

Pagi itu, langit tak sepenuhnya biru. Ada sisa mendung yang belum selesai dibawa angin semalam. Albi berdiri di depan cermin, mengenakan kemeja putih yang telah ia setrika sebelumnya. Di matanya, ada semangat yang jarang muncul belakangan ini— semangat yang lahir dari keyakinan bahwa hari itu akan mengubah segalanya.
Ia memeriksa isi dompet kecil yang sejak sebulan lalu ia isi pelan-pelan, dari hasil membantu teman-teman mengerjakan tugas, dari uang jajan yang disisihkan, bahkan dari koin yang ia temukan di sela meja toko ibunya. Hari ini, uang itu bukan sekadar ongkos. Itu adalah tiket menuju hidup baru.
Namun, saat ia merogoh saku tempat dompet itu biasa disimpan, napasnya terhenti. Kosong.
Albi memeriksa ulang, setiap sudut kamar, lipatan baju, bawah kasur. Tak ada. Tubuhnya mulai lemas, matanya memanas.
“Tidak mungkin...” gumamnya.
Ia keluar kamar tergesa, menabrak kursi di ruang tengah, mencari di meja dapur, di antara toples-toples plastik. Tapi yang ia temukan hanya bau alkohol yang samar. Bau yang ia kenal sejak lama.
Lalu suara langkah berat itu datang— langkah yang selalu diikuti denting botol. Adjie.
Pria itu tersenyum miring, mata merah, tubuh oleng sedikit. “Kamu cari uangmu?” katanya, suaranya serak. “Maaf Bi, Bapak butuh ... Nanti Bapak ganti.”
Seketika semua darah di tubuh Albi seperti mendidih. Ia tak menjawab. Tangannya gemetar, lalu menghantam meja hingga gelas jatuh pecah.
“Uang itu buat aku berangkat, Pak!”
Suara Albi serak, tapi matanya tajam.
Adjie tertawa pendek, suara yang terdengar seperti ejekan. “Ah, sudahlah. Besok kamu bisa cari lagi kan? Memang kamu mau berangkat kemana? Daripada kelayapan, mending sana bantu ibumu. Lupakan impianmu jadi apa, kamu pikir dunia ini mau memenangkan orang tidak punya macam kita?”
Detik berikutnya, Albi sudah menghampiri ayahnya, mendorongnya hingga menabrak lemari tua. Tinju pertamanya mendarat di rahang, lalu di perut. Botol pecah di lantai. Adjie jatuh, mencoba melawan, tapi Albi seperti kehilangan kendali. Namun, Adjie seakan malah menatang Albi lebih. Tampak senyuman tipis dan meremehkan yang jelas membuat dada Albi kian membara, rasanya.
“Berhenti, Albi!”
Suara itu datang bagai kilat— suara Ratri.
Ia berlari dari dapur, menahan tangan Albi yang sudah siap mengayun lagi. Air mata di wajah Ratri jatuh begitu cepat, tapi tidak ada suara isak. Hanya tatapan— yang entah bagaimana, membuat Albi berhenti.
Seakan ada sesuatu di matanya yang menekan tombol pause dalam dirinya.
Keheningan menggantung.
Albi melepas genggamannya, lalu mundur, napasnya tersengal.
Adjie terduduk, darah menetes dari bibirnya. Ratri tidak menatap Albi lagi, Ia buru-buru menghapus air mata dan sedikit tergesa mengambil kotak P3K di ruang tengah. Dan di antara semua itu, perasaan Albi menguap, kosong, hampa, seperti hilang.
Ia keluar rumah tanpa menoleh. Langit di atas kepalanya mulai memerah— bukan senja, tapi mungkin amarah yang tertahan di udara. Cita-citanya, uangnya, bahkan rumahnya sendiri— terasa menjauh.
Albi berjalan tidak tahu arah, menyusuri trotoar dan menatap lalu-lalang beberapa orang. Suara kendaraan masih bisa Ia dengar, tapi Albi tidak menyadari sudah berjalan sampai kaki dirinya memerah.
===
Sementara di ruang lain, yang tampak hangat, Cahaya duduk bersila di lantai kamarnya, di antara buku-buku yang berserakan dan aroma kayu manis dari dupa kecil yang menyala di sudut meja. Ada lampu tak terlalu terang, hanya cahaya kekuningan yang membuat bayangan benda tampak lebih lembut. Di dinding tergantung foto keluarga— ayah, ibu, dan dirinya.
