

“Papa! Mama!”
Seketika mulutnya dibekap dengan sebuah kain. Dia terus memberontak, dia ingin berlari menolong kedua orang tuanya yang meninggal di habisi di depan matanya.
“Kevin…”
Suara dari mulut ibunya yang tidak terdengar, panggilan terakhir untuk anak semata wayangnya sebelum wanita itu menutup matanya dan mengembuskan nafasnya yang terakhir kali dengan luka menganga di lehernya.
Bruuk!
“Auuw!” jerit Kevin yang terbangun dari tidurnya.
Dia memegang kepalanya, sudah tiga belas tahun mimpi itu terus menghiasi tidurnya. Lebih tepatnya bukan sebuah mimpi, tapi rekaman kejadian ketika kedua orang tuanya dibunuh dengan brutal di depan matanya.
Waktu itu, Kevin masih berusia sebelas tahun. Saat terbangun tengah malam menyaksikan adegan yang mengerikan, dan setelah itu dia tidak ingat apapun. Hingga sepuluh hari berikutnya, dia terbangun berada di rumah sakit, dan ditemani kakeknya.
Sejak hari itu, Kevin dibawa kakeknya, tinggal di rumah kakeknya yang berbeda kota, hingga saat ini dia sudah lulus kuliah.
“Papa, Mama. Bila waktunya nanti tiba, Kevin akan menuntut keadilan buat kalian. Nyawa dibalas nyawa!” gumam Kevin.
Kasus kematian kedua orang tuanya waktu itu diputuskan sebagai perampokan, dan pelakunya sudah mendapatkan hukuman. Tapi, entah mengapa, Kevin merasa bukan itu yang sebenarnya terjadi. Sebab, saat itu dia sempat mendengarkan Papanya berteriak mengatakan, “aku tidak akan memberikan kepadamu, sekalipun kau membunuhku!”
Sejak hari itu, meskipun Kevin masih kecil, dianggap belum mengerti apapun, dia memendam rasa penasaran, ingin menyelidiki kasus yang mengakibatkan kematian kedua orang tuanya.
“Kevin!” teriak suara dari bawah yang menggema.
Suara tua yang selama delapan tahun ini sudah menjadi kebiasaan, berteriak di pagi hari hingga sang cucu turun untuk sarapan. Dialah Tuan Damian, Kakek Kevin.
Kevin turun dengan malas, dia baru saja menyelesaikan sekolahnya. Sebelum melanjutkan kuliah dia akan bermalas-malasan. Tapi, tidak ada rumus seperti itu dalam hidup Damian.
“Kakek, aku mohon berikan aku sehari atau dua hari untuk bersantai,” ujar Kevin saat tiba di meja makan.
“Mau jadi apa kalau lelaki malas?”
“Astaga, aku ini cucumu, Kek.”
“Hari ini, ikut kakek bertemu dengan seseorang yang akan menjadi investor besar di perusahaan kakek,” ujar Damian kemudian.
Kevin menggarukkan kepalanya yang tidak gatal. Dia tahu, perusahaan kakeknya sedang dalam masalah. Mereka membutuhkan investor kalau tidak mau bangkrut.
Tapi, apa urgensinya mengajak dirinya? Bukankah dia bukan karyawan di perusahaan itu? Dia juga tidak mengerti dengan bisnis kakeknya.
“Untuk apa, kek? Memangnya kalau aku ikut akan membuatnya yakin untuk menanamkan modal?” tanya Kevin sambil menenggak habis air putih di depannya.
“Iya. Kamu adalah kuncinya.”
“Kunci apa? Kenapa aku?” tanya Kevin penasaran.
“Kakek telah menyetujui perjodohan kamu dengan putrinya sebagai syarat dia mau memberikan modalnya,” jawab Damian santai.
Uhuk!
Air yang telah masuk ke tenggorokannya kembali keluar. Betapa tidak? Dia masih dua puluh empat tahun, masih unyu-unyu menurutnya dan sudah dipaksa menikah.
Apalagi dengan seorang wanita yang tidak dia kenal. Ah, ini tidak masuk akal. Sedangkan, dia saja naksir perempuan tidak berani mengungkapkannya.
“Kakek salah, kan? Aku masih kecil loh, Kek.”
“Dua puluh empat tahun.”
“Aku kan mau kuliah lagi kek, masa nikah sih.”
“Tidak ada larangan kuliah meskipun sudah menikah, apalagi kalau lanjut pascasarjana.”
“Aku mau kuliah dari awal lagi.”
“Apa kau gila? Lebih baik urus saja perusahaan.”
“Aku salah jurusan waktu itu.”
“Astaga, terserah kau saja yang penting kau menikah dengan anaknya.”
“Aku tidak kenal orangnya, kek.”
“Nanti akan dikenalkan.”
“Kalau aku menolak?”
“Kakek akan mati terlilit hutang, kesehatan kakek sudah mulai menurun. Kamu tahu sendiri, dan ya mungkin hanya hitungan bulan kakek akan mati.”
Hingga akhirnya, Kevin tidak bisa menolak permintaan sang kakek. Satu-satunya keluarga yang dimilikinya hanyalah kakeknya, neneknya juga sudah meninggal. Kalau dia menolak, dia juga takut kalau kakeknya benar-benar akan meninggal.
