Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
CINTA BRUTAL MAFIA INSAF

CINTA BRUTAL MAFIA INSAF

Lyren Kael | Bersambung
Jumlah kata
141.3K
Popular
682
Subscribe
212
Novel / CINTA BRUTAL MAFIA INSAF
CINTA BRUTAL MAFIA INSAF

CINTA BRUTAL MAFIA INSAF

Lyren Kael| Bersambung
Jumlah Kata
141.3K
Popular
682
Subscribe
212
Sinopsis
18+PerkotaanAksiMafiaHaremUrban
Ketegangannya komplit. Luar, dalam, atas, dan...bawah. Cinta, kuasa, darah, dan ranjang tak pernah benar-benar bisa dipisahkan. Antasena Dharmawan, hidup di dua dunia, mahasiswa doktoral yang tampak tenang di siang hari, tapi pewaris kekaisaran mafia di malam hari. Ketika kekasihnya meninggal dan ayahnya terbunuh, hidupnya runtuh bersama satu wasiat gila, ia harus menikah dalam setahun, atau kehilangan segalanya. Di tengah perebutan warisan dan permainan kuasa, wanita-wanita datang silih berganti, Seorang dosen muda yang terjebak hutang budi. Seorang stepsister ambisius yang mengaburkan batas cinta dan keluarga. Seorang sosialita licik yang mencintai kekuasaan lebih dari cinta itu sendiri. Dan seorang rival mafia yang melihat gairah sebagai senjata. Namun di balik gemerlap dan peluru, ada satu perempuan sederhana yang melihatnya bukan sebagai raja, tapi sebagai manusia yang ingin pulang pada dirinya sendiri. Ketika darah berhenti mengalir, siapa yang tersisa untuk mencintai seorang mafia yang memilih insaf?
Bab 1 Jatuhnya Dua Dunia

Hujan turun sejak sore, membasahi dinding kaca besar rumah sakit internasional "The Cure" Jakarta.

Cahaya neon putih memantulkan warna dingin di lantai, membuat malam terasa seperti ruangan steril tanpa jiwa.

Ruang ICU sesak oleh aroma obat, antiseptik dan tangis tertahan.

Ibu Nadine terisak di sudut ranjang, air mata berlinang, bahunya bergetar hebat.

“Tuhan… jangan anakku, jangan…”

Suster mengganti infus dengan tangan gemetar, dokter berusaha menenangkan keluarga yang nyaris histeris.

Di tengah hiruk itu, Antasena berdiri paling tenang, di samping Nadine.

Kemejanya kusut, dasinya longgar, wajahnya pucat di bawah cahaya putih. Jemarinya menggenggam tangan Nadine yang mulai dingin di ujung jari, melebihi desiran AC.

“Sayang…” suaranya berat, parau, nyaris patah. Tapi tak ada air mata, berusaha kuat. Ia menatap perempuan tercinta itu seolah masih bisa menahannya di dunia hanya dengan pandangannya saja.

Mata Nadine terbuka sedikit, berat. Bibirnya yang pucat retak bergetar, tapi masih sempat berucap pelan, nyaris seperti bisikan terakhir, patah-patah.

“Mas, kalau kau...kau nggak...bisa jadi orang baik… setidaknya jadilah...orang yang berani menyesal...”

Antasena mematung, ia menjawab dengan tatapan sayang tanpa berkedip. Senyumnya dipaksakan sedikit tersungging. Namun kemudian menghilang saat mata Nadine kembali menutup.

Suara monitor mulai tak teratur. Grafik melambat, hampir menyentuh dasar horisontal. Tak ada semenit...

Tit...tit...tit...

Lalu hanya garis lurus.

Suara jerit pecah di sekelilingnya.

"Nadiiiiiinnne...!"

Ibu Nadine merosot ke lantai, dokter mengecek manual nadinya. Ayahnya menghantam dinding keras sampai buku jarinya lecet, berdarah.

“Kalian bilang dia bisa sembuh!” pekiknya bergetar.

Suster berlari keluar mengambil obat pacu jantung tambahan, tapi sudah terlambat.

Antasena tetap di tempat. Matanya masih membekas gambar hembusan napas terakhir Nadine. Kekasih yang diharapkannya hidup bersama di dunia terang.

Tapi kini, dunia di sekelilingnya seperti bergerak lambat.

Tangisan, langkah kaki, bunyi mesin indikator, suara alat logam medis, semuanya lenyap di balik kepalanya yang berdenyut hebat.

Yang tersisa hanya satu kalimat, justru suara ayahnya bertahun lalu,

“Kelemahan terbesar keluarga mafia kita bukan hukum. Tapi cinta. Tapi itu sepadan.”

Ia menatap wajah Nadine untuk terakhir kali. Damai, tanpa rasa kesakitan lagi, tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja meninggalkan dunia.

Lalu ia menegakkan badan, menoleh ke arah dokter.

“Jangan ganggu dia lagi, Dok,” ucapnya pelan.

Ia lantas melangkah keluar dari ruang ICU.

Di koridor, dua pria bersetelan hitam berdiri tegak menunduk hormat.

