Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Lelaki Tanpa Wajah

Lelaki Tanpa Wajah

Vee Noir | Bersambung
Jumlah kata
61.4K
Popular
265
Subscribe
55
Novel / Lelaki Tanpa Wajah
Lelaki Tanpa Wajah

Lelaki Tanpa Wajah

Vee Noir| Bersambung
Jumlah Kata
61.4K
Popular
265
Subscribe
55
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeBalas DendamIdentitas TersembunyiMengubah Nasib
Arka seorang direktur di perusahaan besar menikah dengan seorang wanita cantik bernama Laras. Meskipun dengan tampilan fisik yang kurang menarik. Hidupnya terasa sempurna. Ia memiliki karir yang baik dan bisa menadapatkan seorang istri secantik Laras. Namun, pada suatu hari, Arka merasakan sebuah kejanggalan kepada istrinya. Tidak hanya itu, karirnya seketika langsung hancur. Pada masa keterpurukannya, ia tak sengaja bertemu dengan seorang dokter wanita bedah plastik bernama Raya. Arka pun lalu membuat sebuah keputusan besar mengubah penampilannya demi mengembalikan jabatannya. Lantas, apakah Arka bisa mengembalikan reputasi karirnya dan juga istrinya?
BAB 1 Panggilan Tengah Malam

“Ma, mau sampai kapan aku harus terus berpura - pura mencintai Arka?” Laras menyandarkan tubuhnya di sofa dengan malas.

Bu Dewi langsung menatap ke arah wajah Laras dengan tajam.

“Kamu mau hidup kita susah lagi?” tegas Bu Dewi.

Laras menghembuskan nafasnya dengan keras, ia merasa kesal dengan alasan klasik yang selalu dilontarkan oleh ibunya.

“Tapi, aku benar - benar muak, Ma!”

Bu Dewi langsung membekap mulut Laras dengan rapat. Ia langsung melihat ke area sekitar rumahnya. Memastikan tidak ada yang mendengar umpatannya.

Terdengar suara pintu rumah terbuka. Laras dan Bu Dewi langsung membenahi posisi duduk mereka. Ketegangan yang sempat terjadi, dengan cepat mereka merubahnya dengan senyum keramahan. Saat mengetahui kedatangan Arka.

Laras langsung bersikap manis layaknya seorang istri yang menyambut hangat kepulangan suaminya sesuai bekerja.

“Sayang, mau makan malam pakai apa hari ini?” ucapnya dengan lembut.

Arka menghempaskan tubuhnya di sofa. Tubuhnya yang lumayan gemuk membuat sofa terlihat mengempis.

“Malam ini aku mau makan nasi goreng saja,” jawabnya santai.

“Oke, aku sampaikan ke Bi Surti.”

Arka menahan tangan Laras yang hendak berjalan ke arah dapur.

“Tapi, kali ini aku mau merasakan masakanmu.”

Laras menatap ke arah wajah Arka dengan heran.

“Kenapa kamu tiba - tiba ingin aku memasak untukmu?”

Arka tersenyum menatap ke arah wajah istrinya.

“Selama dua tahun kita menikah…aku belum pernah merasakan masakanmu.”

Mendengar jawaban Arka ia menjadi semakin kesal. Namun, ia harus menahannya.

Laras melirik ke arah ibunya yang sedang duduk di sebelah kursi Arka. Kepalanya ia anggukan. Memberikan isyarat kepada Laras untuk menuruti kemauan Arka.

Akhirnya, dengan terpaksa Laras menuruti kemauan Arka. Dengan berat hati ia melangkahkan kaki menuju ke dapur.

Sementara itu, Arka sejenak menyandarkan kepalanya. Ia ingin sejenak melepas rasa penatnya.

Bu Dewi, mulai mengajaknya berbicara.

“Masakan Laras itu enak. Cuma terkadang,ia malas saja.”

Arka hanya menanggapi dengan menganggukan kepalanya sambil memejamkan matanya.

Tak selang lama, ia membuka kedua matanya dan beranjak dari sofa.

“Aku mau mandi dulu ya, Ma,” pamit Arka kepada Bu Dewi.

Arka membuka lemari bajunya. Ia sibuk membuka bajunya yang tergantung di dalam lemarinya.

Fokus Arka teralihkan dengan ponsel yang bergetar. Ia menoleh ke arah ranjang kasurnya dan mendapati ponsel Laras tergeletak di ranjang kasur.

Arka langsung meraih ponsel Laras. Terlihat notifikasi sebuah panggilan dari kontak bernama Yanti.

Arka mengerutkan keningnya.

“Yanti? Siapa Yanti?” Arka memandangi layar ponsel Laras dengan penasaran. Tak selang lama, panggilan telepon langsung berakhir.

PIntu kamar Arka terbuka. Laras datang memasuki kamar dan mendapati ponselnya yang masih berada di genggaman Arka.

Dengan cepat, Laras langsung meraih ponselnya.

“Hei! kenapa kamu tiba - kamu tiba membawa ponselku?” Laras berkata dengan nada panik sambil merebut ponselnya.

