

Hujan deras turun sejak sore, memukul atap-atap seng Desa Wringinjati dengan ritme yang sama sejak beberapa jam terakhir. Udara desa terasa pengap, lembap, dan berat, seolah seluruh lingkungan terperangkap dalam ruang tanpa ventilasi. Pohon-pohon jati di pinggir jalan bergoyang perlahan diterpa angin, meneteskan air seperti sisa embun yang enggan jatuh.
Langit menggelap tanpa kilat atau petir. Hanya warna hitam yang rata dan padat. Namun dari arah sawah, ada sesuatu yang berbeda—seberkas cahaya kecil yang tampak bergerak. Tidak stabil, tidak seperti lampu senter, tetapi juga bukan kunang-kunang. Cahayanya terlalu tegas, seolah berasal dari sesuatu yang tidak semestinya ada di tengah sawah tergenang.
“Pak Darmo belum balik dari sawah?” tanya seorang warga di serambi balai dusun. Payungnya tertiup angin, suara daun seng gemerincing menutupi sebagian suaranya.
Tak ada jawaban. Warga lain hanya saling tatap, khawatir namun ragu berkomentar.
Lalu terdengar teriakan. Suara perempuan, tinggi dan pecah. Teriakan itu cukup kuat untuk memotong suara hujan, meski hanya sesaat.
Refleks, beberapa warga langsung berlari ke arah sumber suara. Tanah becek membuat langkah mereka tersendat, sandal beberapa terjebak lumpur. Hujan membatasi jarak pandang hingga mereka hampir tak bisa melihat lebih dari beberapa meter ke depan.
Saat mendekat ke pematang, mereka melihat Bu Rini berdiri seorang diri. Tubuhnya basah kuyup, bahunya naik turun cepat. Wajahnya pucat, dan matanya terpaku pada satu titik di tengah sawah yang gelap. Tangan kanannya menunjuk tanpa berkedip.
“Ada… ada wong klelep…” katanya dengan suara patah.
Dua warga mencoba menenangkannya, namun Bu Rini tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Warga lain menyorotkan senter ke tengah sawah. Permukaannya bergolak kecil, tidak seperti ombak, lebih seperti sesuatu yang bergerak di bawah lumpur.
“Pak Darmo?” panggil salah satu warga.
Tidak ada respons. Hanya air hujan yang terus memukul permukaan sawah.
Tiba-tiba, air di titik yang sama memercik dengan kuat. Warna merah muncul, perlahan menyebar di antara lumpur coklat. Bukan merah terang seperti cat, tetapi merah gelap yang mengenalkan bau logam saat menyentuh udara. Bau itu naik cepat, membuat beberapa warga refleks menutup hidung.
“Duh…” seseorang bergumam, suara kecil dan tak yakin.
Dari permukaan air, sesuatu muncul. Seperti tangan, namun bentuknya membengkak dan pucat. Hanya terlihat sekilas sebelum kembali tenggelam terseret pusaran kecil di bawahnya.
Bu Rini menutup mulutnya, menahan napas terkejut.
Warga-warga mundur setapak. Senter bergetar di tangan mereka. Hujan terus turun, tapi kini suara lain terdengar samar, gumaman rendah dari dalam air, terlalu pelan untuk dipastikan berasal dari manusia.
Pusaran melebar. Lumpur bergerak. Warna merah makin tampak. Perlahan, sesuatu yang menyerupai tubuh Pak Darmo muncul di permukaan. Bukan terangkat sepenuhnya, hanya sebagian, namun cukup untuk dikenali. Yang membuat semua orang terpaku bukan tubuhnya.
Melainkan ketidakhadiran sesuatu yang seharusnya ada.
Kepalanya tidak terlihat. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang mencoba memastikan lebih dekat. Segalanya diam, kecuali suara hujan.
Dari tengah genangan yang bergolak itu, sebuah tubuh perlahan mengapung ke permukaan. Hujan menambah berat air, namun tubuh itu tetap terdorong naik seperti sesuatu dari bawah yang sengaja melepaskannya. Tubuh itu telentang, matanya terbuka lebar, memantulkan cahaya senter warga yang bergetar. Tatapannya kosong bukan seperti orang yang meninggal dengan tenang, tetapi seperti seseorang yang sempat terkejut pada detik terakhirnya. Mulutnya penuh lumpur hitam.
Pak Darmo.
Baju luriknya robek di beberapa bagian. Ada bekas cekungan seperti tekanan kuat yang menghimpit tulang rusuknya dari bawah. Kedua tangannya membiru, jari-jarinya kaku, seolah pernah mencengkeram sesuatu dengan keras sebelum menyerah.
