Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Aku laki-laki, ~bukan~ pria

Aku laki-laki, ~bukan~ pria

Ale Levy | Bersambung
Jumlah kata
42.1K
Popular
119
Subscribe
28
Novel / Aku laki-laki, ~bukan~ pria
Aku laki-laki, ~bukan~ pria

Aku laki-laki, ~bukan~ pria

Ale Levy| Bersambung
Jumlah Kata
42.1K
Popular
119
Subscribe
28
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeSistemIdentitas Tersembunyi
seorang laki" yang tidak mengerti tentang bagaimana treat pasangannya dengan baik, tidak mengerti tentang bagaimana menjaga batas dengan lawan jenis dengan baik dan benar agar hubungannya dengan pasangannya tetap harmonis, dan tidak mengerti bagaimana menjadi pria yang sejati, namun dibalik itu semua, dia memiliki hati yang tulus mencintai pasangannya, ia juga ingin dimanja seperti perempuan manja pada laki", jiwanya lembut, perasaannya halus, ia nampak seperti perempuan. Jiwanya indah, dia hanya ingin menjadi dirinya apa adanya, tanpa niat menyakiti hati pasangannya karena ia mencintai pasangannya dengan sangat dalam. Senantiasa ia bergolak dengan yang ada dalam diri untuk mendapati diri sejatinya. akankah memilih untuk berubah demi memperbaiki keadaan atau bertahan dengan keadaan yang menentang.
Bab 1 Bekas Kuku di Bantal

Sentuhan lembut dari semburat cahaya matahari yang menembus kamarku membangunkanku. Perlahan aku membuka mataku, sudah pagi ternyata. Mataku melompat ke arah jam dinding kusam di dinding sebelah lemari, menunjukkan pukul 10.15 WIB. Perlahan aku memboyong tubuhku sendiri yang masih lunglai ke toilet untuk membasuh wajahku dengan air dingin menyebalkan yang tak pernah bisa berubah menjadi hangat. Sama seperti rumahku ini. Aku melanjutkan langkahku kembali ke kamar dan bercermin, terlihat mata minimalisku yang sembab akibat drama korea tadi malam. Ya, aku suka dengan drama korea yang manis dan menguras air mataku itu.

Aku berjalan menuju dapur, tidak jauh, hanya di sebelah kamarku. Aku dan keluargaku tinggal di rumah susun yang sempit, bertetangga dengan kaum malam, penjudi, pengguna, pemabuk, dan sebagian kecil jiwa-jiwa yang masih murni. Mungkin termasuk aku dan keluargaku atau tidak juga.

Tudung saji terlihat depan mataku, aku membukanya dan seperti biasa, tidak ada makanan. Tidak, aku tidak kesal. Aku sudah biasa dengan kondisi keluargaku yang seperti ini, terlebih ini hari Sabtu, hari semua orang beristirahat. Aku mulai menyalakan kompor dan memanaskan air dalam panci, siap memasak indomie goreng cabai hijau favoritku, tentunya dengan telur, telurnya dua. Gelembung air sudah naik ke permukaan, tanda panggilan pecahan telur pertamaku masuk. Aku mengambil dua telur dari kulkas.

“Astaghfirullah .. ”, aku terkejut karena melihat cairan telur yang kutuang berwarna kehitaman, menandakan busuk. Aku menarik napas, memejamkan mata, kemudian menghembuskannya kembali. Ini untuk yang kesekian kali aku bersabar dengan kondisi rumah yang seperti ini. Dalam hatiku menggerutu kesal, namun tak bisa kuluapkan lagi. Aku diam, bergegas dari dapur, mengambil kunci motor dan turun dari rusun untuk mencari makan, berboncengan dengan kekesalan.

“Bang, bubur ayam satu ya, ge pe elll ..”, ucapku usil

“Iyeee, ga pake kacang, daun bawangnya dibanyakin kan?”, sahut bang Bebeh

“Hahaha, bang Bebeh emang best deh pokoknyaaa”, ungkapku usil

“Nuka kemane aje sih jarang keliatan dimari?”, tanya bang Bebeh dengan polesan senyum berserat yang melukiskan usianya dan logat betawi khasnya

“Biasa lah bang, sama ayang hehehehe”, timpalku.

Bubur bang Bebeh menjadi andalanku selalu ketika tidak ada yang bisa dimakan. Percakapanku yang hangat dengannya, menandakan aku yang sudah menjadi pelanggan tetap bubur miliknya. Aroma kuah rempah yang wangi dan kuat ini menghempas kekesalanku pada telur busuk. Semangkuk bubur bang Bebeh kini hadir dihadapanku, menghadirkan senyum yang mungil dari senyum simpulku. Aku mulai menyilangkan kakiku, lutut kanan di atas lutut kiri, tidak kunaikkan ke atas bangku. Aku tim bubur tidak diaduk dan menurutku, itu adalah hal terbaik untuk menikmati bubur. Aku geli melihat bubur yang diaduk karena merusak estetikanya dan jadi terlihat seperti hal yang tak ingin kusebutkan.

