

Gerimis tipis menyapu perkebunan sawit, membawa aroma tanah basah yang bercampur dengan bau apak buah sawit yang membusuk. Di bawah lampu neon yang berkedip di pos jaga, Yusa Pratama berdiri diam. Otot lengannya yang kencang akibat memanggul puluhan ton buah sawit setiap hari tampak menonjol di balik kaus lusuhnya yang basah oleh keringat.
"Ngapain masih berdiri di sini? Sana, minggir! Aku mau pulang jadi terhambat gara-gara kamu!" Suara itu parau dan penuh kebencian. Mandor Ardi, pria berperut buncit dengan kumis melintang, menatap Yusa dengan pandangan merendahkan.
Yusa tidak bergeming. Matanya yang tajam menatap amplop cokelat tipis di tangannya. "Kenapa gajiku cuma satu juta lima ratus ribu, Pak Mandor?" suaranya rendah namun tegas, tidak ada nada memohon di sana. "Pekerjaanku sama dengan yang lain. Standar upah di sini tiga juta. Ke mana sisanya?"
Mandor Ardi tertawa mengejek, suaranya parau terkena asap rokok. "Heh, anak baru. Kamu itu masih bau kencur di sini. Jangan sok pintar menghitung uang perusahaan. Terima saja atau besok tidak usah datang lagi. Banyak orang di luar sana yang mengemis untuk posisi kuli panggul ini!"
Yusa mengepalkan tinjunya. Dia tahu ada yang tidak beres. Pak Gani, pemilik perkebunan, adalah orang yang sangat disiplin soal administrasi. "Atau... saya laporkan hal ini langsung pada Pak Gani? Saya yakin dia tidak tahu soal 'potongan' siluman ini."
Wajah Ardi memerah padam. Amarah meledak di matanya. "Berani kamu mengancam saya?! Kamu pikir Pak Gani akan percaya pada kuli rendahan seperti kamu dibanding saya yang sudah sepuluh tahun di sini? Camkan ini, Yusa. Besok kamu dipecat! Dan jangan harap bisa menginjakkan kaki di perkebunan mana pun di daerah ini!"
Yusa tertegun. Sebuah kesalahan taktis. Di dunia yang keras ini, kebenaran sering kali kalah oleh posisi. Dia butuh pekerjaan ini. Bukan hanya untuk makan, tapi untuk membuktikan pada Ferdi, kakaknya yang seorang aparat desa, bahwa dia bukan beban. Ferdi telah menjaminkan nama baiknya agar Yusa bisa bekerja di sini. Jika dia dipecat karena konflik dengan mandor, nama Ferdi akan tercoreng.
"Pak Mandor, tunggu..." Yusa mencoba merendahkan suaranya, menelan harga dirinya bulat-bulat demi kelangsungan hidup. "Saya butuh pekerjaan ini. Orang tua kami sudah tidak ada, saya menumpang di rumah Mas Ferdi. Saya hanya ingin hak saya."
Ardi menyeringai. Dia melihat celah. Ketundukan Yusa adalah asupan bagi egonya yang haus kekuasaan. "Oh, jadi si jagoan ini sedang butuh uang? Baiklah." Ardi melangkah mendekat, aroma tembakau murah menusuk hidung Yusa. "Kamu mau tetap kerja? Kamu mau gaji penuh, bahkan posisi tangan kanan saya?"
Yusa menatapnya ragu. "Apa syaratnya?"
"Bawa kakak iparmu yang cantik itu, si Tuti, ke kontrakan saya malam ini. Saya tahu suamimu sedang ada urusan malam ini. Satu malam saja, dan hidupmu akan berubah drastis di perkebunan ini."
Deg. Darah Yusa mendidih. Dia merasa ingin menghantamkan tinjunya ke rahang pria tua di depannya ini hingga hancur. Namun, realita mencekiknya. Jika dia memukul Ardi, dia akan masuk penjara dan mempermalukan Ferdi lebih dalam. Dengan nafas memburu, Yusa berbalik tanpa kata, meninggalkan tawa menjijikkan Ardi yang menggema di keheningan malam perkebunan.
