Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kejatuhan yang Sunyi

Kejatuhan yang Sunyi

Topade Wisdom | Bersambung
Jumlah kata
31.7K
Popular
100
Subscribe
7
Novel / Kejatuhan yang Sunyi
Kejatuhan yang Sunyi

Kejatuhan yang Sunyi

Topade Wisdom| Bersambung
Jumlah Kata
31.7K
Popular
100
Subscribe
7
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeTeka-tekiPria Miskin21+
Jakarta, 2005. Rendi Sastra menjalani hidup sederhana sebagai terapis di sebuah klinik kecil di daerah kota. Ia seorang suami dan ayah, terbiasa dengan rutinitas yang tak banyak berubah. Namun sebuah pertemuan tak terduga dengan Victoria—seorang klien yang tenang dan berjarak—perlahan menggoyahkan keseimbangan batinnya. Tanpa ada pelanggaran yang nyata, tanpa kata-kata yang terang, hubungan mereka bergerak di wilayah abu-abu. Rendi mulai menyadari adanya kebutuhan yang selama ini tersembunyi dalam dirinya: keinginan untuk diperhatikan, dihargai, dan merasa berarti. Perasaan itu tumbuh diam-diam, menyusup ke malam-malam sunyi dan mengaburkan batas antara kewajiban dan godaan. Ketika jarak mulai diciptakan dan ketakutan muncul tanpa wujud, Rendi terjebak dalam kegelisahan yang tak bisa ia jelaskan. Ia tetap pulang ke rumah, tetap menjadi ayah dan suami, namun batinnya perlahan retak. Setiap keputusan kecil terasa salah, setiap keheningan terasa mengancam. Kejatuhan yang Sunyi adalah kisah tentang perasaan yang tidak diberi nama, tentang kesalahan yang tidak pernah benar-benar dilakukan namun tetap meninggalkan bekas. Sebuah cerita psikologis tentang manusia biasa yang perlahan kehilangan pijakan—bukan karena cinta yang meledak-ledak, melainkan karena kelemahan yang tumbuh tanpa disadari.
1: PAGI YANG TERLALU AWAL

Jakarta, 2005

Pagi itu aku tiba lebih awal dari kebiasaanku sendiri.

Jam dinding di ruang depan klinik terapi belum menunjukkan pukul delapan ketika aku sudah berdiri di balik pintu kaca yang masih tertutup. Kunci belum diputar. Lampu belum dinyalakan. Dan kota—untuk sesaat—seperti menahan napas, menunggu seseorang memberi aba-aba untuk mulai bergerak.

Daerah kota tempat klinik ini berada belum sepenuhnya hidup. Kendaraan mulai melintas, tetapi tanpa tergesa. Udara pagi Jakarta membawa sisa hujan semalam—bau aspal lembap bercampur debu yang belum sempat turun sepenuhnya. Ada dingin tipis yang jarang bertahan lama di kota ini, dan pagi itu aku membiarkannya menyentuh kulitku lebih lama dari biasanya.

Ironisnya, aku hampir tak pernah datang sepagi ini.

Biasanya aku tiba dengan napas belum teratur, langkah tergesa, lalu menerima omelan panjang dari Ci Mei—kepala klinik—perempuan Tionghoa setengah baya yang mengelola tempat ini dengan disiplin keras dan suara yang tak pernah benar-benar menurunkan nada. Keterlambatanku seolah telah menjadi bagian dari ritme kerja kami: aku datang terlambat, ia menegur, lalu hari berjalan seperti biasa.

Namun pagi itu berbeda.

Aku datang lebih awal bukan karena niat mendadak menjadi lebih baik, apalagi karena dorongan untuk menjadi karyawan teladan. Ada sesuatu yang membuatku terjaga sejak subuh—denyut kecil di dada yang tak bisa kusebut dengan satu kata. Bukan kegelisahan, bukan pula kegembiraan penuh. Lebih seperti harapan yang belum berani mengaku pada dirinya sendiri.

