

Prajurit. Ya, nama pemuda yang tengah duduk di teras rumah sederhana itu bernama Prajurit.
Emaknya sengaja memberi nama Prajurit agar dia menjadi prajurit beneran. Namun, hidup membawanya ke sesuatu yang tak pernah ia rencanakan.
"Jadi, kapan kamu nikah, Rit?"
Pemuda berumur dua puluh lima tahun itu langsung bergidik ngeri ketika mendapatkan pertanyaan semacam itu.
Bukan. Dia bukan anti nikah. Namun, jangankan melamar sang pujaan hati. Beli rokok satu batang pun ia tak sanggup. Makanya, sampai sekarang ia belum nikah-nikah.
Sebenarnya, secara fisik Jurit nyaris sempurna. Tampan, tinggi, pintar, baik hati, dan penyayang. Namun, kekurangannya hanya satu. Miskin. Ya, Jurit itu miskin akut. Aura kesempurnaan yang dimilikinya tertutup gara-gara satu cap menyebalkan itu.
"Ditanya orang tua, kok, diam saja!"
Jurit menghela napas panjang, menatap wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu. "Emak, kan, tahu kondisi Jurit seperti apa. Zaman sekarang nggak ada perempuan yang mau diajak hidup susah, Mak."
"Makanya kerja, Rit!"
"Tiap hari aku bantuin Emak ke ladang, itu kalau bukan kerja namanya apa?"
"Maksud Emak bukan kerja yang seperti itu, tapi kerja seperti si Suryo itu, lho. Apa namanya? Pemes?"
"Bukan pemes, Mak, tapi PNS."
"Iya, maksud Emak itu. Kalau kamu jadi PNS, sudah pasti gajinya besar. Bisa punya mobil dan pacar cantik seperti Suryo! Sawah Emak udah habis buat biayain kamu kuliah. Kalau cuma kerja di ladang, lebih baik kamu dulu nggak usah kuliah, Rit!"
Jurit terdengar menghela napas kasar. Rasanya lelah sekali setiap hari dibanding-bandingkan dengan anak tetangga.
Dengan wajah masam, Jurit segera menaiki motor bututnya meninggalkan rumah.
"Jurit, kamu mau ke mana?! Emak belum selesai ngomong!"
Jurit tidak menjawab pertanyaan Emak. Dia terus melajukan motor entah ke mana.
Sialnya, di tengah jalan ia malah berpapasan dengan pemuda yang dipuji-puji Emak barusan. Ya, siapa lagi kalau bukan Suryo.
Suryo dengan kacamata hitam, dan setelan ala-ala pekerja PNS turun dari mobil. Tersenyum sambil melambaikan tangan pada Jurit yang sedang lewat.
"Ke ladang, Rit?" tanya si Suryo basa-basi, tapi hanya diacuhkan oleh Jurit.
"Dek Mira mau ngomong sama kamu, nih!"
Mendengar nama gadis pujaannya disebut, membuat Jurit reflek menghentikan laju motor. Ia menoleh ke arah Suryo dengan malas. "Ngomong apa? Di mana dia?"
Suryo membuka pintu mobil. Seorang perempuan berparas cantik keluar dari mobil Suryo.
"Dek Mira? Kamu, kok ...."
Melihat ekspresi keterkejutan yang tergambar di wajah Jurit, membuat Suryo sedikit senang. Ia kemudian berdiri di sisi Mira dengan angkuh.
"Sekarang, Mira itu pacar baruku. Kuharap, kamu sadar diri."
Jurit mengepalkan kedua tangan, wajahnya memerah menahan amarah. Mira adalah perempuan yang sudah lama ditaksirnya. Namun, pujaan hatinya itu malah diambil oleh Suryo sialan.
"Silakan, Dek Mira, katanya tadi kamu mau ngomong sesuatu dengan si Jurit," kata Suryo sok lembut. Padahal, Jurit sudah tahu bagaimana busuknya Suryo yang sering menghinanya saat tidak ada Mira.
"O-oh, i-iya. Boleh aku bicara berdua dengan Mas Jurit?"
"Ya, Sayangku, tapi jangan lama-lama."
Mira segera berlari menghampiri Jurit yang masih mematung di atas motor butut.
"Kenapa kamu malah pacaran sama dia, Dek? Kan, aku pernah bilang padamu, kalau aku sudah punya uang aku akan segera melamarmu. Kita nggak perlu pacaran."