Beralih dari bubur bang Bebeh, aku melipir ke indomaret dan membeli minuman favoritku. Satu liter teh botol Sosro ini nanti menemani tontonan drama koreaku yang akan kulanjutkan episodenya. Sambil melihat-lihat, aku mulai memikirkan kira-kira camilan apa yang cocok untuk menemani tehku. Aku memilih keripik tempe rasa sea salt, sepertinya enak.

***

Entah sudah berapa banyak drama korea yang sudah kutonton, masih saja aku ikut menangis karena adegan yang mengharukan. Tentu saja ini hanya terjadi di kamarku, aku malas mendengar celotehan mamaku yang bilang aku cengeng. Sejak hari itu, aku tidak pernah lagi menunjukkan air mataku di depannya. Hari ketika anak tetanggaku menjahiliku dan membuatku menangis, mamaku bilang laki-laki harus kuat, tak boleh menangis. Aku kesal karena tidak ada pembelaan apa-apa dari mamaku, yang kudengar hanya kata-kata pembentuk kalimat tajam yang menghunus hatiku. Ayahku pun begitu, ia tak ikut membelaku dan menyerahkan urusan mengurus anak pada mamaku. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku bercanda dengan ayah dan mama, atau mungkin memang tidak pernah, aku tak ingat.

Malam ini terasa kacau, aku mulai menangis lagi di kamarku, kali ini bukan karena drama korea yang baru saja kutonton, namun karena bising emosi kedua belah suami istri yang tak pernah belajar caranya berkomunikasi dengan baik. Otot leher mereka berdua kurasa sudah kaku akibat menahan amarah dari masing-masing pihak. Seperti dua kucing sedang meracau tak jelas. Kembali aku menutup telingaku dengan bantal, berusaha untuk tak mendengar urusan rumah tangga mereka berdua. Memang sebenarnya tak ingin juga. Kuat kuremas bantalku untuk menekan telinga. Kalau aku manusia super, aku akan memilih mode senyap sementara mereka berargumen sengit. Menjadi tuli sejenak, itu akan sangat membantu. Aku tetap meremas bantal dan menekan telingaku diantaranya, seiring lama pergulatan mereka dan memejamkan mata untuk fokus. Ketika mereka berdua selesai bergulat, kubuka telingaku yang sudah menghangat akibat tekanan, kuarahkan bantal kedepan dan kuletakkan di pangkuanku. Terjadi lagi hal yang berulang, robek. Entah bagaimana caranya sarung bantalku bisa robek karena tertusuk kukuku, mungkin memang karena sarung bantal ini sudah usang dan dibeli dari pasar loak, murah, diskon, kesukaan mamaku. Atau itu adalah tenaga dalam yang keluar dari tubuhku, entah.

Aku terdiam, entah apa yang bisa kulakukan untuk menghentikan semuanya. Ini sudah terjadi cukup lama. Dua puluh lima tahun hidupku hanya terkungkung dalam sarang ini. Aku ingin bebas. Sudah lama sekali rasanya, sudah lumutan. Dua dekade ini tidak ada memori indah yang terjadi di ruangan ini. Satu-satunya hiburanku hanya drama korea yang terus berputar di laptop usang bekas perkuliahanku.

Pikiranku kini menunjuk ayahku sebagai teman diskusi malam ini. Ayahku adalah satu-satunya orang yang bisa kuajak berbincang dengan waras, sangat berkebalikan dengan mamaku.

“Yah”, panggilku mengawali pembicaraan

“Kenapa Nu?”, tanya ayah

“Nuka boleh ngekos ga?”, pintaku sedikit berharap

“Nuka kenapa tiba-tiba pengen ngekos?”, tanya ayahku sambil mengerutkan dahi

“Gapapa, Nuka udah dewasa, pengen ngerasain hidup mandiri aja kayak yang lain”, kataku berusaha meyakinkan ayah

“Bukan biar Nuka bebas bawa cewe ke kosan kan?”, tandas ayahku menimpali, masih sambil mengerutkan kening

“Engga lah yah, aku ngekos biar aku bisa belajar hidup mandiri”, pintaku, kali ini dengan nada terdengar meyakinkan.

Ayahku mengangguk menyetujui permintaanku. Pilihanku benar untuk meminta izin ayah. Kalau aku meminta mama untuk ini, mungkin aku hanya mendengar kalimat yang tak ingin kudengar. Aku lega, ayah menyetujuinya.

Ini kesempatan besar yang sudah lama aku impikan. Punya ruang bebas sendiri, aku bebas menjadi diriku sendiri tanpa takut akan terlihat oleh orang lain. Selama dua dekade ini, kebebasan bagaikan angan yang sulit diraih, tapi mengingat usiaku yang matang, aku bersyukur pada akhirnya aku bisa merasakan hidup dengan bebas. Mungkin aku akan membawa pacarku main ke kos sesekali, atau mungkin tidak, entahlah.

Lanjut membaca
Lanjut membaca