

"Ngapain masih berdiri di sini? Sana, minggir! Aku mau pulang jadi terhambat gara-gara kamu!" geram Mandor Ardi, pengawas di perkebunan sawit tempat pria itu mengais rezeki selama sebulan ini.
Pria di baris antrian terakhir pembagian upah itu, bernama Yusa Pratama. Pria muda berusia 25 tahunan yang dikenal gigih dalam bekerja dan tidak pernah melakukan kesalahan.
"Kenapa gajiku cuma satu juta lima ratus ribu, Pak Mandor? Bukankah pekerjaanku sama seperti bapak-bapak yang lain? Harusnya aku dapat tiga juta," papar Yusa. Merasa upahnya tak sama dengan bapak-bapak pekerja lain sebelumnya, sehingga Yusa berniat meminta keadilan. "Atau Pak Ardi ... saya laporkan pada Pak Gani soal ini."
Mandor Ardi langsung melotot. "Berani sekali kamu melawan saya, ya! Heh, dengar. Kamu ini pekerja baru. Jangan berani-berani mengancam saya! Kamu pikir Pak Gani akan mempercayaimu daripada saya! Tidak akan! Jadi, terima saja uang itu atau besok tidak usah kembali bekerja di sini! Banyak kok yang mau gantiin kamu!"
Digertak seperti itu Yusa panik. Kenapa malah terbalik dia yang dirugikan?
Setelah kesulitan mencari kerja di mana-mana. Akhirnya Yusa bisa mendapat pekerjaan sebagai kuli panggul buah sawit di sana, berkat jaminan nama baik kakaknya—Ferdi—yang merupakan aparat desa.
Ferdi disegani oleh pemilik kebun sawit karena pernah menolongnya untuk mengurus perizinan PT nya. Kalau Yusa sampai dipecat gara-gara menyinggung Mandor Ardi, Ferdi pasti akan kecewa dan otomatis dirinya akan menjadi beban untuk kakaknya itu kalau menganggur.
Oleh karena itu, Mandor Ardi tidak pernah menyukai Yusa semenjak masuk di bawah naungannya. Selain dikhawatirkan bisa menjadi ancaman besar terhadap pekerjaannya kelak.
"Ja-jangan, Pak Mandor? Saya butuh pekerjaan ini. Tapi tolong beri upah saya selayaknya pekerja lain, saya butuh banget uangnya?" Yusa memohon dengan menyatukan tangan, berharap Mandor itu berubah pikiran. Karena uang itu rencananya akan diberikannya pada Ferdi, sang kakak sebagai tanda terima kasih selama ini dibolehkan menumpang di rumahnya setelah orang tua mereka meninggal.
Oh, jadi Yusa memang lagi butuh. Melihat ketidakberdayaan pekerjanya itu, Mandor Ardi tersenyum licik punya rencana busuk untuk menyingkirkannya.
"Sepertinya kamu memang tidak layak bekerja di sini! Belum apa-apa banyak maunya. Kerja juga tidak pernah sesuai target. Jadi mulai besok, kamu tidak usah kembali bekerja di sini. Kamu saya pecat!" putus Mandor Ardi membuat Yusa syok.
Kekhawatirannya menjadi kenyataan. Tapi Yusa tak pantang menyerah untuk menyusul Mandor itu yang pergi begitu saja. Dia menghadang, berlutut di bawah kakinya.
"Pak, saya mohon ... tolong jangan pecat saya? Saya janji setelah ini akan bekerja lebih giat, asalkan Pak Ardi mau memberi saya kesempatan?" bujuk Yusa.
Alih-alih iba, Mandor Ardi justru mencengkeram kerah kaos pria muda itu. Sorot matanya menerkam, penuh kebencian.
"Kamu yakin dengan ucapanmu barusan?!" gertak Mandor Ardi.
Yusa mengangguk ragu.
Mandor Ardi menyeringai. "Bawa Kakak iparmu yang bahenol itu pada saya. Setelahnya ... tidak hanya 3 juta akan saya berikan. Tapi juga akan saya angkat menjadi tangan kanan saya!"