“Gusti…” seseorang berbisik, langkahnya mundur perlahan.
Belum sempat siapa pun mendekat, tubuh Pak Darmo bergetar. Bukan karena arus air atau dorongan hujan. Getarannya terlalu teratur, terlalu terarah—seperti ada sesuatu di bawah perut sawah yang menarik bagian punggungnya.
Semua senter mengarah ke tubuh itu.
Lumpur tiba-tiba naik membentuk semburan kecil di sekitar tubuh Pak Darmo. Gerakannya seperti cairan yang menutup mangsanya. Lumpur itu menempel di baju, lalu seperti tangan-tangan tanpa bentuk, menyambar tubuh itu. Dan dalam satu hentakan cepat, tubuh Pak Darmo ditarik ke bawah. Hilang begitu saja, seakan tanah sawah membuka mulut sesaat untuk menelannya.
Bu Rini menjerit sampai suaranya pecah. Dua warga coba memapahnya, tapi lututnya goyah dan hampir membuatnya jatuh.
Air sawah kembali tenang. Bekas pusaran menghilang dalam hitungan detik, permukaan air kembali rata seperti sebelumnya.
Hanya gelembung-gelembung kecil yang muncul sebentar… kemudian pecah perlahan.
Setelah itu, hening. Tidak ada lagi hembusan angin atau suara dedaunan. Bahkan hujan yang sejak tadi turun lebat mendadak berhenti seolah ada yang menutup langit dengan satu perintah.
Semua warga berdiri mematung.
Dari balik kerumunan, Seno menelan ludah. Suaranya sangat pelan ketika ia berkata, “Penjaga sawah wis dijupuk…”
Kata-katanya membuat beberapa orang menoleh, namun sebelum ada yang bertanya, sesuatu di ujung pematang menarik perhatian mereka.
Ada sosok. Berdiri diam.
Jauh, di antara sisa kabut hujan. Bentuknya tinggi, lebih tinggi dari manusia biasa. Siluetnya memanjang, seperti seseorang yang berdiri dengan posisi tegak sempurna. Tidak bergerak. Tidak condong. Tidak tampak bernapas.
Wajahnya tidak jelas karena kabut, namun arah tubuhnya menghadap langsung ke rombongan warga. Seolah menyaksikan seluruh kejadian tadi. Beberapa warga menajamkan pandangan. Dan tepat saat mereka berkedip
Sosok itu hilang.
Tidak lari. Tidak memudar. Hanya hilang, seperti sesuatu yang tidak membutuhkan jalan kaki untuk berpindah.
Kerumunan mendadak terasa sempit. Udara yang tadi pengap kini berubah dingin. Sangat dingin. Seolah sawah itu baru saja memperlihatkan sesuatu yang tidak dimaksudkan untuk dilihat manusia.
***
Keesokan paginya, hujan telah berubah menjadi kabut tipis yang menggantung rendah di atas jalan tanah Desa Wringinjati. Suara ayam dari kejauhan terdengar tumpul, seperti teredam selimut udara dingin. Langkah-langkah kecil terdengar dari arah jalan raya ketika sebuah bus antarkota berhenti sebentar di pinggir dusun.
Seorang pemuda turun, menenteng ransel besar dan mengenakan jaket abu-abu yang warnanya hampir menyatu dengan cuaca pagi itu. Nafasnya mengepul pelan. Matanya memandang sekeliling, mencoba mengenali peta yang ia hafal semalam.
Namanya Raka.
Ia mahasiswa tingkat akhir jurusan geografi yang mendapat tugas lapangan terakhir sebelum penelitiannya dianggap selesai. Dusun Wringinjati adalah lokasi yang ia pilih sendiri. Sawah tua yang katanya memiliki kontur tanah unik dan sistem irigasi yang tidak tercatat dengan baik. Ia datang dengan pikiran sederhana, memetakan struktur tanah, memeriksa pola genangan, dan mencatat anomali air hujan.
Ia tidak tahu apa pun tentang malam sebelumnya.
Tidak tahu bahwa sawah yang hendak ia teliti telah menjadi tempat terangkatnya satu tubuh. Tidak tahu bahwa para warga masih berkumpul diam di balai dusun, membicarakan apa yang seharusnya hanya menjadi cerita larut malam. Tidak tahu bahwa nama Pak Darmo kini disebut-sebut dengan suara pelan, penuh tekanan.
Raka hanya melihat desa kecil yang tenang.