Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Albi Pewaris Terakhir

Albi Pewaris Terakhir

Onion Ring | Bersambung
Jumlah kata
55.6K
Popular
323
Subscribe
132
Novel / Albi Pewaris Terakhir
Albi Pewaris Terakhir

Albi Pewaris Terakhir

Onion Ring| Bersambung
Jumlah Kata
55.6K
Popular
323
Subscribe
132
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalSistemPewarisIdentitas Tersembunyi
Di sekolah, Albi hanyalah remaja biasa yang selalu diremehkan. Namun, di balik hinaan itu, mengalir darah dari seorang CEO paling berpengaruh di negeri ini. Ketika dunia menertawakannya, takdir membuka jalan lain. Sebuah sistem misterius aktif dalam hidupnya, mengubah segalanya: tubuh, pikiran, bahkan masa depannya. Setiap misi membawa kekuatan baru… sekaligus mengungkap rahasia kelam tentang warisan sang ayah.
Anak Cupu

"Wah, si anak cupu yang sok pintar sudah datang!"

Albi tidak memperlambat langkahnya.

Terik matahari menghujam lapangan sekolah SMA Patriot 17, tetapi panasnya tidak seberapa dibanding tatapan-tatapan yang mengikutinya seperti laser.

Ia sudah menghitung. Tiga detik sejak kakinya menginjak lapangan sampai ejekan pertama dilontarkan.

‘Rekor baru. Biasanya lima detik,’ pikirnya.

Feri berdiri di tengah lapangan basket, tubuhnya yang besar menghalangi jalan menuju gedung utama.

Di belakangnya, Rino dan dua anak lain sudah menyeringai, siap menonton pertunjukan rutin mereka.

"Hei, aku bicara sama kamu!" seru Feri.

Feri melangkah maju, menyambar tas lusuh Albi dari bahunya dengan satu sentakan.

"Tas apaan ini? Bau apek. Dari jaman kapan, sih?" ledeknya seperti biasanya.

Tas itu melayang, mendarat di pinggir lapangan dengan bunyi buk yang menyedihkan.

Beberapa siswa yang lewat tertawa. Yang lain pura-pura tidak melihat.

Albi diam.

Ia tetap menghitung. Di kepalanya, ada kalkulasi yang berjalan otomatis setiap kali situasi seperti ini terjadi.

‘Jika melawan sekarang, Feri akan marah. Feri yang marah berarti pukulan. Pukulan berarti lebam. Lebam berarti Bibi akan menangis malam ini sambil mengompres lukanya,’ pikirnya.

Jadi Albi memilih diam.

"Kenapa kamu, bisu?" Feri maju selangkah lagi, wajahnya hanya sejengkal dari Albi. Bau rokok murah tercium dari napasnya. "Aku tanya, kamu bisu atau tuli?"

"Dua-duanya kali, Fer," sahut Rino dari belakang. "Makanya dia tidak pernah punya teman."

Tawa meledak lagi.

Albi tetap tidak bereaksi. Matanya tertunduk, menatap sepatu sekolahnya yang sudah sobek di bagian sol.

Sepatu itu dibelikan Bibi dua tahun lalu, dibeli pakai uang lembur selama tiga bulan. Albi tidak pernah minta yang baru meski kakinya sudah kebesaran.

Feri terlihat frustrasi dengan ketiadaan respons. Ia butuh reaksi. Butuh ketakutan. Butuh sesuatu yang membuatnya merasa berkuasa.

Tapi Albi selalu diam seperti patung.

"Ck." Feri berdecak, lalu matanya turun ke kaki Albi. "Sepatu apaan tuh? Bolong-bolong gitu. Malu-maluin sekolah aja."

Tanpa peringatan, ia menginjak kaki Albi dan menarik paksa sepatu kirinya.

"Sini aku bersihin!"

Sepatu itu terlempar ke genangan air bekas hujan semalam. Air kotor muncrat, sebagian membasahi celana seragam Albi.

Masih tidak ada reaksi.

‘Sialan! Aku harus tetap terlihat tenang,’ gumamnya.

Ada kedutan kecil di rahang Albi. Sangat kecil. Nyaris tidak terlihat. Bukan tidak mampu melawan, ia hanya tidak mau membuat kegaduhan.

"Bro, dia seperti robot," kata salah satu teman Feri dengan nada bosan. "Tidak seru."

Feri mengabaikan komentar itu. Matanya menyipit, menatap Albi seperti predator yang kesal karena mangsanya tidak memberikan perlawanan yang memuaskan.

"Heran deh." Feri melipat tangan di dada.

"Baju kumel, tas jebol, sepatu bolong. Emang orang tua kamu nggak bisa beliin yang baru apa? Atau emang sedari lahir sudah melarat begini?" Ucap Feri bernada merendahkan.

Rino dan yang lain tertawa.

Albi tetap diam. Ejekan soal kemiskinan bukan hal baru. Ia sudah mendengarnya ratusan kali dalam dua tahun terakhir.

"Coba sekali saja kamu bicara, Al." Feri mendekatkan wajahnya.

"Satu kata saja. Biar aku tahu kamu masih punya nyali. Atau emang dari sananya kamu cuma jadi pecundang doang?"

Albi menelan ludah. ‘Jangan. Jangan sekarang. Jangan.’

Feri mendengus, bosan dengan ketiadaan respons. Ia menoleh ke Rino dan memberi isyarat dengan dagunya.

Rino mengerti.

Ia bergerak ke belakang Albi dan mendorong bahunya keras.

