Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Cinta Saat Kekacauan

Cinta Saat Kekacauan

NurulAlam | Bersambung
Jumlah kata
68.9K
Popular
118
Subscribe
22
Novel / Cinta Saat Kekacauan
Cinta Saat Kekacauan

Cinta Saat Kekacauan

NurulAlam| Bersambung
Jumlah Kata
68.9K
Popular
118
Subscribe
22
Sinopsis
FantasiSci-FiMisteriTeknologiDunia Masa Depan
Di dunia masa depan Nusaverra, satu chip terlarang cukup untuk memicu perang terbesar dalam sejarah.Rayan Valen — jenius dingin yang tak percaya cinta — justru menjadi harapan terakhir ketika mesin pembantai legendaris VortexZ1 bangkit kembali.Di tengah ledakan konflik dan pengkhianatan, dua wanita dari masa lalunya muncul membawa rahasia yang bisa menyelamatkan… atau menghancurkannya.Dan ketika sahabat yang paling ia percaya berkhianat, semuanya berubah menjadi kekacauan tanpa batas.Namun perang melawan VortexZ1 hanyalah awal.Karena di balik asap dan reruntuhan, ancaman yang lebih gelap sudah menunggu giliran.Cinta diuji. Kota runtuh.Dan takdir baru yang jauh lebih berbahaya sedang menanti Rayan Valen.
BAB 1. Perburuan Dimulai

Pasar pusat Cybantara tak pernah tidur. Langit kota dipenuhi cahaya dari hologram raksasa yang saling bersaing menampilkan iklan—dari permen holografis rasa galaksi, kapsul tidur kilat, hingga upgrade chip saraf otak generasi terbaru. Lantai trotoar bukan lagi lantai biasa, melainkan bidang logam lunak yang bergerak mengikuti arus manusia, membawa kaki mereka tanpa perlu banyak melangkah.

Di kanan-kiri, android pelayan sibuk menawarkan dagangan dengan suara monoton, “Selamat datang di Zona Konsumsi, nikmati diskon hingga 98% untuk hari ini saja…” Suara mesin berpadu dengan teriakan penjual manusia, musik digital, dan dentuman alat-alat otomatis seperti simfoni futuristik yang kacau tapi teratur. Cahaya biru, ungu, dan hijau melintas cepat dari reklame, menari di dinding gedung tinggi yang menjulang seperti labirin baja.

Di tengah keramaian, seorang pemuda berjaket hitam menyusuri jalan dengan langkah cepat. Wajahnya tertutup masker urban, hanya menyisakan sepasang mata tajam yang terus bergerak, penuh waspada. Ia tidak melihat barang-barang mewah atau hologram iklan. Ia hanya melihat titik-titik ancaman yang bisa muncul kapan saja.

Rayan Valen.

Namanya tak terdaftar di sistem sipil. Bahkan di kalangan masyarakat umum, dia nyaris tak eksis. Tapi mereka yang bergerak di dunia bawah tanah teknologi—para peretas, pemburu chip, dan pembuat AI bayangan—mengenalnya. Si jenius pendiam—dingin, penuh misteri, dan tak mudah dilacak. Otaknya setajam algoritma, gerakannya sehalus arus listrik.

Tapi hari ini… dia bukan sedang menciptakan alat atau memperbaiki sistem. Hari ini, dia mencuri.

Di dalam saku dalam jaketnya, tersimpan sebuah chip kecil seukuran kuku jari. Tampak biasa, tapi memiliki frekuensi energi yang hanya bisa dikenali oleh alat-alat tingkat militer. Chip itu adalah kunci pengaktif ulang VortexZ1, robot legendaris yang dulu diklaim sebagai pelindung bangsa Nusaverra. Tapi bagi Rayan, klaim itu hanyalah topeng.

Dia tahu lebih dalam dari siapa pun. Jika chip ini sampai jatuh ke tangan yang salah—VortexZ1 akan bangkit bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai pemusnah.