Hatiku terasa ringan, tetapi rapuh.

Seperti seseorang yang menyimpan rahasia kecil, lalu berharap rahasia itu tidak segera terbongkar, meski diam-diam ia juga ingin rahasia itu diperhatikan.

Aku berdiri di sana sambil menunggu, memeriksa jam tangan berulang kali, padahal aku tahu waktu belum bergerak sejauh itu. Janji telah dibuat: sekitar setengah jam setelah klinik dibuka, seseorang akan datang. Janji itu singkat, biasa saja, nyaris tak layak disebut penting. Namun sejak pagi, pikiranku terus kembali ke sana, seolah hari itu berputar di sekitar satu titik kecil yang sama.

Aku membuka pintu, menyalakan lampu, lalu menyusuri ruangan dengan langkah yang terasa lebih pelan dari biasanya. Aku menyusun ulang handuk terapi yang sebenarnya sudah rapi, merapikan botol-botol minyak yang posisinya nyaris tak berubah. Semua kulakukan seperti ritual kecil—bukan karena perlu, melainkan untuk menenangkan diri.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

Pikiranku kembali dan kembali lagi pada satu nama yang sejak beberapa hari terakhir muncul tanpa diundang. Aku tidak menyebutnya dalam hati, seolah dengan tidak menyebut, aku bisa mengendalikannya.

Ketika Ci Mei akhirnya datang dan membuka pintu depan sepenuhnya, klinik perlahan hidup. Rekan kerja berdatangan. Suara langkah kaki, obrolan singkat, dan persiapan alat terapi memenuhi ruangan. Aku berusaha terlihat wajar—tersenyum seperlunya, menyapa seperlunya—meski di dalam dadaku ada ketegangan yang tak bisa kusembunyikan sepenuhnya.

Namaku dipanggil.

“Rendi.”

Aku mengenali suara itu. Ci Mei berdiri di dekat meja depan, memandangku dengan ekspresi netral—ekspresi yang selalu menyembunyikan penilaian.

“Ada klien,” katanya singkat. “Minta kamu.”

Aku mengangguk. “Siapa?”

Ia menyebutkan satu nama.

Victoria.

Dadaku bereaksi lebih cepat daripada pikiranku. Ada sesuatu yang mengencang di dalam, seperti tali yang ditarik tiba-tiba. Aku mengangguk sekali lagi, berusaha tampak biasa, lalu melangkah menuju ruang belakang.

Di depan cermin kecil, aku berhenti sejenak.

Aku merapikan rambut dengan gerakan yang terlalu sadar. Menarik kerah bajuku. Menarik napas panjang, seolah napas itu bisa meredakan ketegangan yang tak jelas sumbernya. Tanganku meraih tas kerja dan mengambil botol kecil tanpa label, menyemprotkan aromanya sekadarnya—bukan untuk orang lain, melainkan untuk menenangkan diriku sendiri.

Aku menatap bayanganku di cermin lebih lama dari yang perlu.

Wajah itu tampak sama seperti kemarin, seperti minggu lalu. Namun ada sesuatu yang terasa asing. Seolah aku sedang berdiri di hadapan seseorang yang perlahan berubah tanpa benar-benar menyadarinya.

Aku melangkah menuju ruang terapi.

Langkah-langkah itu terasa ringan, namun juga berat dalam waktu yang sama. Ada antisipasi, ada kehati-hatian, dan ada sesuatu yang belum berani kuakui bahkan pada diriku sendiri. Aku tahu, secara lahiriah, ini hanyalah satu hari kerja biasa.

Namun pagi itu, tanpa kusadari, menjadi awal dari pergeseran kecil.

Dan sering kali, perubahan terbesar memang dimulai dari hal-hal yang nyaris tak terlihat.

Lanjut membaca
Lanjut membaca