“Persiapkan pemakaman,” perintahnya tanpa ekspresi. Mereka mengangguk tanpa suara.

Setelah jeda singkat, suaranya turun satu nada. “Dan cari siapa yang bertanggung jawab atas obat itu.”

Langkahnya menjauh. Suara sol sepatu kulit mengkilat bergema di koridor panjang, beradu dengan deru isak yang memudar di belakangnya.

Di luar, hujan makin deras. Kota Jakarta seperti ikut berkabung.

Tak jauh di ujung lorong, seorang perempuan menunggunya, Alexa, step sister-nya, beda usia empat tahun di bawahnya.

Gaun hitamnya basah terkena cipratan hujan, helai rambut depan sedikit menempel di wajah ayunya. Tatapannya tajam tapi rapuh.

“Mas…” suaranya pelan, seperti takut menembus duka itu.

Antasena berhenti di depannya, menatap sebentar, lalu melewati tanpa sepatah kata.

Alexa menatap punggungnya yang menjauh.

Ia tahu, malam itu bukan cuma Nadine yang pergi, bagian lembut dari Antasena juga ikut dikubur bersama hujan.

"Sena...tunggu..." kejarnya.

Basement rumah sakit itu sunyi seperti kuburan batu raksasa.

Lampu neon berkedip di langit-langit, menyorot mobil hitam mewah yang berhenti serong, pintunya terbuka separuh. Antasena duduk di kursi depan, menyalakan mesin dalam posisi "Parking", lalu diam seperti patung. Matanya kosong, napasnya tersengal.

Alexa menghampiri dengan langkah cepat, rok hitamnya membelah di samping hingga ke paha putih mulusnya.

“Sena… cukup, jangan lagi,” suaranya bergetar tapi tegas. Ia membuka pintu kiri penumpang, masuk, menutupnya keras.

Hujan di luar menetes dari celah beton di atas, menimpa kaca depan. Suara itu seperti jarum-jarum kecil yang menikam kepala.

“Dia udah pergi, Lex.” Nada Antasena datar. “Semuanya berhenti. Selesai."

Alexa menggigit bibir. “Aku tahu...”

Antasena memotongnya cepat.

“Enggak. Kamu gak tahu rasanya kehilangan orang yang bikin dunia lo punya arah.”

Alexa menatapnya lama. “Kalau aku bilang aku tahu gimana?”

Sena menoleh pelan, mata mereka bertemu di tengah kegelapan dashboard. Ada kemarahan, ada luka, ada sesuatu yang jauh lebih rumit daripada belas kasihan.

Alexa mengulurkan tangan kanannya, menepuk bahunya. Tapi Sena malah memegang pergelangannya, keras, nyaris menyakitkan.

“Jangan pura-pura ngerti,” ucapnya lirih.

Alexa tak menarik tangannya. “Aku gak pura-pura.”

Sekejap hening. Lalu napas mereka bertabrakan. Alexa condong ke kanan, memeluknya melewati panel transmisi matic, spontan, tubuhnya gemetar.

“Kalau kamu terus diam kayak gini, kamu bakal gila,” bisiknya.

“Biarin,” jawab Sena sekenanya.

Alexa menatap wajahnya dari jarak sedekat itu, mata yang basah, bibir yang retak. “Aku gak mau kamu hancur.”

Dan dalam satu tarikan napas, dunia mereka berdua pecah, bukan karena cinta bersambut, tapi karena kehilangan yang mencari cara untuk meledak.

Alexa mencium Sena, cepat, panik, penuh luka. Sena tak mendorongnya, tapi juga tak membalas. Dunia terasa berhenti sesaat, hanya ada hujan dan dua manusia dewasa telat menikah yang saling menggenggam, karena sama-sama takut jatuh.

"Jangan gila, Lex. Kamu saudaraku."

"Iya, tiri...bukan sedarah," desahnya mengimbangi suara lirih Antasena.

Alexa meneruskan pagutannya.

"Lupakan sebentar, Sen. Kamu butuh ini..." suaranya pelan di sela serangannya. Ia lalu melompati panel tengah, mengangkan duduk di pangkuan Sena, punggungnya terhimpit stir, pepaya kembar padatnya menempel rapat di dada bidang Sena.

"Mau apa, Lex?" ucapnya sedikit berontak, tapi kabin itu sangat sempit.

"Menghiburmu sebentar..." sahutnya seraya meraba handle setelan jok, lalu mendorong tubuh Sena menciptakan ruang.

Alexa kembali menyerang bibir Sena, tangannya meraih kedua telapak kekar Antasena dan menaruhnya ke dua buah pepaya ranum yang dibawanya.

Antasena terengah, "Gila kamu, Lex. Bahkan dengan Nadine pun gak pernah."

"Tenang, Mas. Aku adik, tapi pembimbingmu..."

Alexa tersenyum, saat kue serabi kacang tangkupnya dapat merasakan desakan kain Antasena yang mulai menonjol. Serangan lidah dan sesapannya semakin brutal.

"Gila kamu, Lex. Nadine...baru aja...pergi." ucapnya di sela serangan Alexa. Bibir Sena kadang digigitnya pelan.

