

Kantor mulai sepi saat Makiel pulang lebih larut setelah menyelesaikan lemburannya.
Makiel menguap, matanya terasa berat setelah seharian berkerja. Ia terpaksa menunggu lebih lama di meja kerja karena bosnya mendadak memberinya lembur, hingga hari berganti semakin gelap. Makiel menguap lagi, tubuhnya sangat lelah, hingga mencapai titik dimana berdiri terasa menguji kekuatan fisik.
Ketika akhirnya Makiel selesai dan bangkit dari kursinya, kantor sudah hampir kosong. Lampu-lampu meja telah padam satu per satu, menyisakan cahaya putih dari langit-langit lorong darurat. Dan beberapa teman sekantornya yang juga ikut lembur.
Perjalanan pulang terasa biasa saja karena memang tidak ada hal istimewa. Kereta sudah tidak penuh karena telah melewati jam sibuk, tetapi tidaklah sepi selayaknya kuburan. Kereta dipenuhi wajah-wajah lelah, seolah semua orang membawa pulang seluruh hal serupa. Makiel turun di stasiun yang sudah dia lalui selama bertahun-tahun, berjalan melewati minimarket yang masih buka, dan menyeberang jalan menuju apartemen.
Gedung itu berdiri tanpa banyak lampu menyala. Warnanya yang abu-abu, tinggi dengan banyak lumut, terlihat seperti apartemen murah, walau memang murah karena Makiel sangat ketat dalam manajemen keuangannya. Tak banyak perubahan dari awal Makiel datang kesini, mungkin sebagian lumut yang meninggi di sisi samping apartemen. Selain itu tidak ada perubahan berarti.
Makiel memasuki apartemen, menyapa satpam yang berjaga dengan anggukan singkat. Ia mengangguk balik tanpa adanya percakapan. Bahkan Makiel tidak ingat apakah mereka pernah berbincang sebelumnya. Atau mungkin Makiel terlalu sibuk dengan kehidupannya yang dipenuhi lemburan tanpa henti, setidaknya dia dapat uang lebih, sih.
Makiel menekan tombol lift dan menunggu lift datang. Lift datang tak lama kemudian, di dalamnya, ia menatap cermin lift, memantulkan tubuhnya yang sedikit membungkuk, tas kerja tergantung di salah satu bahu. Mata Makiel tampak menghitam dibagian bawah kelopak, efek dari lembur yang mulai sering mendatanginya. Makiel menekan tombol lantai tiga, lampu kecil di atasnya menyala.
Perjalanan lift terasa jauh lebih lama dari biasanya, tapi Makiel mengaitkannya rasa lelah, dan juga kesepian karena tidak adanya orang bersamanya sekarang. Saat pintu terbuka, lorong lantai tiga menyambutnya. Cahaya di lorong tidak terlalu terang sampai menyakitkan mata, namun tidak redup. Bau pembersih lantai yang samar masih ada, masih terasa di indra penciumannya.
Ia melangkah keluar, menuju kamar unitnya.
Biasanya, dari lift ke unit milik Makiel hanya butuh sekitar dua puluh langkah. Makiel pernah menghitungnya tanpa alasan khusus, mungkin karena kebiasaan dan mengusir rasa bosan selama ia berjalan. Tapi malam itu, ia merasa sudah berjalan lebih dari dua puluh langkah.
Langkah kakinya menggema pelan di lantai keramik yang sudah sedikit retak. Satu, dua, tiga... Makiel terus menghitung. Ia melewati pintu unit 301, lalu 302. Nomor di dinding terlihat jelas, tidak ada yang aneh. Namun lorong itu perlahan terasa… memanjang. Seperti ditarik perlahan dari ujungnya.
Makiel berhenti.
Ia menoleh ke belakang. Lift masih di sana, tapi pintunya sudah tertutup. Jaraknya terasa lebih jauh daripada yang seharusnya, tapi perspektif sering menipu ketika mengalami kelelahan. Makiel menghela napas, merasa sedikit pusing, dan kembali melanjutkan berjalan ke arah unitnya.
Lampu-lampu di langit-langit masih menyala seperti biasa, begitu pula dengan jarak antar lampu. Makiel memperhatikan itu dengan lebih saksama daripada sebelumnya, ada dorongan kecil di dalam diri Makiel untuk memastikan bahwa semuanya masih berada di tempat yang seharusnya.
Ia berjalan lagi, menghitung lagi. Unit 303. 304. Unitnya bernomor 305, namun sebelum mencapai 305, ia melewati satu pintu lagi.
Pintu itu tidak bernomor.