Pencurian itu terjadi dua jam lalu, di Bayustra—kota modern dengan sistem keamanan seketat palung bawah laut dan firewall aktif 24 jam nonstop. Rayan menyusup ke fasilitas bawah tanah rahasia bernama Neurogen. Melewati labirin sinyal, sensor gerak, hingga penjaga android generasi 9, ia berhasil mengekstrak chip itu dan melarikan diri. Namun pelariannya membunyikan alarm.

Kini, ia kembali ke kota asalnya—Cybantara—dengan dua android pemburu elit mengejarnya tanpa henti.

“Fokus, jangan panik. Hitung langkah. Hafalkan jalan keluar. Jangan ada suara.”

Pikirannya bekerja seperti sistem otomatis, menyusun rute pelarian, memperkirakan waktu tanggap android, dan menilai risiko setiap langkah. Tapi napasnya berat. Tubuhnya tidak secepat pikirannya, apalagi dengan chip yang memiliki sinyal aktif. Itu adalah magnet maut.

“Target terdeteksi. Akurasi pelacakan: 87%,” ujar salah satu android dari kejauhan. Suaranya datar, wajahnya tanpa ekspresi. Dari atas atap gedung, mata merahnya menyala, menyorot panas tubuh Rayan dengan kamera thermal.

Rayan mempercepat langkah. Ia memutar masuk ke gang sempit di antara dua gedung elektronik tua. Tangannya menekan gelang hitam di pergelangan tangan—jammer sinyal aktif. Seketika, pelacakan android terputus selama beberapa detik. Tapi ia tahu, itu tidak akan bertahan lama.

“Terlalu cepat. Mereka lebih dekat dari perkiraan…”

“Fase eliminasi dimulai,” gumam android lain. Dentuman terdengar dari atap. Sebuah tubuh logam besar meluncur turun, menghancurkan tumpukan peti besi di dekat Rayan. Getarannya mengguncang lantai.

Tanpa pikir panjang, Rayan melompat ke dinding kiri, menjejak dengan sepatu gravitasinya, lalu meluncur ke sisi kanan. Gerakannya seperti bayangan yang tak menyentuh tanah. Tapi android di belakang tak tertipu. Mereka juga dibekali prediktor gerak.

Baru saja hendak melompat ke jalur pembuangan belakang pasar—suara itu terdengar.

“Rayan?”

Langkahnya terhenti mendadak. Suara itu… tak asing. Ia seperti diseret paksa ke masa lalu.

Dari balik kerumunan hologram dan asap neon, muncul seorang gadis dengan rambut sebahu dan jaket abu perak. Matanya tajam, namun menyiratkan keterkejutan yang dalam. Ia berdiri diam, seakan tak percaya.

“…Aira?” gumam Rayan pelan.

Ia, yang sempat menghilang bertahun-tahun. Teman masa kecilnya. Gadis yang dulu pernah duduk di sampingnya saat mereka membongkar robot-robot mainan. Yang dulu tiba-tiba menghilang tanpa kabar.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Aira, terengah. Tapi sebelum sempat dijawab, ledakan kecil memisahkan mereka—tembakan laser menghantam dinding antara keduanya, memercikkan logam panas.

“TIARAP!” Rayan berteriak, lalu menarik Aira dan berlari masuk ke gang tersembunyi. Di belakang mereka, android pemburu menembus bangunan, menghancurkan pintu baja seperti kardus.

Mereka berlari menyusuri lorong sempit penuh kabel, pipa gas, dan neon rusak yang berkedip. Suara mesin di belakang makin dekat, langkah kaki logam menggema, seperti mimpi buruk berulang.

Di tengah lari itu, Aira sempat menatap wajah Rayan—masih sama seperti dulu: dingin, fokus, tapi ada sesuatu yang berubah. Matanya menyimpan beban besar.