Perjalanan pulang terasa seperti rute menuju eksekusi mati. Lima kilometer jalan setapak dia tempuh dengan langkah gontai. Pikirannya kalut. Tuti, kakak iparnya, memang kembang desa. Kecantikannya sering menjadi buah bibir, namun Yusa selalu menjaga jarak demi menghormati kakaknya. Permintaan Ardi adalah penghinaan yang tak termaafkan.
Sesampainya di depan rumah kayu bercat putih milik Ferdi, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Desa sudah sepi, hanya suara jangkrik yang bersahutan.
"Mas, aku pulang," panggil Yusa sambil mengetuk pintu. Sunyi. Dia mengetuk lagi, lebih keras. Biasanya Tuti akan langsung membukakan pintu sambil mengomel kecil, tapi kali ini tidak ada jawaban. Saat Yusa menyandarkan bahunya ke pintu karena lelah, daun pintu itu terbuka sedikit. Tidak dikunci.
Yusa mengernyit. Ferdi sangat disiplin soal keamanan. Dia masuk dengan hati-hati. Lampu ruang tamu mati, menyisakan kegelapan yang pekat. Dia berjalan menuju kamarnya yang hanya dibatasi dinding triplek tipis dengan kamar utama.
Tiba-tiba, sebuah rintihan lirih menembus dinding kayu itu.
"Auw... ssshh... aduh..."
Yusa membeku. Suara Tuti. Dadanya berdegup kencang. Apakah kakaknya sudah pulang? Tapi biasanya mereka tidak sesunyi ini jika sedang "berolahraga".
"Yusa? Itu kamu?" Suara Tuti terdengar dari balik pintu kamar sebelah.
"I-iya, Mbak. Baru pulang," jawab Yusa kaku.
"Yus, tolongin Mbak... Mbak jatuh di kamar mandi tadi. Kaki Mbak keseleo parah, nggak bisa gerak."
Yusa ragu. "Mas Ferdi mana, Mbak?"
"Masmu lembur, ada panggilan mendadak ke kantor kecamatan. Mbak sendirian dari tadi nahan sakit. Tolongin sebentar, Yus. Pijat sedikit supaya Mbak bisa jalan besok pagi buat masak."
Dengan niat murni menolong, Yusa mendorong pintu kamar yang tidak tertutup rapat itu. Cahaya lampu tidur yang remang-remang menyambutnya. Di atas tempat tidur, Tuti duduk menyandar dengan daster satin tipis yang tersingkap hingga ke paha. Kulitnya yang putih tampak kontras dalam keremangan.
Yusa segera membuang muka. "Mbak, apa sebaiknya panggil Mbah Kayam saja? Saya tidak enak..."
"Jalanan becek, Yus. Udah malem juga. Kamu tega liat Mbak kesakitan begini?" Suara Tuti melunak, ada nada menggoda yang terselip namun tertutup oleh keluhan sakit yang dibuat-buat. "Sini, cuma urut sebentar."
Yusa mendesah pasrah. Dia mengambil botol minyak urut di atas meja rias dan duduk di tepi ranjang, menjaga jarak sejauh mungkin. Namun, saat jemarinya yang kasar menyentuh pergelangan kaki Tuti yang halus, sebuah sengatan aneh menjalar di sarafnya. Sebagai pria normal yang sudah lama membujang, kedekatan ini adalah ujian berat.
Tiba-tiba, tanpa peringatan, Tuti menarik tangan Yusa. Bukan ke arah kakinya, melainkan ke arah dadanya yang bergejolak.
"Mbak! Apa-apaan ini?!" Yusa mencoba menarik tangannya, tapi Tuti mencengkeramnya kuat.
