

Jakarta tidak pernah ramah pada mereka yang lambat, dan Devan bukanlah pria yang mengenal kata 'maklum'.
Di lantai empat puluh gedung pusat Dirgantara Group, suasana mendadak mencekam. Padahal, pendingin ruangan sudah disetel di suhu terendah, namun keringat dingin tampak bercucuran di dahi manajer pemasaran yang berdiri di depan meja kerja jati berukuran besar itu. Ruangan itu luas, minimalis, dan didominasi warna gelap mencerminkan kepribadian pemiliknya yang kaku.
Devan Dirgantara, pria dengan rahang tegas dan tatapan mata setajam elang, melemparkan map laporan ke atas meja dengan bunyi 'brak' yang cukup keras. Ia menyandarkan punggungnya, melonggarkan sedikit dasi sutranya yang terasa mencekik leher.
"Dua persen penurunan dalam sebulan?" suara Devan rendah, namun tekanannya terasa seperti beban berton-ton yang menghimpit dada siapa pun yang mendengar. "Kalian digaji untuk berpikir, bukan untuk memberikan grafik yang terjun bebas seperti ini. Apa kalian mengira saya menjalankan yayasan amal di sini?"
"Ma...maaf, Pak Devan. Ada kendala di logistik dan persaingan harga di pasar digital"
"Saya tidak butuh alasan. Saya butuh solusi," potong Devan cepat, nadanya dingin dan tak terbantahkan. Ia melirik jam tangan Rolex-nya yang melingkar elegan di pergelangan tangan kiri. "Satu jam lagi saya ada pertemuan dengan investor dari Singapura. Jika saat itu saya tidak melihat revisi strategi yang masuk akal di meja ini, silakan kemasi barang-barang Anda. Saya tidak punya ruang untuk orang-orang yang hanya pandai mengucap kata maaf."
Manajer itu mengangguk kaku dengan wajah pucat, hampir berlari keluar dari ruangan kerja sang CEO sebelum "badai" berikutnya melanda. Devan memijat pangkal hidungnya yang mancung. Kepalanya berdenyut hebat. Sejak kepulangannya dari London tiga bulan lalu untuk memegang kendali perusahaan keluarga ini, ketenangan menjadi barang mewah yang mustahil ia beli dengan seluruh asetnya.
Ia meraih gelas kopinya yang sudah mendingin. Espresso ganda tanpa gula. Pahit, hitam, dan pekat persis seperti suasana hatinya yang terus-menerus diselimuti tekanan. Namun, bahkan kafein terkuat pun tidak bisa mengusir rasa kosong yang terus menghantuinya di balik dinding kaca tinggi yang menampakkan kemacetan Jakarta.
Tiba-tiba, ponsel pribadinya yang diletakkan di sudut meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia simpan, namun ia hafal di luar kepala setiap digitnya.
"Bunga pesanan Nyonya Dirgantara sudah siap dikirim. Apakah Bapak ingin memeriksanya dulu ke toko? Alana."
Devan terdiam. Jemarinya yang tadi mengetuk meja dengan tidak sabar, kini membeku. Nama itu. Alana. Tiba-tiba saja, wangi melati yang lembut seolah meresap masuk ke ruangan kantornya yang steril, mengalahkan aroma parfum mahal dan bau kertas dokumen yang membosankan. Ingatannya terseret mundur ke tujuh tahun lalu, pada sebuah janji di bawah rintik hujan yang ia hancurkan sendiri demi sebuah ambisi.
Toko bunga "Alana's Bloom" terletak di sebuah gang yang cukup tenang, jauh dari hiruk-pikuk pusat bisnis. Tempat itu kecil, berdinding kayu yang dicat putih gading, namun selalu terasa sejuk meski matahari Jakarta sedang terik-teriknya. Alana, wanita dengan balutan hijab berwarna soft pink yang senada dengan gamis sederhananya, sedang sibuk merangkai beberapa tangkai mawar putih dan melati.
Gerakannya sangat tenang dan terukur, sangat kontras dengan dunia luar yang seolah berlari mengejar waktu. Baginya, setiap bunga memiliki jiwanya sendiri. Ada doa yang ia sematkan di setiap ikatan pita yang ia buat.
Suara denting bel di atas pintu toko membuatnya menoleh. Sosok pria tinggi dengan setelan jas tiga lapis yang sangat mahal berdiri di sana. Sosok yang terlihat sangat tidak pas berada di antara ember-ember air dan potongan tangkai bunga.
"Devan...!" Alana meletakkan gunting bunganya pelan. Ia tidak menunjukkan keterkejutan, apalagi kepanikan. Ia hanya menatap diam saat mata tajam Devan menyisir setiap sudut tokonya dengan raut wajah tidak puas ekspresi sombong yang masih sama seperti dulu.
"Toko ini tidak berubah. Masih sempit, pengap, dan berantakan," ujar Devan dingin sebagai kalimat pembuka. Ia melangkah masuk, mengabaikan papan 'lantai basah' yang baru saja dipasang Alana.
Alana tersenyum tipis, jenis senyum yang selalu berhasil membuat Devan semakin kesal karena tidak bisa memicu reaksi kemarahan. "Dan kau masih tetap sama, Devan. Selalu menghakimi hal-hal yang tidak bisa kau beli dengan uangmu."