Permintaan Mandor Ardi itu seperti tamparan keras di wajah Yusa yang melamun sepanjang jalan menuju rumah. Tentu saja dia tak akan melakukan ide gila sang mandor demi mempertahankan pekerjaannya.
Meski selama ini dia tahu, Mbak Tuti—kakak iparnya adalah kembang desa yang selama ini diincar banyak pria. Termasuk Mandor Ardi.
Namun pilihan itu sangat sulit, karena dia juga butuh pekerjaan itu.
Raganya sejalan dengan langkahnya yang gontai, namun jiwanya entah ke mana memikirkan hal itu. Hingga dia tak sadar lima kilometer telah ditempuhnya dan tiba di depan rumahnya lebih malam.
Pulang terlambat, pasti rumah sudah dikunci. "Mas, aku pulang!" Yusa memanggil tanpa tenaga saat mengetuk pintu rumah, karena dia tidak memegang kunci cadangan yang hanya disimpan oleh Tuti dan Ferdi.
Biasanya Tuti akan membukanya tak lama, namun sejak sepuluh menitan Yusa berdiri, pintunya tak kunjung dibuka.
"Apa Mbak Tuti dan Mas Ferdi sudah tidur?" pikirnya dalam gumaman. Saat dia coba memanggil, tanpa sengaja daun pintu terdorong bahunya. "Ah, ternyata tidak dikunci?"
Yusa buru-buru masuk ke dalam rumah lalu memutar kunci yang menggantung di lubang.
"Tidak biasanya begini. Kalau ada maling masuk bagaimana?"
Kondisi rumah juga terasa lengang meski lampu ruang tamu sudah gelap. Wajar, pukul sepuluh malam di desa orang-orang selalu tidur lebih awal.
Perlahan Yusa berbalik badan menuju kamarnya sebelum mandi. Dia urung memberikan gajinya pada Ferdi karena sudah terlalu malam.
"Auw!"
Yusa berjengit mendengar jeritan Tuti yang berasal dari sebelah kamarnya yang hanya dibatasi dinding triplek.
Firasat pria itu tak tenang, mengira sang kakak dan Kakak iparnya sedang berolahraga malam.
"Aduh! Kenapa mereka berdua tidak pernah absen melakukan itu?" keluhnya yang hanya bisa meremas rambutnya sembari duduk.
Karena bukan kali ini saja, Yusa kerap mendengar desahan dan erangan secara tak sengaja itu. Hingga membuat bujangan seperti dirinya selalu ketar-ketir tiap malam.
"Yusa, apa itu kamu? Tolongin Mbak, dong?"
Sesaat Yusa diam untuk memastikannya lagi kalau dia tak salah mendengar.
"Yusa."
Pria itu terkesiap dan berdiri.
"Mbak Tuti panggil aku?" tanyanya masih di kamar.
"Ya, Yus. Kaki Mbak keseleo. Bisa tolongin Mbak sebentar buat pijat?" pinta Tuti dari sana.
"Apa Mas Ferdi nggak bisa memijat, Mbak?" sahut Yusa merasa sungkan.
"Mas Ferdi lembur malam ini, dia tidak pulang. Tadi aku terpeleset di kamar mandi, kalau tidak bisa jalan. Bagaimana besok aku mengurus rumah?" pintanya terdengar memelas.
Yusa yang tak tegaan pun beranjak menuju kamar Tuti. Tanpa curiga dia yang berniat menolong lalu mendorong pintunya yang ternyata sudah terbuka sedikit.
"Mbak?"
"Yus, sini. Duduk di dekat, Mbak!" suruh Tuti karena Yusa masih bergeming di ambang pintu, melihatnya menyingkap dasternya hingga ke paha.
Sebagai pria normal, Yusa panas dingin mendapati kaki mulus Tuti sehingga dia memalingkan wajah.
"Mbak, apa tak panggilkan Mbah Kayam saja buat memijatmu?" tawar Yusa ragu.