"Justru itu, Sen..." kembali lidahnya bergerilya, tangannya sembari membuka gesper Sena, lalu resleting. Ia melorot turun, meninggalkan jejak basah di permukaan kain Sena yang menyembul.

"Mm...lumayan juga..." gumam Alexa membulat matanya diiringi seringai menawan.

"Alexaaaa..." erang Sena antara menolak dan merasakan sensasi hebat saat Alexa melumatnya manja.

Tak lama Alexa beraksi, ia paksa singkapkan ke samping ujung segitiga tipis bungkus kue serabi kacangnya. Ia memanjat ke atas. Sena melirik ke bawah, kue mulus tanpa toping parutan kelapa gosong itu, lipatannya tepat di ujung pisang yang dibawanya.

"Uuuugghhh..." lenguhan Alexa jebol saat ia mendorongnya turun. Ia lalu menarik dan mengulangnya secara ritmis, seakan menciptakan alunan musik langka.

"Lex...kenceng banget gigitnya. Aku...mau meledak."

Bulir keringat Alexa menitik, dan akhirnya menetes juga.

"Lepaskan, Sen...aku...aman. Tadi nelan pil."

Alexa pun diambang puncak, ia semakin menggencet isian kacang serabinya di pangkal pisang yang kini menghilang ditelannya.

"Lexxx..." erangnya mengiringi ledakan hebat di dalam, Alexa pun berkedut hebat...lalu mengejang.

"Senaaa...akuuu..." perasaan tertahan bertahun-tahunnya terhadap Antasena terlepas, lega.

Beberapa detik momen mereka bersatu, saling mengisi dan melepaskan.

Mobil itu jadi saksi bisu bukan dari hasrat murni berpadu, tapi dari kekosongan yang mereka isi dengan cara paling manusiawi, menyentuh, bukan cinta gayung bersambut, tapi hanya bertepuk sebelah tangan.

Alexa melepaskan diri perlahan, menarik napas panjang, matanya berair. “Kamu benci aku sekarang?”

Sena menjawab pelan, nyaris tak terdengar. “Aku gak tahu harus benci siapa.”

Di luar, hujan makin deras. Gema samar sirine ambulance rumah sakit masih terdengar jauh di atas sana, seolah dunia menolak berhenti berputar, meski dua jiwa di dalam mobil itu baru saja runtuh.

Alexa turun dari mobil tanpa bicara lagi setelah merapikan pakaiannya. Tumit sepatunya beradu dengan lantai semen, langkahnya cepat, gugup. Dari luar kaca, ia tampak menunduk, memeluk tubuh sendiri, lalu pergi.

Antasena tetap diam di kursinya. Kepalanya bersandar di sandaran, matanya memejam. Napasnya panjang, terlalu panjang.

Di radio mobil yang masih menyala pelan, ada suara penyiar tengah malam membacakan berita singkat,

“Satu pasien kanker meninggal dunia setelah gagal menjalani terapi baru… penyebab pastinya belum diumumkan.”

Antasena membuka mata. Pandangannya menancap ke refleksi wajahnya di kaca depan, kosong, tapi keras.

Tangannya meraih dasbor, mematikan radio, lalu bergumam pelan. “Sial.”

Dia membuka ponsel, jari-jarinya gemetar tapi tegas. Menekan satu nomor.

“Pak Dirga,” suaranya pelan.

“Ya, Tuan Muda?” suara di seberang dalam nada formal, penuh kehati-hatian.

“Cari tahu siapa yang pasok obat terakhir buat Nadine. Aku mau laporan dalam dua puluh empat jam.”

Hening sejenak. “Baik, Tuan.”

Klik. Panggilan berakhir.

Sena menatap tangannya sendiri, jari-jari yang tadi menggenggam tangan perempuan yang ia cintai. Masih terasa dingin.

Ia mengepalkan tangan, meninju setir, tapi suaranya teredam hujan.

Di luar, lampu-lampu mobil lain satu per satu padam, menyisakan hanya kendaraan hitamnya yang masih menyala di tengah basement.

Uap napasnya naik pelan, seperti kabut yang tak tahu arah.

Di kepalanya, suara Nadine bergema lagi, lirih tapi jelas.

“Kalau kau tak bisa jadi orang baik, setidaknya jadilah orang yang berani menyesal.”

Sena mengusap wajah, menatap kosong ke depan.

“Menyesal?” bisiknya. “Aku gak punya waktu buat itu.”

Ia menyalakan mesin, menggenggam setir dengan tangan yang masih bergetar. Lalu, dengan tatapan tajam, ia menatap pantulan dirinya di kaca spion tengah.

“Kalau dunia mau main kotor, aku juga bisa.”

Mobil itu melaju keluar dari basement, menembus hujan malam Jakarta.

Dari kejauhan, pantulan lampu merah di genangan air terlihat seperti darah yang mengalir pelan. Dunia Antasena Dharmawan baru saja kehilangan cahaya, dan mulai menyalakan apinya sendiri sebagai pelitanya.

-oOo-

Lanjut membaca
Lanjut membaca