Tiba-tiba, sebuah getaran lembut terasa di saku Rayan. Di tengah kepanikan, ia membuka holo-notif tersembunyi yang hanya bisa dibaca melalui lensa kontak pintarnya.

[Encrypted Message — Liara.A]

“Kamu dikejar. Aku deteksi dua sinyal android tipe pemburu. Lokasimu terbaca 78% akurat. Aku akan pantau dari sini. Jangan mati.”

Bibir Rayan sedikit terangkat. Gaya Liara selalu singkat dan tanpa basa-basi, tapi Rayan tahu—kalau Liara sudah kirim pesan, itu artinya dia lagi ngelacak penuh dari balik markas utama mereka.

Aira memperhatikan perubahan ekspresi kecil itu. “Siapa yang kirim pesan?”

“Partner,” jawab Rayan cepat. “Dia lebih suka diam di balik layar, tapi selalu tahu kapan harus muncul.”

Rayan menoleh sesaat ke arah bayangan lorong. “Ezra juga pasti udah tahu. Kalau aku gagal, dia yang akan jadi target selanjutnya.”

“Ezra Devon? Kalian masih bareng?”

“Dia orang pertama yang bilang aku gila saat nyusun rencana ini. Tapi dia juga orang pertama yang bantu aku masuk ke Neurogen.” Rayan menatap tajam. “Dan mungkin satu-satunya orang yang masih aku percaya penuh… sejauh ini.”

Aira menoleh sambil berlari. “Apa yang terjadi sebenarnya?! Kenapa mereka mengejarmu?!”

“Kalau aku jelaskan sekarang, kita berdua bisa mati duluan,” jawab Rayan tanpa menoleh, nadanya dingin tapi jujur. “Ikuti aku… kalau kau masih percaya.”

Aira menatapnya beberapa detik, tanpa bicara.

Lalu ia berlari lebih cepat, dan itu sudah cukup sebagai jawaban.

Mereka tiba di balik kios suku cadang tua yang tampak tak berfungsi. Rayan menyentuh panel tersembunyi, dan pintu baja kecil terbuka ke lorong bawah tanah. Begitu mereka masuk, pintu menutup otomatis, menyisakan keheningan yang mencekam.

Lampu redup menyala, memperlihatkan dinding beton berlumut dan kabel tua yang menggantung.

Aira menatapnya. “Kau berubah.”

Rayan menoleh pelan, menatap lurus ke matanya. “Karena dunia juga berubah. Termasuk orang-orang yang dulu kita percaya.”

Ia membuka saku, memperlihatkan chip kecil itu, memancarkan cahaya biru samar.

“Inilah alasan kita dikejar. VortexZ1... akan bangkit. Tapi bukan untuk melindungi kota. Ia akan menghancurkan segalanya, dengan data yang disusupi, dan program ulang dari orang dalam sendiri.”

Aira mengernyit, napasnya masih belum stabil. “Siapa? Siapa yang mau melakukan itu?”

Rayan menunduk sesaat. “...Aku belum tahu pasti,” suaranya lirih, “Tapi aku punya firasat buruk. Ada satu orang… yang dulu bersumpah akan mengendalikan VortexZ1 dengan tangannya sendiri.”

Di luar lorong itu, dunia terus bergerak. Tapi di ruangan kecil itu, dunia seperti berhenti.

Namun, jauh dari tempat mereka, di pusat pengawasan kota yang rusak akibat sabotase, sebuah kamera tua

tiba-tiba aktif kembali. Mata merah menyala, merekam gerak mereka.

Di sebuah ruangan gelap penuh layar holografis, sosok berjubah gelap berdiri. Tangannya menyentuh layar yang menampilkan wajah Rayan.

Ia tersenyum tipis. Tidak dingin. Tapi puas.

“Langkah pertama sudah dimulai… Selamat datang kembali, Rayan Valen,” gumamnya.

Dan perburuan pun resmi dimulai

Lanjut membaca
Lanjut membaca