Arka langsung tercengang melihat sikap Laras yang baru kali pertamanya ia lihat. Selama ini Laras belum pernah bersikap kasar seperti ini kepadanya.

Laras menyadari Arka yang terlihat bingung atas sikapnya. Ekspresi wajahnya langsung berubah.

“Maaf, sayang. Aku tadi cuma terkejut saja,” ujarnya.

Arka masih terdiam tak menanggapi ucapan Laras.

Terkejut? Kenapa terkejut? Padahal aku hanya memegang ponselnya.

“Aku mau mandi dulu.” Arka tak ingin pikir panjang dan segera melangkah menuju kamar mandi.

Sesaat setelah Arka masuk ke dalam kamar mandi, Laras langsung membuka layar ponselnya.

“Aku kan sudah bilang, jangan hubungi aku dulu,” keluhnya dengan kesal sambil mengetikkan sebuah pesan kepada kontak bernama Yanti.

Di meja makan sudah tersedia sepiring nasi goreng dilengkapi dengan telur mata sapi setengah matang beserta beberapa potong mentimun.

Arka sangat antusias melihat hidangan sepiring nasi goreng yang kini berada di hadapannya. Masakan sederhana yang membuat ia merasa senang. Ia langsung menyuapkan ke mulutnya.

Matanya terbuka dengan lebar.

“Ini enak sekali,” pujinya dengan suara yang samar karena ia belum selesai mengunyahnya.

Bu Dewi menyahut, “Kan, Mama nggak bohong. Laras memang jago masak.” ia melirik ke arah Laras . “Istrimu cuma malas saja.”

Karena saking menikmati masakan istrinya, dengan cepat Arka menghabiskannya. Hingga tak tersisa satu pun butir beras di piringnya.

Laras kurang menyukai sikap Arka yang terlihat rakus saat makan. Tubuh Arka yang gemuk semakin membuatnya kesal.

Ia sudah beberapa kali mengingatkan Arka untuk berolahraga dan menjaga pola makannya. Namun, Arka tak terlalu menghiraukannya.

Setelah minum segelas air putih, Arka langsung bersendawa.

“Masakanmu enak sekali, Ras.” Arka kembali memujinya.

“Demi suami, aku harus memasak makanan yang lezat,” timpalnya.

Arka langsung beranjak dari kursi.

“Loh? Kamu mau kemana?” tanya Laras.

Arka menepuk perutnya yang buncit.

“Aku sudah kenyang. Sekarang aku merasa mengantuk,” jawabnya lalu melangkah pergi.

Ranjang kasurnya yang empuk terasa sangat memanjakan tubuh Arka. Ia merasakan penatnya benar - benar menghilang.

Tiba - tiba saja. Arka teringat kejadian sore tadi. Sikap Laras yang sangat berbeda. Wajah yang penuh amarah hanya karena Arka melihat ponselnya.

“Kenapa tadi dia sampai segitunya? Padahal aku ini suaminyam,” gumam Arka sambil menatap langit - langit kamarnya.

Terlihat Laras menyusul Arka ke dalam kamar, Istrinya duduk di depan meja rias dan mulai mengoleskan wajahnya dengan pelembab di wajahnya.

Arka memandangi Laras dengan lama.

Laras melihat Arka dari pantulan cerminnya.

“Kenapa kamu terus melihatku sampai nggak berkedip begitu?” tanya Laras sambil mengoleskan pelembab di wajahnya.

Arka terbangun dan duduk di ranjang kasurnya.

“Wajahmu yang cantik sama sekali nggak berubah.”

Laras meletakkan pelembabnya dan menatap Arka dari pantulan cerminnya.

“Karena aku menjadi istrimu. Aku harus pintar merawat diri,” jawabnya dengan ringan.

“Apa sudah saatnya kita sekarang harus memiliki anak?”

Pertanyaan yang terlontar dari Arka membuat Laras sangat terkejut. Ia langsung menoleh ke arah wajah Arka.

“Kenapa kamu tiba - tiba ingin memiliki anak?”

Arka tersenyum tipis dan menatap dalam - dalam ke arah istrinya.

“Karena aku ingin memiliki anak darimu. Lagi pula, apa lagi yang kita cari?” ucapnya dengan rasa penuh percaya diri.

Laras hanya terdiam. Kali ini ia tidak bisa berpikir alasan yang tepat untuk menolak permintaan Arka memiliki anak.

Apa yang diucapkan oleh Arka memang benar. Posisinya sebagai direktur utama di perusahaan swasta besar membuat hidupnya terpenuhi dengan baik.

Hidup di kota Aravena yang merupakan kota besar bukan suatu masalah untuknya. Oleh sebab itu ia ingin memiliki seorang anak untuk melengkapi kebahagiaan hidupnya.

“Mungkin…bisa nanti dulu.” suara Laras terdengar ragu.

“Kenapa kamu ingin menundanya lagi?” Arka bertanya dengan penasaran.

Kedua bola mata Laras bergerak seolah sedang mencari sebuah jawaban.

“Karena…” disaat dirinya sedang mencari alasan yang tepat, Yanti kembali menelpon.

Siapa yang menelpon Laras malam - malam begini?

Lanjut membaca
Lanjut membaca