Devan berhenti tepat di depan meja kayu tempat Alana bekerja. Aroma parfum maskulinnya yang kuat kini berperang dengan wangi alami bunga-bunga segar di ruangan itu. Ia menatap tangan Alana yang sedikit kotor terkena getah tangkai mawar. "Ibu ingin rangkaian bunga ini ada di meja makan saat makan malam keluarga besok. Pastikan tidak ada satu kelopak pun yang layu atau kecokelatan. Aku tidak ingin seleraku dipertanyakan."
"Aku tahu prosedurnya, Pak CEO," jawab Alana lembut sambil melanjutkan pekerjaannya mengikat pita satin. "Kenapa kau harus repot-repot datang sendiri? Kau bisa mengutus sekretarismu atau sopirmu seperti biasanya. Bukankah waktumu sangat berharga?"
Devan terdiam sejenak. Matanya tertuju pada gerakan jari-jari Alana yang lincah. Ada sesuatu tentang ketenangan wanita ini yang selalu membuatnya merasa... tidak nyaman. Padahal ia adalah penguasa bisnis yang ditakuti ribuan orang, namun di depan Alana, ia selalu merasa seperti pria asing yang kehilangan arah.
"Aku hanya ingin memastikan kau tidak memberikan bunga murahan untuk ibuku," kilah Devan, meski ia tahu itu alasan yang sangat lemah. "Keluarga Dirgantara punya standar tinggi."
Alana mengangkat wajahnya, menatap langsung ke mata cokelat gelap Devan yang selalu tampak tegang. "Kau sedang stres, Devan. Bau kopimu terlalu tajam sampai tercium dari sini, tapi matamu menunjukkan kau tidak tidur lebih dari empat jam semalam."
Devan mengerutkan kening, rahangnya mengeras. Ia benci ketika ada orang yang bisa membaca emosinya sesederhana itu. "Jangan sok tahu tentang hidupku. Urus saja bungamu dan kirimkan tepat waktu."
"Duduklah sebentar. Aku baru menyeduh teh melati. Tanpa gula, seperti kopi pahit yang kau konsumsi berlebihan itu, tapi yang ini jauh lebih menenangkan paru-parumu," tawar Alana tanpa nada memaksa.
"Aku tidak punya waktu untuk minum teh"
"Lima menit," potong Alana pelan namun penuh penekanan. "Dunia bisnis tidak akan kiamat kalau kau duduk selama lima menit di kursi tua itu, Devan. Napasmu terlalu pendek. Kau perlu oksigen, bukan hanya kafein."
Entah sihir apa yang dimiliki wanita berhijab pink ini, Devan mendapati dirinya menarik kursi kayu tua di sudut toko dan duduk di sana. Ia memperhatikan Alana yang bergerak perlahan menuju dapur kecil di belakang, mengambil cangkir keramik motif bunga yang tampak sudah lama.
Dulu, mereka pernah duduk seperti ini di sebuah kantin kampus, merencanakan masa depan yang kini terasa seperti dongeng belaka. Perpisahan tujuh tahun lalu meninggalkan luka yang dalam, sebuah rahasia pahit yang membuat Devan menjadi pria sedingin es sekarang ini. Dan kini, ia kembali bukan hanya karena urusan bunga ibunya.
Devan merogoh saku jasnya, menyentuh sebuah amplop tebal berisi dokumen hukum. Sebuah 'kontrak' yang dirancang oleh dewan komisaris dan ibunya untuk menyelamatkan nama baik perusahaan dari skandal yang mungkin meledak. Dan Alana adalah satu-satunya kunci untuk menutup celah itu.
Alana kembali dan meletakkan cangkir teh yang mengepulkan uap harum di meja dekat Devan. "Minumlah. Setelah itu, kau boleh kembali menjadi CEO yang galak dan menakutkan bagi semua orang."
Devan menatap uap teh yang menari-nari di udara, lalu beralih ke wajah damai Alana yang tampak tulus. Ada rasa bersalah yang menusuk dadanya. Ia tahu, setelah ia mengeluarkan isi amplop di sakunya, ketenangan Alana mungkin akan hilang untuk selamanya. Ia akan menyeret wanita suci ini ke dalam lumpur intrik bisnisnya yang kotor.
"Alana," panggil Devan pelan, suaranya kini terdengar lebih manusiawi, tidak lagi sekaku saat di kantor.
"Ya?" Alana menatapnya sambil merapikan sisa-sisa daun di meja.
"Jangan pernah membenciku... atas apa pun yang akan terjadi setelah matahari terbenam hari ini."
Alana hanya menatapnya dengan kening berkerut, mencoba mencari arti di balik kalimat itu, namun Devan tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Pria itu menyesap tehnya, membiarkan aroma melati yang lembut itu menenangkan syaraf-syarafnya yang nyaris putus, sebelum ia kembali menjadi sang predator di lantai empat puluh yang haus akan kekuasaan.
Satu hal yang Devan sadari saat melihat Alana tersenyum pada seorang pelanggan kecil yang baru masuk: Alana adalah satu-satunya hal yang ia inginkan, namun sekaligus satu-satunya hal yang paling tidak pantas ia miliki.