Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Warisan Gaib

Warisan Gaib

DarkFeniks | Bersambung
Jumlah kata
41.3K
Popular
142
Subscribe
39
Novel / Warisan Gaib
Warisan Gaib

Warisan Gaib

DarkFeniks| Bersambung
Jumlah Kata
41.3K
Popular
142
Subscribe
39
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalIndigoDunia GaibSupernatural
Sejak kecil, Arga tahu hidupnya tidak sepenuhnya normal. Ia bisa merasakan kehadiran sesuatu yang tidak terlihat orang lain—bisikan di lorong kosong, bayangan yang bergerak tanpa wujud, dan tatapan dari dunia lain yang terus mengikutinya. Namun hidupnya benar-benar berubah ketika kedua orang tuanya ditemukan tewas dalam sebuah kejadian yang disebut sebagai kecelakaan biasa. Tidak ada saksi. Tidak ada kejanggalan menurut polisi. Kecuali satu hal: jejak energi gaib yang hanya bisa dirasakan olehnya. Dipaksa menggali masa lalu keluarganya sendiri, Arga menemukan kenyataan bahwa darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah keluarga biasa. Ia adalah pewaris garis keturunan yang sejak dulu berurusan dengan makhluk halus, perjanjian terlarang, dan keseimbangan antara dunia manusia dan dunia gaib Nusantara. Dalam perjalanannya mengungkap siapa dalang di balik kematian orang tuanya, Arga harus menghadapi berbagai makhluk gaib—dari arwah penasaran, khodam penjaga, hingga entitas kuno yang hidup dari dendam dan janji darah. Anehnya, tidak semua pertemuan itu berakhir dengan ketakutan. Sebagian justru berakhir dengan perdebatan konyol, sindiran tajam, dan humor di tengah situasi mematikan. Di balik sikap santainya, Arga menyimpan tekad kuat: menemukan kebenaran, apa pun risikonya. Namun semakin dekat ia pada jawaban, semakin jelas bahwa kematian orang tuanya hanyalah awal. Ada rahasia besar yang diwariskan kepadanya—warisan yang tidak bisa ditolak, dan takdir yang memaksanya memilih antara hidup normal… atau berdiri sebagai penjaga batas dua dunia. Karena di dunia Arga, yang gaib bukan sekadar legenda—mereka nyata, marah, dan sedang menunggu.
Bab 1: Darah yang Tidak Pernah Diam

Aku pertama kali sadar bahwa hidupku berbeda ketika aku berusia tujuh tahun—saat aku melihat ibuku berbicara sendirian di dapur, sementara tak ada siapa pun di sana.

Pagi itu seharusnya berjalan seperti biasa. Cahaya matahari masuk melalui jendela kecil dapur, menyinari meja kayu yang sudah mulai kusam dimakan usia. Bau teh hangat bercampur dengan aroma gula yang meleleh. Aku duduk di kursi, mengayun-ayunkan kaki sambil menunggu sarapan, ketika suara ibu terdengar.

Namun bukan suara yang kutujukan padaku.

Ia berdiri membelakangi, punggungnya tegak, gerakannya tenang. Tangannya menuang air panas ke dalam cangkir, tidak tergesa, tidak gugup. Seolah ia sedang berbincang dengan seseorang yang benar-benar ada di sana.

“Aku sudah bilang,” ucapnya pelan, suaranya datar tapi tegas.

“Kalau kau mau ikut, jangan ganggu anakku.”

Tangannya berhenti sejenak di udara.

Aku menelan ludah. Naluri anak kecilku menjerit bahwa ada sesuatu yang salah, tetapi logikaku belum cukup matang untuk menjelaskannya. Aku melirik ke sekeliling dapur. Kursi kosong. Sudut ruangan yang gelap. Tidak ada siapa pun selain kami.

Namun udara berubah.

Rasanya seperti napas tertahan. Seperti saat akan hujan, tapi lebih berat. Lampu dapur berkedip satu kali, singkat, nyaris tak terlihat. Dan meskipun aku masih terlalu kecil untuk memahami apa itu dunia gaib, aku tahu—tanpa ragu—bahwa ada sesuatu yang menatap dari sudut ruangan itu.

Bukan sekadar hadir.

Ia memperhatikan.

Ibu meletakkan cangkir di meja, lalu menoleh padaku. Senyumnya lembut, terlalu lembut.

“Arga,” katanya, “habiskan sarapanmu. Nanti terlambat sekolah.”

Ia tidak menjelaskan apa pun. Tidak meminta maaf. Tidak menunjukkan rasa takut.