"Habis hujan, jalanan menuju rumah Mbah Kayam licin, Yus. Pasti lama ke sana, apa kamu tega ngebiarin Mbak tersiksa lama karena sakit ini?" Tuti menunjukkan kesedihannya.
"Tapi aku tidak bisa ngurut, Mbak. Nanti gimana kalau aku salah?"
"Halah, tinggal urut saja. Sakit banget ini! Kalau kamu tidak mau, ya sudah. Nanti aku bilangin Mas Ferdi!" kecam Tuti kesal, bujukannya selalu ditolak adik iparnya yang selama ini diam-diam dijadikannya bahan fantasi bercinta.
Ferdi dan Yusa memang sama-sama tampan. Tapi karena Yusa kerap bekerja kasar, tubuhnya lebih berotot dibanding sang suami. Bahkan kulitnya yang kecoklatan sering terpapar matahari, membuat Yusa malah terlihat semakin seksi.
"Jangan dong, Mbak. Ya sudah, aku pijat!" putus Yusa tak berkutik sambil membawa minyak urut di meja.
Saat Yusa mulai memegangi kaki Tuti yang katanya keseleo dan menabur minyak. Tuti malah menyambar tangan Yusa dan melabuhkannya ke atas dadanya.
"Mbak, kamu apa-apaan?" Yusa menjadi tegang.
"Sudahlah, Yus. Mumpung tidak ada Mas Ferdi, kamu kelonin aku. Apa kamu tidak kepingin yang hangat-hangat? Di luar masih gerimis. Aku mau jadi selimut kamu?" rayu Tuti berusaha terus menggoda Yusa.
Bahkan dengan pengalamannya itu, Yusa sampai kaget tahu-tahu tangan Tuti pindah ke resleting celananya.
"Mbak, jangan!" Yusa panik, ingin menepis tangan Tuti yang menggerayangi.
"Ayolah Yus! Sekali ini saja. Mbak pengen ...."
Tanpa mereka tahu, bersamaan dengan itu Ferdi masuk ke dalam rumah. Dia tak jadi lembur setelah bertemu Mandor Ardi bercerita kalau adiknya ingin meniduri istrinya. Awalnya Ferdi tak percaya, namun demi memastikannya dia langsung pulang.
"Ahhh, enak ini Yus!"
Mata Ferdi membelalak mendengar suara istrinya yang mendesah, dia langsung menuju kamar. Tapi sesampainya di sana, Ferdi syok melihat posisi Yusa di atas istrinya.
"Yusa apa yang kamu lakukan sama Tuti?!" teriak Ferdi marah.
Panik, Tuti yang khawatir diamuk Ferdi lalu menumbalkan Yusa dengan berpura-pura menangis seolah tersakiti.
"Mas ... tolongin aku? Yusa ... Yusa, mau perkosa aku?" ungkap Tuti sambil terisak saat berlari menghampiri Ferdi yang murka.
Yusa menggelengkan kepalanya menepis tuduhan Tuti. Namun kemarahan telah menguasai Ferdi yang langsung menghantam wajah Yusa dengan tangannya, hingga dia tersungkur ke tanah.
"Tega kamu mengincar istri kakakmu sendiri, huh? Bajingan!" raung Ferdi tak bisa menahan diri menyangkut kehormatan sang istri.
Yusa tak diberi kesempatan membela diri, apalagi melihat Tuti terus menangis. Hingga tanpa pikir panjang, malam itu di bawah hujan deras Ferdi menyeret sang adik keluar rumah.
"Pergi kamu dari sini, Yusa! Mulai detik ini, jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi di hadapanku!"
"Ta-tapi Mas? Aku tidak memperkosa Mbak Tuti, dia yang minta ...."
"Pergi! Aku muak melihat wajahmu dan satu lagi, mulai detik ini. Kita putus hubungan persaudaraan, Yusa! Aku, bukan kakakmu lagi dan kamu ... bukan adikku!!"