Mira meremas ujung jemarinya yang dingin dan berkeringat. "Maafkan aku, Mas. Aku terpaksa menerimanya menjadi pacar karena paksaan orang tuaku."
"Kamu, kan, bisa menolaknya, Dek."
Mira menggeleng lemah. "Bapakku punya hutang ke Mas Suryo seratus juta untuk membeli sawah, Mas."
"Terus, kamu dijadikan jaminannya gitu?"
Gadis itu mengangguk. Sudut matanya mulai basah. "Kalau sampai bulan depan Bapak nggak bisa melunasi utang itu, aku akan dinikahkan dengan Mas Suryo."
Jurit mengacak rambut dengan frustrasi. Ia tidak rela Mira menikah dengan laki-laki lain. Namun, apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkan uang sebesar seratus juta?
"Oke, tenangkan dirimu. Aku akan berusaha mendapatkan uang seratus juta itu, agar kamu nggak jadi menikah dengan Suryo."
"Janji ya, Mas."
"Ya, aku janji."
Jurit akhirnya memutuskan kembali ke rumah. Mencari Emak untuk membicarakan sesuatu yang penting.
"Mak, keluar. Jurit mau ngomong sesuatu yang penting." Pemuda itu mengetuk pintu kamar Emak dengan tak sabaran, membuat Emak yang baru saja memejamkan mata harus terbangun kembali.
"Ada apa, to, Rit? Kamu ganggu Emak aja!"
Jurit menarik tangan Emak, agar duduk di kursi ruang tamu.
"Mak, ladang kita kalau dijual laku berapa?" tanyanya kemudian.
Dahi Emak berkerut. "Lho, emangnya siapa yang mau jual ladang kita?"
"Aku pengen nikahi Dek Mira, Mak, tapi aku butuh uang seratus juta. Kalau ladang kita dijual, laku seratus juta, nggak?"
Pletak!
Emak langsung memukul kepala Jurit dengan kencang.
"Aduh, kenapa aku malah dipukul, Mak?"
"Otakmu nggak waras atau bagaimana, Rit? Ladang kita tinggal satu-satunya. Kalau dijual, kita mau makan apa, ha?" Emak menatap sengit pada putranya itu.
"Ya, aku tahu kalau itu ladang kita satu-satunya, tapi aku butuh uang untuk menikahi Dek Mira secepat mungkin. Kan, Emak sendiri yang pengen aku cepet-cepet nikah."
"Tapi, nggak harus jual ladang juga, Rit!"
"Terus gimana, Mak?"
"Nggak tahu, pikir aja sendiri. Yang jelas, Emak nggak mau ladang kita dijual!" Emak hendak beranjak dari tempat duduk, tapi tangannya dicekal Jurit.
"Mak, ayolah tolong Jurit sekali ini saja. Nanti, Dek Mira direbut si Suryo."
"Terserah, Emak capek, Rit!" Emak mengibaskan tangan Jurit, lantas meninggalkannya begitu saja.
"Astaghfirullah, punya Emak gitu amat," ucap Jurit sambil mengelus dada.
Ia menyandarkan kepala di kursi, berpikir bagaimana cara mendapatkan uang seratus juta dalam waktu singkat, atau paling lama selama satu bulan.
"Apa aku ngerampok rumah Pak Kades aja, ya?" Jurit langsung menggelengkan kepala. "Kalau tertangkap warga, aku bisa digebukin sampai tewas."
Ia menghela napas panjang, tak ada satu pun jalan yang terasa masuk akal.
Di saat sedang gundah gulana seperti itu. Tiba-tiba Jurit teringat dengan seseorang.
"Bapak!" Ya, Jurit teringat dengan bapaknya yang berada di kota.
Orang tua Jurit sudah bercerai. Bapaknya menikah lagi dan hidup damai di kota.
Pemuda itu memasuki kamarnya sendiri, mengambil android jadul untuk mengecek pesan bapaknya beberapa tahun lalu yang memberitahukan tentang alamat rumah barunya.
"Kalau aku enggak bergerak cepat, maka aku akan kehilangan semuanya!"
Jurit memasukkan beberapa lembar pakaian ke dalam tas ransel, lalu memecahkan celengan berbentuk jago yang katanya sebagai modal nikah untuk ongkos pergi.
Begitu malam telah tiba, Jurit memastikan Emak telah tidur. Ia melompat dari jendela, lalu berkata, "Maafkan Jurit yang pergi secara diam-diam ya, Mak."