Sejak hari itu, dunia tidak pernah lagi sama.

Namaku Arga. Aku lahir dan tumbuh di tengah kota yang tampak sepenuhnya normal. Kota yang hidup di malam hari dengan lampu neon dan papan iklan raksasa. Kota dengan suara klakson, musik dari kafe, dan langkah orang-orang yang sibuk mengejar hidup masing-masing.

Di mata orang lain, hidupku biasa saja.

Namun bagiku, kota ini memiliki dua wajah.

Yang satu adalah wajah yang dilihat semua orang. Yang lain adalah lapisan tipis di baliknya—lapisan tempat bayangan tidak selalu patuh pada sumber cahaya, tempat suara terkadang terdengar tanpa mulut yang mengucapkannya, dan tempat masa lalu tidak pernah benar-benar terkubur.

Kedua orang tuaku tahu itu. Mereka selalu tahu.

Hanya saja, mereka tidak pernah benar-benar menjelaskannya padaku.

Ayahku adalah pria pendiam dengan tatapan yang selalu waspada, seolah sedang mengamati sesuatu yang tidak bisa kulihat. Ia jarang marah, jarang tertawa keras, dan selalu mengakhiri percakapan yang terlalu dekat dengan masa lalu.

Ibu lebih misterius. Ia lembut, penuh perhatian, tapi ada jarak yang tak pernah bisa kutembus. Diamnya bukan kosong—diamnya penuh rahasia.

Setiap kali aku bertanya tentang kejadian-kejadian aneh yang kualami, jawaban mereka selalu sama: pengalihan.

“Anak kecil terlalu banyak imajinasi.”

“Atau mungkin kamu kecapekan.”

“Atau mungkin cuma mimpi.”

Namun tubuhku tidak bisa dibohongi.

Aku sering sakit tanpa sebab yang jelas. Demam datang tiba-tiba, lalu pergi begitu saja. Dokter tak pernah menemukan apa pun yang salah. Katanya aku sehat, bahkan terlalu sehat.

Yang tidak mereka ketahui adalah mimpi-mimpiku.

Dalam tidur, aku sering berada di tempat-tempat yang terasa asing sekaligus akrab. Hutan tua dengan pohon-pohon tinggi menjulang, akarnya seperti ular yang menjalar di tanah. Rumah kayu lapuk di tengah kabut, pintunya berderit saat terbuka sendiri.

Lingkaran simbol aneh yang berpendar samar di tanah, seolah digambar dengan cahaya.

Dan setiap kali aku terbangun, ada satu sensasi yang selalu sama.

Dadaku panas.

Bukan sakit. Bukan perih. Tapi seperti ada sesuatu yang bergerak di dalam darahku, berdenyut mengikuti detak jantung.

Suatu malam, saat aku terbangun sambil menangis karena mimpi yang terlalu nyata, ayah duduk di tepi tempat tidurku. Tangannya besar, hangat, menepuk punggungku dengan ritme pelan.

“Jangan takut,” katanya.

Aku mengusap mata. “Aku lihat mereka lagi.”

Ayah terdiam sejenak.

“Takut hanya membuat mereka lebih dekat.”

“Mereka siapa?” tanyaku, suaraku bergetar.

Ayah menatapku lama. Terlalu lama untuk sekadar menjawab pertanyaan anak kecil. Dalam tatapan itu ada keraguan, juga sesuatu yang lain—penyesalan.

“Yang tidak bisa kau hindari,” jawabnya akhirnya.

Seiring bertambahnya usia, kejadian-kejadian ganjil tidak menghilang. Mereka justru semakin sering, semakin jelas.

Bayangan yang bergerak meski sumber cahaya diam. Suara langkah di lorong apartemen saat aku pulang larut, padahal aku tahu tidak ada siapa pun di sana. Orang-orang asing yang menatapku terlalu lama di keramaian, lalu cepat-cepat berpaling seolah sadar telah melakukan kesalahan besar.

Ada satu kejadian yang paling kuingat.

Saat SMP, seorang guru mendadak jatuh pingsan di kelas. Semua murid panik. Semua kecuali aku. Karena sebelum ia jatuh, aku melihat sesuatu berdiri di belakangnya—sosok tinggi, samar, dengan wajah yang tidak ingin kuingat.

Ia menoleh ke arahku.

Dan tersenyum.

Aku tidak pernah menceritakan itu pada siapa pun.

Namun hidup tetap memaksaku berjalan seperti anak normal lainnya. Sekolah. Tugas. Ujian. Teman-teman yang tidak tahu apa-apa. Media sosial, tawa, dan rutinitas.

