saja.

Noah mampir ke sebuah warung kaki lima. Rentengan minuman sachet bergoyang pelan tertiup angin, sementara deretan masakan khas warung yang tersusun di etalase menggoda perutnya di tengah terik siang. Beberapa orang duduk di bangku panjang, menyantap hidangan dengan wajah lelah namun puas.

Noah merogoh kantong celananya. Uangnya belum cukup untuk makan besar.

Pemilik warung memperhatikannya dari balik etalase.

“Eh, Noah. Dari mana? Mau makan, kah?” tanyanya sambil tersenyum.

“Iya, Bu,” jawab Noah. “Nasi kebuli satu. Sama air es.”

Ia duduk di bangku panjang. Ibu warung mengambil sebungkus kecil nasi beralas daun pisang dari etalase, meletakkannya di piring, lalu masuk sebentar ke dapur untuk mengambil air es.

“Dari mana nih? Nggak jaga di warnet Sari?” tanyanya lagi.

“Lagi libur, Bu,” jawab Noah sambil membuka bungkus nasi. “Erika ulang tahun hari ini. Saya izin mau ajak ibu sama Erika makan di luar.”

Ia meneguk air es. Rasa dingin itu menelusuri tenggorokannya, membawa sedikit kelegaan di tengah panas yang menyengat.

“Oalah… Erika ulang tahun toh?” Ibu warung tersenyum. “Nggak kerasa ya, adikmu sudah besar.”

Ia mengelap meja yang baru saja ditinggalkan pembeli.

“Kamu dari mana tadi?” tanyanya lagi.

“Cari hadiah buat Erika, Bu. Ke toko buku di ujung pasar. Dapat buku bagus, masih baru tapi murah,” jawab Noah sambil menyuap nasi.

Gerakan ibu warung terhenti.

“Toko buku…?” Ia menoleh pelan. “Maksud kamu toko buku Bu Yamin?”

Noah mengangguk cepat, mulutnya masih penuh.

“Loh…” Ibu warung mengernyit. “Bukannya hari ini tokonya tutup, ya?”

Sendok Noah berhenti di udara.

“Bu Yamin sama anaknya pulang kampung semalam,” lanjut ibu warung. “Katanya ada keluarga yang meninggal. Dua hari lagi baru balik.”

Noah menelan suapannya dengan susah payah.

“Ada, kok, Bu,” katanya pelan. “Tadi ada bapak-bapak yang jaga.”

Ia membuka tasnya dan mengeluarkan buku yang baru dibeli. “Ini… buku dari sana.”

Ibu warung menatap isi tas itu. Wajahnya berubah.

“Aneh…” gumamnya. “Setahu saya, Bu Yamin nggak punya karyawan. Dan nggak ada keluarga lain yang jaga.”

Ia berbalik menuju bagian dalam warung, meninggalkan kalimat itu menggantung di udara dan di kepala Noah.

Setelah makan, Noah membungkus buku hadiah untuk adiknya dengan kertas kado yang ia beli tadi.

Buku itu nyata.

Tasnya terasa berat di bahu.

Ia ingat jelas langkah-langkah kakinya menuju toko itu.

Tidak mungkin aku salah tempat, pikirnya.

Namun untuk pertama kalinya sejak siang itu, Noah merasa seolah pasar yang ia kenal… telah berbohong padanya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca