

"Hoy...! Kemari! Buang sampah ini!" panggil seorang wanita seksi dengan suara tajam.
Wanita itu memiliki dada ideal, pinggang ramping, dan pinggul lebar. Ia hanya mengenakan mini dress tipis yang sangat ketat dan minim, sehingga lekuk tubuhnya terlihat jelas. Wajahnya cantik, berkulit putih mulus, tapi sayangnya sikapnya begitu angkuh.
Argon, seorang petugas cleaning service di apartemen mewah itu, selalu dipandang sebelah mata oleh wanita yang bernama Mia.
"Maaf, Nona. Anda tidak perlu memanggil saya hanya untuk membuang sampah ini," ucap Argon tenang sambil menunjuk ke arah kotak sampah di sisi pintu apartemen. "Saya sudah menyediakan tempat sampah di sana."
"Oh, jadi kau menolak perintahku?" balas Mia dengan nada sinis. Tanpa menunggu jawaban, ia sengaja menjatuhkan kantong sampah yang ternyata berisi sisa makanan berkuah.
"Prak!"
Kantong plastik itu pecah, mengotori lantai dengan cairan berserakan.
Mia kemudian berjalan melewati Argon begitu saja. Kepalanya mendongak angkuh, kakinya sengaja menginjak genangan caira itu, seolah tak peduli.
"Tch! Wanita sombong!" gerutu Argon dalam hati, kesal bukan main. Meski begitu, ia tetap membungkuk memungut sampah yang berserakan, lalu mengambil alat pel untuk membersihkannya.
_____
__________________
Satu Bulan Lalu.
Apartemen itu kedatangan penghuni baru.
Seorang wanita yang hanya mengenakan mini dress berwarna merah turun dari sebuah mobil mewah. Ia lalu membuka bagasi dan menurunkan satu per satu barang bawaannya.
Argon, yang saat itu sedang sibuk mengelap kaca pintu lobi, melihat ke arahnya. Ia pun berinisiatif untuk membantu. "Permisi... Ada yang bisa saya bantu?"
Mia melirik Argon sejenak dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan datar. Lalu ia langsung memberi perintah, "Bawa barang-barang ini ke lantai 20, kamar nomor 14."
"Tch! Sombong sekali..." batin Argon kesal, tapi ia tetap menurunkan barang bawaan itu satu per satu tanpa protes.
Namun, saat sedang membungkuk untuk mengangkat salah satu koper milik Mia, Argon tak sengaja melihat Mia membungkuk tepat di depan matanya. Alhasil, kedua payudara Mia yang besar dan kencang menggantung bebas di balik mini dressnya, sehingga Argon tertegun diam beberapa detik dan tanpa sadar menelan ludah. "Gleg..."
Mia, yang menyadari tatapan Argon, langsung menegurnya dengan ketus. "Hoy! Mesum! Apa yang kau lihat itu, hah?!"
Argon tersentak kaget. "Ah... tidak... tidak ada..." jawabnya terbata-bata, wajahnya memerah.
"Jangan pernah menatapku dengan cara seperti itu lagi!" bentak Mia. Lalu ia berjalan lebih dulu meninggalkan Argon.
"Astaga... dia benar-benar angkuh!" bisik Argon dalam hati, sambil menggelengkan kepala pelan.
.
.
.
Argon membawa semua tas berisi barang-barang pribadi Mia. Namun, saat ia hendak melangkah masuk ke dalam unit, Mia tiba-tiba menahannya.
"Cukup!"
Argon terdiam, matanya membulat lebar.
"Aku tidak sudi rumahku dimasuki lelaki kotor dan mesum sepertimu," ujar Mia.
Argon mengerutkan dahi. "Haaaah?"
Mia langsung merebut semua barangnya dari tangan Argon. Lalu ia mengeluarkan uang dua ribu rupiah dan menjepitnya dengan jari lentiknya. "Ini untukmu."
Argon terdiam. Emosinya mulai memuncak, tapi otaknya berbisik, "Jangan marah, Argon. Kau harus profesional. Dia hanya sengaja memancing emosimu agar kau terkena masalah."
Ia pun tersenyum paksa kepada Mia. "Hehe... Maaf, Nona. Aku membantu dengan ikhlas."
"Oh, begitu kah?" Namun ia kemudian mengambil sebuah kantong plastik berisi kotak makanan. "Kalau begitu, ini untukmu. Ambillah."
Argon diam sejenak, menatap kotak itu. "Hm... sepertinya ini berisi makanan yang enak," batinnya. Akhirnya ia mengambilnya dari tangan Mia. "Terima kasih, Nona..."
Mia tak membalas sepatah kata pun. Wajahnya tetap datar, lalu ia menutup pintu dengan keras. "Bruk!"
"Tch! Setidaknya ucapkan terima kasih!" gerutu Argon dalam hati sambil berbalik pergi meninggalkan pintu.
.
.
Setibanya di ruang petugas kebersihan, Argon langsung membuka kantong plastik yang diberikan Mia tadi.
Namun, setelah melihat isinya, hati Argon langsung terasa sesak. "Tch! Dasar wanita jalang!" dengusnya tertahan, penuh amarah yang membara.
Di dalam kotak itu hanya ada sisa makanan yang sudah dingin, nasi sisa, tulang ayam yang sudah habis digigit, apel yang separuhnya hilang karena bekas gigitan, serta beberapa lembar tisu bekas yang kusut.
"Apa-apaan...! Sombong sekali!" gerutu Argon sambil mengepalkan tangan. Ia membanting kotak itu ke tempat sampah dengan keras, suara benturannya menggema di ruangan kecil itu.
____
__________
Hari berikutnya, Argon sedang sibuk mengepel lantai lobi utama. Sambil terus bekerja, ia bergerutu dalam hati. "Padahal petugas kebersihan bukan hanya aku saja... Tapi kenapa justru aku yang selalu dapat tugas lebih banyak?"
Tiba-tiba, Mia terlihat keluar dari pintu lift. Ia berjalan santai ke arah Argon.
"Hemph! Wanita itu lagi..." dengus Argon pelan sambil terus mengepel lantai.
Namun, Mia sengaja menyenggol ember kecil berisi air kotor. "Brak!"
Ember itu terbalik, air langsung mengalir deras di atas lantai granit yang baru saja dibersihkan Argon. Mia bahkan tak meminta maaf, tetap melangkah seolah tak melihat keberadaan Argon di sana.
Argon tak kuasa menahan emosinya lagi. Ia pun berteriak, "Hoy! Berhenti!"
Seketika itu juga Mia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Argon dengan tatapan dingin. Bukan hanya Mia, tapi semua penghuni apartemen yang sedang berada di common room ikut menoleh, membuat suasana lobi mendadak hening.
Mia memiringkan kepala sedikit, lalu bertanya, "Ada apa?"
Menyadari semua mata tertuju padanya, nyali Argon langsung menciut. "Aaaah... hehehe... tidak, tidak ada..." jawabnya tergagap sambil tertawa gugup, buru-buru kembali mengepel.
Mia mengerutkan dahi sejenak. "Tch! Bodoh!" umpatnya pelan sambil melanjutkan langkahnya meninggalkan lobi.
_____
____________
Pada sore menjelang malam itu...
Argon sedang duduk sendirian di sudut area parkir, sebatang rokok terjepit di antara jari-jarinya. Asap tipis mengepul perlahan sambil ia menatap kosong.
Tiba-tiba, sebuah Mercedes-Benz AMG GT 63 meluncur masuk dengan mulus. Pintu pengemudi terbuka, dan Mia turun dari mobil itu dengan anggun.
Argon menyipitkan mata, menatap tajam ke arahnya sambil bergumam pelan, "Tch! Dia bersikap kepadaku seakan-akan wanita suci."
Tak lama kemudian, seorang pria berjas rapi turun dari sisi kemudi. Ia langsung mendekati Mia, lalu mereka jalan berdampingan. Langkah mereka begitu mesra, Mia bahkan bergelayut manja di lengan pria itu, tertawa kecil sambil menyandarkan kepala di bahunya.
Argon menarik napas dalam-dalam, menghisap rokoknya lebih kuat. "Seandainya aku punya uang... wanita macam dia pasti mudah kutaklukkan," batinnya penuh iri. "Dasar wanita sombong!" umpatnya lagi dalam hati.