"Yusa... Mas Ferdi itu membosankan. Dia selalu sibuk dengan urusan desa. Kamu... kamu lebih kuat, lebih jantan. Mbak sering memperhatikanmu saat kamu membelah kayu di belakang rumah," bisik Tuti dengan nafas memburu. Dia mulai menarik Yusa agar mendekat, matanya sayu penuh hasrat.
"Lepaskan, Mbak! Ini salah!" Yusa memberontak, namun dalam ruang yang sempit dan posisi yang canggung, mereka tampak seperti sedang bergulat mesra.
Tangan Tuti mulai bergerilya ke arah pinggang Yusa, mencoba membuka ikat pinggangnya. Yusa berusaha menepis, tangannya menahan bahu Tuti agar tidak semakin mendekat. Di saat itulah, pintu depan berdebam keras.
Langkah kaki berat berlari menuju kamar.
BRAK!
Pintu kamar terbuka lebar. Ferdi berdiri di sana dengan seragam dinasnya yang masih lengkap. Wajahnya pucat, lalu berubah menjadi merah padam saat melihat pemandangan di depannya: Yusa yang berada di atas Tuti dengan tangan memegang bahu istrinya, sementara daster Tuti sudah berantakan.
"YUSA! APA YANG KAMU LAKUKAN PADA ISTRIKU?!" raung Ferdi. Suaranya menggelegar menghancurkan keheningan malam.
Tuti, dengan kecepatan yang mengerikan, langsung berubah peran. Dia menangis histeris, menutupi dadanya dan meringkuk di pojok tempat tidur. "Mas... tolong! Yusa... dia memaksa masuk! Dia bilang dia mau minta 'jatah' sebagai bayaran karena sudah membantuku! Tolong aku, Mas!"
Dunia Yusa seakan runtuh. Dia menatap tidak percaya pada wanita yang baru saja menggodanya itu. "Mas, tidak! Dia bohong! Dia yang memanggilku masuk—"
BUGH!
Satu pukulan mentah mendarat di rahang Yusa. Tenaga Ferdi yang terlatih sebagai aparat tidak main-main. Yusa tersungkur ke lantai, sudut bibirnya pecah.
"Bajingan! Aku membawamu ke sini, memberimu tempat tinggal, menjaminkan namaku untuk pekerjaanmu, dan ini balasanmu?!" Ferdi menerjang lagi, mencengkeram kerah baju Yusa dan menyeretnya keluar kamar layaknya sampah.
"Mas, dengarkan dulu! Tadi Mandor Ardi juga bilang hal yang aneh di kebun—"
"Oh, jadi kamu mau menyalahkan Mandor Ardi juga? Dia sudah meneleponku tadi! Dia bilang kamu mengancam akan merusak keluargaku kalau gajimu tidak naik! Aku awalnya tidak percaya, tapi sekarang aku melihatnya sendiri!" Ferdi berteriak di depan wajah Yusa, matanya menyiratkan luka pengkhianatan yang mendalam.
Yusa menyadari semuanya sekarang. Ini adalah jebakan. Ardi dan Tuti... entah bagaimana mereka terhubung, atau mungkin Ardi hanya memprovokasi Ferdi agar pulang di saat yang tepat. Dan Tuti? Wanita itu lebih memilih mengorbankan adik iparnya daripada mengakui perselingkuhannya.
Hujan turun deras di luar saat Ferdi melempar Yusa ke halaman rumah yang berlumpur.
"Pergi dari sini! Jangan pernah kembali! Jika aku melihat wajahmu lagi di desa ini, aku sendiri yang akan menjebloskanmu ke penjara!"
"Mas, demi Tuhan, aku tidak melakukan itu!" Yusa berteriak di tengah guyuran hujan, mencoba berdiri meski kepalanya pening.
"Jangan sebut nama Tuhan dengan mulut kotormu itu! Mulai detik ini, kita putus hubungan! Aku tidak punya adik seorang pemerkosa! Pergi!!"