Tubuh kurus Albi terhempas ke depan, lututnya menghantam aspal lebih dulu, lalu bahunya membentur trotoar dengan bunyi yang menyakitkan.

Kacamatanya miring, dan lensa kirinya pun ikutan retak.

“Aggh …!” erang Albi pelan, nyaris seperti bisikan.

‘Kenapa aku selemah ini? Aku ingin memiliki kekuatan. Aku ingin bangkit membalas semuanya dan … bertemu ayah! Andai Ayah tahu apa yang terjadi dalam hidupku selama ini … Sialan …!’ batinnya.

Tawa meledak dari gerombolan Feri.

Tetapi bukan rasa sakit di lutut atau bahu yang membuat jantung Albi berhenti sesaat.

Dari saku celananya, sebuah benda kecil terlempar keluar. Benda itu berguling di aspal, berputar beberapa kali, lalu berhenti tepat di kaki Feri.

Sebuah jam tangan lusuh.

Jam tangan tua dengan bahan plastik dan tali kulit imitasi yang sudah mengelupas.

Benda murahan yang tidak akan laku meski dijual di pasar loak. Tetapi bagi Albi, benda itu lebih berharga dari apa pun di dunia ini.

‘Sial! Jangan sampai benda itu direbut! Itu satu-satunya benda untuk bertemu Ayah,’ batinnya.

Itu adalah satu-satunya benda yang ditinggalkan ayahnya.

"Oh?"

Feri mengambil jam tangan itu, mengangkatnya tinggi-tinggi seperti menemukan mainan baru.

"Ini apaan? Jam antik?" ucapnyaa lalu tertawa.

"Antik dari mana, plastik begini. Jam murahan. Pantas saja pemiliknya juga murahan."

"Kembalikan."

Suara itu keluar dari mulut Albi sebelum ia sempat menahannya. Serak. Pelan. Tetapi mengandung sesuatu yang berbeda.

Sesuatu yang membuat Rino mundur setengah langkah tanpa sadar.

Feri mengangkat alis.

"Oh, akhirnya bicara juga."

Ia mengayun-ayunkan jam itu di depan wajah Albi yang masih tersungkur.

"Mau jam jelek ini? Ambil sini kalau berani."

Albi bangkit perlahan. Lututnya perih. Sikunya lecet. Tetapi matanya sekarang berbeda. Tidak lagi kosong. Ada api di sana. Api yang sudah terlalu lama diredam.

Kali ini Feri dan teman-temannya sudah sangat keterlaluan.

Albi melangkah maju. "Aku bilang... kembalikan!"

Feri menyeringai lebar. Ini yang ia tunggu. Perlawanan dari seorang pecundang yang dua tahun ini menjadi target intimidasinya.

"Tidak mau." Feri mengangkat tangannya tinggi-tinggi, bersiap melempar jam itu ke atap gedung sekolah. "Bye bye, jam je—"

Albi bergerak.

Ia tidak tahu dari mana kecepatan itu datang. Tubuhnya yang kurus seharusnya tidak bisa bergerak secepat itu.

Tetapi sebelum Feri sempat melempar, tangan Albi sudah mencengkeram pergelangan tangan Feri.

Dunia berhenti.

Feri merasakan dingin. Dingin yang merayap dari titik di mana kulit Albi menyentuh kulitnya, menjalar ke atas, menembus otot dan tulang, menusuk langsung ke dalam kepalanya.

"A-apa ini..." Feri tergagap. Matanya melebar.

Tangannya gemetar hebat, tidak terkendali, seperti dialiri listrik tegangan rendah yang konstan.

Albi juga merasakannya.

Ada yang mengalir. Dari jam tangan itu, sesuatu mengalir masuk ke dalam tubuhnya. Ke dalam pikirannya.

Benda plastik murahan itu sekarang terasa panas di tangannya.

Feri menjatuhkan jam tangan dengan gerakan refleks, seperti menyentuh bara api. Ia mundur tiga langkah, wajahnya pucat pasi.

"Apa yang kamu lakukan, Al?!" bentaknya, tetapi suaranya lebih mirip teriakan ketakutan daripada ancaman.

Albi tidak menjawab.

Ia meraih jam tangan itu dari tanah. Jemarinya yang gemetar mencengkeram benda itu erat-erat. Panas dan dingin hadir bersamaan dalam genggamannya.

Lalu, di tengah keriuhan yang masih berlangsung, sebuah keheningan yang mematikan tiba-tiba menyergap.

Itu bukan sekadar sunyi; itu adalah dengungan yang mendadak menyelimuti telinga, dan secara efektif memblokir suara bising angin yang berdesir melewati dedaunan dan bisikan remeh siswa-siswa di sekitarnya.

Albi berdiri membeku, terputus total dari dunia luar. Dalam waktu yang mencekik itu, ia mendengar sesuatu.

Sebuah suara.

Suara itu datang bukan dari luar, melainkan berdering tajam dari dalam relung terdalam kepalanya.

Tepat saat kesadarannya menegang, rangkaian pesan tanpa ampun itu muncul:

[Kondisi Inang: Kritis.]

[Amarah Absolut Terdeteksi.]

[Sistem Warisan Sultanputra: Inisialisasi Darurat Dimulai...]

Keheningan itu runtuh seiring suara terakhir, bergema dengan otoritas yang tak terbantahkan, memenuhi seluruh ruang pikiran Albi:

[Selamat Datang, Pewaris.]

Dan… kesadaran Albi mulai menghilang perlahan. Gelap memenuhi pendangannya dan…

Lanjut membaca
Lanjut membaca