

Acara pertunangan ernest dan Michelle di gelar meriah di sebuah gedung mewah yang sudah di sewa oleh ernest sebelum nya.
Pesta yang meriah, serta tamu yang berdatangan dari kalangan atas, menikmati moment yang di sediakan.
Ernest dan Michelle berdiri dengan senyum yang tak lepas menyambut kedatangan tamu yang terus berdatangan untuk memberi kan selamat atas keberhasilan ernest dalam memperjuangkan cinta Michelle.
Namun hal itu tak berlangsung lama, ketika seorang pria datang bersama rombongan nya, menggunakan setelan jas hitam, ia berdiri tegas di depan altar tempat ernest dan Michelle berdiri.
Ada gurat senyum di wajah Michelle kala itu, namun ernest memandang mereka dengan sorot tajam dan terkejut.
Pria itu menghampiri ernest dan menyerah kan sebuah map yang berisikan selembar kertas yang sudah di tanda tangani dan di cap resmi dari perusahaan ernest.
Ernest menerima maps itu lalu melihat nya dengan terkejut, ia melotot tak percaya melihat apa yang ada di genggaman nya.
Sebuah cap berlogo perusahaan yang ia miliki dan ia bangun susah payah bersama keluarga nya nya dulu.
Surat yang mampu membuat dada ernest sesak, ia terjatuh dan duduk di sofa yang sudah tersedia di atas altar.
Ia memegang dada nya yang berdenyut hebat, nafas nya tercekat, pandangan mata ernest memudar, namun ia masih bisa melihat jelas tawa dari gerombolan pria tersebut dan pasangan nya.
Ia menatap tak percaya dan heran, ada apa ini... Seakan semua telah di persiapkan dan akan di luncurkan tepat di hari yang di tentukan.
Michelle menggenggam jemari pria tersebut di depan ernest sambil tertawa keras mengejek nya dengan tatapan jijik, lalu Michelle mencium bibir pria itu takzim.
Persis di depan ernest yang kini sudah semakin lemah, jantung nya semakin berdenyut hebat.
Para tamu menyaksikan pemandangan tersebut dengan heran, ada perasaan kasihan, ada pula yang melihat nya puas.
Ernest tak menyangka di hari bahagia nya yang ia persiapkan untuk Michelle atas pembuktian cinta nya, harus berakhir menyakitkan.
"Apa yang kau lakukan Michelle.... " Tanya ernest yang masih memegang dada nya.
"Kau tahu, aku telah mempersiapkan semua kejutan ini dari dulu sayang... Bagaimana? Kau takjub bukan hahahaha"
"Kau bekerja sama menjatuhkan ku dengan regan,,, katakan Michelle kalau ini semua hanya tipuan mu, kau tidak bersungguh kan "
"Hahaha... Kau masih berharap rupanya, kau lupa bagaimana dulu ayah mu membuang ku tuan ernest " Ucap regan dengan sorot yang berapi api.
"Kau masih ingat betul bukan, kejadian yang menimpa keluarga ku dulu, dan penyebab nya adalah ayah mu yang pecundang itu, dan karena nya, aku harus kehilangan ibu ku, kau fikir selama ini aku sudi memiliki kakak tiri semacam kau hah!!! "
"Ingat ernest, diantara kita tidak pernah mengalir darah yang sama, ayah mu adalah pengkhianat bagi ibu ku, dan kau harus bahagia di atas penderitaan ku begitu hahaha aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi"
Perdebatan masa lalu terjadi kembali, para tamu yang mendengar dan menyaksikan langsung harus kecewa, karena acara berakhir dengan perdebatan.
Ada yang membela ernest, yang tidak mengetahui apapun di kejadian masa silam, dan ada pula yang membela regan karena kasihan.
Bisik bisik halus dari tamu mulai terdengar, hingga salah satu anak buah ernest menghampiri dan melerai mereka.
Lalu membawa ernest ke rumah sakit, karena kondisi nya yang sudah sangat lemah.
Namun niat baik itu harus tertunda karena anak buah regan menghalangi jalan nya untuk membantu ernest.
Mereka melipat kedua tangan nya di dada dan berdiri tegap menghalangi jalan anak buah ernest yang ingin membantu.
Tak butuh waktu lama, perkelahian dari dua kubu pun di mulai, para tamu berhamburan keluar gedung, tak ingin ikut campur dan lebih menyelamatkan diri.
Ernest semakin lemah, dada nya semakin berdenyut kencang, nafasnya sudah sangat sulit, ia meminta Michelle untuk membantu nya.
Namun Michelle yang angkuh hanya berdiri sambil menatap nya penuh kepuasan, seakan hal itu yang memang ia inginkan.
Anak buah ernest dan regan beradu pukul di bawah altar, kekuatan yang sebanding, belum ada yang tumbang.
Tak ingin menunda waktu lebih lama, karena kondisi ernest sudah sangat mengkhawatirkan.
Salah satu dari anak buah ernest melompat dan menghantam keras dada lawan dengan hentakan kaki nya.
Bughh bughhh
Tepat, lawan terjatuh dan mengeluarkan cairan merah.
