Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Juragan Muda 2 (Naufal Abayomi Wiratama )

Juragan Muda 2 (Naufal Abayomi Wiratama )

Nswti | Bersambung
Jumlah kata
26.3K
Popular
100
Subscribe
2
Novel / Juragan Muda 2 (Naufal Abayomi Wiratama )
Juragan Muda 2 (Naufal Abayomi Wiratama )

Juragan Muda 2 (Naufal Abayomi Wiratama )

Nswti| Bersambung
Jumlah Kata
26.3K
Popular
100
Subscribe
2
Sinopsis
FanficFanficPertualanganBisnisPewaris
Lanjutan dari cerita juragan Muda. Naufal Abayomi Wiratama, pria berusia 23 tahun itu sedang sibuk mengerjakan tesis s 2 nya yang berkuliah di kota malang, S 1 nya Naufal kuliah di Singapura seperti Ayah nya dulu. Naufal tidak tinggal di kosan, ia tetap tinggal bersama orang tua dan adiknya. kalau tidak sibuk urusan kampus, Naufal akan sesekali membantu ayah nya di gudang kopi atau di coffee shop milik orang tuanya.
Naufal Abayomi Wiratama

***

Dua puluh empat tahun berlalu tanpa terasa. Waktu yang dulu berjalan pelan di antara aroma kopi, doa-doa panjang, dan harapan sederhana, kini tumbuh menjadi perjalanan yang matang dan penuh arah.

Pagi itu, udara Malang masih dingin ketika aktivitas di sekitar kampus mulai menggeliat. Jalanan dipenuhi mahasiswa dengan jaket tebal dan ransel di punggung mereka. Di salah satu sudut strategis dekat kampus, berdiri sebuah coffee shop bergaya hangat dan klasik, dinding kayu, jendela kaca besar, serta aroma kopi yang seolah tak pernah benar-benar hilang dari udara.

Coffee shop itu bernama Double A Coffee, awalnya namanya Ayunda Arga Coffee, namun di ubah sekitar 15 tahun lalu.

Usaha tersebut bukan hal baru. Justru sebaliknya, Double A Coffee adalah saksi perjalanan panjang keluarga Arga dan Ayunda. Arga membangunnya bertahun-tahun sebelum Ayunda hamil Naufal, bermula dari punya usaha kopi dan di kembangkan menjadi usaha coffee shop. Ayunda menjadi pendamping setia sejak awal, mencatat keuangan, menyapa pelanggan, hingga ikut meracik minuman di balik meja bar.

Kini, dua puluh empat tahun kemudian, Wiratama Coffee telah berkembang menjadi tiga cabang. Dua di Malang dan satu di Surabaya. Dan pagi itu, di cabang yang berada tepat di dekat kampus favorit Malang, Naufal Abayomi Wiratama berdiri di balik meja kasir.

Penampilannya sederhana—kemeja hitam polos, celana kain gelap, dan celemek cokelat tua. Namun sorot matanya tenang, penuh fokus. Ia memeriksa mesin kopi, mencicipi espresso hasil seduhan pertama, lalu mengangguk kecil, puas.

“Rasanya masih konsisten,” ujarnya pelan.

“Dari kemarin Mas Naufal yang atur ulang takaran, jadi lebih stabil,” jawab Rendi, barista senior yang sudah bekerja di Wiratama Coffee sejak Naufal masih SMA.

Naufal tersenyum tipis. Ia tidak pernah merasa perlu menunjukkan bahwa tempat ini miliknya. Ia bekerja seperti bagian dari tim, bukan di atas mereka.

Saat ini, Naufal berusia dua puluh empat tahun dan sedang menempuh pendidikan S2 jurusan bisnis di salah satu kampus favorit di Malang. Gelar S1-nya ia peroleh dari Singapura, tempat ia belajar bisnis sekaligus kehidupan. Tinggal sendiri di negeri orang membentuknya menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, dan terbiasa berpikir sistematis.

Sekembalinya ke Indonesia, Arga dan Ayunda tidak langsung menyerahkan bisnis keluarga begitu saja. Namun seiring waktu, melihat keseriusan dan pemahaman Naufal, keduanya mulai memberi kepercayaan penuh. Cabang dekat kampus inilah yang kini sepenuhnya berada di bawah pengelolaan Naufal, sekaligus menjadi laboratorium nyata bagi ilmu yang ia pelajari di bangku S2.

“Mas, laporan cabang Surabaya sudah masuk,” ujar salah satu staf sambil menyerahkan tablet.

Naufal membacanya dengan saksama. “Penjualannya naik, tapi biaya operasional juga ikut melonjak. Kita perlu evaluasi sistem distribusi biji kopi.”

Ia mencatat beberapa poin penting, lalu menutup tablet. Semua ia lakukan dengan tenang, tanpa tergesa-gesa.

Di kampus, Naufal dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas namun tidak menonjolkan diri. Ia jarang bicara kecuali diperlukan, tetapi ketika menyampaikan pendapat, analisanya selalu matang. Beberapa dosen bahkan sudah memperhatikan rencana risetnya—tentang pengembangan bisnis kopi lokal berbasis keluarga agar mampu bersaing di pasar global.