Makiel berhenti tepat di depannya. Cat pintunya berwarna krem, sedikit lebih kusam dari pintu lain. Pegangan pintunya sederhana, tanpa hiasan seperti pintu-pintu unit lain, termasuk milik Makiel. Tidak ada kertas pengumuman, tidak ada bekas stiker nama penghuni. Hanya pintu tua yang berdiam disana, seolah menunggu.
Lorong ini, sepengetahuan Makiel, hanya berisi lima unit. Makiel masih berdiri di sana, cukup lama sampai ia sadar bahwa dirinya sedang menahan napas sedari tadi.
‘Mungkin aku salah ingat.’ pikirnya. Mungkin sejak awal ada enam. Tapi pikiran Makiel berkata lain.
Makiel mengulurkan tangannya, hampir menyentuh pintu itu, lalu menariknya kembali, seolah dicegah oleh sesuatu. Tidak ada alasan kuat untuk membuka pintu unit orang lain, apalagi tanpa nomor. Dan Makiel merasa seperti seorang penguntit yang berusaha memasuki properti tanpa izin. Makiel lalu menoleh ke kanan, melihat beberapa langkah lagi, unit 305 terlihat jelas. Pintu besi abu-abu dengan angka yang sedikit tergores di sudut bawah.
Ia berjalan ke sana dan membuka pintu unitnya sendiri.
Di dalam, segalanya seperti biasa, tidak berubah. Bau ruangan lembab yang sudah ia kenal sejak pertama kali dirinya menginjakkan kaki kesini. Sepatu masih tertata rapi di rak sepatu, jam dinding telah menunjukkan waktu pukul sebelas lewat sedikit. Ia kemudian menutup pintu dan menguncinya.
Makiel berdiri sebentar di ruang tengah, mencoba mengingat apakah dirinya memang pernah melihat pintu tanpa nomor itu sebelumnya. Hanya saja, ingatannya tidak memberi jawaban yang memuaskan. Ada rasa tidak yakin yang mengambang tanpa bentuk dan rasa dingin mulai merayap ke punggungnya. Ia menanggalkan sepatu, menggantung tas, lalu Makiel menuju kamar mandi. Air dingin menyentuh wajahnya, membantu mengusir sedikit rasa pusing di kepala dan menyegarkan kembali pikirannya.
Makiel kemudian menatap pantulan wajahnya di cermin, ia merasa tidak ada yang berubah maupun kesalahan, setidaknya itu yang dipikirkan olehnya.
Setelah berganti pakaian, Makiel duduk di tepi tempat tidur. Keheningan unitnya terasa lebih menyiksa dari biasanya. Ia mendengar suara pendingin ruangan dari unit lain, suara samar suara air yang mengalir di pipa. Semua suara itu sudah akrab di telinganya.
Namun, ketika ia mematikan lampu dan berbaring, satu pikiran muncul tanpa bisa ditahan.
Lorong tadi terasa lebih panjang.
Bukan hanya karena Makiel lelah, tapi adanya jarak tambahan yang tidak bisa dijelaskan dengan langkah atau waktu. Seperti ada ruang kecil yang diselipkan begitu saja di antara lift dan pintu unitnya.
Makiel memejamkan mata.
Dalam gelap, ia membayangkan kembali lorong itu. Lampu yang hidup namun seperti cahay status, pintu-pintu bernomor, dan satu pintu tanpa identitas, berdiri di sana seolah tidak membutuhkan pengakuan apa pun untuk ada.
Makiel pun tertidur dengan pikiran itu, tanpa mengingat mimpi apapun setelahnya.
Keesokan paginya, ketika ia membuka pintu unit untuk berangkat bekerja, Makiel berdiri lebih lama dari biasanya sebelum melangkah keluar.
Lorong lantai tiga tampak normal. Sama seperti apa yang ia lihat dan ketahui sebelum malam kemarin.
Makiel melangkah ke kanan, menghitung langkahnya kembali tanpa sadar. Satu, dua, tiga. Unit 304. Empat, lima. Unit 303.
Tidak ada pintu tanpa nomor. Lorong itu kembali seperti yang diingat selama ini.
Makiel berdiri di sana cukup lama sampai lampu sensor gerak di ujung lorong meredup sedikit, seolah mempertanyakan keberadaannya. Makiel menelan ludah, lalu berjalan menuju lift.
Sepanjang hari, di kantor, Makiel mencoba meyakinkan diri bahwa apa yang ia lihat malam sebelumnya hanyalah kesalahan persepsi. Otak yang lelah, dan butuh istirahat. Tapi setiap kali dirinya menutup mata, yang terlintas bukan wajah rekan kerja atau layar komputer, atau malah pekerjaan menunggu. Yang terlintas adalah lorong yang secara tiba-tiba memanjang, dan sebuah pintu yang tidak meminta untuk diingat.
Dan entah kenapa, ia merasa pintu itu juga mengingatnya kembali.