Dan alangkah terkejutnya dia saat mengetahui kalau calon istrinya itu adalah seorang wanita lumpuh yang berusia dua puluh lima tahun. Wanita yang setahun lebih tua darinya.
Hanya saja, dia belum bertemu. Katanya, akan dipertemukan setelah menikah nanti.
Seminggu kemudian…
Akhirnya pernikahan Kevin dengan Amira telah sah. Kini, Kevin dengan sang istri sudah berada di dalam kamar pengantin.
Amira duduk di kursi rodanya, menatap Kevin dengan tajam.
“Kamu tidur dibawah!”
“Aku tidak biasa,” jawab Kevin.
“Ini kamarku!”
“Kita sudah menikah.”
Amira tampak melengos. Sepertinya dia juga merasa terpaksa menikah dengan Kevin, lelaki yang masih bau ingus baginya.
“Kenapa kau mau dijual kakekmu?” tanya Amira akhirnya.
“Kakek tidak pernah menjualku, kita dijodohkan,” jawab Kevin santai duduk di ujung ranjang memperhatikan istrinya itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Amira memiliki tubuh yang pas, tidak kurus dan juga tidak gemuk. Wajahnya cantik, kulit putih dengan rambut terurai sebahu. Hanya saja sayangnya dia sangat judes.
“Sama saja dengan dijual. Papaku memberikan modal kepada kakek mu, dan kau harus menikah denganku yang cacat.”
“Tapi, kan aku yang dapat enaknya,” jawab Kevin asal.
“Maksudmu?”
“Aku dapat istri yang bisa menemaniku setiap malam, kita bisa enak-enak terus,” jawab Kevin sambil mengedipkan matanya.
“Najis!”
Kevin tertawa, dia merasa senang bisa menggoda Amira. Apalagi melihat wajah Amira yang memerah. Kelihatan lebih cantik menurutnya.
“Kamu juga, mau kan?” tanya Kevin.
“Ogah!”
“Walaupun aku masih kecil, tapi barangku besar kok.”
Amira sangat kesal, wajahnya merah padam. Dia pikir bersuamikan dengan yang lebih muda bisa dia atur, ternyata suaminya justru bocah jahil yang mengesalkan, meskipun dia bisa dibilang ganteng.
Amira mendorong kursi rodanya menuju ke meja rias, kemudian mengambil sebuah map coklat, mengeluarkan isinya dan memberikannya kepada Kevin.
“Tanda tangan surat perjanjian ini!” ujar Amira.
“Apa? Perjanjian apa?” tanya Kevin tidak mengerti.
“Perjanjian yang harus kau taati selama menjadi suamiku. Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini, jika kau melanggar, maka kita cerai dan kakek mu harus mengembalikan semua modal dari papaku!”
“Lah, itukan perjanjian mereka.”
“Tanda tangan saja.”
Kevin meraih kertas itu, dia membaca isinya yang ternyata isinya Amira hanya ingin pernikahan ini pura-pura, tidak ada hubungan suami istri, dan tidak saling mengatur.
Kevin tersenyum, dia menuju tasnya untuk mencari pena dan kacamata. Karena matanya minus minus.
Namun, apesnya dia lupa membawa kacamata. Sejak pagi dia pakai softlens. Dan rasanya terlalu lama kalau harus pakai softlens dulu.
“Jangan banyak alasan, cepat tanda tangan!” kesal Amira.
“Aku nyari kacamata,’ jawab Kevin.
“Itu apa, bego!” ujar Amira menunjuk sebuah kotak kecil di tangan Kevin.
Kevin menatap kotak itu, memang isinya kacamata. Tapi, dia tidak tahu pas atau tidak untuknya, kacamata itu adalah peninggalan ayahnya, yang diberikan ayahnya sehari sebelum kejadian naas itu. Ayahnya meminta Kevin menyimpannya dengan baik-baik.
Tapi, daripada ribut dengan sang istri yang baru beberapa jam lalu sah. Kevin membuka kotak itu, kacamata yang tampak sedikit kuno dan ketinggalan zaman. Dia memakainya, namun ketika itu dia merasakan aliran darahnya menghangat ke seluruh tubuh, dan melihat Amira menjadi polos tanpa sehelai benangpun.
Kevin tersentak, dia baru menyadari kalau ternyata kacamata itu memiliki kekuatan yang begitu dahsyat.
“Sudah,” ujar Kevin menyerahkan kertas itu kepada Amira, tubuhnya tidak tenang, dia juga bisa melihat beberapa keanehan pada kaki Amira yang menyebabkan gadis itu lumpuh.
“Pinjam penanya,” ujar Amira yang juga harus membubuhkan tanda tangan disana.
Saat memberikan pena itu kepada Amira, tangan mereka bersentuhan sehingga membuat Amira menatap Kevin.
Kevin menatap Amira lekat-lekat.
Dan ternyata Amira merasakan hal yang sama. Tubuhnya meremang seolah ada suatu dorongan ketika tatapan mereka bertemu. Bahkan diam-diam tubuh mereka seperti di dorong untuk saling mendekat.
“Ada apa denganku?” tanya Amira sambil menatap Kevin dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia tambah lagi, tiba-tiba saja dia bisa berdiri.