Sore hari, setelah kuliah selesai, Naufal kembali ke coffee shop. Cahaya matahari senja menembus jendela kaca, menciptakan suasana hangat yang menenangkan. Ia duduk di sudut ruangan, membuka laptop, dan mulai menyusun konsep ekspansi baru—bukan sekadar membuka cabang, tetapi membangun identitas.

Pikirannya sesekali melayang pada kedua orang tuanya. Arga yang kini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, dan Ayunda yang tetap setia memberi masukan meski tak lagi terlibat langsung. Dari merekalah Naufal belajar bahwa bisnis bukan hanya soal keuntungan, melainkan tentang kejujuran, konsistensi, dan tanggung jawab.

Naufal menatap sekeliling. Wiratama Coffee dipenuhi mahasiswa, pekerja lepas, dan pelanggan lama yang datang bukan hanya untuk minum kopi, tapi untuk pulang sejenak ke rasa nyaman.

Ia menarik napas panjang.

Di usia dua puluh empat tahun, hidup Naufal memang terlihat mapan. Namun ia tahu, semua ini bukan garis akhir. Ini hanyalah kelanjutan dari mimpi yang dimulai jauh sebelum ia lahir—mimpi yang kini berada di tangannya.

Dan di kota Malang yang sejuk, di antara aroma kopi dan halaman-halaman rencana masa depan, perjalanan Naufal Abayomi Wiratama baru saja benar-benar dimulai.

*

Setelah azan magrib berkumandang dan shalatnya selesai, Naufal merapikan sajadahnya dengan tenang. Ia pamit pada pegawai yang masih berjaga di coffee shop, memastikan semuanya aman untuk malam itu, lalu melangkah keluar. Udara malam Malang menyambutnya dengan dingin yang lembut, lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal yang sedikit basah oleh embun.

Perjalanan menuju rumah orang tuanya tidak memakan waktu lama. Rumah itu masih sama seperti yang ia ingat sejak kecil, teduh, tenang, dan selalu memberi rasa pulang. Begitu Naufal membuka pintu, suasana rumah terasa hening, hanya terdengar suara televisi yang menyala pelan dari ruang tengah.

“Assalamu’alaikum,” ucapnya sambil menutup pintu.

“Wa’alaikumussalam,” jawab dua suara hampir bersamaan.

Di ruang tengah, Naufal mendapati dua adiknya sedang duduk lesehan di atas karpet. Nadira Yumna Wiratama, adik pertamanya, duduk bersila dengan buku gambar terbuka di depannya. Rambut panjangnya diikat asal, wajahnya tampak serius namun sabar. Di sampingnya, Nadif Zailantara Wiratama duduk tengkurap, sibuk menggoreskan krayon warna-warni di kertas gambar.

Nadira kini sudah kelas satu SMA. Usianya terpaut cukup jauh dari Naufal, namun kedewasaan gadis itu sering kali membuatnya terlihat lebih tua dari umurnya. Sejak kecil, Nadira memang dikenal penurut dan perhatian, terutama pada adik bungsunya.

Sementara Nadif, yang baru duduk di kelas satu SD, adalah kebalikan dari Nadira. Aktif, banyak bertanya, dan sulit diam. Namun sore itu ia terlihat sangat fokus, lidahnya menjulur sedikit saat ia berusaha mewarnai gambar rumah dan pohon di kertasnya.

“Bang Naufal sudah pulang?” Nadira menoleh, tersenyum kecil begitu melihat abangnya berdiri di ambang pintu.

“Iya,” jawab Naufal sambil melangkah mendekat. “Lagi ngapain?”

“PR menggambar Nadif. Besok harus dikumpulin,” ujar Nadira sambil menggeserkan buku agar Naufal bisa melihat.

Naufal berjongkok di dekat mereka. Ia memperhatikan gambar Nadif dengan seksama. “Wah, rumahnya besar sekali,” katanya sambil tersenyum.

Nadif mendongak cepat. “Ini rumah impian, bang! Ada tamannya, sama kolam ikan.”

“Pantesan,” Naufal terkekeh pelan. “Warnanya sudah bagus. Tinggal dirapikan dikit.”

Nadira menghela napas kecil. “Dari tadi susah disuruh pakai warna yang rapi. Maunya campur semua.”

“Biar kelihatan rame,” sahut Nadif cepat, membuat Nadira geleng-geleng kepala.

Naufal ikut duduk di lantai, mengambil satu krayon hijau dan membantu memberi contoh. Tangannya yang biasa memegang cangkir kopi kini bergerak perlahan di atas kertas gambar, membuat Nadif memperhatikannya dengan mata berbinar.

“Pelan-pelan aja,” ujar Naufal lembut. “Kalau sabar, gambarnya jadi lebih bagus.”

Nadif mengangguk, lalu meniru gerakan abangnya.

Suasana ruang tengah terasa hangat dan sederhana. Tak ada Arga dan Ayunda di sana, entah masih di dapur atau beristirahat di kamar. Namun kebersamaan kecil itu sudah cukup membuat Naufal merasa utuh.

Ia menatap kedua adiknya bergantian. Di balik kesibukannya mengurus kuliah dan coffee shop, momen-momen seperti inilah yang sering ia rindukan. Duduk di lantai rumah, membantu PR, mendengar celoteh Nadif, dan melihat Nadira tumbuh menjadi remaja yang bertanggung jawab.

Lanjut membaca
Lanjut membaca