Cahaya sekilas menatap foto itu, sebelum kembali berkutat dengan buku dan pensil. Cahaya pikir, harus segera menyelesaikan to do list apa saja yang perlu ia lakukan setelah lulus sekolah. Namun, pergerakan tangan ia terhenti, saat ada notif pesan masuk dari Andri.
"Cay, kamu tahu kabar Albi? Sejak pagi tadi, aku sama Alfian tidak menemukan keberadaannya di lokasi. Padahal kami sudah mau selesai di tes kesehatan dan psikolog, dan berkas kami bertiga lolos, tapi Albi tidak ada. Aku sudah telpon beberapa kali ke nomornya, tapi tidak aktif. Alfian juga sudah coba, tapi sama. Kalau kamu tahu kabarnya, tolong kasih tahu aku yaa!"
Cahaya menatap layar ponselnya lama. Ada jeda yang terasa menggantung di antara detak jam di dinding, dan aroma dupa yang kini makin menipis. Pesan dari Andri itu seperti menyalakan kembali sesuatu yang ia lupa—perasaan khawatir ketika melihat redup mata Albi.
Ia mengetik cepat, lalu menghapusnya lagi. Cahaya melakukannya sampai tiga kali. “Belum dengar kabar, nanti aku coba cari tahu,” begitu akhirnya pesan terkirim. Tapi jari-jarinya tetap berkeringat. Lemas.
Sudah beberapa hari ini Albi memang lebih diam dari biasanya. Tidak ada pesan Albi di grup yang selalu meramaikan suasana, meski sekedar lewat gawai. Pesan Cahaya yang biasa Albi tanggapi dengan candaan pun sudah hampir seminggu tidak Ia baca, dan terakhir kali mereka semua ke sekolah, Cahaya hanya berpapasan, mereka tidak bercerita banyak. Namun, Cahaya masih ingat senyuman Albi dan mata merah Albi yang menyapanya.
Refleks Cahaya memejamkan mata, dan ia bergumam pelan, hampir seperti doa yang terlepas tanpa sengaja. “Albi, kamu kenapa? Ada apa sebenarnya?”
Nadanya lirih, namun di dada terasa berat. Ia tidak segera bangkit dari duduknya, hanya menatap kosong ke layar ponsel yang kini redup—pesan terakhir dari Andri masih terbuka di sana, seperti menunggu jawaban yang entah.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Cahaya menutup ponsel perlahan, seolah takut menambah resah yang sudah memenuhi kamar. Ia berdiri, melangkah ke arah jendela. Udara sore menyapa dengan dingin yang lembap. Dari luar, langit tampak murung; awan kelabu menggantung berat, seperti menahan hujan yang sudah tak sabar turun.
Cahaya menyingkap tirai lebih banyak, melihat sedikit celah antara dunia dalam dan luar. Hembusan angin membawa aroma tanah basah dan samar bunyi klakson dari jalan besar. Ada sesuatu yang menyesak di dadanya—campuran cemas dan rasa tak berdaya.
Ia menatap jauh, menembus pantulan dirinya sendiri di kaca. Bayangan itu tampak lelah: rambut berantakan, mata terlihat lelah, dan ekspresi yang tak bisa ia jelaskan. Entah mengapa, sore itu terasa lebih sepi dari biasanya.
Cahaya ingat, ketika melihat punggung Albi yang tampak bergetar tapi ia tidak memiliki keberanian mendekat. Namun, ia jelas masih menyimpan cerita bagaimana Albi selalu bertanya, apa aku bisa menjawab semua soal dengan tepat. Entahlah.
Beberapa kali Cahaya mengetik lalu hapus, tapi berakhir ponselnya Ia lempar ke kasur, dan hanya menghembuskan napas kasar.
"Ah, bodo amat. Pikirku siapa?! Urusan Albi biar jadi urusannya saja. Kenapa lagi nih si Andri harus nanyainnya ke aku, dia emang tidak sadar ya, pesan aku di grup kelas tidak Albi baca juga." Cahaya ngomel, sebelum melirik tugasnya sendiri belum tuntas.