Lalu ia membantu yang lainnya, ia menepis pukulan lawan lalu memutar tangan nya ke belakang, hingga membuat lawan meringis kesakitan.
Tak sampai disitu, ia menendang dada musuh dua kali dengan keras.
Bughh bughhh
Kembali tumbang, hingga pada saat pertempuran terakhir, ia memukul keras tengkuk musuh hingga tersungkur.
Semua anak buah regan berhasil di lumpuh kan, mereka pun bergegas membantu ernest dan membawa nya kerumah sakit tanpa memperdulikan keberadaan regan dan Michelle Yang kini melongo melihat anak buah nya terkapar.
Regan mengepal, ia menggeram melihat semua anak buah nya dapat dikalahkan oleh anak buah ernest dengan mudah.
"Siallll!!!!! " Geram nya.
Otot leher regan menegang, mata nya memerah menampakkan amarah nya yang memuncak.
Sedangkan Michelle gusar, namun sedetik kemudian ia tersenyum dan menatap sebuah maps yang baru saja di perlihatkan pada ernest.
"Sayang, lihat lah,, biarkan saja dia, yang penting kita berhasil, merebut semua nya menjadi milik kita " Ucap nya penuh kepuasan.
Regan menoleh, lalu ia menyeringai dan kembali mencium Michelle penuh nafsu.
"Kita lanjutkan di kamar sayang "
"Ayo"
Regan dan Michelle meninggalkan gedung dan menuju sebuah hotel yang letak nya tak jauh dari gedung tersebut.
Sedangkan anak buah nya yang terkapar hanya mendengus kesal, melihat kedua bos mereka hanya memperdulikan nafsu bejat nya.
Satu persatu dengan tertatih mereka meninggalkan gedung itu dengan menyisakan sisa pertempuran barusan.
Altar yang di penuhi dengan bekas kekacauan dan jejak darah yang bercecer di lantai gedung.
Pihak keamanan gedung pun hanya pasrah dan membantu merapihkan gedung yang sudah berantakan.
......
Di hotel Regan dan Michelle memadu kasih, bergelut dengan panas di atas ranjang, desahan kenikmatan terdengar memenuhi ruangan.
Michelle memimpin permainan, sedangkan Regan hanya menikmati Michelle pasrah.
"Aaaahhhh..... Sayang" Desah Michelle.
.......
Di rumah sakit ernest berhasil mendapatkan pertolongan, ia di pasangkan alat bantu pernafasan dan monitor jantung yang sudah berada di ruangan.
Nafas ernest tersenggal putus putus, kesadaran nya sudah menghilang penuh.
Dokter berusaha sekeras mungkin untuk membantu ernest sadar dari pingsan nya.
Jantung ernest berpacu lemah dan halus hingga hampir tak terdengar.
Alat kejut jantung pun telah di sediakan, dokter segera memasangkan alat tersebut pada dada bidang ernest.
Satu,,, dua,,, tiga,, on..
Jlleebbbb.....
Satu,,, dua,,, tiga,,,, on..
Jleeebbbb....
Dada ernest terangkat ke atas saat alat kejut tersebut di letakkan dalam posisi on dan turun kembali saat dilepaskan.
Berkali kali dokter berusaha, akhirnya membuahkan hasil, denyut jantung nya kembali normal.
Keringat di pelipis ia usap dengan penuh kelegaan, karena berhasil menolong ernest untuk kembali bernafas.
Setelah perjuangan yang melelahkan, dokter pun keluar dari ruangan dengan perasaan lega dan penuh kepuasan.
Anak buah ernest yang masih menunggu di depan pun segera menghampiri dan bertanya.
"Bagaimana dok kondisi bos kami" Tanya nya cemas.
"Syukur lah, pasien bisa melewati masa kritis nya, dan untuk sementara, biarkan pasien beristirahat dulu, dan tunggu perkembangan selanjutnya" Jelas dokter.
"Terima kasih dok, kalau begitu kami serahkan semua yang terbaik untuk kesembuhan nya"
"Baik, kalau begitu saya pamit dulu, permisi"
Dokter berlalu meninggalkan anak buah ernest yang kini bisa bernafas lega, setelah mendengar penjelasan dari dokter tentang kondisi nya.
"Jhon, bantu aku jaga bos disini, aku harus menyelesaikan semua nya " Ucap salah seorang anak buah ernest.
"Apa gak sebaiknya tunggu dulu kondisi bos membaik lukman" Ucap jhon.
Lukman tampak berfikir sejenak lalu ia mengangguk.
"Baiklah kalau begitu , kita bagi saja, kalian jaga di rumah bos dan beritahu perkembangan selanjutnya segera, biar aku dan jhon yang berjaga di rumah sakit, sambil menunggu pemulihan dari bos" Titah lukman.
"Seperti itu lebih baik, kalau begitu kami pamit dulu, kami percaya kan bos pada kalian " Ucapnya lalu pergi.
Rombongan anak buah ernest pergi satu persatu meninggalkan koridor rumah sakit yang sudah terlihat sesak.
Tersisa lah lukman dan jhon yang bersedia menjaga ernest selama di rumah sakit.