Aku belajar keras untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa semua ini hanyalah halusinasi. Bahwa aku hanya berbeda karena terlalu sensitif.

Dan untuk sementara waktu… itu berhasil.

Sampai malam itu datang.

Malam ketika kedua orang tuaku mati.

Aku sedang berada di apartemen sendirian malam itu. Ayah dan ibu pergi menghadiri pertemuan keluarga yang, menurut mereka, “tidak penting bagiku.”

Aku ingat betul bagaimana ibu memelukku sedikit lebih lama sebelum pergi. Bagaimana ayah menepuk bahuku seolah hendak mengatakan sesuatu, lalu mengurungkannya.

Sekitar pukul dua dini hari, aku terbangun tiba-tiba.

Jantungku berdegup kencang. Udara di kamar terasa dingin—terlalu dingin untuk ukuran kota tropis. Napasku terlihat samar, seolah aku sedang berada di tempat lain.

Dan untuk pertama kalinya sejak kecil, aku merasakan sesuatu yang benar-benar asing.

Bukan kehadiran.

Melainkan kehampaan.

Seperti tali yang selama ini mengikatku pada sesuatu… tiba-tiba putus.

Teleponku berdering tak lama kemudian.

Suara di seberang terdengar datar, profesional, tanpa emosi. Kata-katanya singkat dan rapi. Kecelakaan. Kebakaran. Terlambat diselamatkan. Tidak ada tanda mencurigakan.

Aku tidak menangis.

Aku bahkan tidak bisa berpikir.

Aku hanya berdiri, menatap dinding kosong, sementara dunia runtuh tanpa suara.

Lokasi kejadian dipenuhi garis polisi dan bau jelaga. Aku melangkah melewati puing-puing dengan pikiran kosong—sampai kakiku menginjak tanah yang menghitam.

Tubuhku bereaksi.

Dadaku kembali panas. Kepalaku berdenyut hebat. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihatnya dengan jelas.

Jejak-jejak gaib berserakan di udara, di tanah, di dinding. Seperti luka yang belum menutup. Seperti bekas cakar dari sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia manusia.

Ini bukan kecelakaan.

Aku tahu itu.

Darahku tahu itu.

Namun tak ada yang mau mendengarkan. Polisi menutup kasus terlalu cepat. Kerabat menjauh, seolah takut tertular sesuatu yang tidak mereka pahami. Rumah terasa asing, sunyi, dan kosong.

Dan malam-malam… menjadi neraka.

Mimpi-mimpiku semakin nyata. Sosok-sosok berdiri mengelilingi lingkaran simbol yang sama seperti dalam mimpiku dulu. Mereka memanggil namaku—bukan dengan ancaman, tapi dengan pengakuan.

“Kau akhirnya sendiri,” kata salah satu dari mereka.

Aku terbangun dengan napas terengah. Tangan gemetar.

Dan di meja samping tempat tidurku, tergeletak sebuah kotak kayu tua yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Ukirannya khas dengan aksara kuno Nusantara. Segelnya berpendar samar—simbol yang sama seperti di mimpiku.

Aku tidak ingat membawanya pulang.

Namun aku tahu satu hal dengan pasti.

Benda itu milik keluargaku.

Di dalamnya ada catatan tangan ayah. Tulisan tergesa, penuh tekanan.

"Jika kau membaca ini, berarti kami gagal melindungimu lebih lama."

"Darahmu bukan kutukan, Arga. Tapi ia juga bukan anugerah."

"Jangan percaya siapa pun yang mengaku penjaga tanpa harga."

Tanganku gemetar saat menutup buku itu.

Selama ini aku mengira aku hanya korban. Anak yang kehilangan orang tua karena nasib buruk.

Tapi kenyataannya jauh lebih kejam.

Aku adalah warisan.

Dan seseorang—atau sesuatu—telah membunuh orang tuaku agar aku tidak pernah tumbuh cukup kuat untuk memahami arti darah yang mengalir di tubuhku.

Malam itu, di kamar gelap, aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Tapi karena akhirnya aku mengerti.

Hidup normal sudah bukan pilihan.

Jika dunia gaib ingin bermain denganku, aku tidak akan lari.

Aku akan belajar aturannya.

Aku akan mengenal musuh-musuhku.

Dan suatu hari nanti, aku akan berdiri di hadapan mereka—bukan sebagai korban, tapi sebagai pewaris yang sah.

Karena darahku tidak pernah diam.

Dan masa lalu keluargaku…

akhirnya mengejarku.

Lanjut membaca
Lanjut membaca